Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Kemenangan


__ADS_3

Matahari hampir terbit, namun mata Liu Li tak dapat terpejam. Ia masih terjaga memakai selimut tebal, duduk di depan perapian. Beberapa prajurit yang tidak ikut berperang nampak berkeliling mengawasi area perkemahan.


"Aku tak suka perang," gumam Liu Li, "ini sudah hampir pagi, kenapa mereka belum kembali."


"Putri, istirahatlah di dalam tenda. Saya akan membangunkan putri bila pangeran Jin datang," ucap pengawal yang bertugas melindungi Liu Li.


"Menunggu itu melelahkan, kamu tak akan mampu, biar aku saja." Liu Li mulai ngelantur.


Pengawal tak mengerti apa yang sedang Liu Li ucapkan, ia hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Seorang prajurit berlari ke arah Liu Li, "putri, pangeran Jin mendapatkan kemenangan," lapornya dengan wajah senang.


"Benarkah?!" Liu Li berdiri dan mencari-cari keberadaan pangeran, "apa pangeran sudah datang?"


"Belum putri, mungkin sekarang pangeran masih dalam perjalanan kemari. Saya melihat suar yang dinyalakan sebagai tanda kemenangan kita," jawabnya.


"Ah baiklah, minta tim medis untuk segera mempersiapkan diri. Kita harus segera menolong yang terluka," perintah Liu Li.


"Baik, putri."


Bangsa barbar memiliki prajurit dalam jumlah besar, pertahanannya pun sangat kokoh, tak mudah untuk menerobosnya. Karena kekuatannya yang besar itu membuat bangsa barbar suka menindas yang lebih lemah, mereka tak segan-segan merampok bahkan membunuh siapa pun.


Kali ini, pangeran Jin telah mengalahkan bangsa barbar dalam sekali serangan. Hal ini akan membesarkan namanya dan kerajaan Fang.


Suara hentakan kuda terdengar dari kejauhan, Liu Li dengan tak sabar mencari sosok yang ia tunggu, "pangeran Jin."


Pangeran Jin turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Liu Li. Tanpa disangka Liu Li berlari menyambut pangeran dan memeluknya, "pangeran, kamu baik-baik saja?"


Pangeran Jin yang tak menyangka mendapat pelukan dari Liu Li terkejut beberapa detik, tapi ia bisa segera menguasai dirinya, "aku baik-baik saja," jawab pangeran sambil membalas pelukan Liu Li.


Para prajurit yang melihat adegan mesra di hadapannya itu saling berbisik, "pangeran benar-benar beruntung memiliki istri seperti putri."


"Tuhan, sisakan satu orang perempuan seperti putri untukku."


"Ngaca! Jangan mimpi!"


Liu Li baru menyadari bahwa mereka tengah diperhatikan banyak orang, ia segera melepaskan pelukannya, "pangeran, aku akan memeriksa prajurit yang terluka," ucapnya gugup, "tunggu, apa pangeran tak terluka?" Liu Li memeriksa seluruh tubuh pangeran, "lenganmu berdarah, mari kuobati lebih dulu. Ayo masuk ke tenda," ajak Liu Li.


Pangeran dan putri berjalan menuju tenda.


Para prajurit yang masih memperhatikan namun tak mendengar apa yang dibicarakan Liu Li mulai berbisik lagi, "sssst ... sepertinya putri sudah tak sabar."


"Sepertinya begitu. Aku jadi kangen istriku di rumah."


Wajah Liu Li memerah, suara prajurit terlalu keras untuk ukuran berbisik, Liu Li masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


Pangeran tersenyum, "istriku sudah tak sabar ya? Kamu pasti sangat merindukanku," goda pangeran sambil masuk ke dalam tenda.


"Pangeran diam dan duduklah, aku akan memeriksamu dengan cepat. Aku tak tahu ada berapa banyak prajurit yang terluka di luar."


Pangeran menurut untuk duduk, "istriku galak sekali."


Kenapa kamu menyebut kata istriku hingga berulang kali, batin Liu Li. Ia menggerutu dalam hati sambil membuka baju pangeran yang kotor, "aku akan membersihkan luka pangeran dan membalutnya, lalu pangeran bisa pergi mandi."


"Lenganku terluka, bagaimana aku bisa mandi?"


Sejak kapan dia jadi manja begini, batin Liu Li.


Pangeran menatap wajah Liu Li yang sedang serius membersihkan dan merawat lukanya, ia merasa istrinya sangat mempesona, "kamu belum menjawab."


"Apa?" tanya Liu Li tak mengerti.


"Bagaimana aku bisa mandi?"


