
Jina diserang kepanikan karna mertuanya yang hanya diam sambil memijit kepalanya. Dia bergerak menyentuh lengan Hanna yang langsung ditepisnya, membuat gadis itu mematung di tempat.
Apa barusan dia ditolak oleh ibu Reno? Apa tangannya terlalu kasar dan mertuanya tidak suka? Apa dirinya bau?
Jina mencium ketiaknya yang mungkin berkeringat dan mengeluarkan bau asam. Tapi dia tidak membau apa-apa.
“Pergilah!”
“M-maaf? Ibu mengatakan apa?” Sejak kapan telinganya jadi tuli?
“Pergilah dari rumah ini! Aku tidak mau melihatmu!” ujar Hanna tajam. Dia sudah menghentikan aksi memijatnya dan malah menatap Jina intens dan dingin.
Tangannya bersedekap di depan dadanya yang membusung. Bibirnya terkatup erat seperti ada bunyi gigi yang saling bergemelatuk.
Jina membayangkan asap keluar dari setiap lubang yang dimiliki olehnya. Oh, Jina pun sadar ternyata tatapan dingin milik Reno menurun dari siapa.
Mertuanya tidak melanjutkan omongannya, dia menabrak bahu Jina secara halus dan menutup pintu keras-keras di depan hidung gadis itu tepat saat dia akan menyahut.
Jina mengusap hidungnya yang sakit. Astaga, dalam sehari sudah ada empat bagian tubuhnya yang terluka. Dada, rambut, pelipis dan sekarang hidungnya.
Tanpa berkaca pun dia sudah tahu kalau hidungnya memerah. Dia menghela napas panjang. Ini bukan pernikahan.
Ini hanya permainan. Dia harus menyerah kan? Buat apa lagi dia disini? Reno yang menyiksanya dan mertua yang mengusirnya.
Hei, Jina, sadarlah! Jangan berdiam mematung saja begitu! Pergilah! Selama kau masih ada kesempatan untuk melarikan diri. Jina memilih berbalik dan pergi.
.
.
.
“huuhh! Ada apa denganku?”
Reno melempar berkasnya ke sembarang arah. Dia mengusap kasar wajahnya sambil mengerang kesal. Kenapa dia? Kenapa dia harus merasa sekesal ini?
Bayangan Jina yang kesakitan tadi pagi terus menghantuinya. Padahal belum genap sehari gadis itu berada di dekatnya tapi kenapa efeknya bisa sebesar ini.
Seumur hidupnya memang baru pertama ini dia menyiksa seorang wanita. Perasaan bersalah karna nyaris hilang kendali dan ingin menyiksanya lagi, membuat Reno frustasi. Bukannya puas, dia malah resah.
“Bos, aku boleh masuk ya?”
Hiro melongokkan kepalanya melalui celah pintu ruangan Reno yang dibukanya. Tanpa menunggu persetujuannya dia langsung melangkah masuk.
Mereka bersahabat. Tapi di lingkukan kantor mereka adalah atasan dan bawahan. Hiro merupakan kaki tangan Reno sekaligus sahabat terdekatnya di antara yang lain.
“Kau kenapa bos? Sepertinya sedang kelelahan. Aah, aku tahu, pasti gara-gara sindrom malam pertama ya?” godanya. “Bagaimana bos? Kau mau menarik perkataanmu yang waktu itu? Kalau Jina tidak ada cantik-cantiknya? Haha, dasar pria pembohong! Sudah pasti kau meleleh ya kan di depannya?”
“Sialan!!” Reno membuang berkasnya lagi tepat mengenai muka Hiro yang sering dibilang ‘mahal’ itu. “Berhentilah mengoceh atau kau mau kupecat.”
Hiro langsung diam sambil mengusap-usap pipinya yang lumayan sakit. Dia mengambil beberapa berkas yang dibuang Reno lalu meletakkannya di atas meja kerjanya. Wajah Reno terlihat seribu kali lebih seram ketika sedang marah.
“Aish, padahal aku mau memberitahumu tentang keadaan di rumahmu. Ya sudah, aku pergi ya! Panggil aku kalau kau sudah mendapatkan mood mu kembali.” Baru saja Hiro hendak berbalik akan meninggalkan Reno sendiri.
