
Suara bising dari mesin motor memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya apalagi semakin nyaring saat mesinnya dibuat mainan sehingga menciptakan derum-derum menyakitkan.
Siapa yang sangat kurang ajar mengendarai motor pagi-pagi buta bahkan sebelum matahari sempat menyembul dari peristirahatannya dan mengganggu tidur nyenyak semua orang?
“HI SIALAN ! Kau gila atau bodoh hah?! Kalau mau balapan jangan disini! Kau pikir ini rumah nenek moyangmu bisa seenaknya mengganggu tidur nyenyakku! HOI GOBLOK LO YA !”
Pria masih lengkap memakai baju tidurnya-singlet putih ketat dan boxer selutut dengan matanya setengah terbuka ia keluar ke balkon dan berteriak memprotes pada orang sangat tidak tahu diri yang memainkan mesin motor di depan apartemennya.
Orang yang dimaksud mematikan mesinnya. Dia turun dari motor balapnya dengan gerakan sangat cool. Sepatu boots hitam ber-hak bahan kulit menjejak tanah begitu sempurna.
Dari ujung kaki, dia mengenakan jeans hitam mengkilap, jaket kulit warna senada yang melekat press tubuhnya. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit (yang lagi-lagi) hitam terangkat melepas helm hitamnya.
Pria itu siap melontarkan sumpah serapahnya pada orang yang menurutnya sengaja pamer kekerenannya, langsung melongo melihat siapa orang dibaliknya.
Rambut hitam bergelombang itu tergerai sangat indah bersamaan helm yang membebaskan kepalanya. Kaca mata frame macan tutul membingkai apik kedua matanya.
Orang itu tersenyum setengah mempertontonkan bibir seksi merah wine-nya. Gerakan slow motion saat membuka kaca matanya nyaris membuat bola mata Pria itu loncat keluar.
“Jina!”
Tidak peduli dengan apa yang ia pakai sekarang, Pria itu langsung keluar dari apartemennya, melompati empat anak tangga terakhir sekaligus, mendorong pintu kaca apartemen secara sembarangan dan langsung berhambur memeluk wanita yang lama tidak ditemuinya.
Jina pun membalas pelukan Hito tak kalah eratnya sambil senyuman lebar. Sedetik.. dua detik.. lima menit.. sembilan menit.. Jina bosan juga kenapa Hito tidak juga melepas pelukannya!
“Brengsek! Jangan memelukku terlalu lama! Kau bau sekali!”
Jina mendorong tubuh Pria itu pelan hingga pelukan mereka terlepas. Hito tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karna bisa melihat yeoja itu lagi setelah hampir lima bulan ini dia menghilang.
Tidak, lebih tepatnya pergi berlibur. Jina berkacak pinggang. “Dan siapa yang kau tadi panggil bodoh huh? Benar-benar..” dia memukul lengan berotot Hito dengan kepalan tangannya.
“Kupikir ada orang iseng pagi-pagi buta membangunkanku dengan mesin motor barunya!” sindir Pria itu. Yang disindir malah tertawa renyah. Motornya sekarang memang baru berumur seminggu.
“Itu kan alarm paling ampuh untuk membangunkanmu tukang tidur!” debat Jina tidak mau kalah. “Yayaya, nyonya keras kepala!”
“HEY!”
Jina sudah akan melayangkan tinjunya tapi Hito buru-buru menambahkan, “yang manis..” Jina menyipitkan matanya pada Hito yang kini sedang menyeringai tidak jelas.
__ADS_1
Pria itu tidak suka mencari keributan apalagi dengan Jina, wanita harimau yang siap menelannya bulat-bulat kalau didebat sedikit saja. “Ayo masuk!”
Setelah Jina memarkirkan motornya, dia bergegas masuk ke apartemen Hito yang ditinggalinya seorang diri. Keadaan apartemen itu masih sama sejak terakhir kali dia berkunjung.
Kotor, sesak, kardus dimana-mana, baju yang entah masih bersih atau kotor bertebaran di lantai kamar, bungkus bekas snack dan minuman kaleng berserakan di atas meja serta piring-piring dan gelas kotor yang sampai berlumut di bak cuci.
Ckck! Benar-benar jorok!
“Astaga, kapan terakhir kali apartemenmu dibersihkan? Semakin lama terlihat seperti tempat pembuangan sampah!”
Jina menyingkirkan kaos oblong milik Hito dari sofa ruang tamu, satu-satunya lahan yang tersisa di apartemen itu untuk mendaratkan pantatnya.
“Iuuuhhh! Apa ini?!” Jina melempar celana dalam—yang sudah tidak jelas warnanya, tidak putih, tidak kuning— yang tidak sengaja ia duduki ke sembarang tempat dan hebatnya mendarat mulus di kepala pemiliknya.