"Pangeran serius?” tanya Liu Li tak percaya, “aku akan meminta Wei Hong untuk memandikanmu."


Pangeran melotot pada Liu Li, kenapa Wei Hong? Aku mau kamu, batinnya.


"Lalu siapa yang bisa memandikan pangeran? Para selir dan pelayan wanita tidak ada di sini. Apa ... apa ..." Liu Li mulai gelisah melihat tatapan pangeran, "aku ... setelah ini aku harus memeriksa prajurit yang terluka."


"Pergilah," ucap pangeran sedingin es, ekspresi wajahnya berubah begitu cepat.


Apa pangeran memintaku untuk memandikannya? Apa maksudnya? Liu Li bertanya-tanya dalam hati sambil terus berjalan menuju tenda perawatan.


Namun pikirannya tentang pangeran seketika hilang, tergantikan oleh suara rintihan para prajurit yang terluka. Pangeran memang membawa pulang kemenangan, tapi itu tidak menjamin tidak ada korban dari pihak pemenang.


Liu Li mulai membantu para tabib mengobati luka para prajurit hingga tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala.


"Putri," panggil Wei Hong.


"Ya," jawab Liu Li sambil mengoleskan obat di kaki pasiennya.


"Pangeran meminta putri untuk makan bersamanya," ucap Wei Hong.


"Katakan pada pangeran untuk makan terlebih dahulu, aku masih belum selesai."


"Tapi, putri ..."


"Ah!" Pasien merintih kesakitan.


"Tahan sebentar ya ..." ucap Liu Li lembut dan mengacuhkan keberadaan Wei Hong.

__ADS_1


Wei Hong pergi dan melapor pada pangeran, "putri mengatakan supaya pangeran makan terlebih dahulu."


Pangeran berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tenda perawatan, "perempuan ini selalu merepotkan."


"Hormat pada pangeran," para prajurit yang ada di dalam tenda memberi hormat saat melihat kedatangan pangeran Jin.


"Tetaplah di tempat kalian," ucap pangeran Jin ramah, "terima kasih telah berjuang bersamaku, tanpa kalian kerajaan Fang tidak bisa sekuat sekarang."


"Pangeran terlalu memuji. Berkat kepemimpinan pangeran lah, perang dapat kita menangkan," jawab prajurit.


"Hidup pangeran Jin." Mereka bersorak meneriakkan nama pangeran Jin. Liu Li merasa senang dan terharu melihat semangat para prajurit, terutama pemimpinnya, ia terlihat sangat berwibawa.


"Kalian beristirahatlah," ucap pangeran Jin, kemudian ia mendekati Liu Li, "Putri, temani aku makan."


"Tapi pangeran, aku belum selesai," jawab Liu Li.


"Ini perintah."


"Baik," jawab Liu Li lemah. Ia berjalan mengikuti langkah pangeran Jin keluar tenda perawatan.


Liu Li dan pangeran Jin telah berada di tendanya. Melihat begitu banyak makanan di hadapannya, membuat Liu Li tak dapat menahan diri untuk segera makan.


"Hmm ... mari kita makan," ucap Liu Li bersemangat. Ia makan dengan lahap karena perutnya memang sudah lapar sejak tadi.


"Bukannya kamu tadi tidak mau makan?" tanya pangeran yang keheranan melihat Liu Li.


Liu Li berusaha menelan nasi di mulutnya lalu mulai menjawab, "sekarang aku sudah di sini, jadi aku harus makan dengan cepat dan segera kembali ke tenda perawatan."


"Makanlah yang banyak," gumam pangeran, Liu Li tak mendengar karena terlalu fokus dengan makanannya.


"Aku sudah selesai," ucap Liu Li sambil meletakkan sumpitnya, "pangeran, aku akan kembali ke tenda perawatan."


Pangeran menyentuh dagu Liu Li, "kamu makan seperti anak kecil," ia mengambil sebutir nasi yang menempel.


"Benarkah?" Liu Li gugup mendapat sentuhan tangan pangeran.


"Istirahatlah, kamu sudah lelah," ucap pangeran lembut.


Aaaah aku bisa meleleh mendapat perlakuan lembut seperti ini, batin Liu Li.


"Aku tak mau kamu sakit," lanjut pangeran.


Liu Li tak dapat berkata-kata karena merasa pangeran begitu perhatian padanya.


"Aku tak mau menggendongmu bila kamu sakit, tubuhmu berat."

__ADS_1


Jediaaar! Bagai disambar petir, runtuh sudah kebanggaan Liu Li, apa pangeran ingin menyampaikan bahwa aku gendut?


__ADS_2