“Ada apa?” sergah Reno, tertarik dengan informasi yang dibawa Hiro.
__ADS_1
“Ibumu datang barusan. Sepertinya rumahmu sebentar lagi akan ada kebakaran! woy! Kau mau kemana?”
Teriakan Hiro tidak lagi digubris oleh Reno karna pria itu sudah melesat pergi dengan langkah terburu-buru. Hiro menggeleng-geleng saja.
Hanny yang kebetulan hendak memasuki ruangan Reno sedikit terhuyung karna pria itu tidak sengaja menyenggol pundaknya. Gadis itu mengernyit tidak mengerti dengan emosi Reno yang belakangan ini gampang berubah.
“ ada apa? Reno seperti sedang dikejar setan.” Tanyanya pada Hiro yang menutup ruangan Reno yang tidak sempat ditutup oleh pemiliknya.
“Aku juga tidak tahu, Hanny.” Hiro mengedikkan bahunya. “Dia pergi setelah mendengar ibunya pulang. Aku mau melanjutkan kerjaanku dulu ya.”
“Ibu?” senyumnya terbit. Dia sudah sangat lama mengenal keluarga Reno.
Wajar saja kalau dia memanggil ibu Reno dengan panggilan Ibu. Dulu dia sering berharap bisa menikah dengan Reno. Tapi sepertinya impian itu harus tertunda.
Sebab yang paling utama sekarang bagaimana caranya agar Reno bergegas merealisasikan niat awalnya menikahi Jina.
Selama perjalanan pulang Reno tidak henti-hentinya memaki, merutuk, dan mengumpat terlebih pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa tidak tahu ibunya pulang?
Harusnya dia tahu. Melihat dari sejarahnya, ibunya memiliki temperamen yang buruk dan menurun padanya. Ibunya tidak senang dengan segala sesuatu yang berbau terburu-buru.
Dia akan menolak dan menjauhkan sejauh-jauhnya dari dirinya. Seperti hama yang harus segera dibasmi.
Inilah sebabnya kenapa dia tidak pernah membawa wanita manapun ke hadapan ibunya sebelum wanita itu benar-benar akan selamanya bersamanya.
Yah, kecuali Hanny yang merupakan temannya sejak kecil.
Semoga ibu tidak melakukan apapun pada Jina. Hey! Kenapa kau harus peduli? Bukannya itu ide yang bagus? Ibunya adalah aktris antagonis terbaik sepanjang masa.
Kemarahannya pasti akan lebih meledak setelah mengetahui kalau putranya ini kecelakaan karna perbuatan Jina.
Yah, semoga saja hal buruk itu tidak pernah terjadi sebab bagaimanapun Reno lebih berhak atas wanitanya.
“Oh? Anakku! Jam segini sudah pulang ya?”
Hanna begitu berbinar mendapati Reno telah berdiri di depan pintu rumah lengkap dengan pakaian kantornya.
Reno menyambut pelukan hangat ibunya yang sudah tiga bulan terakhir ini tidak dilihatnya. Kesibukan ibunya memang tidak jauh berbeda dari ayahnya.
Mereka sama-sama melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri sampai kadang melupakan putranya yang juga membutuhkan perhatian. Tidak juga sih sebenarnya.
Toh Reno juga punya kesibukan sendiri di kantor sebagai seorang presdir.
“Aaww! Ibu! Kenapa mencubitku?” Reno mengelus lengan bekas cubitan ibunya.
“Kenapa kau menikah tidak mengajakku bertemu dulu dengan calonmu?” Hanna cemberut saja. “Ibu tidak suka dengannya. Bercerai sajalah.”
“Apa?” Reno hanya melongo mendengar penuturan ibunya. Dia menggeleng.
Apa perceraian selalu ada di kamus otak Ibunya? Mengapa dia selalu membenci wanita yang dinikahinya? Kemana gadis itu sekarang?
“Tidak usah mencarinya. Ibu sudah mengusirnya.” Tutur Hanna santai, seolah tahu putranya pasti tengah kebingungan mencari keberadaan istrinya.
