Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Kembali ke Negeri Fang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, pangeran Jin dalam suasana hati yang buruk. Ia masih kecewa karena Liu Li tak membalas cintanya. Mereka tak banyak bicara selama berada di dalam kereta kuda.


Tiba-tiba pangeran Jin merasakan ada sesuatu di lengannya, ternyata Liu Li sedang tertidur dan kepalanya bersender pada lengannya. Ditatapnya wajah cantik Liu Li yang tengah tertidur.


"Tidurlah," gumam pangeran Jin, ia membetulkan posisinya supaya Liu Li tidak terjatuh.


Perjalanan malam dari negeri Dong ke negeri Fang aman dan tidak mengalami masalah, karena jalur ini sudah ditaklukkan oleh pangeran Jin. Mereka sampai di negeri Dong sebelum matahari terbit.


Karena Liu Li masih terlelap, pangeran Jin membopongnya masuk ke dalam mansion. Saat para pelayan akan memberi salam, pangeran Jin mengisyaratkan mereka untuk tidak membuat suara supaya tidak membangunkan Liu Li. Pangeran Jin membawa Liu Li ke kediamannya.


Para pelayan yang menyaksikannya merasa terkejut karena pangeran Jin tak pernah membiarkan orang lain bermalam di kamarnya.


"Putri Liu Li sekarang benar-benar telah menjadi kesayangan pangeran Jin," bisik salah satu pelayan.


"Sialnya aku, dulu aku tak pernah memperlakukannya dengan baik," bisik yang lain.


"Kamu tahu sendiri, putri Liu Li berbeda dengan yang dulu. Ia seperti berubah menjadi orang lain."


"Ehem," dehem nenek Zao mengagetkan mereka, "kalian sedang tidak ada kerajaan rupanya. Pergi bersihkan gudang, sekarang!" perintah nenek Zao.


"Baik," jawab para pelayan serentak, kemudian mereka segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju gudang, "ini semua karena kamu, kita jadi dihukum membersihkan gudang pagi-pagi buta begini," gerutu salah pelayan.


Nenek Zao memandang kediaman pangeran Jin. Ia tersenyum saat melihat lampu kamar pangeran Jin yang baru saja dipadamkan, "putri, kamu harus bahagia," gumam nenek Zao.


Pangeran Jin memang baru saja memadamkan penerangan di kamarnya, ia tak mau Liu Li menjadi terbangun karenanya. Dengan sangat hati-hati, tanpa menimbulkan suara, ia ikut merebahkan dirinya di ranjang. Sambil menunggu matahari terbit, pangeran Jin tak bosan-bosannya memandang wajah Liu Li saat tidur.


Tiba-tiba saja Liu Li membuka matanya, ia terkejut saat melihat pangeran Jin yang tengah menatapnya, "pangeran?" Liu Li melihat sekelilingnya, "apa kita sudah sampai?"


"Ya," jawab pangeran Jin.


"Apa ini di kamar pangeran?" tanya Liu Li lagi.


"Ya."


Liu Li terkejut, ia meraba selimut dan pakaian yang dikenakannya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu? Kamu baik-baik saja?" tanya pangeran.


"Tidak. Ah, iya. Aku baik-baik saja," jawab Liu Li. Ia heran dengan tingkah pangeran yang sedikit aneh di matanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan?"


"Apa?" Liu Li balik bertanya karena tak mengerti arah pembicaraan pangeran Jin.


Apa hanya perasaanku? Kenapa rasanya pangeran Jin jadi sedikit bodoh? batin Liu Li.


"Aku mau tidur lagi," jawab Liu Li.


Pangeran Jin membetulkan selimut Liu Li, "tidurlah. Aku akan berada di sini. Katakan saja bila kamu membutuhkan sesuatu."


Pangeran, kenapa kamu bertingkah aneh? Kamu membuatku takut, batin Liu Li.


Liu Li hanya diam saja, kemudian ia menarik selimut sampai menutupi lehernya. Pada akhirnya, ia tak bisa tidur sampai matahari terbit.


"Apa kamu ingin mandi bersamaku?" tanya pangeran Jin.


"Pangeran harus pergi ke istana raja, tak baik bila sampai terlambat," jawab Liu Li mencari alasan.


