revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 26


__ADS_3

Gadis gila. Berani berjalan-jalan ke luar tanpa memakai bra. Biar. Biar saja dia jadi tontonan lapar pria-pria mata keranjang di luar sana. Toh, tidak akan ada yang marah karena dia istri yang tidak dianggap.


“Mau kemana kau?” sentak Reno sembari menarik lengan Jina yang sudah terulur hendak membuka pintu kamar. Apa gadis ini berani keluar dengan penampilan mengenaskan begitu?


“Bukan urusanmu.” jawab Jina dingin. Tangan kirinya yang bebas memutar kenop pintu. Reno membelalak.


“Tidak, tanpa celana! Kau gila?!” Reno menahan emosinya yang mudah tersulut. “Pakai celana training-ku, Jina!”


Jina menghentak kuat tangan Reno. Tidak benar-benar kuat nyatanya dia masih terlalu lemas untuk bergulat dengan pria ini.


Matanya yang memerah akibat terendam puluhan meter di bawah permukaan air menatap lelah suaminya. “Apa sekarang kau sedang melakoni peran suami yang berpura-pura perhatian pada istrinya?”


“Kau—”


“Kau!” bentak Jina memotong ucapan Reno “Jangan berlagak peduli padaku. Kau bahkan menyuruhku tidak membenci dua wanita yang telah mencelakaiku. Suami macam apa kau?”


“Jangan memancing amarahku, Jina, jika tidak ingin menyesal.” geram Reno kesal.


Reno tidak berpura-pura. Dia sungguh mengkhawatirkan kondisi Jina. Hanya orang gila yang tidak mencemaskan keadaan istrinya yang hampir mati di depan mata.


Dia hanya tidak ingin membesar-besarkan masalah. Itu saja.


“Jangan mengancamku seolah-olah kau berhak. Kau suami tidak becus yang bisanya menyuruhku diam sementara Ibu dan gadis yang mengaku sahabatmu menyiksaku! Ah, aku jadi berpikir jangan-jangan mendiang istrimu juga mati karena disiksa mereka sepertiku?!”


PLAK!


Darah segar tersedak keluar dari mulut Jina bersamaan dengan tamparan panas yang melayang menghunus sudut bibir pucatnya.


Tangan Reno bergetar di udara. Terkejut. Apa yang barusan dia lakukan? Menampar istrinya sampai terluka?


Desisan sarat akan kesakitan keluar dari bibir gadis itu. Tamparan itu cukup menjelaskan segalanya. Menyadarkannya. Menarik raganya kembali pada realita.


Tiga tamparan berhasil dia dapatkan dalam satu hari. Bagus. Harusnya dia sudah mendapat penghargaan sekarang.


Dia hanya gadis biasa sebelum bertemu Reno. Gadis bebas yang tidak pernah dikekang siapapun, bahkan oleh ayah tirinya sekalipun.


Lalu, sekarang apa? Dia menjadi gadis lemah, dimanfaatkan oleh pria untuk dibalaskan dendamnya. Sekelebat kalimat demi kalimat menyakitkan yang dilontarkan Hanny sebelum tadi dia diterjunkan ke laut terngiang kembali.


Dia menikahimu hanya untuk menyakitimu! Dia akan membuangmu! Kau tidak ada apa-apanya buat Reno!


Brengsek.


Demi cinta kau jadi selemah ini? Dimana Jina yang selalu mendahulukan otot ketimbang otaknya? Kemana kekuatanmu untuk membalas orang-orang yang menyakitimu?


Bulir air matanya menetes tanpa sempat dicegah.


“Aku—aku,” Reno kehilangan kata-katanya. Dia kacau. Gadis itu menangis. Dan semua itu karena dirinya yang—shit! Kenapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya barang sedetik?


Meskipun dia pernah menyakiti gadis itu, tapi tidak pernah menampar. Sekarang mereka berselisih dan berakhir dengan tamparan tragis. Reno sepenuhnya yakin jika setelah ini Jina tidak akan mau melihat wajahnya lagi.


