Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Terjebak


__ADS_3

Pangeran Jin dan Liu Li duduk di tepi danau sambil bermain catur.


"Ini sudah larut, apa kamu belum lelah?" tanya pangeran.


"Belum," jawab Liu Li cepat. Sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu saja. Liu Li berharap pangeran nanti akan kelelahan dan langsung tertidur, "apa pangeran sudah mendapat informasi siapa yang menculikku?"


"Aku masih belum mendapatkan bukti," jawab pangeran.


"Aku merasa tak punya musuh," gumam Liu Li, tapi kemudian ia menyadari bahwa ucapannya barusan salah besar. Ada banyak orang yang tak menginginkan keberadaannya di sini.


Pangeran Jin menggenggam tangan Liu Li, "biarkan aku yang mengurusnya. Sekarang, kamu cukup mengurusku," ucap pangeran.


"Pangeran mencoba merayu? Apa aku tidak salah dengar?"


"Kamu adalah istriku. Apa yang salah dengan merayumu?" tanya pangeran lembut.


Liu Li menyembunyikan semu merah di pipinya. Aku meleleh, batinnya.


"Di sini sangat dingin, ayo kita kembali." Pangeran menggandeng tangan Liu Li menuju kediamannya.


Liu Li berbaring dengan tegang di ranjangnya. Ia menunggu apa yang akan dilakukan pangeran selanjutnya.


Liu Li, aku menunggu sampai kamu yang menginginkannya sendiri, batin pangeran.


"Besok aku akan menemanimu menghadiri undangan permaisuri untuk menikmati bunga yang sedang mekar di istana," ucap pangeran Jin sambil membetulkan selimutnya.


"Bagus sekali bila pangeran ikut, aku pasti akan merasa bosan di sana sendirian."


"Tidurlah," kata pangeran. Kemudian ia memejamkan matanya.


Sudah seperti ini saja? batin Liu Li kesal. Ia pun ikut memejamkan matanya.


***


Keesokan harinya di istana permaisuri.


"Ini lebih mirip sebuah pesta dari pada acara minum teh biasa," gumam Liu Li. Ia melihat begitu banyak tamu undangan yang datang.


"Liu Li, aku akan menemui raja sebentar di ruangannya," kata pangeran Jin yang berdiri di sebelah Liu Li.


"Ya," jawab Liu Li.


"Aku akan segera kembali." Kemudian pangeran berjalan menjauh dan hilang di antara kerumunan tamu.

__ADS_1


Perjamuan makan yang diadakan permaisuri diadakan di kebun istana. Para tamu bisa dengan bebas menikmati makanan dan minuman sambil melihat keindahan bunga-bunga yang sedang bermekaran di kebun istana.


"Liu Li memberi hormat pada permaisuri," ucap Liu Li sambil membungkukkan badannya.


"Putri, aku senang melihatmu di sini, duduklah di sampingku," ucap permaisuri.


Liu Li mendekat dan duduk di sebelah permaisuri. Hal ini menimbulkan bisik-bisik para tamu yang hadir.


"Sejak kapan Liu Li dekat dengan permaisuri?"


"Kudengar putri menyelamatkan cucu permaisuri. Mungkin karena itu mereka menjadi dekat."


"Benarkah? Jadi kabar bahwa Liu Li memiliki kemampuan medis itu benar?"


"Entahlah, aku sendiri belum pernah melihatnya memeriksa seseorang."


Liu Li merasa bosan duduk diam dan mendengarkan basa-basi para wanita istana yang ingin mengambil hati permaisuri.


"Permaisuri," ucap Liu Li, "apa permaisuri tak keberatan jika Liu Li berjalan-jalan di kebun?"


"Putri, kamu bisa berjalan-jalan menikmati keindahan bunga yang sedang mekar," jawab permaisuri.


"Liu Li mohon diri," ucap Liu Li sambil sambil beranjak dari duduknya.


"Aku tak pernah melihatmu sebelumnya," sapa seorang laki-laki tampan di sebelah Liu Li.


"Aku istri pangeran Jin," jawab Liu Li, "aku juga belum pernah melihatmu."


"Bibi, aku Zang," ucapnya sopan.


