revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 28


__ADS_3

Sebelum kaki Jina hendak menginjak paving block taman, secara tiba-tiba lengannya ditarik ke belakang dan tubuhnya dipaksa berbalik menghadap pantulan pria dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam tersiksa.


“Aku pernah diperingati olehmu dan aku mengabaikannya. Sekarang aku baru sadar ternyata peringatan itu bereaksi padaku.”


“Reno—”


Tidak menghiraukan penolakan gadis itu, langsung saja Reno menyeretnya masuk ke dalam gereja, mengejutkan para tamu undangan. Bahkan Ibunya melotot tidak percaya.


Keluarga lain juga tampaknya terkaget-kaget dengan perubahan situasi disana. Gadis yang diseret Reno bukan gadis yang akan dinikahinya hari ini.


“Reno, lepaskan. Orang-orang akan mengiramu gila!” desis Jina yang juga tercengang dengan tindakan nekat Reno. Apa yang pria ini akan lakukan padanya di depan umum?


Reno berhenti tepat di depan altar. Dia menautkan jari-jemari mereka lalu mengacungkannya tautan keduanya ke udara.


“Aku telah bersumpah di hadapan Tuhan bahwa aku, Reno Hadirjo, tidak akan berpisah dari istriku, Jina, hingga maut memisahkan kami. Dan aku, tidak akan mengkhianati janjiku untuk selalu menjaganya, melindunginya, memberikan ketulusanku hanya untuknya.”


Semua orang terperanjat. Calon mertuanya terhempas di bangku barisan terdepan dengan mata terbelalak. Mereka merasa dibodohi karena mengira Reno belum beristri seperti yang dikatakan oleh Hanna, Ibu Reno.


“Apa-apaan Reno, apa maksudmu?”


Jina berusaha melepas lengannya dari cengkeraman Reno. Namun, bukannya melepasnya, Reno malah menarik pinggangnya. Mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka bersentuhan. Dengan lantangnya dia berucap, “Aku sangat mencintai istriku.”


Tepat setelahnya ciuman lembut mendarat di bibir merah mungilnya. Lengan kekar itu melingkari pinggang Jina. menopangnya agar tetap berdiri, memberitahukan pada dunia jika inilah gadis pilihannya.


Ciuman itu tidak berangsur melemah, malah semakin menuntut sampai lidahnya menerobos ke dalam mulut gadisnya. Intens dan lama. Jina meremas jas putih Reno saat lumatan demi lumatan memenuhi bibirnya. Menghangatkan dadanya.


“Apa kau mengira aku tidak berani berbuat kekanakan demi mempertahankanmu?”


.


.


.


Epilog


“Aku tahu ini akan terjadi. Mereka—sangat romantis.” ujar Hery sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu berbalik keluar. Jika dia menonton lebih banyak lagi, dia tidak yakin tidak bisa menahan hasrat meniduri kekasihnya malam ini.


“Wah, Reno jantan sekali mencium istrinya sehebat itu tanpa rasa bersalah pada calon istrinya.” Sammy melirik Lyra yang menangis di dekapan ayahnya setelah melihat adegan di depan sana. “Dasar wanita gila. Menjebak pria seperti Reno adalah ide terbodoh.”


“Biarkan saja. Toh dia juga yang menderita.” sepupu Reno mengedikkan bahu tidak peduli.

__ADS_1


“KYAAA! KAKAK-KU!” protes Henry yang begitu dia hendak berlari segera dicegah oleh ketiga sepupu Reno agar tidak menghancurkan keromantisan mereka.


“Bocah tengil! Kau mau merusaknya?!”


.


.


.


Tegang. Panas. Itulah gambaran suasana ruang keluarga kediaman utama Hadirjo. Dua keluarga tengah bersitegang perihal batalnya pernikahan anak mereka karena keputusan sepihak dari Reno Hadirjo.


Keluarga Lyra tidak terima dipermalukan di depan tamu undangan dan awak media. Bahkan sekarang pemberitaan pernikahan mereka telah memanas dan tersebar melalui saluran eksekutif.


Ibu lyra menepuk-nepuk bahu putrinya berusaha menenangkan lyra yang tidak henti-hentinya menangis dalam rangkulannya.


Meskipun dia kecewa tapi kenyataan calon suami putrinya telah beristri dan jikalau pernikahan mereka tetap berlangsung, kemungkinan putrinya akan jadi istri kedua menohok hatinya.


“Ibu, aku ingin Reno. Tidak mau tahu.” lyra melancarkan tatapan marahnya pada gadis menjijikkan yang berdiri bersisihan dengan mantan calon suaminya.


Jina merasakan tangan besar melingkupi tangannya, memberi kekuatan dan rasa hangat segera menjalar hingga menenangkan hatinya yang takut. Jujur, dia takut menghadapi orang-orang ini. Tatapan benci yang mereka tahan sejak tadi tidak lagi mereka tutupi.


