
Tatapan menyelidik Hanna meresahkan hati Jina .Dan gadis itu harus menarik napas panjang-panjang karena Hanna hanya berkata, “Masuk dan beri aku penjelasan.”
“Jangan katakan apapun sekalipun Ibu menanyaimu. Aku yang akan menjawab semuanya.” Reno setengah berbisik di telinga Jina yang dibalas dengan sekali anggukan.
Ternyata interogasi yang dilakukan Ibu Reno tidak semencekam yang ada di pikirannya. Ibu nya tidak banyak bertanya. Hanya seputar alasan Reno menikahinya dan rencana Ibu nya tinggal sementara di rumah mereka sampai seminggu ke depan.
Satu jam cukup menyelesaikan kesalahpahaman dan Reno menuntunnya tidur di kamar mereka. Yah, mereka memang tidur di kamar yang sama. Entah ini karena keberadaan Ibu nya di rumah atau Reno benar-benar berniat tinggal sekamar.
“Tidur duluan saja. Aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Begitu saja sebelum Reno menghilang dari pandangannya
Dasar workaholic! Kenapa dia tidak mengistirahatkan tubuhnya yang jelas sekali kelelahan itu? Bukan urusanmu juga Jina. Toh, Reno.juga tidak meminta perhatiannya.
Tidak.
Jina tidak pernah tahu apa yang dilakukan Reno di ruang kerjanya ditemani penerangan lampu yang minim. Reno bukannya mengoreksi berkas yang ditinggalkannya pagi ini. Dia hanya duduk di kursi kerjanya.
Apa Jina benar sudah tidak perawan?
Lagi-lagi pikiran itu menghantuinya. kenapa kau harus repot-repot memikirkannya?
Tapi dia penasaran. Dia tidak tahu berapa tahun gadis itu bekerja sebagai paddock girl. Dan berapa lama para pria yang bekerja dengannya bisa menahan diri tidak menerkam gadis itu jika pakaiannya saja seperti tadi.
Hm.
Haruskah aku memastikannya?
.
.
.
“ Jina. menurutmu mana yang lebih bagus?”
Siangnya Jina diminta menemani Ibu mertuanya pergi berbelanja di salah satu mall milik perusahaan Reno.
Ini sudah yang ke dua puluh kalinya Hanna meminta pendapat Jina tentang baju, sepatu, tas, perhiasan di setiap toko yang mereka datangi.
Hebatnya setiap pilihan Jina selalu membuat Hanna senang dan langsung menyetujuinya. Jina juga heran kenapa mertuanya itu menghabiskan ratusan juta rupiah demi membeli barang-barang berlabel itu. Herannya lagi semua barang yang dibelinya adalah style anak muda.
“Yang warna ungu sangat cantik,”
Hanna mengacungkan cat kuku bermerek dan Jina menjatuhkan pilihannya pada warna ungu. Hanna mengangguk setuju. “Ini sekalian.” ucap Hanna pada pelayan toko.
“Kau tidak ingin membeli sesuatu?” Akhirnya Ibu mertuanya bertanya juga. Bahkan setelah berjam-jam dia hanya menemaninya berbelanja.
“Tidak, Ibu. Aku sedang tidak berminat untuk membeli.” Jina menyeringai lebar.
__ADS_1
Mau! Sangat mau!
Tapi, kalau dia membeli barang maka sepulang dari sini tangannya pasti semakin membengkak karena selain membawakan barang belanjaan milik Hanna juga harus membawa barangnya.
Tidak, tidak, kakinya bisa membesar seperti kaki gajah. Sesekali Jina memijit kakinya yang sudah sangat pegal berjalan kesana kemari memakai heels—dia terpaksa memakainya karena Ibu yang memaksanya—sambil menenteng sepuluh tas belanjaan yang berat.
“Sayang sekali, padahal banyak barang keluaran terbaru yang bagus-bagus.”
Jina menangis dalam hati. Dia berjanji akan kembali kesini untuk membeli barang incarannya—yang sialnya telah dibeli semua oleh Hanna!— tanpa membawa serta mertuanya.
Pelayan toko tadi kembali lagi menyerahkan barang Hanna. Setelah mengucapkan kalimat wajib agar pelanggannya kembali lagi, mereka berdua pergi.
“Setelah ini kita mampir ke kantor Reno dulu ya? Tidak apa-apa kan?” Hanna berbalik menatap Jina yang berjalan di belakangnya. “Omg! jinaaa, berat sekali ya? Astaga, biar Ibu saja yang membawanya.”
Kenapa kedengarannya tawaran Hanna barusan hanya pura-pura saja? “Tidak apa-apa, Bu. Aku bisa m-menga-tas-ssinya!” Jina tersenyum lebar setelah mengangkat tinggi-tinggi belanjaan Hanna yang sempat melorot.
“O-oh, baiklah. Hati-hati kita mau turun lewat eskalator.”
“A-apa? Huwaa!! Brak bruk duk dak! BRAK!”
Jina tidak lagi memperhatikan jalan di depannya karena tertutupi barang belanjaan yang menggunung dan tidak tahu kalau di depannya eskalator tengah berjalan.
Langsung saja barang-barang belanjaan itu menggelinding begitu saja, tercecer keluar hingga ke dasar eskalator dan nyaris terjepit eskalator kalau tidak ada satpam yang melihat kejadian tiba-tiba itu dan menyelamatkan barang belanjaan.
Jina sedikit berguling karena keseimbangannya hilang, menabrak dua orang di depannya yang beruntung sempat menghindar sebelum tubuh Jina ambruk di dasar eskalator bersama barang-barang mahal milik mertuanya.
“BARANG-BARANGKUUU!!!”
