
Adimas memukul kepala Reno, pria itu hanya meringis tidak terima.
“Bodoh! Untuk sekarang tidak. Tidak ada lain kali,ren. Nadinya tadi sangat lemah” Adimas telah selesai memasang oksigen untuk Jina yang akan membantu pernapasannya. “Kau tidak tahu dia memiliki asma?”
“Tentu saja aku tahu.” Jawab Reno polos dan langsung dihadiahi satu pukulan ringan lagi.
“Bodoh sekali! Jangan main-main dengan nyawa orang lagi, Ren. Berbahaya. Kau harus ingat betapa sakitnya Seena dulu karna kelakuanmu.”
Tangan Reno yang sedang memainkan anak rambut yang menutupi wajah Jina berhenti. Mendengar nama itu lagi, dadanya mendadak nyeri. Nama itu memiliki makna besar dalam hidupnya. Dulu. Sangat dulu.
“Kau boleh keluar dimas.” kata Reno yang Adimas tahu sebagai kalimat pengusiran yang halus.
“Baiklah, aku pergi. Jangan lupa berikan dia obat kalau dia sudah sadar.”
Adimas memang menyiapkan beberapa obat kalau sewaktu-waktu asma Jina kambuh lagi. Setelah merapihkan peralatan medisnya, Adimas pergi keluar tanpa Reno yang mengantarnya.
Dia tahu betapa berartinya nama itu di hati Reno. Gadis yang pernah mengisi hari-hari Reno. Tapi gadis itu sudah lama meninggal dunia membuat Reno berubah.
Kalau sekilas diperhatikan, Jina memiliki sedikit kemiripan dengan Seena. Apa itu alasan RENO menikahinya?
Adimas menghela napas panjang. Tidak tahu juga. Semoga Reno tidak lagi berpikir untuk melanjutkan balas dendamnya.
.
.
.
Jina mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menatap langit kamar, bukan gudang, batinnya.
Tidak ada siapapun di kamar yang luasnya tiga kali lipat dari apartemennya itu. Sekilas dia ingat apa yang terjadi padanya kemarin malam.
Pria gila itu! Dia tega membuat asma-nya kambuh sampai dia pingsan! Jina melepaskan selang oksigen yang terpasang di lubang hidung bangirnya.
Perlahan dia mencoba bangkit dari posisi tidurnya dan mencoba bersandar di headboard ranjang belakangnya.
“Kau sudah bangun?”
Jantungnya nyaris copot ketika tiba-tiba Reno muncul seperti hantu dari kamar mandi.
Pria itu baru saja menyelesaikan mandinya, dia hanya memakai handuk sepinggang dan bertelanjang dada sambil berjalan mendekat tempat Jina bersandar.
Reno mengulurkan tangannya menyentuh kening Jina sambil sesekali menggosok rambutnya yang baru dikeramas. “Sudah tidak demam.” gumamnya pelan.
__ADS_1
Andai saja Jina tidak membenci setengah mati pria di depannya ini, dia pasti akan terpesona oleh ketampanannya yang melebihi dewa yunani ini.
Dadanya bidang dan seolah-olah memanggilnya untuk menyentuhnya. Tapi kenyataan menariknya kembali dari angan-angan bisa menyentuh tubuh itu.
Reno yang menguncinya di gudang sampai dia harus meregang nyawa. Jina memalingkan mukanya ketika Reno hendak mengusap puncak kepalanya. Gadis itu benar-benar menunjukkan penolakannya.
“Akh!” Jina menjerit tertahan karna Reno menarik rambutnya ke belakang hingga membentur headboard ranjang yang terbuat dari kayu, tapi Reno mengabaikannya.
“Bukannya aku sudah pernah mengatakan, aku tidak mentolerir seinci pun penolakan.”
Reno melepas tangannya terlalu kuat sampai kepala gadis itu membentur kayu itu lagi. Entah kenapa Jina yakin kalau kepalanya terus dibenturkan seperti ini dia bisa gegar otak.
Jina menyentuh pelipisnya yang nyeri. Kulitnya robek dan darah segar mengalir. Reno melihatnya, tapi hatinya cukup dingin untuk peduli.
Pria itu berdiri. “Aku tidak menikah dengan seorang gadis pemalas. Cepat bangun dan buatkan aku sarapan.” Setelah berujar demikian, Reno meninggalkan Jina sendiri.
Bulir itu jatuh juga. Jina menghapus kasar air matanya yang terus menetes yang bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya. Pagi-pagi dia sudah dihadiahi siksaan begini.
Dia bukan gadis yang cengeng, tapi kenapa saat diperlakukan sangat buruk oleh pria yang kemarin baru saja mengucapkan janji hidup semati dan akan saling menyayangi, membuat hatinya sakit.
Seperti ada belati yang menyayat hatinya. Kenapa rasanya lebih baik dia mengakhiri hidupnya saja daripada harus mati di tangan pria itu.
