
“Apa ini? Kenapa si evil itu tiba-tiba menikah? Padahal tidak ada angin tidak hujan.” Hiro duduk di deretan kursi terdepan gereja, membetulkan letak gadis kupu-kupunya.
“Dan kenapa dia merahasiakan mempelai wanitanya? Mencurigakan sekali.”
Charlie yang duduk di sebelahnya juga terheran-heran. Padahal sahabatnya itu baru keluar dari rumah sakit tiga bulan yang lalu mengingat lukanya yang terbilang parah. Paginya sudah ada undangan pernikahan yang mampir ke apartemennya.
“Ah! Itu dia!”
Pintu gereja terbuka dan memunculkan sosok Pria yang duduk diatas kursi roda yang didorong oleh ayahnya.
Hanya Rudi Hadirjo yang datang pada pernikahan putranya karna istrinya masih di luar negeri dan berhalangan hadir.
“kenapa dia tetap tampan walau di atas kursi roda?” Reno melewati mereka menuju pendeta yang menunggu di depan. Rudi Hadirjo berbisik sebentar di telinga Reno sebelum meninggalkannya.
“Mempelai wanita tiba!” ucap MC membuat pandangan para tamu beralih pada pintu utama.
Jina melangkah masuk dengan menggandeng Hito sebagai walinya masuk ke dalam gereja. Gaun pengantin mewah dengan bahu terbuka sepanjang lutut dan bagian belakangnya memanjang seperti ekor.
Tangan kanannya menggenggam buket bunga mawar putih. Cantik. Semua tamu mengakui kecantikan Jina yang sempurna bak dewi. Sangat pantas bersanding di samping Reno.
“Hei! Bukankah itu gadis yang pernah mendobrak kamar Reno? Pantas saja aku merasa aneh karna sering bertemu dengannya di rumah sakit dan tampaknya dia mengunjungi Reno. Aissh, bocah itu! Padahal waktu itu dia jahat sekali mengusirnya!” Yoga sadar wajah Jina tidak asing lagi di mata mereka.
“Kau benar, ! Reno kan yang satu-satunya menolaknya mentah-mentah. Tapi lihat! Malah dia yang sekarang menikahinya!” sungut Hiro tidak terima. Dia sudah berniat ingin mendekati Jina.
“Sudah kubilang kan, gadis itu sangat seksi. Tubuhnya benar-benar!” timpal Hiro sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara membentuk lekukan tubuh wanita.
Hito menyerahkan tangan kanan Jina pada Reno yang dalam beberapa menit mendatang akan menjadi adik iparnya.
Tak disangka adiknya harus menjalani takdir rumit seperti ini. Bahkan dia menikah lebih dulu dari pada Hito. Sebelumnya dia memang terkejut mendengar berita pernikahan ini.
Jina mengatakan kalau dia hanya ingin bertanggung jawab. Dia tidak ingin menjadi wanita yang melarikan diri dari tanggung jawab.
Berat sebenarnya melepaskan adiknya yang sikapnya masih labil, apalagi Reno terpaut lima tahun di atasnya. Tapi apa boleh buat, toh ayahnya juga sudah memberikan izin walaupun berhalangan datang hari ini.
Upacara pemberkatan berlangsung sangat khidmat. Semua tamu terutama para gadis terhipnotis dengan sikap manis yang ditunjukkan Reno saat pendeta mempersilahkannya mencium Jina.
Dia menciumnya di bibir. Ciuman kedua yang melelehkan hingga kedua lutut Jina yang bersimpuh di depan Reno bergetar.
Tangan kanan Reno yang sudah pulih sekarang bisa bergerak bebas, meraih tengkuk Jina semakin mendekat lalu menciumnya lebih dalam. Melumatnya sangat dalam.
__ADS_1
Reno seratus persen sadar ketika mencium Jina. Gadis itu sangat cantik. Dia mengakui ketika Jina mengenakan gaun pengantin dia menjadi seribu kali lebih mempesona.
Sebagian hatinya mengatakan dia tidak salah memilihnya sebagai istri. Tapi sebagian hatinya yang lain memperingatkan bahwa ini hanya pura-pura.
Setelah ini dia akan menunjukkan siapa dia sebenarnya. Reno melepas pagutannya. Dia tersenyum miring lalu mengusap sudut bibir Jina yang kini membengkak.
“Selamat datang di duniaku, nona.” Bisiknya pelan tepat di telinga Jina membuatnya merinding.
.
.
.
.
.
.
BRAAAKKKK
Jina menggedor-gedor pintu gudang yang barusan dikunci rapat dari luar. Tepat setelah acara resepsi pernikahan selesai, Reno langsung membawanya ke rumahnya.
Mansion mewah bercat putih yang dari luar lebih mirip rumah angker yang dipakai setting tempat film-film horor.