“Hei! Hati-hati bung! Ini barang berharga!”
Hito memungut celana dalamnya dari atas kepalanya, membuntalnya membentuk bola, lalu melemparnya masuk ke keranjang baju kotor. Dia ikut menghempaskan diri di samping Jina yang kini menatapnya sengit.
“brengsek! Jangan dekat-dekat! Kutu rambutmu terbang semua! Hiyy!!”
Hito meringis saja. Dia menggaruk kulit kepalanya yang memang gatal. Kapan ya terakhir kali dia mencuci rambutnya? Mungkin dua bulan yang lalu!
“Nara akhir-akhir ini jarang mengunjungiku karna sibuk mengurusi salonnya. Jadinya aku semakin malas saja keramas!” Nara adalah salah satu karyawan di salonnya sekaligus sahabat dua bersaudara itu.
“Whaatttt??? Jauh-jauh dariku!!!”
Jina serta-merta menendang tubuh Hito dengan kakinya—yang masih memakai boots—hingga Pria itu terjungkal jatuh dari atas sofa, berguling ke karpet di bawahnya.
Jina tertawa keras. Sementara Hito bersungut-sungut kesal. Tega sekali wanita yang dianggapnya sebagai adiknya itu!
“yyeeehh Jahat sekali dirimu!”
Hito mengelus-elus pantatnya, tidak, menggaruk pantatnya yang juga terasa gatal. Jadi tidak hanya kepalanya yang gatal, tapi seluruh badannya gatal! “Padahal aku merindukanmu!”
“Boleh saja, tapi jangan berani memelukku sebelum kau mandi!” Jina mengibas- ngibaskan jaket dan rambutnya, takut-takut ada kuman atau kutu yang tertinggal di tubuhnya.
Hito mengerucutkan bibirnya. “Aku kan merindukanmu!”
__ADS_1
“Mandi dulu sana!”
“Iya iya, cerewet! AOW!”
Hito merintih lagi karna Jina menendang pantatnya lagi! Benar-benar anak itu! Tidak sopan sekali pada orang yang lebih tua!
Hito langsung berdiri tegap, dengan sangat gesit dia merundukkan kepalanya lalu mengecup puncak kepala Jina dan lari terbirit-birit saat teriakan menyeramkan Jina melengking keras.
Dia langsung menutup pintu kamar mandinya sambil memegang dadanya yang dag-dig-dug ketakutan karna ia tahu Jina kini meronta-ronta kesal.
“AWAS KAU HITO !!!”
Hito terkikik saja tanpa suara. Dasar Gadis itu! Tidak berubah sedikitpun. Selalu tampil keren dimanapun dan kapanpun!
Bahkan setelah lima bulan memilih pergi tanpa alasan, dia kembali dengan wujud dan penampilan yang sama. Jadi buat apa dia pergi? Dia pernah dengar dari teman-temannya—yang semuanya laki-laki!—Jina mentato tubuhnya!
Ya ampun! Andai ayah mengetahuinya pasti Jina akan dimarahi habis-habisan. Ujung-ujungnya Hito jugalah yang disalahkan!
Mengherankan sebenarnya karna sifat Jina bisa berubah sedrastis ini. Galak, keras kepala, tidak sabaran, menjengkelkan, parahya dia sekarang pengangguran!
Hito ingat kalimat elakan dari gadis itu ketika dia mengatainya sebagai pengangguran: Aku bekerja!
Yah~ bekerja di lintasan sirkuit apa itu masuk hitungan pekerjaan layak untuk seorang wanita muda-seksi-bergairah sepertinya?
Memamerkan beberapa bagian tubuhnya, mengibar-ngibarkan bendera penanda memulai balapan, mengelap keringat pembalap, membenarkan mesin mobil yang rusak atau sekadar mengecek kondisi mobilnya.
Sampai melongo kali pertama melihatnya begitu. Tapi jangan salah, gadis itu tak jarang pula ikut balapan dan memenangkan banyak pertandingan. Hebat!
Selesai mandi, tentu saja sudah mencuci rambut dan tubuhnya sudah wangi, dia keluar kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah.
Ada suara alat penggorengan saling beradu dari arah dapur. Dia menengok dan mendapati Jina tengah serius memasak. Kehebatan lain gadis itu walaupun dari luar terlihat serampangan tapi dia punya sisi keibuan juga.
Jina sudah menanggalkan jaket kulitnya, menyisakan tanktop hitam ketat, mempertontonkan tubuh ramping nan seksinya.
Oh! Tidak ketinggalan tato kupu-kupu yang menandai tulang belikatnya. Wah! Kalau tiap pagi dia disuguhi pemandangan indah begini pasti harinya akan lebih menyenangkan.
Astaga bahkan ini masih sangat pagi untuk seorang Hito yang notabene nya pria normal yang mudah terangsang.
__ADS_1