
“Sialan, diam kau!” bentak Reno kasar. “Sayang,” Suara Reno kembali melembut. Dengan tangan bergetar, dia memaksa istrinya memandangnya. Dia takut jika Jina tidak mempercayainya. Dia takut jina meninggalkannya.
“Aku tidak melakukannya. Kau harus percaya padaku. Kau harus—”
“Apa kau harus menunggunya hamil dulu baru kau mau bertanggung jawab?”
Hati Reno mencelos. Pertanyaan sama yang terlontar dari bibir Jina memukul batinnya. Alarm keras berbunyi di kepalanya. Menjadi peringatan mematikan dan mau tidak mau Reno harus waspada jika detik selanjutnya jina pergi.
“Kau harus menikahi gadis itu dan aku bisa pergi.”
“Tidak mau!” Reno menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kewaspadaannya meningkat menjadi siaga satu. Kedua tangannya memeluk bahu Jina. “Kau tidak boleh pergi! Tidak boleh!”
“Tapi—”
“Tidak!”
“Jangan egois!” jerit Jina tak tahan. Amarahnya meledak.
Dia datang hari ini bukan untuk mendengar hal menyakitkan lagi. Dia hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Tidakkah pria ini sadar jika sikapnya malah menyakitinya? Membuatnya menderita?
“Aku masih punya akal sehat. Aku ingin,” Jina menelan ludahnya sendiri.
Matanya memandang nanar ke arah Lyra dan kedua orang tuanya yang diam saja menunggu keputusan akhir. Seperti narapidana yang menunggu jatuhnya hukuman putusan hakim pengadilan.
Membayangkan jika dirinya berada di posisi lyra, bagaimana perasaannya? Ketika satu-satunya kehormatan yang dia miliki telah direnggut oleh pria yang tidak mau bertanggung jawab.
Hatinya hancur. Perasaannya remuk, lebur, tak berbentuk lagi.
“Aku ingin berpisah.”
Di saat Reno lengah,Jina bergegas menarik tubuhnya lepas dari jangkauan pria itu. Dia bahkan baru menerima pernyataan cinta Reno. Dia merasa tidak ada yang bisa menghancurkannya lebih parah lagi selain hari ini.
Tidak ada yang pernah mengoyak hatinya sedalam ini. Tidak ada yang lebih buruk dari mengetahui jika kata cinta yang terucap dari bibir laki-laki yang kau cintai mungkin hanya sebuah pengakuan tanpa makna. Seperti vonis dokter yang menggantungkan perhitungan hidupmu.
Kau akan merasa tidak layak diperlakukan tidak adil, dan marah. Namun, kemarahanmu sia-sia karena kenyataannya logika itu tidak lebih dari akal sepintas manusia.
.******
.
__ADS_1
.
Mustahil berlari mengelilingi lapangan sepak bola seluas stadion tidak mengakibatkan napas terputus-putus. Jina membungkuk menumpu beban tubuhnya pada kedua lututnya. Pundaknya bergerak naik-turun tak beraturan.
Putaran ke dua puluh. Tubuhnya ambruk di atas rumput lapangan. Rasa menusuk ujung rumput menyentuh permukaan tubuhnya yang tidak tertutupi kain. Pandangannya sedikit mengabur ketika memandangi langit sore.
Kedua lengan dan kakinya dibuka lebar-lebar. Merasakan angin yang menerpanya. Sejuk, damai, dan tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Matanya perlahan terpejam.
Baru sebentar rasanya, mata itu kembali terbuka. Atap berlangitkan siluet tinggi menghalangi hembusan angin. Obsidian terang itu menancap lurus ke arah mata gadis itu. Bukan tatapan bahagia yang dia dapatkan, melainkan tatapan intimidasi dan, kesal?
“Kau kira sedang berjemur di pantai? Kemana pakaianmu?”
Lengan Jina secara mendadak ditarik paksa sehingga mau tidak mau dia harus berdiri. Ketenangannya terganggu. Tapi, pertanyaan penting muncul di otaknya. Kenapa pria ini ada disini? Kenapa pria ini bisa tahu keberadaannya?
“Ini,” Reno meremas kedua bahu gadisnya. “Ini,” Reno menekan tulang selangka gadisnya. “Ini,” Reno menggenggam perut gadisnya. “Ini,” Reno mencubit paha atas gadisnya. “Semua terekspos jelas di mataku.”
Tatapan Reno menggelap. Antara bergairah dan kesal melihat istrinya dengan santainya berlari di lapangan hanya mengenakan bra olahraga dan hot pans, mengekspos bagian tubuhnya tanpa malu.
“Aku-aku hanya berolahraga.” balas Jina terbata. “Apa yang kau lakukan disini?”
