
Jang berbaring di ranjang dengan gelisah. Ia membayangkan bagaimana setengah bagian kepalanya terlepas dan ia pun meringis ketakutan.
"Apa kamu sudah menikah?" tanya Liu Li mengalihkan perhatian Jang yang sedang gugup.
"Belum," jawabnya.
Liu Li tersenyum, "apa kamu takut?"
"Tidak," jawabnya cepat. Tapi respon tubuhnya berkata lain, seluruh tubuhnya terus mengeluarkan keringat yang menandakan ia sedang gugup dan ketakutan.
"Jang, ini tidak sakit. Saat kamu bangun nanti, semuanya sudah selesai. Minumlah," perintah Liu Li.
Setelah Jang di bawah pengaruh obat bius, Liu Li mulai melakukan operasi bedah otak. Ia biasa melakukannya di abad 21, dengan obat dan peralatan yang lengkap. Tapi sekarang, dengan peralatan seadanya Liu Li harus mampu menyelesaikan operasi ini dengan cepat.
Seperti dugaannya, di dalam otak Jang terdapat larva yang baru saja berubah menjadi serangga remaja. Dengan hati-hati Liu Li mengeluarkan serangga itu dan menempatkannya di sebuah tempat yang aman. Kemudian ia harus segera menjahit kembali kepala Jang.
Operasi berjalan dengan lancar. Luka di kepala Jang telah dijahit kembali dan dibalut dengan perban. Tapi ia masih belum sadarkan diri.
"Pangeran," panggil Liu Li sambil melongokkan kepalanya ke luar tenda.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya pangeran.
"Ya, operasi berjalan lancar. Serangga telah kukeluarkan," ucap Liu Li, "minta seseorang untuk menjaga Jang. Beri minum saat dia sudah sadarkan diri. Aku harus pergi meneliti serangga ini."
"Baik. Apa kamu perlu kutemani?" tanya pangeran Jin sedikit khawatir.
"Tidak. Pangeran pasti juga punya sesuatu yang harus dikerjakan," ucap Liu Li.
"Ah Feng, jaga putri dengan baik," perintah pangeran pada Ah Feng yang sedari tadi berdiri di luar tenda.
"Baik, pangeran," jawab Ah Feng, lalu ia mengikuti Liu Li berjalan di belakangnya.
Pangeran Jin pun pergi menuju arah lain dengan diikuti Wei Hong.
Sepeninggal pangeran Jin dan Liu Li, ketiga teman Jang yang terus menunggu selama operasi, segera masuk ke tenda untuk melihat kondisi temannya.
"Jang, kenapa kamu belum bangun?" tanya An khawatir.
"Kamu bilang kamu akan menikah tahun depan," ucap Bay sambil menangis, "kenapa kamu buru-buru pergi meninggalkan kami?"
"Hey bodoh, kamu pikir aku sudah mati?!" ucap Jang yang baru saja membuka matanya.
__ADS_1
"Hei kawan, kamu tidak mati!" seru Bay bahagia.
"Kamu terus saja mengataiku untuk cepat mati," gerutu Jang.
"Jang, bagaimana rasanya dibelah kepalamu? Apa sakit?" tanya Eum khawatir, ia juga takut bila gilirannya tiba untuk dibedah.
"Aku tidak merasakan apa-apa saat itu, hanya ... sekarang kepalaku rasanya sedikit nyeri," jawab Jang.
"Kamu hebat, Jang!" puji teman-temannya.
Sementara itu di tenda lain, Liu Li sedang berusaha keras meneliti kelemahan serangga yang telah diamankannya itu. Ia juga harus berpacu dengan waktu karena serangga itu tak bisa hidup lama setelah lepas dari inangnya.
Tak ia rasakan perutnya yang belum terisi dan keringat yang bercucuran sampai akhirnya Liu Li berteriak, "yes! Akhirnya kutemukan cara melenyapkan serangga jahat ini."
Wajahnya yang lelah masih dipenuhi oleh semangat.
Liu Li menulis beberapa bahan obat dan memberikannya pada Ah Feng, "ambilkan bahan-bahan ini. Aku rasa semuanya ada di kereta obat. Cepat kembali katakan ke mari bila ada bahan yang tidak bisa kamu dapatkan," pinta Liu Li.
