
Kenapa sih, menantu dan mertua selalu bersitegang seperti di dalam drama televisi? Kenapa tidak ada hubungan menantu dan mertua yang aman-aman saja?
“Kau akan sakit hati. Kau bahkan tidak bisa menggantikan posisi Seena dari hidup putraku.”
Lagi-lagi. Nama itu. Seena, Seena, Seena. Siapa sih dia? Kenapa semua orang membicarakan gadis yang sudah mati? Dan kenapa dirinya jadi dibanding-bandingkan dengan sosok hantu itu?
Dia menikah dengan Reno juga bukan atas cinta. Baru-baru ini saja dia mulai menyadari perasaannya. Tapi, demi Tuhan, dia tidak pernah punya niatan mendepak sosok Seena. Jika pria itu menginginkan keberadaan Seena tak kasat mata, Jina tidak keberatan.
“Maaf, Ibu, aku—”
“Jina menikahimu untuk menghukummu! Dia akan menyiksamu, membuatmu menderita, bahkan mungkin membuatmu jatuh cinta padanya. Lalu dengan begitu mudahnya dia akan membuangmu."
“Coba pikirkan, alasan Reno memperhatikanmu dan terlihat selalu membelamu, apa itu murni keinginannya atau hanya tipuan?” Hanna terkekeh suram. “Cih, kau tidak punya otak jika setelah ini kau masih ingin tinggal.”
Jina terdiam. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Ibu dan anak. Bukankah ibu mertuanya tidak menyukainya, kenapa malah dia membuka kedok putranya sendiri? Dan Reno, benarkah pria itu tega melakukan hal sekeji itu? Pada gadis sepertinya?
Berawal dari kecelakaan itu. Semua berpusat pada kecelakaan di lintasan sirkuit itu. Andai hari itu dia mendengarkan nasehat kakaknya tidak ikut balapan, akankah dia mengalami hari-hari yang sulit seperti ini?
Mungkin dia tidak bertemu Reno, hanny.maupun Nyonya Hanna. Dia tidak akan berhubungan dengan orang yang telah mati, Seena. Dan dia tidak akan sebodoh ini.
Benteng yang dibangun begitu tinggi dan kokoh, begitu mudahnya ditembus oleh perhatian pria itu. Sifat kelaki-lakiannya ditekannya habis-habisan demi menjaga kehormatan pria itu.
Dia tidak mau Reno dibicarakan orang karena memiliki istri pembalap, tidak tahu aturan, tomboy, dan tidak ada sisi feminin sama sekali.
Kenapa juga dia harus hidup terkekang. Tinggal sebagai gadis rumahan. Tidak dibolehkan pergi kemana-mana. Dan disuruh merawat suaminya. Kenapa dia baru sadar setelah ibu mertuanya mengingatkannya?
Hanna hanya memberikannya kesempatan supaya dia bisa kabur sebelum dia semakin terperosok dalam pesona Reno sampai tidak lepas dari pria itu, tapi ujung-ujungnya dia juga yang sakit hati.
Jika dia memilih pergi sekarang, dia bisa kembali ke kehidupannya yang lama. Menjadi pekerja kasar di bengkel, ikut pertandingan balapan, berjiwa bebas. Bebas berteman dengan siapa saja. Bebas melakukan apa saja. Bebas pergi kemanapun sesukanya.
“Kenapa Ibu memberitahuku?”
Wanita tua berkelas itu memandang Jina kasihan. Tampaknya gadis itu mulai menimbang keputusannya kembali. Dia tidak jahat. Meskipun kedengarannya kejam, sebenarnya dia hanya berusaha menyelamatkannya.
“Aku tidak suka alasan Reno menikahimu. Aku tidak membesarkan anak yang tujuan hidupnya menyakiti hati wanita.”
“Kenapa Ibu membenci Seena?”
__ADS_1
Alis Hanna terangkat keduanya. Heran dengan pertanyaan Jina. Mungkinkah semua orang berpikiran sama: kenapa dirinya membenci mendiang istri pertama putranya.