Begitu pintu mobil dibuka, dua pria berpakaian serba hitam tiba-tiba menyeretnya keluar ke arah paviliun. Seingatnya Reno hanya diam menatapnya diseret kasar oleh orang-orangnya.
Tubuh Jina merosot di belakang pintu yang mungkin selamanya tidak akan pernah dibuka itu. Ketika itu dia baru sadar bahwa dia telah masuk perangkap Reno Hadirjo. Dunianya yang dingin dan kejam.
Malapetaka apalagi ini? Tenaganya terkuras setelah acara tadi dan sungguh dia tidak sempat makan apa-apa tadi karna sibuk menyalami kolega-kolega suaminya.
Cih, suami? Apa orang seperti dia pantas disebut suami? Mengurung istrinya di dalam gudang yang gelap.
Tangan Jina menelusuri dinding ruangan itu berharap bisa menemukan saklar lampu. Tapi sepuluh menit dia habiskan mencari, tidak ketemu juga. Lagi-lagi tubuhnya merosot ke lantai.
Kenapa begini? Kalau seandainya dia tau akan berakhir seperti ini, dia lebih memilih dipenjara. Setidaknya dia tidak dikurung di ruang gelap, mendapatkan makanan dan bisa tidur.
Dia sangat menyesali keputusannya. Kenapa dia bisa seceroboh ini? Kenapa dia tidak lebih hati-hati? Kenapa dia tidak menuruti perkataan Hiti yang harus waspada pada Reno?
__ADS_1
Bagaimana kalau Reno punya kelainan? Psycho semisal? Bagaimana ini? Mencoba kabur pun dia tidak melihat ada satu jendela pun disini. Ruangan ini hanya berukuran 2×2 meter, sempit dan pengap.
“Uhuk! Uhuk!” Sial! Jina mengumpat dalam hati. Dia lupa bahwa dirinya mempunyai asma. Dia tidak bisa berada di ruangan sempit apalagi gelap. Pernapasannya sudah terganggu sejak dia kecil.
Diperparah lagi karena dia belum makan sama sekali. Sesak! Jina terbatuk-batuk. Nafasnya menjadi tidak beraturan dan sampai berbunyi. Dia terbatuk lagi. Dadanya sesak sekali.
Dia kehabisan napas! Oksigen! Oksigen! Jina merayap hendak menggapai-gapai kenop pintu dan mengetuknya sangat pelan.
“Toloongin akuu. ku mohoonn l!!” sekali lagi dia mengetuk pintu itu sangat berharap ada orang yang mendengarnya. “to oloong…” dalam hitungan detik kesadarannya hilang dan semua menjadi gelap.
Pintu gudang itu terbuka. Reno berdiri di depan tubuh Jina yang tergeletak pingsan di depan pintu. Berdiri? Yah, pria itu sebenarnya sudah bisa berjalan beberapa hari yang lalu. Dia menatap pakaian gadis itu masih sama, gaun pengantin yang belum diganti.
Reno berjongkok di dekat kepalanya, menekan pipinya yang menempel di lantai.
Tidak menunggu lebih lama, Reno segera mengangkat tubuh Jina yang cukup ringan meninggalkan ruangan yang dulunya adalah tempat barang-barang rongsokan yang berumur bertahun-tahun.
Reno membawanya masuk ke dalam rumah utama, tepatnya ke dalam kamarnya.
“Panggilkan dokter sekarang.” titahnya pada salah satu bodyguardnya yang berjaga di depan kamarnya.
Reno meletakkan tubuh Jina di atas tempat tidur, melepas heels gadis itu dan membuka gulungan rambutnya.
Dia tersenyum puas. Dia memang sudah tau kalau Jina trauma dengan ruangan sempit dan gelap karna itu bisa merangsang asma-nya untuk kambuh. Inilah yang dia inginkan.
“Ini baru pemanasan. Kita lihat apa kau bisa bertahan hm?” Reno ikut berbaring di samping Jina kemudian menarik selimut ke atas tubuh mereka.
Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Jina. Dia menggeleng-geleng pelan. “Ada apa ?”
“Apa ini kerjaanmu, Ren?”
Adimas, dokter pribadi keluarga Hadirjo, sekaligus teman lama Reno, melepaskan stetoskopnya dan mengeluarkan keperluan pemasangan oksigen.
Reno hanya tersenyum lebar. Adimas memang pandai menebak. “Kalau kau terlambat sedikit saja, kau bisa melayangkan nyawanya. Siapa namanya?”
“Jina. Tapi dia tidak mati kan ?” yah, karna aku belum puas menyiksanya. Lanjut Reno dalam hati.
Adimas memukul kepala Reno, pria itu hanya meringis tidak terima.
“Bodoh! Untuk sekarang tidak. Tidak ada lain kali,ren. Nadinya tadi sangat lemah” Adimas telah selesai memasang oksigen untuk Jina yang akan membantu pernapasannya. “Kau tidak tahu dia memiliki asma?”
__ADS_1