revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 18


__ADS_3

*****


“Kita akan sama-sama membuktikan.”


Sekujur bulu kuduk yang menempel di tubuh Jina meremang. Gadis itu berdiri bertatapan dengan Reno yang ekpresinya tak terbaca. Satu tegukan ludah lolos melalui tenggorokannya. Jantungnya berdegup kencang.


Kau bisa menolaknya. Kau bisa menolaknya.


“Bisakah kita bernegoisasi?”


Reno cemberut. Dia menggeleng. Bukan itu yang ingin ia dengar. Dia hanya ingin menyelesaikannya cepat, tanpa perasaan, dan membuktikan sendiri kalau gadis itu masih perawan. Malam ini.


“Tidak, tentu tidak. Kau sendiri yang menyerahkan dirimu padaku.”


“Tapi kita tidak pernah menandatangani apapun tentang melakukan hubungan, hmm, intim.” Suara Jina semakin lama kian melemah. Jujur, dia malu saat mengucapkannya. Bahkan dia memalingkan mukanya kemanapun asal tidak menghadap suaminya.


“Memang tidak pernah. Tapi aku juga tidak berjanji tidak akan menyentuhmu.” Reno mengambil dua langkah lebar yang cukup menggapai tubuh Jina. “Lagipula ini hanya ajang pembuktian. Aku akan melakukannya dengan cepat sampai kau tidak merasa bahwa kita sudah melakukannya.”


Kening Jina mengernyit. Itu artinya, apa yang akan mereka lakukan, tidak akan berefek apapun pada hubungan mereka di dunia nyata? Aish, bodoh! Memang kau mengharapkan apa, Jina? Apa kau berharap setelah mereka bercinta Reno akan berubah baik padamu? Mimpi saja!


“Apa kau takut aku akan menyakitimu?” Renk menggenggam tangan Jina. Diremasnya tangan itu. “Tenang saja, aku sudah sangat profesional melakukannya.”


Jina balik meremas tangan Reno. Kantong empedunya seperti naik ke kerongkongan. Pahit sekali. “Apa kau harus mengatakannya sejelas itu?”


“Supaya kau tidak ketakutan.” Reno terkikik geli. Setakut itukah Jina? Ini artinya gadis itu memang belum pernah sama sekali melakukannya. Dan jika itu benar, dia akan memerawani gadis lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya.

__ADS_1


Jina menggigit bibir bawahnya. Dia menatap kedua iris cokelat itu lama. Sampai dia menemukan keraguan dalam dirinya lenyap. Di kepalanya hanya ada bayangan Reno yang baik padanya, yang terkadang mencemaskannya, yang sederhana.


Jantungnya semakin berdegup keras saat Reno tiba-tiba memeluknya dari belakang. Melemaskan otot lututnya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di lekukan antara leher dan pundaknya kemudian mengecupnya.


Ketakutan Jina perlahan memudar saat merasakan aroma yang sangat wangi yang terkuar dari tubuh Reno. Apa pria itu sengaja menciptakan suasana seperti ini? Suasana menggelikan sekaligus aneh ini?


Tok! Tok!


“Reeennn~”


Reno berdecak kesal. “Sialan. Siapa yang mengganggu?!” Reno mengeratkan pelukannya di tubuh Jina lalu memberikan dua kecupan di bahu gadis itu.


“Itu suara Ibu.” Bisik Jina seraya melepaskan pelukan Reno darinya lalu berbalik. “Sebaiknya kau menemui Ibu dulu. A-aku—”


“Ibu bisa menunggu. Siapapun bisa menunggu. Tapi ini,” Jina membelalak ketika merasakan sesuatu yang keras menempel di perutnya dan mendesak turun. Dia tahu itu apa! “Tidak bisa menunggu. Dan apa perlu kuingatkan lagi, kau mempunyai janji untuk membuktikan padaku, sayang.”


Reno menggeram kemudian bibirnya melumat bibir Jina penuh gairah. Jina hanya diam tidak membalas. Namun tuntutan Reno agar Jina membalas ciumannya, memaksa gadis itu menyerah. Dia membalas ciuman Reno untuk pertama kalinya. Lidah mereka saling mencecap satu sama lain.