Mengacuhkan pelipisnya yang meremang nyeri, Jina bergegas keluar kamar menuju dapur yang menurutnya tidak jauh dari sana.
“Kau tentu tidak keberatan karna aku yang mengganti pakaianmu.” Jina dibuat jantungan lagi.
Reno sudah berdiri di belakangnya. Kini dia sudah lengkap mengenakan kemeja kantoran warna tosca terang, celana hitam dan dasi yang telah terpasang sempurna.
Oh Tuhan, apa baru saja seorang Jina terpana lagi akan kesempurnaan pria itu? Tu-tunggu, apa yang dia bilang barusan?
Reno berjalan melewatinya. Semerbak aroma mint bercampur maskulin memasuki rongga dada Jina. Sesak sekaligus memabukkan.
“Kalau kau berdiri terus seperti patung begitu, kejadian semalam akan terulang lagi.”
Seakan mendapat sengatan listrik, Jina buru-buru masuk ke dapur dan menyiapkan sarapan ringan dengan persediaan yang ada.
Dia tahu apa yang dimaksud pria itu. Dia tidak mau terulang lagi. Itu adalah kejadian paling menyesakkan dadanya.
.
.
“Apa-apaan dia? Apa dia tidak punya pekerja di rumah sebesar ini? Lalu siapa yang membersihkannya sebelum ini? Dan kenapa sekarang aku yang harus mengerjakannya?”
__ADS_1
Jina menggosok lantai kamar mandi yang luasnya menyamai apartemennya. Ternyata Reno adalah pria yang benar-benar kaya.
Dilihat dari sudut manapun, sudah jelas setiap jengkal rumah ini hanya berisi barang-barang mahal. Apalagi guci-guci antik yang terpajang di ruang tamu, bisa dipastikan itu impor dan harganya miliaran.
Dulu, sebelum dia bekerja di bengkel sirkuit, dia pernah bekerja di museum barang antik yang pemiliknya orang Cina. Jadi dia sudah familiar dengan barang sejenis itu.
Ting tong! Ting tong!
“Tunggu sebentar!” teriak Jina dari dalam kamar mandi. Dia mencuci tangannya yang terasa licin kemudian bergegas membuka pintu rumah.
“Siapa?” tanyanya. Seorang wanita, bukan wanita muda, berdiri membelakanginya.
Wanita berkelas, pakaiannya terlihat mahal dan aroma parfum mahal pun tercium dalam radius satu meter saja. Wanita itu berbalik sambil menurunkan kaca mata hitamnya ke ujung hidung. Keningnya berkerut.
“Kau siapa? Pembantu baru?”
“Ah!” Bodoh! Jina menepuk jidatnya. Dia segera melepaskan apron hijau muda dari tubuhnya. Apa penampilannya sebegitu buruknya sampai-sampai dibilang pembantu?
“Kenapa kau ada di rumah anakku?”
Mulut Jina nyaris ternganga lebar. Jadi wanita ini adalah ibu Reno? Astaga! Dia tidak tahu! Karna kemarin yang datang di pernikahannya hanyalah ayah Reno saja.
“Omg! Jangan katakan kau adalah gadis yang dinikahi anakku? Omg! Sejak kapan selera anakku berubah sekelas pembantu?”
Hanna melepas kaca matanya lalu menatap tubuh Jina seakan sedang menelanjanginya sekarang.
Kali ini Jina yang tersedak. Apa maksudnya?
“Selamat datang, Ibu. Maafkan aku karna lancang tidak menyapamu lebih dulu.” Dia membungkukkan badannya sekilas sambil meringis tidak jelas.
Berusaha mengabaikan tatapan menyelidik mertuanya itu. Dan sekarang dia baru ingat saat pertama kali Reno sadar dari komanya, ada dua orang yang dia kira orang tua reno ternyata adalah orang lain.
“Ah, tidak! Tidak! Darah tinggiku bisa kumat kalau begini!”
Hanna memijit pelipisnya yang pusing. Dia baru saja pulang dari Paris menyelesaikan bisnisnya ketika dia mendengar kabar putra satu-satunya mengalami kecelakaan lalu tiba-tiba memutuskan menikah.
Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sehingga hanya suaminya yang menghadiri sekaligus menjadi wali di pernikahan Reno.
Mulanya dia mengira kalau anaknya akan menikah dengan Hanny, sahabat kecil Reno yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri, sehingga dia setuju-setuju saja.
Tapi begitu melihat siapa wanita yang sebenarnya dinikahi Reno, dia sungguh syok.
“Ibu tidak apa-apa? Ibu kenapa?”
__ADS_1
Jina diserang kepanikan karna mertuanya yang hanya diam sambil memijit kepalanya. Dia bergerak menyentuh lengan Hanna yang langsung ditepisnya, membuat gadis itu mematung di tempat.