Bukan bisikan itu alasan mengapa kepalan tangannya dalam genggaman pria itu menguat. Melainkan kecupan basah yang baru saja didaratkan di tengkuknya.


Reno terang-terangan mencium tengkuknya di depan beberapa pasang mata yang sekarang dibuat termangu dan tidak berkedip saking terkejutnya.


“Keputusanku sudah jelas. Kurasa aku tidak perlu mengulangnya jika tidak ingin ada orang yang terluka karena mendengar lagi.” tegas Reno tak terbantahkan.


Tiba-tiba lyra berdiri dengan tergesa dan berteriak nyaring, “Ren, kau tidak boleh begini! Kita sudah menghabiskan satu malam bersama. Di bawah selimut yang sama. Kita sudah bercinta! Bagaimana kalau aku hamil? Kau tidak mau bertanggung jawab, yaa?”


Apa?


Hati Jina berdenyut perih. Udara di sekitarnya mendadak menipis dan dadanya sesak. Seketika dia menghempaskan genggaman Reno darinya.


Pria di sampingnya jelas tidak terima. Sebelum Jina sempat kabur, Reno lebih dulu mencegahnya. Mencengkeram lengan gadisnya erat.


“Jangan dengarkan dia. Aku dijebak! Aku sama sekali tidak bercinta dengannya!”


Sudut bibir lyra terungkit ke atas. “Kau bohong, ren. Kita berdua ‘kan yang menghangatkan ranjang malam itu. Perlu bukti apa lagi kalau aku bukan perawan oleh karena perbuatanmu?”


“TUTUP MULUTMU, LYRA!”

__ADS_1


Tidak. Itu bukan teriakan Reno. Melainkan Ayah Lyra. Pria paruh baya itu tidak tahan mendengar pertengkaran putrinya di depannya. Apalagi mereka membahas aib keluarga secara terang-terangan. Harga dirinya serasa dicoreng.


“Kau memalukan! Gampang sekali kau mengumbar keburukanmu sendiri di depan semua orang? Apa kau tidak punya harga diri?”


Ayah Lyra merangsek maju. Dalam sekali sentakan, satu tamparan dengan derasnya meluncur ke wajah lyra. Dia tidak peduli menghukum putrinya di depan orang lain. Dia ingin memberi pelajaran pada putrinya kalau kelakuannya sangatlah tidak terhormat dan murahan.


“Ayah? kenapa? Kenapa kau menamparku?” lyra memegang pipi kanannya yang memanas. Air matanya siap jatuh kapan saja.


“Karena kau tidak tahu malu! Merelakan kehormatanmu demi laki-laki?”


Perhatian Ayah Lyra beralih pada Reno. Tak perlu menunggu terlalu lama untuk menghajar wajah tampan pria itu sampai Reno terjungkal ke lantai.


“Dan kau, laki-laki brengsek! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Nikahi putriku. Tidak peduli kau mau menjadikan Lyra istri keduamu atau kau bisa menceraikan istrimu.”


Reno mengusap sudut bibirnya yang terluka dengan lengan kemeja putihnya hingga meninggalkan noda darah disana. Geram.


Dia memang tidak ingat persisnya kejadian malam itu karena dia berada dalam pengaruh obat tidur yang diberikan Lyra ke dalam minumannya.


Tapi dia benar-benar yakin, dia tidak mungkin melakukan itu. Bagaimana membuktikannya? Lyra adalah gadis yang licik. Gadis itu tidak akan semudah itu menyerah sebelum mendapat apa yang diinginkannya.


Meskipun lyra kesal dengan ayahnya yang menamparnya, tapi dia cukup merasa di atas angin karena ayahnya tetap menyuruh Lyra menikahinya. Dia tidak apa-apa kalau harus menjadi istri kedua. Toh, dia bisa memakai cara lain menyingkirkan istrinya itu.


“Aku tidak mau.”


Susah payah Reno bangkit dari posisinya lalu meraih lengan Jina lagi. Gadis itu kelihatan sangat kacau. Keyakinannya perlahan memudar sejalan dengan kenyataan yang baru terungkap.


Reno menangkup wajah istrinya, memaksa gadis itu mendongak meski dia mengelak. “Sayang, sayang,”


Panggilan Reno tidak digubris. Jina menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat. Dia bingung. Kenapa Reno menahannya pergi sementara disini ada gadis lain yang memohon pertanggung jawabannya sebagai laki-laki.


“Dengarkan aku, kumohon, percaya padaku. Aku tidak melakukannya. Dia yang menjebakku.” Reno meremas kedua pipi Jina, sangat berharap istrinya mau mempercayainya.


“ren, jangan berbohong lagi. Apa aku perlu hamil dulu baru kau percaya?”


“Sialan, diam kau!” bentak Reno kasar.


lanjut besok yaa...


maaf kalau cerita tidak sesuai dengan peminat pembaca.


sejauh ini trima kasih atas semua perhatian nya. .

__ADS_1


__ADS_2