Gadis itu meringis karena kakinya terkilir dan lengannya berdarah. Hanna memunguti barangnya dan memasukkannya serabutan ke dalam kantongnya. “Apa yang kau lakukan pada barang-barangku?! Ini sangat mahal!”
Jina meringis menahan rasa sakitnya dan berdiri mendekati Hanna.
“Maafkan aku, Bu, aku benar-benar minta maaf! Biar aku yang memasukkannya, bu.” Hanna menyentak kasar tangan Jina yang berniat membantunya sampai gadis itu terhuyung ke belakang.
“Tidak usah! Jangan sentuh barangku! Benar-benar tidak bisa diandalkan!”
Beberapa orang yang melewati mereka hanya menatap iba pada gadis yang dimarahi oleh seorang wanita berumur.
Hanna menggerutu sambil terus memasukkan barangnya ke sembarang kantong dibantu oleh satpam disana. Setelah semua beres, Hanna menelepon pengawalnya—astaga, kenapa tidak dari tadi saja pengawalnya yang membawa barang-barang sialan itu!
Tolong, siapapun, tenggelamkan Jina sekarang juga di laut segitiga bermuda!
Untungnya Hanna tidak sejahat itu meninggalkan Jina pulang sendirian. Mereka tetap pergi bersama menuju kantor Reno.
Walaupun mereka duduk semobil, tapi aura horor yang menguar dari mertuanya membuat nyali Jina menciut, tidak berani membuka percakapan di antara mereka.
Setengah dari diri Jina merutuki kebodohannya. Kenapa dia sebodoh itu?
__ADS_1
Setengah dirinya yang lain juga mengingatkan jika ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Mertuanya saja yang memang sejak awal berniat menjahatinya. Kakinya yang terkilir masih terasa berdenyut dan semakin parah ketika dipakai berjalan.
.
.
.
“Putriku sayang!”
Teriakan Hanna membuyarkan lamunan Jina. Tidak seperti sebelumnya, sekarang para pengawal Hanna-lah yang membawakan barang belanjaannya dan Jina mengekor di belakang Hanna.
Dia mendongak mencari tahu siapa yang dipanggil putri kesayangan oleh mertuanya itu. Dia pantas terkejut kan? Ternyata Hanny yang mendapat panggilan itu.
Hanny tidak sendirian, tapi Reno sedang berdiri di sampingnya. Hati Jina berdenyut seperti kakinya karena di matanya sekarang Reno tampak memeluk pinggang Hanny. Kenapa?
“ibuuuuu!”
Hanny menerima pelukan hangat dari Hanna yang membuat Jina pantas iri setengah mati. Malangnya nasib Jina yang bukannya mendapat pelukan itu di hari pertama pertemuan mereka tapi malah diusir.
Jina menggaruk tengkuknya, bingung harus bersikap apa. Kenapa disini dia seperti pembantu Hanna yang mengantar majikannya menemui putra dan menantunya.
Reno melemparkan tatapan penuh tanya pada Jina yang diam saja.
“Kau semakin cantik saja Hanny. Reno benar -benar keterlaluan tidak mengajakku menemuimu lebih dulu malah bertemu dengan yang lain.”
Jina mendengarnya. Dia tahu maksud Hanna barusan. Itu dirinya. “Oh iya, aku punya hadiah khusus untukmu!” Hanna mengeluarkan kotak kecil warna biru muda dari dalam tasnya.
Hanny menerimanya dengan suka cita. Pengawal Hanna sudah meletakkan barang belanjaan yang tadi disuruhnya dibawa masuk.
“Ya Tuhan, ibuuuu! Ini kan kalung saphire yang pernah kita lihat di Perancis waktu itu!” Deg! Jantung Jina seperti berhenti berdetak. “Terima kasih ibuuu!” Hanny mengeratkan pelukannya pada Hanna.
“Dan ini semua untukmu!”
Hanna sedikit mendorong tubuh Jina bergeser dari hadapan belanjaannya. Apa? Jadi ini semua untuk Hanny? Jina menggigit bibirnya, menahan kesal. Kakinya sampai terkilir begini, dipermalukan di mall milik Reno karena barang sialan ini, nyatanya itu diperuntukkan untuk si putri kesayangan? Otaknya mendidih mau pecah!
“Ibu berlebihan sekali! Aku sangat menyayangimu, ibu! trima kasih banyak ibuuu!”
Hanny memeluk tubuh Hanna sekali lagi. Sementara Jina hanya berdiri mematung di tempatnya tidak tahu harus berbuat apa.
Bahkan Hanna sengaja menarik lengan Reno dan menggandeng Hanny masuk ke dalam ruang rapat. Mengabaikan Jina lagi. Hatinya mencelos. Reno tidak berkata apapun dan tampaknya dia tidak tertarik mengetahui keberadaannya disini.
“Apa aku satu-satunya idiot disini?” cecarnya lebih pada diri sendiri. Dia mengepalkan kedua tangannya. Mati-matian menahan teriakan kesalnya karena menjadi boneka mertuanya.
Betapa perjuangan yang harus dilakukan sampai bisa tetap berdiri. Membiarkan dirinya menjadi idiot sekaligus tontonan orang-orang kantor.
Memang benar semua orang tahu tentang berita pernikahan presdir mereka, tapi mereka tidak pernah tahu siapa wanita itu.
__ADS_1
Hatinya sakit, dadanya sesak. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Jina berlari menuju toilet paling dekat, menutup salah satu biliknya kencang dan tangannya serabutan mencari oksigen di dalam tasnya. Asmanya kambuh.
Jina menghirup oksigennya dalam-dalam. Kemudian menghirupnya sekali lagi. Napasnya tersengal. Dadanya bergemuruh.