revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 17


__ADS_3

#Epilog#


***SUDUT PANDANG RENO***


Kutatap gadis itu yang cepat sekali terlelap. Rambut berantakannya menutupi keseluruhan wajahnya. Bantal sofa berserakan di lantai, sebelah kakinya naik di pundak sofa dan kakinya yang lain turun menyentuh lantai. Samar-samar aku bisa dengar dengkuran halus dari bibirnya.


Astaga, aku tidak ingat pernah menikahi gadis seperti ini. Dari Seena seorang gadis kalem, berjiwa perempuan, ke Jina gadis tomboy dan jorok.


Tidak tega melihat keadaan mengenaskan gadis itu lebih lama, kuputuskan menggendongnya ke kamar. Aku tidak mau menyebut kamar kami, karena yah, ini kamarku dengan Seena dulu. Kamar gadis ini sedang ditempati Ibu. Terpaksa aku membawanya ke kamarku.


Jina bergerak pelan saat kuletakkan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya sudah tidak tertutupi rambutnya lagi. Disitulah aku tertegun. Hidung gadis itu memerah. Apa karena aku membanting pintu di depannya tadi?


Kulipat tanganku di depan dada. Aku berpikir. Harus kuapakan gadis ini? Kenapa aku membawanya ke kamar? Kenapa tidak kubiarkan saja dia tidur di luar? Hitung-hitung hukuman karena dia sudah mencampuri urusanku. Bertanya-tanya soal Seena.


Aku menghembuskan napas panjang. Aku mulai meremas-remas rambutku frustrasi. Aku berbalik. Mencari kotak obat. Kembali membawa plester lalu kutempelkan di hidung merah milik Jina.


Meskipun dia yang sudah menyebabkan tiga bulan terakhirku menderita karena tanganku yang patah. Tetap saja aku tidak tega. Dia seorang gadis. Dan lagi istriku. Dan dia gadis yang mulai kubanding-bandingkan dengan Seena.


Ayah pernah berkata di hari pernikahanku untuk menjaga gadis ini dan melupakan masa lalu. Haruskah?


Kugelengkan kepalaku. Tidak. Aku harus tetap pada misi awalku. Menyiksanya, membuatnya jatuh cinta padaku, hamil anakku lalu mencampakkannya.


Smirk sini mencuat di sisi bibirku. Ide gila muncul di kepalaku.


.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


.


.


.


.


.


.


.


.


Hanny menggeram kesal. Pasalnya, saat dia pergi ke lantai teratas untuk menemui Reno, pemandangan pertama yang dia lihat Reno sedang menggandeng istrinya keluar dari ruang kerjanya. Gadis itu tampak pucat seperti seseorang yang divonis akan dihukum gantung besok.


“Apa lagi kali ini?”


Dia tidak bisa tinggal diam. Pembelaan yang ditunjukkan Reno kemarin cukup menjadi bukti kalau pria itu mulai mengubah haluannya. Jangan karena gadis itu mirip dengan mendiang istrinya, Reno bisa berubah menjadi lemah lembut.


“Selamat siang Pak,bu.” sapa Hanny sopan.

__ADS_1


“Hm, Hanny, bolehkah aku minta tolong?” Reno melepaskan tangannya dari Jina lalu mendorong bahu istrinya ke depan. “Tolong antarkan istriku ke lobi bawah. Aku sedang ada rapat yang tidak bisa kutinggal. Bisa, kan?”


Apa? Hanny mengeluh dalam hati. Padahal niatnya kemari untuk berbicara empat mata pada Reno. Kenapa malah dia yang disuruh mengantar gadis ini?


Hanny tidak punya pilihan lain. Meski sedikit tidak rela, akhirnya dia mengantarkan Jina ke lobi bawah sesuai keinginan Reno. Sepanjang mereka berjalan bersisian, tidak ada yang berbicara sampai lift berdenting keras pertanda mereka sudah sampai di lobi.


