
akhirnya sampai lah husen bersama ibu dan bapaknya di kediaman Liona. Bintang yang melihat nenek dan kakeknya datang langsung belari ke arah mereka.
" nenek.. kakek..."
kakeknya langsung mengendong bintang memeluk dan menciumnya. neneknya pun melakukan hal yang sama.
" cucu nenek yang pintar lagi ngapain"
" bintang lagi belajar sama mamah nek"
" belajar apa sayang"
" mewarnai nek.
" ya udah nenek dan kakeknya masuk dulu. bintang biar om aja yang gendong. nenek dan kakek pasti masih capek."ucap Liona
Liona mempersilahkan kedua orang tuanya masuk. tak lupa Liona mencium kedua tangan orang tuanya itu.
" bapak sama ibu sudah makan?
" sudah tadi sebelum berangkat?
" ibu sama bapak mau istirahat dulu. itu kamarnya udah Liona siapkan dari tadi pagi.
" nanti aja nak, ibu sama bapak masih kangen sama bintang"
" ya udah Liona tinggal bentar yah bu. Liona mau bantuin mba Sri masak.
" iya nak.
" bintang jangan nakal ya. jangan minta gendong kakek. kakek masih capek.
" iya mah..
*******
di tempat lain..
__ADS_1
Ana hari ini tak konsen kerja, ia masih mengingat ingat kejadian semalam. yang membuatnya senyum senyum sendiri. Ana tak sadar telah di perhatikan sekertarisnya.
" maaf bu, saya udah mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. jadi saya langsung masuk aja.
" ya, ada apa" jawab Ana ketus
" ini bu saya membawakan berkas yang perlu ibu tanda tangani
" letakan saja disana dan keluar.
sekertaris Ana pun hendak keluar tapi di panggil lagi pleh Ana.
" coba kamu cek jadwal saya hari?
" hari ini jadwal ibu Ana kosong"
" ya udah aku hari ini mau pulang saja. saya lagi tak enak badan. yang ingin bertemu suruh kembali saja besok.
Ana pergi dari kantornya hendak pulang tapi di urungkan niatnya karna dia ingin menemui Husen. entah mengapa dia merindukannya.
tok.. tok.. tok..
" ngapain kamu kesini?
" aku ingin bertemu dengan mu?
" aku bilang semalam adalah kesalahan tak usah kamu datang kesini menemui ku. aku tak ingin kak Liona tau.
" kalo kamu tak ingin kakak mu tau hubungan kita. aku minta nomer ponselmu." ucap Ana meberikan ponselnya.
Terdengar Liona memanggil namanya.
"husen"
husen tak mau kakaknya melihat Ana sedang bersamanya. husen pun memegang tangan Ana sambil membawa ana menjaih dari rumah kakaknya itu. Ana merasa senang saat husen memegang tangannya.
Mereka telah jauh dari rumahnya Liona. husen memyuruh Ana masuk ke dalam mobil tapi Ana tak mau.
__ADS_1
" berikan nomer ponsel mu dulu baru aku pulang. atau aku akan meminta langsung kepada kakakmu?
" wanita gila, apa yang sedang kamu inginkan dari ku.
" aku hanya meminta nomer ponsel mu saja. ada yang salah?
" ada.. buat apa?
" aku cuma butuh temen.
" aku bukan temen mu.. cari orang lain saja."
" ya udah jangan halangi aku mau menemui Liona. mungkin Liona bisa memberikan nomer ponsel mu."
" ya udah sini" ucap Husen sambil mengetik nomernya di ponsel Ana.
" ini sudah" ucap husen lagi
" gitu dong dari tadi, makasih" ucap Ana
tiba tiba Ana mencium pipinya husen. husen terkejut m
dan memegang pipinya.
" dah, aku pulang dulu. nanti aku telpon awas tak di angkat."
" dasar wanita gila."gumam husen
husen kembali ke dalam rumah.
" kamu dari mana, kakak dari tadi memanggil mu.
" dari luar kak,
" tadi sepertinya ada orang mengetuk pintu.
" oh itu tadi orang nanya alamat.
__ADS_1
husenpun berlalu meninggalkan Liona. Liona lagi lagi curiga melihat perubahan sikap husen. karna baru kali ini husen berbicara tak menatap wajah Liona.
sepertinya ada yang husen sembunyikan dari ku.. ucap Liona dalam hati.