
Nara mencoba memberikan saran yang menurutnya paling rasional sekarang. Masalah Jina akan diusir lagi atau bahkan tidak diperbolehkan bertemu, itu lain cerita lagi.
Jina mengangkat wajahnya. “Coba saja, tapi jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.” Nara menambahkan ketika melihat adanya tanda-tanda penolakan dari gadis itu.
“Kau tidak tahu kan apa yang dia lakukan padamu kalau kau tidak bertanya?”
Benar. Nara benar. Setidaknya kalau dia mencoba akan membuahkan hasil, daripada duduk termangu tidak jelas melakukan apa.
Semoga saja mood pria itu sedang bagus sehingga mau menerima kedatangannya. Daripada harus berakhir diusir seperti kemarin, apa dia harus mencoba metode lain seperti yang disarankan Nara?
.
.
.
Tok tok!
Jina mengetuk pintu kamar rawat Reno sebelum melangkah masuk ke dalam.
Fiuh, untung saja pria itu sedang sendirian. Mendekatlah dia lalu meletakkan keranjang buah di nakas samping pembaringan.
Reno, pria itu mendongak. Disaat itulah Jina yakin ada perubahan ekspresi wajahnya.
“Aku minta maaf atas kesalahanku. Aku minta maaf membuatmu terbaring disini dengan keadaan yang sangat mengerikan. Aku minta maaf karna tempo hari aku datang sebagai perusak suasana dan tidak tahu diri. Aku minta maaf menjadi orang yang menyebabkanmu menderita. Tolong Maafkan semua kesalahanku.”
Jina membungkuk beberapa detik.
Reno terkejut. Tiba-tiba gadis ini datang dan meminta maaf lagi? Apa dia perlu diusir oleh polisi dulu baru tidak akan datang-datang kemari lagi?
“Aku menolak permintaan maafmu. Sekarang keluar.”
Hati Jina menjengit sakit dan tidak terima. Punggungnya menegak. Pria itu sudah kembali pada aktivitasnya semula, membaca tabloid otomotif. Hah?
“Tuan, kumohon maafkan aku. Dan aku benar-benar meminta padamu untuk mencabut tuntutanmu padaku. Aku ingin menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan polisi.” Jina memohon.
Apalagi yang harus diperbuatnya? Pria ini jelas-jelas tidak akan melepaskannya begitu saja dan tentunya dia punya otoritas besar untuk memasukkannya ke dalam penjara. Sebelum hal terburuk itu terjadi, Jina harus mencegahnya.
__ADS_1
Reno tidak menggubris. Tangan kirinya yang bebas membalik lembar tabloid di pangkuannya. Pagi yang suram. Kedatangan tamu tidak diundang. Haruskah dia meladeni gadis ini sementara otaknya seperti kereta uap dan bisa saja tanpa kontrol mengucapkan kata-kata kasar sekarang juga jika dia tidak segera lenyap.
“Tuan yang terhormat, aku memohon.”
Reno menghembuskan napas kasar. Melempar tabloidnya ke samping tubuhnya kemudian mengalihkan perhatiannya pada Jina. Menilik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.
Gadis itu mengenakan dress tosca selutut. Bahkan dia mengubah caranya berpakaian, batinnya. Berpikir-pikir sebentar. Sayang sekali, tidak ada alasan baginya untuk menolak kehadiran Jina hari ini.
Dia menepuk-nepuk celah di dekat tempatnya berbaring. Kening Jina berkerut.
“Tidak mungkin kan aku menyuruhmu duduk di sofa dan kita berbicara berjauhan?” Jina menurut apa yang diminta pria itu. Bahkan sekarang dia berubah menjadi gadis penurut.
“Katakan, apa yang bisa kau lakukan?” tanya Reno tanpa basa-basi.
Sejujurnya, dia sempat tergoda oleh gadis ini. Begitu pantatnya menempel sempurna di dekatnya, sekejap aroma mint bercampur mawar menyeruak masuk ke dalam rongga paru-parunya.
Oke,Ren, fokuslah!