“Kita sudah pernah berkenalan waktu di rumah sakit dan kemarin kita juga bertemu.”


“Tentu.” Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Dia sedang sangat putus asa. Pikirannya melayang pada kejadian di dalam ruang kerja Reno tadi. Saat mulutnya yang mudah sekali lepas kontrol ini tanpa sadar menantang pria itu untuk bercinta


“Ada yang mengganggumu?”


“Ah?” Jina menggeleng. “Tidak. Hanya sedikit pusing. Mungkin karena aku kurang tidur semalam.”


“Hmm, memangnya apa yang kalian lakukan sampai kau kurang tidur?” Jangan-jangan..


“Sepertinya aku akan langsung pulang.” Tiba-tiba Jina merasa disorientasi. Bukannya menjawab pertanyaan itu, dia malah ingin buru-buru pergi. “Terima kasih sudah mengantarku.” Setelah membungkuk sekilas, Jina keluar melalui pintu ganda gedung.


“Apa jangan-jangan mereka sudah..?” Hanny memutar tumitnya. Dia ingin mendengar jawabannya dari mulut Reno. Semoga saja belum. Karena dia akan menghalanginya apapun yang terjadi.


***********


Nenek sihir itu kembali. Menunggangi sapu terbangnya. Haha. Tidak, dengan mobil mewahnya tentu saja.


“Ibu—” Hanna memotong ucapan Jina dengan mengangkat sebelah tangannya. Setelah itu dia melenggang melewati Jina masuk ke dalam rumah.


“Ambil kopermu.” titah Hanna membuat Jina tergagap.


“I-ibu, tapi, aku—” Lagi-lagi Hanna menyela perkataannya. Wanita tua berkelas itu berbalik menghadap Jina yang gemetaran di tempatnya berdiri. Dia tersenyum misterius.


“Apa?”


.


.


.


“Kenapa tidak bilang kalau perginya sore ini juga, Bu?”


Reno, masih mengenakan kemeja biru lautnya yang kusut sambil menenteng jas putihnya, menghampiri Ibunya yang sedang menikmati makan malam dengan bibinya.


Kesal? Pastinya. Bayangkan saja, Reno baru dikabari dua jam sebelum keberangkatan kalau dia harus bergegas menuju dermaga! Memangnya dia punya jet pribadi yang bisa mengantarnya ke Dermaga dalam waktu sesingkat itu? Tahu sendiri kan, bagaimana macetnya jalanan Jakarta di jam-jam semua orang pulang kerja?


Kemarin Ibunya memang sudah mengatakan akan mengajaknya berlibur tiga hari di Pulau Seribu satu keluarga besar Hadirjo. Tapi Reno tidak tahu kalau perginya hari ini juga.


“Kejutan, putraku,” ucap Hanna tenang seraya memasukkan potongan daging steak ke dalam mulutnya.


“Lalu dimana Jina?”


Hanna setengah membanting garpunya hingga beradu dengan piring dan menimbulkan suara berisik. Wanita itu mendongak memandang putranya. “Kenapa sejak kau menikah dengan gadis itu kau jadi tidak punya sopan santun pada ibumu?”

__ADS_1


Reno berdecak. Dia memang orang terakhir yang masuk ke dalam kapal. jadinya dia belum melihat Jina sama sekali. “Kenapa Ibu malah mengalihkan pertanyaanku?”


“Ck, sudah kubilang kan, gadis itu memberi pengaruh buruk padamu. Untung saja Ibu membawa Hanny dan adiknya ikut bersama kita.”


“Apa?”


Sebenarnya ini acara berlibur satu keluarga atau apa sih? Kenapa mengajak Hanny dan adiknya juga?


“Dia sedang makan di luar. Tenang, Ibu tidak mungkin meninggalkan istri kesayanganmu.” Hanna sengaja menekankan kata ‘istri kesayangan’ untuk menyindir Reno. Sementara pria itu hanya melengos pergi tidak peduli. Sudah kebal dengan segala sindiran Ibunya pada gadis yang menjadi istrinya.


