
Selalu begini. Asmanya akan kambuh saat dia sangat kecapekan. Tubuhnya merosot dan tangisnya nyaris pecah kalau saja tidak ingat dia sedang berada dimana.
Kakinya sakit. Hatinya sakit. Tubuhnya sakit. Jina melepaskan heels-nya dan meringkuk di dalam sana. Memikirkan kejadian yang baru dilaluinya hari ini.
Berjam-jam menemani mertuanya pergi belanja. Suka rela memberikan pilihan paling tepat untuknya. Membawakan semua belanjaannya dan balasan apa yang dia dapatkan? Setidaknya kata terima kasih dari Hanna sangat berharga untuknya.
Jina bukanlah gadis yang cengeng. Tapi kenapa sejak hidupnya dikelilingi oleh orang-orang Reno. dia berubah menjadi monster cengeng?
Apa dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu sehingga dia dihukum sekarang? Mendadak teringat kehidupannya yang dulu terasa lebih menyenangkan ketimbang hidup seperti ini.
“Nona, apa kau masih lama di dalam?”
Jina menghapus air matanya yang sudah ingin mendesak keluar. Dia mengambil heels-nya dan membuka pintu itu.
Wanita yang menggedor pintu tadi hanya menatap bingung ke arahnya yang tampak berantakan. Tapi dia tidak peduli karena dia sudah sangat ingin buang air kecil.
Jina menatap bayangannya di cermin besar di dalam kamar mandi. Bibir pucat, lengan berdarah, penampilan acak-acakan. Dia menenteng heels-nya, tidak berniat memakainya karena kakinya yang terkilir lebih sakit ketika memakai heels.
Dia berjalan, melewati tatapan-tatapan aneh semua orang. Apa sekarang dia sampai ke taraf gembel? Kenapa mereka semua menatapnya demikian?
Jina mempercepat langkahnya saat pintu lift terbuka. Dia memencet tombol lantai dasar.
Tepat ketika pintu lift itu akan tertutup, seseorang menahannya. Jina mengangkat kepalanya dan terkejut mendapati Reno, orang yang menahan pintu lift.
Pria itu hanya mengenakan kemeja hitam pas badan tanpa dasi, rambut asal, sangat tampan dan menggairahkan. Sial.
“Kau tidak apa-apa?”
Tentu saja Jina jadi bertanya-tanya apa maksud Reno. Dia mengangguk dan tiba-tiba Reno ikut masuk dan langsung menutup pintu lift. Memencet lantai paling atas di gedung ini.
Lift berdenting keras pertanda mereka telah sampai di lantai yang dituju. Reno berbalik menatap Jina yang bergeming di tempatnya.
Tanpa aba-aba, Reno mengangkat tubuh Jina dalam gendongannya masuk ke dalam ruangan kerjanya. Jantung Jina ingin melompat karena perlakuan Reno seperti pemeran pria dalam drama korea romantis kesukaannya.
Reno menjatuhkan pantatnya di sofa ruangannya yang sangat megah berikut Jina yang duduk di pangkuan pria itu.
__ADS_1
Tak berapa lama seorang pria yang pernah ditemuinya, datang membawa kotak obat dan sebaskom air es. Pria itu berdeham sedikit keras saat melihat keadaan mereka sebelum keluar dari ruangan itu.
“Aw!”
Jina meringis saat Reno mengusap luka di lengannya dengan obat merah.
“Apa sangat sakit?” Jina mengangguk pelan.
Sungguh, Jina tidak bisa mempercayai ini. Baru kali ini Reno berlaku semanis ini padanya. Meskipun wajahnya sangat kaku dan dingin, tapi sentuhannya sangat lembut.
Perhatian Reno beralih pada kaki kanan Jina yang mulai membiru. Dia mengambil kain untuk mengompres kaki Jina.
Reno merawatnya dengan telaten, padahal dia adalah seorang pria super sibuk. Kalau dilihat-lihat lagi Reno berkali-kali lipat lebih tampan kalau begini.
Apa pria ini memang diciptakan untuk bisa dikagumi oleh para wanita?