“Aku tidak menyukainya.”
“Ibu membenci semua gadis yang dijadikan istri oleh Reno”
“Benar.” Hanna memandang mata Jina yang berkabut kebingungan. “Aku membenci semua gadis yang dipilih Reno.”
“Ibu hanya senang jika Ibu yang memilihkan istri untuk Reno. Hanny Benar begitu? Tapi, kenapa?”
“ Seena hanya menipu Reno. Kau juga menipu Reno dengan sikap sok baikmu. Kalian sama saja. Itulah yang kalian lakukan sehingga menjauhkanku dari putraku.”
“Bukan kami yang menjauhkan Reno dari Ibu. Tapi Ibu sendiri!” sentak Jina tanpa sadar telah meneriaki ibu mertuanya. Sudah kepalang basah, dia tidak akan menarik kata-katanya, malah meneruskannya.
“Ibu yang membuat Reno menjauh. Ibu yang egois!”
PLAK!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri Jina. Pipinya berdenyut sakit sekali. Nyeri menjalar begitu cepat melalui aliran darah hingga berjengit ke hatinya. Tamparan ini tidak ada apa-apanya jika bisa menyadarkan kesalahan ibu mertuanya memahami perasaan anaknya.
“Berani-beraninya, kau!” Hanna mendorong Jina ke dinding kapal. “Siapa yang barusan kau bilang egois? Mana ada di dunia ini Ibu yang egois? Kalau aku egois, tidak mungkin Reno bisa sesukses sekarang. Dia akan terlantar di jalanan! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Apa Ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Atau Ibumu sama kurang ajarnya denganmu? Benar?!”
PLAK!
Kali ini pipi kanan Jina yang mendapat tamparan. Lebih keras dan menyakitkan dari tamparan pertama. Jina tidak takut. Dia tidak salah. Ibu mertuanya ini memang sakit jiwa—oh, ingatkan dia untuk meminta maaf nanti.
Ibu mertuanya hanya berpikir tentang menikahkan putranya dengan gadis yang disukainya tanpa memperhitungkan perasaan putranya. Kalau begitu, yang menikah siapa? Ibunya atau Reno?
“Seandainya Ibu tidak egois, mungkin Seena masih hidup dan aku tidak akan berada disini di antara manusia kejam seperti kalian.”
Mendengar penuturan kasar itu, tanpa pikir panjang, Hanna mencengkeram leher Jina erat-erat. Meluapkan kekesalannya dengan mencekik leher gadis itu sampai nyaris kehabisan napas.
Jina memberontak agar Hanna mau melepasnya. Lehernya sakit. Tenggorokannya tercekat. Napasnya pun putus-putus. Jantungnya berdebar kencang ketakutan jika ibu mertuanya tidak sadar akan perbuatannya.
“Andai Ibu mau menerima Seena, Ibu tidak akan merasakan namanya penyesalan.” ucap Jina terbata. Hanna masih bertahan mencekiknya bahkan semakin kuat.
“Siapa yang menyesal? Aku tidak menyesal.”
__ADS_1
“Sungguh Ibu tidak menyesal kehilangan menantu dan calon cucu Ibu sekaligus? Bahkan Ibu hampir kehilangan Reno karena sikap Ibu!!”
Hanna menghempaskan tubuhnya ke lantai. Jina terbatuk-batuk. Napasnya terengah-engah. Pundaknya naik-turun. Dadanya berdegup keras. Dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Mengisi rongga paru-parunya dengan udara. Jina mengurut lehernya yang kesakitan. Kuat sekali cengkeraman wanita itu!
Tangan Hanna berpegangan pada pagar pembatas kapal. Buku-buku jarinya sampai memutih karena kuatnya dia mencengkeram pagar itu. Dia terpukul oleh kata-kata Jina yang dia sadari benar adanya.
Hanna tidak pernah tenang. Dia selalu terbayang wajah Seena yang menggendong bayinya yang telah meninggal. Bagaimana Reno membencinya. Bagaimana Reno mengacuhkannya.