Tapi, dugaannya salah. Ketika tiba-tiba Jina melemparkan tubuhnya memeluknya! Kausnya diremas erat-erat sekuat tangisannya yang memecah. Punggungnya dihukumi pukulan-pukulan tersiksa hingga gadis itu merasa puas.


Reno berpikir Jina akan berlari keluar, meninggalkannya dan tidak pernah kembali. Atau, belum? “Aku tidak akan meminta maaf. Aku sudah memperingatimu untuk tidak memancing emosiku.”

__ADS_1


Brengsek.


Reno tertawa sumbang dalam hati. Menertawakan jiwa pengecutnya. Jauh di palung hatinya dia beribu melantunkan kata maaf untuk Jina.


Gadis malang yang harus menerima kejahatannya. Salahkan juga gadis itu. Kenapa dia datang memporak-porandakan hatinya dan mengusik perasaannya.


Bibir Jina bergetar hebat. Tangisannya kian membuncah. Pukulan di punggung Reno kian mengencang. Jangan biarkan rasa sakit menghancurkanmu.


Pria seperti Reno memang tidak punya hati untuk diberikan.


Jina menarik kerah kemeja Reno mendekat, “Aku juga akan memperingatimu.”


Kata-kata itu disambung ciuman hebat pada bibir tebal pria itu. Membungkam bibir yang pintar meremas-remas hatinya.


Dia tidak butuh tontonan picisan drama percintaan yang setelah si wanita ditampar akan lari terbirit-birit lalu menangisi kebodohannya.


Dia juga bukan tokoh wanita yang akan mudah diluluhkan omongan hina dan palsu. Apalagi memohon-mohon pada prianya agar mau kembali.


Dia justru ingin menunjukkan pada pria—yang kini tengah menindihnya, menikmati tubuhnya, melesakkan kejantanannya ke dalam miliknya, antara kebimbangan mengapa reaksi gadis di bawah kuasanya bertolak belakang dengan perkiraannya dan hasratnya ingin menyentuh gadisnya—jika akan kalah.


.


.


Reno terlelap seusai menuntaskan percintaan mereka. Tapi tidak dengan Jina yang masih membuka kelopak matanya lebar-lebar.


Tak terhitung berapa kali mereka bercinta dengan posisi apapun yang diinginkan Reno, ternyata tidak membuatnya kelelahan. Mati-matian rasa kantuk yang menderanya ditahannya dulu menunggu sampai Reno tidur.


Menatap kembali wajah sayu yang tengah tertidur itu di atas ranjang mereka yang acak-acakan. Ini percintaan mereka yang penuh ledakan emosi. Sebelum dia memutuskan benar-benar pergi, Jina menghampiri Reno, mendaratkan kecupan panjang di bibir tebal pria yang sering melukainya.


“Tak perlu mengusirku. Aku bisa pergi dengan kedua kakiku sendiri. Selamat tinggal.”


.


.


.


.


.


6 Bulan Kemudian


Deru mesin motor bergemuruh seiring hentakan keras gas yang ditarik lantang. Roda itu meluncur deras membelah dataran abu-abu berkelok. Menuntaskan ambisi liarnya menjadi pemenang hari ini.


Melirik kaca spionnya sekali lagi. Lawannya tidak terlihat. Keyakinan menguatkannya jika kali ini tidak akan terjadi lagi kecelakaan mematikan seperti dulu lagi.


Peluit bertiup nyaring. Decitan bunyi gesekan roda dengan aspal memekakkan telinga. Mesin itu berputar pelan, mendesis, dan mati.


Pemenangnya berhasil mengalahkan lawan tangguh lainnya. Sudah dia bilang kan, hari ini tidak akan ada darah tercecer sia-sia.


“HEBAT! Kau luar biasa!”

__ADS_1


Pelukan akrab rasa lega, bangga, dan haru bercampur jadi satu. Ucapan selamat datang bertubi-tubi dari kawan maupun lawan. Kekalahan tidak menyurutkan rasa kagum mereka meski dikalahkan seorang gadis.