Reno senang saat Jina membalas ciumannya. Dia akan pura-pura tuli untuk beberapa menit ke depan. Membiarkan Ibunya menunggu tidak masalah bukan?


“Dimulai dari sini,” Reno menurunkan celana jins milik Jina berikut celana dalamnya lalu mengecup paha dalam gadis itu sampai dia mengerang.


"aargh"


Desahan yang pertama telah keluar. Reno melanjutkan kecupannya, mengecup pusat tubuhnya, menyiksa Jina dengan sengaja. Gadis itu meremas sprei ranjang tanpa ampun. Dia tidak pernah merasa sepanas ini. Dia tidak pernah disentuh pria manapun sampai tahap ini. Tidak, selain Reno

__ADS_1


“Akh!”


“Klimaks yang pertama.” Reno mengecup bibir Jina. Gadis itu terengah-engah. Sesuatu mengalir dari tubuh bawahnya. Mengalir tanpa diperintah dan membuatnya malu setengah mati, atau, jijik?


Sejurus kemudian Jina merasa bodoh karena membiarkan ini terjadi padanya. Harusnya dia tidak semudah itu. Harusnya dia melakukannya dengan pria yang mencintainya. Bukan karena mempergunakan ini semua sebagai ajang pertunjukan saja.


“Kau yang memulainya,” Reno mengusap dahi Jina yang berkeringat. Gadis itu membuka matanya. Kabut bergairah dan ketakutan yang terpancar dari sana. “dan biarkan aku yang mengakhirinya.”


Kalau saja jina bisa, dia ingin menjerit sekeras-kerasnya saat Reno menurunkan celana piyamanya dan membebaskan miliknya yang tegak dan keras. Jina tidak pernah melihat kejantanan milik pria dewasa. Apakah benda sebesar itu bisa masuk ke dalam miliknya?


“Bisa.” kata Reno seolah menjawab pertanyaan Jina dalam hati. “Mungkin ini bisa membantumu menyesuaikan sebelum aku benar-benar masuk.” Reno menundukkan wajahnya, mencium Jina dengan ciuman yang sangat lembut. Dia tidak bisa tidak menjerit dalam ciuman mereka ketika satu jari Reno memasukinya. Bergerak masuk dan keluar terus menerus membuat kepalanya pening. Reno menambah satu jarinya lagi sehingga kini dua jarinya menyiksa tubuhnya di bawah sana.


Sesuatu di dalam perutnya terasa teraduk-aduk, ada yang ingin meledak, dan itu menyiksanya. “Lepaskan untukku.”


Sial! Umpat Jina dalam hati. Dia menggeleng. Tidak tahu harus melepaskannya atau menahannya atau bagaimana? Pikirannya campur aduk!


Gerakan jari Reno di dalam tubuhnya semakin cepat, cepat, menggoda titik-titik rangsang yang tidak pernah Jina ketahui dia miliki. Dan di saat dia sudah tidak kuat lagi menahannya, dia melepaskannya dengan jari Reno masih berada di dalam dirinya.


“Yang kedua,” Reno mengecup daun telinga Jina lalu menggigitnya gemas. Jina mengerang saat Reno mengeluarkan kedua jarinya. Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat. Dia tidak punya keberanian sama sekali menatap Reno. Oh, dia bahkan berharap besok dia tidak akan melihat pria ini lagi.


“Tarik napasmu.” Reno menunggu. Gadis di bawah kuasanya ini hanya menghembuskan napas pendek-pendek tapi tidak merespon perintahnya. Sebenarnya Reno juga merasa dirinya aneh. Kenapa dia bisa selembut ini pada seorang gadis? Dan kenapa jantungnya malah berdebar tak karuan?


“Aku bilang tarik napasmu dan aku akan menuntaskannya secepat yang kubisa.” Reno mengerang dalam hati. Sebuah suara menggema di kepalanya. Alarm berbunyi keras di kepalanya.


Tidak. Jina tidak sama dengan Seena. Dulu Seena tidak setakut ini padanya. Tapi Jina, gadis itu jelas-jelas sedang ketakutan. Tubuhnya bergemetar.

__ADS_1


__ADS_2