“Ibu! Kenapa ibu melakukan itu? Ibu kira dia mau pergi kemana setelah mengusirnya?”
Reno mengusap kasar wajahnya. Dadanya naik-turun menahan amarah yang siap meledak.
__ADS_1
Astaga, kemana gadis itu? Kenapa dia malah benar-benar pergi? Kenapa dia tidak menunggu saja di depan rumah? Apa jangan-jangan dia punya niatan untuk melarikan diri?
“Ibu tidak peduli! Salah sendiri kenapa memilih istri seorang pembantu. Memangnya kau pikir aku suka punya menantu begitu?”
Hanna berdeham sedikit keras. Dia bersedekap dan mengalihkan mukanya. Reno berpikir sejenak. Pembantu?
Ya ampun! Ini pasti gara-gara ibunya melihat Jina bersih-bersih rumah. Reno memejamkan matanya sejenak. Pikirannya berseliweran kemana-mana.
Kemana gadis itu? Sial sekali dia tidak pernah menyelidiki latar belakangnya lebih dulu. Dia tidak pernah menjadi seceroboh ini sebelumnya.
“Dia bukan pembantu, Ibu. Aku bisa menjelaskannya. Tapi nanti, setelah aku membawanya pulang.”
Reno tidak menggubris teriakan ibunya dan bergegas pergi lagi. Dia berharap gadis itu masih tidak jauh dari sana.
Dia segera mengubungi Hiro untuk segera mencari alamat manapun yang dimiliki Jina. Setengah mengabaikan pertanyaan ‘apa yang terjadi’ dari sahabatnya itu.
Pikirannya sekarang dipenuhi kemungkinan bahwa Jina merasa bisa lepas dari genggamannya. Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Reno mencengkeram kuat setirnya dan menambah kecepatan mobilnya.
Jina kau tidak boleh pergi atau menghilang tanpa seizinku.
.
.
.
#Epilog#
SUDUT PANDANG RENO
Hari ini hari pernikahanku. Sebenarnya bukan pernikahan pertamaku, tapi aku merasa berbeda. Kalau dulu geraja hanyalah berisi kursi-kursi kosong, sekarang justru dipenuhi oleh tamu undangan.
Dapat kulihat teman-temanku yang duduk di barisan kedua dari depan berdecak kagum ke arahku. Apa aku sebegitu tampannya sampai mereka berbuat senorak itu?
Kuhembuskan napasku perlahan. Jari jemariku bertautan satu sama lain. Ada perasaan ragu yang berusaha kusembunyikan. Aku telah melangkah sampai sejauh ini hanya untuk balas dendam?
Uh, betapa kejamnya diriku.
Ayahku mendorong kursi rodaku sampai ke depan pendeta yang siap menikahkan kami.
Sebenarnya kursi roda ini hanyalah samaran karna nyatanya aku sudah bisa berjalan walaupun masih tidak diperbolehkan berlari oleh adimas.
Aku membohongi Jina karna aku tidak ingin dia lepas dulu dariku. Dia sudah berjanji akan menikah denganku sampai keadaanku membaik.
Lalu kalau aku sudah sembuh total, apa yang akan kulakukan padanya? Tentu saja menyiksanya dulu, membuatnya jatuh cinta padaku, hamil anakku lalu kucampakkan dia.
Aku menyeringai sinis. Aku benar-benar jahat ya?
Sepertinya Ayah hendak meninggalkanku. Tapi kenapa dia belum beranjak dari tempatnya berdiri sekarang?
Dari ekor mataku dapat kulihat dia mensejajarkan mulutnya ke telingaku lalu berbisik, “Ayah turut bahagia atas pernikahanmu. Jadilah suami sekaligus ayah yang baik untuk keluargamu kelak, Ren. Lupakan masa lalu dan tataplah masa depan.”
Tubuhku menegang mendengarnya. Tanganku saling meremas satu sama lain di atas pahaku. Ayah tersenyum tulus sebelum duduk di barisan terdepan. Oh, Tuhan, apa aku sudah melakukan kesalahan besar kali ini?
.
__ADS_1
. BERSAMBUNG