"Baik, putri," jawab Ah Feng kemudian dia segera melesat pergi.
Tak lama kemudian Ah Feng kembali dengan membawa semua yang dibutuhkan Liu Li. Liu Li segera mengolah bahan-bahan itu menjadi obat. Tapi itu membutuhkan waktu yang lama karena ia harus membuat obat untuk ribuan prajurit.
"Tidak ada waktu. Aku harus segera menyelesaikannya sebelum larva itu berubah menjadi serangga dewasa," ucap Liu Li, "bisakah kamu panggilkan pangeran Jin kemari," pinta Liu Li.
"Ah Feng akan memanggil pangeran Jin sekarang." Ah Feng keluar dari tenda dan beberapa saat kemudian kembali bersama pangeran Jin.
"Liu Li, kamu terlihat kelelahan," ucap pangeran.
Liu Li mengabaikan perkataan pangeran, "pangeran, aku telah membuat obat ini. Kita bisa mencobanya pada ketiga orang yang terkena demam."
"Aku akan menemanimu. Mereka ada di tenda tempat Jang dirawat."
"Baik, ato kita ke sana."
Pangeran Jin dan Liu Li berjalan menuju tenda itu. Ketiga orang yang sedang menunggui Jang segera memberi hormat ketika melihat mereka masuk.
"Kalian bertiga, minumlah obat ini sekarang," perintah Liu Li.
Tanpa bertanya, ketiganya pun menelan obat itu. Mereka tidak merasakan apa pun, hingga sekitar tiga menit kemudian kepala mereka terasa sakit.
"Ah! Rasanya ada yang bergerak di kepalaku," rintih An.
__ADS_1
Rintihan An disusul keluarnya darah yang mengalir dari telinganya, diikuti seekor serangga kecil yang telah mati.
An tersentak saat melihat serangga itu terjatuh.
Kejadian yang sama disusuk kedua temannya. Serangga kecil itu pun jatuh le tanah.
"Kemarilah, aku akan memeriksa telingamu," pinta Liu Li.
"Tidak apa-apa, bersihkan telinga kalian dengan kain kering. Lukanya akan sembuh dengan sendirinya," jelas Liu Li.
"Jadi kapan kepala kami akan dibedah?" tanya An.
Liu Li tersenyum, "tidak perlu, karena obatnya telah berhasil. Apa kamu ingin sekali merasakan kepalamu dibedah?" goda Liu Li.
"Tidak, tidak, putri," jawab An senang.
"Jadi, hanya kepalaku yang dibedah," gumam Jang sedih.
"Jang, berkat kamu, seluruh prajurit dapat diselamatkan. Kalau aku tak mengeluarkan serangga dari kepalamu, aku tak akan bisa menyembuhkan mereka. Jang, kamu sangat pemberani," puji Liu Li.
Jang merasa senang mendapat pujian dari Liu Li, pipinya sampai kemerahan karena malu.
Pangeran Jin merasa cemburu melihat perlakuan Liu Li pada Jang. "Liu Li ayo pergi, kita belum selesai," tarik pangeran Jin keluar dari tenda.
"Pangeran, bagikan obat ini ke semua prajurit. Ini masih kurang, aku harus membuat lebih banyak lagi," Liu Li mengulurkan sebuah kotak berisi butiran-butiran obat.
"Liu Li, istirahatlah bila kamu lelah," ucap pangeran.
Liu Li tersenyum, "aku tahu," jawabnya, kemudian ia kembali ke tendanya untuk meracik obat.
Para prajurit berbaris dengan rapi, dengan tertib mereka mengambil bagian obat masing-masing.
"Apa ini?" bisik salah seorang prajurit.
"Kabarnya ada tiga orang prajurit yang tewas. Kita harus meminumnya untuk menghindari penularan," bisik yang lain.
"Sejak kecil aku kebal terhadap berbagai penyakit," gumamnya.
"Perhatian!" Wei Hong berbicara di depan para prajurit, "pastikan kalian memakan obat itu, jangan sampai kalian mati konyol karena menyepelekannya."
"Deg!" Prajurit yang baru saja berbisik langsung menelan obat yang ada di tangannya. Ia terlalu takut melihat kemarahan Wei Hong.
__ADS_1