"Lain kali kita harus mandi bersama."


Liu Li tersenyum canggung mendengarnya.


"Pangeran," protes Liu Li, wajahnya memerah karena malu.


Apa yang dikatakan Liu Li memang benar, pangeran Jin harus segera pergi ke istana raja. Ia pun bergegas membersihkan diri kemudian pergi menuju istana raja.


"Nenek Zao, apa yang terjadi selama aku pergi?" tanya Liu Li selepas kepergian pangeran Jin.


"Keadaan baik-baik saja putri. Bahkan selir Fu Rong tidak membuat masalah kali ini, ia lebih sering menghabiskan waktu di kediamannya," jawab nenek Zao, "itu tidak seperti dirinya yang lebih suka memeriksa keadaan mansion dan menegurku untuk kesalahan kecil," lanjutnya.


"Apakah selir Fu Rong dalam suasana hati yang tidak baik? Apa dia sedang bersedih?"


"Semua selir yang ada di mansion ini sekarang sedang bersedih."


Liu Li tak percaya mendengarnya, "benarkah? Kenapa aku tak tahu?"


"Bagaimana putri tahu? Mereka sedang bersedih karena putri," goda nenek Zao.


"Nenek ... katakan dengan jelas," pinta Liu Li.

__ADS_1


Nenek Zao tersenyum, "para selir sedang iri melihat kedekatan putri dengan pangeran Jin. Bahkan putri telah bermalam di mansion pangeran Jin."


"Itu tidak seperti yang nenek pikirkan," ucap Liu Li menutupi rasa malunya.


***


Para menteri dan pangeran berkumpul di aula pertemuan istana raja. Mereka sedang membicarakan perang yang sedang berlangsung melawan bangsa Tartar yang dipimpin Jendral perang negeri Fang.


"Yang mulia, perang sudah berlangsung selama satu bulan dan prajurit kita mengalami banyak luka. Mereka tak akan bisa bertahan untuk berkemah di daerah padang pasir yang panas," lapor menteri pertahanan pada raja, "sebaiknya segera tarik mundur pasukan sebelum kita mengalami kerugian yang besar."


Apa yang dikatakan menteri pertahanan tidak sepenuhnya benar. Entah mengapa ia begitu ingin menarik munduk pasukan melawan bangsa Tartar.


"Yang mulia, izinkan Jin untuk membantu jenderal berperang melawan bangsa Tartar. Bila dalam waktu satu bulan kami belum bisa mengalahkannya, raja menarik mundur pasukan," ucap pangeran Jin.


Raja nampak berpikir, kemudian ia berkata, "aku mengizinkan pangeran Jin untuk membantu jenderal berperang melawan bangsa Tartar."


"Terima kasih, yang mulia," ucap pangeran Jin.


Menteri pertahanan nampak kesal dengan keputusan raja.


"Cukup untuk pertemuan hari ini," ucap raja lalu ia pergi meninggalkan aula.


"Pangeran Jin begitu bersemangat untuk berperang," sindir menteri pertahanan.


"Apa yang membuat menteri begitu menginginkan para prajurit untuk mundur dari perang?" timpal pangeran Jin.


"Aku hanya tak ingin lebih banyak korban yang jatuh," jawab menteri pertahanan.


"Lebih baik, menteri memberi bantuan prajurit untuk ikut turun ke medan perang."


"Prajuritku masih belum siap, mereka masih kuistirahatkan," elak menteri pertahanan, "bagaimana kabar Fu Rong? Sudah lama dia tak mengunjungi rumahku."


"Benarkah? Tapi dia masih sering berkirim surat denganmu."


Jawaban pangeran Jin membuat menteri pertahanan terkejut, ternyata pangeran mengetahui tentang surat-surat itu, batinnya.


"Menteri pertahanan tentu sibuk dengan urusan negara. Tak perlu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku," ucap pangeran Jin. Ia sedang mengingatkan menteri pertahanan perihal surat darinya yang meminta pangeran Jin menghabiskan malam bersama selir Fu Rong.


Menteri pertahanan merasa tersudut, "menteri tak akan berani mencampuri urusan rumah tangga pangeran," ucapnya, tapi tangannya yang tersembunyi sedang terkepal menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2