Reno menaiki tangga menuju ruang makan terbuka di atas dek kapal. Begitu melihat Jina sedang menikmati minumannya ditemani Hanny dan adiknya, dia menghela napas.


“Oh, Reno?” Hanny orang pertama yang menyadari kedatangan Reno.


“Halo, Bang!” sapa adiknya hanny sambil tersenyum lebar. Dia berpelukan sebentar dengan Reno lalu pria itu langsung mengambil tempat di samping Jina. Gadis itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.


Tidak. Bukan tanpa ekspresi. Hanya, kepala Jina penuh dengan pikiran apa yang akan mereka lakukan malam ini. Jika Reno sungguh ingin melakukannya, kenapa dia merasa belum siap? Akankah dia menyerahkan mahkotanya pada pria yang punya kebiasaan menggonta-ganti sikapnya? Kadang baik, kadang jahat.


“, kita tinggalkan mereka berdua.” bisik Hanny kemudian menarik lengan adik laki-lakinya meninggalkan pasangan itu. Sebenarnya Hanny tidak serius dengan ucapannya. Dia tidak mungkin benar-benar meninggalkan mereka.


“Kenapa tidak memberitahuku kalau Ibu mengajak pergi sore ini?”


“Ah?” Jina menoleh. Dan entah kenapa, menatap wajah Reno justru mengingatkannya pada ucapan bodohnya di kantor pria itu. Jina memalingkan mukanya. “Ibu terburu-buru sekali tadi. Aku tidak sempat memberitahumu.”


Reno melipat tangannya di depan dada. Tatapannya menajam menyelidik. “Kau tidak lupa kan?”


“A-apa?”


“Aku akan tetap melakukannya malam ini. Tidak di rumah, di atas kapal malah kedengarannya keren.”


Jina membelalakkan mata. Dia menoleh cepat. Dan pandangan pertama yang dia lihat adalah wajah lelah khas milik Reno sehabis pulang kerja tapi tetap saja tidak memudarkan ketampanannya. Apakah dia belum mengatakan kalau suaminya ini punya ketampanan setaraf dewa-dewa yunani?


Tapi, kembali pada topik yang sedang mereka bahas, Jina merasa pipinya memanas. “Bisa tidak kita tidak usah melakukannya?”


“Tidak bisa.” tolak Reno cepat. “Mana boleh begitu? Ingat, kau sendiri yang menyuruhku membuktikannya sendiri.” Ujung alisnya mencuat ke atas. Jina merasa dirinya ciut di kursinya.


“Setelah aku mandi, oke?” bisiknya pelan di telinga kiri Jina, membuatnya merinding. Reno tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, dimana kamar kita?”


Jina membanting punggungnya ke sandaran kursi. Dia menghembuskan napasnya keras-keras. “Tidak ada jalan keluar.” Dia menggeleng-geleng. “Mati aku!”


.


***Rupanya, disana bukan hanya ada mereka berdua. Melainkan Hanny yang menjadi pengamat setia dari jauh, mendengar percakapan mereka.


Tadi pagi, saat Hanny bertanya pada Reno apa yang akan pria itu lakukan pada Jina, pria itu hanya tersenyum. Mendengar percakapan mereka barusan semakin meyakinkan Hanny rencana apa yang mereka miliki malam ini.


Satu-satunya alasan keberangkatan liburan keluarga Hadirjo dipercepat adalah karena kecurigaan Hanny. Dia melaporkan semuanya pada Nyonya Hadirjo.


Sama halnya dengan Hanny, Ibu Reno tentu tidak setuju kalau sampai Reno memiliki anak lagi dari gadis yang tidak direstuinya itu seperti dahulu. Ibu Reno sedari dulu memang hanya mengharapkan Hanny yang menjadi menantunya karena Hanny memang pantas bersanding dengan putranya.***


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2