Reno mengalihkan tatapannya pada Jina yang langsung tergagap mengalihkan perhatiannya. Dia masih betah duduk di pangkuan pria itu, mengalungkan kedua lengannya di leher Reno.
Pria itu menggeser tubuh ramping Jina mendekat padanya dan dia hanya diam menerima setiap perlakuannya.
“Jangan membenci Ibu.”
Reno berkata lagi meski kurang yakin dengan ucapannya sendiri karena berlainan dengan apa yang sebenarnya.
“Ibu hanya ingin mengenalmu dengan caranya yang sedikit ekstrim. Walaupun tidak se-ekstrim yang pernah dia lakukan pada Seena. Dia diperlakukan lebih parah daripada ini.” gumam Reno.
“Seena?”
Seperti tersengat listrik, Reno menegakkan punggungnya. Dia memindahkan tubuh Jina dari atas pangkuannya ke sofa lalu berdiri. Tatapannya bertambah dingin.
Apa dia salah ucap? Tapi benar kan, Reno tadi menyebut nama wanita yang asing di telinganya.
“Kalau kau sudah merasa baikan, kau bisa pulang. Aku akan memanggil supir untuk mengantarmu.”
Reno enggan membahasnya. Dia melangkah menuju kursi kebesarannya dan tenggelam dalam berkas-berkas menumpuk di meja kerjanya.
__ADS_1
Meski terlihat demikian, Reno tidak benar-benar sedang berkonsentrasi bekerja. Pikirannya tidak bisa berhenti berpikir tentang Seena. Wanitanya yang sangat dia cintai.
Jina diam tidak melanjutkan pertanyaannya. Ada yang Reno sembunyikan, dia yakin. Ada yang dibimbangkan oleh pria itu.
Entah apa itu pasti sesuatu yang tidak ingin dia ungkit lagi. Setelah Jina merasa baikan, dia benar-benar pamit pulang. Dan sesuai janji Reno, pria itu menyuruh supir untuk menjemputnya.
.
.
.
Epilog
“Hanny, coba baju yang ini sangat cocok di tubuhmu.”
Hanna sibuk memasangkan baju yang baru dibelinya di depan tubuh Hanny. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya sejak melihat Ibu Reno datang.
Mereka memang sangat dekat sejak bertetangga dulu. Karena Hanna sangat mempercayai Hanny, lebih-lebih menganggapnya seperti putrinya sendiri. Sehingga segala apapun yang terjadi di dalam rumah keluarga Hadirjo selalu sampai di telinga Hanny.
Reno bersandar di pinggiran meja ruangan rapat tak jauh dari dua orang itu sambil memasukkan sebelah tangannya di saku celana. Dia hanya memandang ke arah mereka.
Setelah melakukan rapat dengan koleganya dari Jepang, Hiro memberitahunya kalau Ibunya datang. Dia terkejut karena Ibu nya datang bersama Jina yang berjalan pincang di belakangnya.
Reno heran, apa yang dilakukan Ibu nya sampai Jina pincang begitu dan wajahnya kelihatan lelah dan pucat.
“Reno kenapa berdiri saja? Kau harusnya senang karena Ibu mengunjungimu.” kata Hanna sambil lalu. Hanna terlalu fokus memanjakan Hanny sampai-sampai tidak sadar ada wanita di luar sana yang barusan diabaikan. Hanny juga tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
“Ibu tidak pernah berubah ya?” ucapan Reno itu menghentikan gerakan tangan Hanna yang hendak memasangkan sepatu di kaki Hanny.
“Kenapa Ibu melakukannya pada Jina? Kalau Ibu tidak menyukainya, harusnya Ibu menjauh saja daripada membuat gadis itu terluka.”
Tanpa Reno ketahui, Hanny mengeratkan genggamannya di atas pahanya. Apa-apaan Reno ini? Kenapa Reno sepeduli itu?
Hanna tertawa hambar. “Siapa bilang aku tidak menyukainya?”
__ADS_1
“Ibu juga mengatakan itu pada Seena saat aku mengenalkannya padamu dulu.”