“Aku mengagumimu, kak!”


Seorang laki-laki muda tersenyum lebar dan tanpa malu memeluk gadis itu erat. Setengah berharap gadis yang empat tahun lebih tua di atasnya itu bisa mendengar degupan jantungnya sehingga mau menerima cintanya.


Yah, dia sudah enam bulan ini mengagung-agungkan Jina yang termasuk pembalap profesional baru. Gadis itu memiliki karakter kuat dan skill di atas rata-rata. Baru setelah mengikuti pelatihan dan ditarik di bawah agensi dia bisa merealisasikan mimpinya tidak cukup menjadi pembalap liar.


“Bocah tengil!” Hito menoyor kepala Henry tanpa ampun.


“bang, sakit!” Henry menggosok belakang kepalanya. “Kalau aku gegar otak bagaimana?” Satu pukulan ringan mendarat di kepalanya lagi kali ini dahinya. “Aduh, sakit!”


“Bodoh! Mana bisa pukulan ringan bisa membuatmu gegar otak? Kecuali aku melemparkan beton ke kepalamu.”


“Ah! Tetap saja! Huh!” ujar Henry tidak terima.


“Dasar bocah! Lebay!”


“kakak,” Henry menggelayut manja di lengan Jina. Gadis itu mengernyitkan dahinya. “Lindungi aku dari calon kakak ipar—”


“SIALAN!”


Hito sudah akan melayangkan pukulannya lagi, tapi Jina lebih dulu menyela, “Hentikan. Dia hanya ingin bicara padaku. Jangan hiraukan kelakukan kekanakannya.”


Tatapan Jina kembali fokus pada Henry. Kalau sudah begini, Henry tidak bisa berkutik. Dia ketahuan. Ketahuan maksudnya mendatangi gadis itu.


“Aku mencium maksud terselubung disini.”


“Eh? Apa? tidak. Tidak ada kok.” Henry menyeringai lebar. Tapi, melihat senyum jenaka yang tercetak di bibir Jina, Henry mendengus. “Oke, oke, aku cerita. Aku ingin memberikan ini.”


Sebuah surat berbahan tebal dan berkilauan dialihkan ke tangan gadis itu. “kakak akan membutuhkannya untuk masuk ke dalam. Atau,”


Henry berbisik di telinga Jina membuat Hito ingin menendang selangkangan laki-laki muda itu. “merusaknya.”


Henry mengedipkan sebelah matanya menggelikan. Sebelum selangkangannya benar-benar dijadikan samsak kakak Jina, Henry langsung mengambil langkah seribu meninggalkan lapangan sirkuit yang mulai sepi.


“Surat apa?”


Hito merebut surat itu dari tangan Jina yang masih tercengang tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu surat itu akan datang cepat atau lambat.


“Sialan. Suamimu mau menikah lagi? Kau tidak mau menghentikannya?”


Jina mengedikkan bahu tidak peduli. Dia melempar kunci motornya pada Hito yang ditangkap dengan gesitnya.


“Tolong masukkan motorku, ya? Aku mau bersih-bersih dulu di basecamp sebelum makan malam. Kita bertemu di tempat biasa jam tujuh malam, oke?”


“Woy! Kau kira aku pelayanmu?”


Tawa terkikik Jina menjadi penutup percakapan singkat mereka. Dia berbalik dengan tak acuhnya menuju basecamp gedung agensi yang menaunginya.


Sifat apatisnya kembali. Harga dirinya sudah dipasak dalam-dalam. Mendekatinya adalah hal tersulit bahkan lebih sulit dari sebelumnya. Ketidapeduliannya pada dunia bermula dari rumah tanggannya yang berantakan.


Bukan, bukan. Ini bukan seperti yang ada dalam bayangan kalian. Mereka memang tidak bercerai, tapi status pernikahan mereka-lah yang terombang-ambing.

__ADS_1


__ADS_2