Tahun-tahun yang sulit Hanna lalui dengan perasaan kacau. Air matanya meleleh di sudut matanya. Dia bersalah, dan dia baru mengakuinya setelah menantu yang sering dia sebut orang lain itu menyadarkannya.
Seseorang berlari ke arah mereka. Hanny, yang sejak tadi hanya menjadi seorang pengamat memberanikan diri mendekati mereka. Dia memeluk Hanna. Membiarkan air matanya menetes di pundaknya.
Hanny akui semua yang dikatakan Jina memang benar. Tapi, tidak bisakah gadis itu berbicara lembut sedikit? Wanita yang berada dalam pelukannya bukan gadis seumurannya. Yang bisa dimaki seenaknya. Hormati sedikit wanita yang telah melahirkan dan membesarkan pria yang kini menjadi suaminya.
“Apa Ibu egois? Benar begitu?” ujar Hanna lirih, melawan rasa tercekat di tenggorokannya dan suara seraknya akibat menangis.
“Tidak, tidak ada Ibu yang egois. ibu jangan berpikiran seperti itu.” Hanny mengusap punggung Hanna atas-bawah bergantian. Mencoba menenangkan wanita itu.
“Reno membenciku dan mengabaikanku karena aku egois. Aku disalahkan atas kematian istri dan anaknya. Aku egois, Hanny.” Hanna terus terisak. Tangisannya tidak bisa berhenti. Rasa sakit di hatinya mencengkeram kuat hingga dia sesak napas dan menderita.
Hanny melirik sengit Jina yang duduk terengah. Gadis itu mengusap lehernya yang dia tahu baru dicekik oleh Hanna. Kemarahan mendesak dalam relung Hanny. Dia melepas pelukannya, merangsek maju, dan memaksa Jina berdiri.
“Kau! Tidak ada menantu kurang ajar sepertimu!” Hanny menampar keras pipi Jina.
Gadis itu terkesiap. Belum lima menit dia ditampar, dia sudah menerima tamparan lagi. Kenapa orang-orang kaya seperti mereka selalu menggunakan tamparan untuk menunjukkan kekuasaannya pada orang-orang lemah sepertinya?
“Gadis tidak tahu diri! Kau tidak pantas jadi istri Reno! Hah! Bahkan, dia menikahimu hanya untuk menyakitimu! Dia akan membuangmu! Kau tidak ada apa-apanya buat Reno!”
Hanny kalap. Dia marah. Dia kesal. Bukan Hanna yang mencekik Jina, ganti Hanny yang mencekiknya. Lebih parah. Tubuhnya sampai terjungkal ke pagar pembatas kapal.
“Hanny, hentikan, kumohon! Ini sakit! Tolong!” Dari ekor mata Jina dia bisa melihat gelombang air yang besar di bawahnya.
Mereka berada di pinggir kapal! Ini berbahaya! Dia bisa saja terlempar dari kapal dan jatuh ke laut.
“Gadis sepertimu pantasnya mati saja! Mati kau!” Hanny mendesak tubuh Jina kian merapat ke pagar pembatas. Dia tidak mendengarkan suara permohonan Jina yang memintanya untuk tidak bertindak gegabah karena gadis itu bisa terlempar kapan saja.
Dengan sisa isakannya, Hanna menatap nanar dua gadis di depannya. Satu sisi dalam hatinya menginginkan Hanny mendorong menantunya ke laut. Menenggelamkannya dan supaya tidak kembali lagi. Tapi, di sisi lain, dia tidak mungkin membiarkan Hanny berbuat kejahatan dengan sengaja melakukan percobaan pembunuhan.
__ADS_1
“Hanny kumohon, hentikan! Tolong, tolong aku!” Kedua tangan Jina membentang ke samping kanan dan kiri. Mencengkeram pagar itu kuat-kuat. Dia tidak boleh melepaskan pegangannya. Dia harus bertahan sampai ada yang menolongnya.
bersambung