Liu Li mencoba mengingat sesuatu tentang seseorang bernama Zang. Meskipun tak pernah bertemu dengannya, tapi Liu Li tahu dia adalah pangeran termuda putra dari permaisuri. Pangeran Zang terkenal tidak berguna, suka berfoya-foya, dan main wanita. Karena kesalahan yang pernah dilakukannya, raja mengasingkannya ke wilayah timur. Entah apa yang membawanya saat ini hingga ia berada di sini.


"Tak kusangka paman Jin memiliki istri yang cantik seperti bibi."


Dia pintar merayu, batin Liu Li.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Liu Li.


"Hahaha ... wanita sangat merepotkan. Aku tak berniat menikah."


Meskipun pangeran Zang terkenal dengan sikap buruknya, tapi ia memperlakukan Liu Li dengan sopan. Pangeran Zang tak akan berani macam-macam dengan istri pangeran Jin.


Selir Fu Rong yang juga hadir di perjamuan itu, dari kejauhan ia melihat betapa akrabnya pangeran Zang dan Liu Li, "akhirnya rencana yang selama ini aku siapkan bisa segera terlaksana. Aku tak mengira akan terjadi begini cepat," gumam selir Fu Rong sambil tersenyum licik.

__ADS_1


Kemudian ia memanggil pelayan setianya dan membisikkan sesuatu, pelayannya mengangguk tanda mengerti kemudian pergi meninggalkan kebun istana.


"Bibi, aku harus pergi. Ibu memanggilku. Ini pasti akan sangat membosankan," pamit pangeran Zang dengan lesu.


Liu Li tersenyum mendengarnya, "pergilah."


Liu Li kembali sendiri, ia masih berdiri di atas jembatan kecil itu. Beberapa saat kemudian seorang pelayan menghampirinya.


"Putri, pangeran Jin meminta putri untuk datang ke istana harum," ucap pelayan.


"Ya," jawab Liu Li. Kemudian ia berjalan menuju istana harum yang tak jauh dari kebun istana. Rupanya istana harum baru saja selesai direnovasi, belum ada orang yang menempati ke tempat itu.


Liu Li masuk dan melihat-lihat ruangan, "untuk apa pangeran memintaku ke sini?" gumamnya. Tiba-tiba Liu Li merasa mencium bau sesuatu yang aneh, tapi terlambat. Pandangannya kabur dan ia pun jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


Dua orang pria datang dan mengangkat tubuh Liu Li ke atas ranjang, "cepat bakar dupa perangsang. Efek dupa tidur ini tidak lama," kata salah seorang dari mereka.


Dua orang pria itu menggunakan kain untuk menutup mulut dan hidungnya, sehingga mereka tidak ikut menghirup asap dupa yang terbakar. Setelah membakar dupa perangsang, mereka menutup pintu dan jendela lalu pergi meninggalkan Liu Li.


Beberapa saat kemudian terdengar suara pangeran Zang dari luar, "bibi, kamu mencariku?" Ia membuka pintu dan melihat Liu Li tidur di ranjang, "kenapa bibi tidur di sini? Apakah bibi sedang sakit?" Pangeran Zang melangkah masuk ke dalam.


Tanpa diduga, seseorang menutup dan mengunci pintu dari luar. Pangeran Zang terkejut dan mencoba membuka pintu tapi gagal, "hei, buka pintunya!" seru pangerang Zang.


"Pangeran?" Liu Li terbangun dari tidurnya.


Pangeran Zang menoleh ke belakang dan melihat Liu Li telah bangun dari tidurnya, "bibi, apa kamu sakit?"


"Ah, kenapa di sini panas sekali?" rintih Liu Li.


"Bibi kenapa?" tanya pangeran Zang sambil mendekati Liu Li.


Liu Li meraba leher dan rambutnya, gerakan itu membuat pangeran Zang menelan ludah.


"Aku tak tahan, panas sekali," desah Liu Li.


Sekali lagi pangeran Zang menelan ludahnya, "bibi ... kamu cantik sekali," gumam pangeran Zang lirih.


“Pangeran ... bantu aku,” ucap Liu Li sambil mencoba berdiri. Ia sedang terkena efek dupa perangsang dan mengira laki-laki yang ada di hadapannya adalah pangeran Jin.


“Bibi ...” Pangeran Zang ragu, tapi akhirnya ia meraih tangan Liu Li.


Liu Li memeluk pangeran Zang begitu erat dan menggoda.


Bibi, jangan salahkan aku bila tubuhku tak bisa menahan diri, batin pangeran Zang.

__ADS_1


__ADS_2