“Hmm, aku akan melakukan apapun supaya kau mau mencabut tuntutanmu dan aku tidak dipenjara.” Reno tersenyum. Sudah dia duga. Inilah yang dia tunggu-tunggu.
“Jadilah kaki dan tanganku.”
“Itu dia masalahnya. Aku adalah orang yang tidak suka diganggu di saat-saat tertentu, apalagi orang yang tidak kukenal. Mood-ku sering berubah. Apalagi kalau orang itu yang membuatku begini.”
Hati Jina mencelos. Pria ini sengaja menyindirnya, ya? “Jadilah istriku. Kau bisa merawatku kapan saja tanpa ada seorang pun yang keberatan.”
Jina terbatuk-batuk. Apa? Apa katanya? Apa dia barusan mengajaknya main petak umpet??
“Kau bercanda??.”
Baru saja Jina akan beranjak, Reno lebih dulu menariknya kembali menggunakan tangan kirinya yang terpasang selang infus, hingga gadis itu ambruk di atas dadanya.
Jina sontak meronta ingin dilepaskan tapi Reno malah menahannya semakin kuat. Astaga dengan satu tangan saja pria ini sudah sanggup membelenggunya, bagaimana jika kedua tangan pria ini bekerja sempurna?
“Katamu kau akan melakukan apapun. Kau sudah mengiyakan sejak awal.” kata Reno tajam. Mata obsidian-nya seakan menembus jauh ke dalam mata Jina yang juga sedang menatapnya.
“Tapi aku tidak mau menikah, ini tidak masuk akal.” elaknya. Dia masih memberontak berharap Reno akan melepaskannya.
__ADS_1
“Tidak ada yang mustahil bagiku.”
Tuhan! Setengah mati Reno berusaha memfokuskan diri pada gadis ini. Ketika lengannya tanpa sengaja mengenai pusat tubuhnya, dia mengerang dalam hati.
Ditambah lagi aroma gadis ini sungguh menyiksanya. Kenapa gadis ini bisa sangat menggoda di saat-saat seperti ini?
Apalagi saat dada mereka saling bergesekan walaupun masih ada kain penghalang, lagi-lagi dia hanya bisa menelan ludah.
“Sialan.” desisnya saat lengan Jina yang masih terus bergerak menyenggol pusat tubuhnya lagi.
Dia tidak tahan lagi. Dia menarik lengan Jina ke arahnya dan dalam hitungan detik meraup bibir ranum milik Jina. Dia melumatnya perlahan dengan sedikit menyesapnya. Semakin dirasakan semakin manis saja rasanya.
Jina berusaha melepaskan ciuman itu, menepuk dada Reno agar pria itu berhenti. Dia merasa sesak. Reno sudah kelewatan merebut ciuman pertamanya!
“Baru pertama kali, hmm?”
Seakan tahu segalanya, Reno mencium bibir Jina semakin dalam dan dalam. Bibir mungil milik Jina benar-benar membuatnya ketagihan. Dia menginginkan lebih. Tapi tidak sekarang.
Jina terengah-engah setelah Reno melepas ciumannya. Reno tersenyum remeh melihat wajah Jina memerah dan mengambil napas banyak-banyak.
Meski gadis itu menolak, tapi jujur ciumannya sangat hebat, sanggup memporak-porandakan hatinya. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai-sampai dia takut Reno bisa mendengarnya.
“Aku tidak mentolerir adanya penolakan.”
Jina memandang nanar ke arah Reno. Dia tidak suka diperlakukan sembarangan oleh orang lain apalagi orang itu belum mengenalnya.
Tapi hatinya tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdetak kencang untuk orang ini.
“Sekretarisku yang akan mengurus pernikahan ini. Kuharap kau tidak terkejut jika pernikahannya akan dekat-dekat ini.”
“A-apa?” Ya Ampun kejutan apa lagi ini?
“Aku ingin makan buah, suapi aku ya?”
Reno mengacuhkan kebengongan Jina padahal dari wajahnya saja sudah tersirat betapa dia masih terkejut atas ciuman yang dia berikan.
Seenaknya saja dia menentukan tanggal pernikahan mereka dan sekarang dia meminta disuapi? Hah, dasar diktator!
__ADS_1
...