Smirk misterius mencuat di sudut bibir Reno. “Kau tidak suka?”
Ekspresi Reno mengeras begitu Jina menyebut nama gadis itu. Bibirnya membentuk satu garis datar. “Bolehkah aku memberitahu kabar gembira untuk kita berdua?”
Alis Jina naik sebelah.
“Gadis itu sudah mengakui kebohongannya. Kemarin, dia datang ke rumah bersama keluarganya untuk meminta maaf. Dia sudah mengatakan yang sejujurnya dan membatalkan pernikahan kami. Aku sangat senang tentunya karena dengan itu aku bisa mendapatkan kembali gadisku.”
Dalam satu tarikan kuat, Reno merengkuh tubuh Jina. Wajah gadis itu ditekan ke dadanya. Tepatnya ke tempat jantungnya yang berdebar hebat.
Bibirnya mengecup puncak kepala istrinya. Menikmati tubuh berkeringat gadisnya. Mereguk oksigen yang sama. Kecupannya bertahan lama di leher Jina. Rasa asin dan wangi lavender menguar dari tubuhnya.
Andai Reno tidak memeluknya mungkin tubuhnya akan merosot ke tanah karena terkejutnya. Apakah yang dikatakan Reno benar? Lyra hanya berpura-pura untuk memisahkan mereka?
“Benar.” ujar Reno seolah bisa menebak isi kepala Jina.
“Aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak mungkin menyukainya apalagi lebih gilanya melakukan seks dengan gadis lain selain dirimu.”
Reno mendekap tubuh Jina semakin erat. “Aku menyesal. Aku minta maaf karena tidak pernah membelamu. Aku minta maaf terlambat menyadari perasaanku karena aku terlalu memikirkan janjiku pada mendiang istriku untuk tidak melirik wanita lain.”
__ADS_1
“Tapi,” Reno mengecup leher Jina. daerah kesukaannya, lalu menenggelamkan wajahnya disana. “Bagaimana aku tidak bisa tertarik padamu jika kau terus-terusan mengejutkanku dengan keberanianmu dan ketangguhanmu.
“Aku tidak pernah merasa terlindungi oleh wanita sebelumnya. Biasanya aku yang harus melindungi mereka. Kau melindungi kelemahanku. Kelemahanku yang tidak bisa keras pada ibuku.”
Tangan Jina terulur membelai rambut tebal Reno. Dadanya menghangat. Dia senang dengan perasaan jujur yang diungkapkan Reno padanya.
“Apa kau tahu alasanku selalu memintamu untuk tidak membenci Ibu?”
Jina menggeleng.
“Karena Ibu adalah wanita yang telah melahirkanku dan membesarkanku. Bagiku, Ibu adalah segalanya. Seburuk apapun sikap Ibu baik padaku maupun istriku, dia tetap Ibuku. Ibu yang mempertemukanku dengan dua wanita terhebat. Terima kasih sudah bertahan untukku.”
Air mata jina merebak. Mendengar penggambaran sosok Ibu versi Reno mengingatkannya pada Ibu yang tidak pernah dilihatnya apalagi dia rasakan kehangatannya.
Ibu. Bagaimana rasanya memiliki Ibu? Ibu bahkan tidak pernah dalam memorinya sedikitpun, bagaimana kehangatannya?
“Ibu mencarimu. Dia ingin meminta maaf padamu. Kau mau, kan?” Reno mengurai pelukannya dan tertegun mendapati istrinya tengah tertawa sumbang sambil menyeka air matanya yang masih menetes.
“Hey, ada apa?”
Jina terkekeh pelan. “Aku tidak pernah marah pada Ibu. Ibu tidak melakukan apapun yang membuatnya harus meminta maaf padaku.”
Reno terenyuh mendengar perkataan istrinya. “Ah, aku juga harus mengaku sesuatu padamu.”
“Apa itu?”
“Jujur saja, niatku menikahimu pada awalnya untuk mempermainkanmu. Aku tidak mengira kalau aku akan hanyut dalam permainanku sendiri. Tapi aku tidak menyesal telah mengambil langkah itu. Karena dengan itu aku bisa memilikimu. Apa aku dimaafkan atas semua kesalahanku?”
Jina mengangguk-anggukkan kepala cepat. “Aku mencintaimu, Reno hadirjo. Aku tidak mungkin tidak memaafkan kesalahanmu.”
Tanpa berkata apa-apa, Reno langsung menyambar bibir Jina. Memberi bibir itu sebuah kecupan lembut.
“Aku juga mencintaimu, sayang. Dan kumohon, panggil aku Reno saja atau panggil juga aku sayang.”
“iyaaa Renoo.”
Reno tersenyum lebar. Lengannya terbuka lebar dan Jina dengan tak sabarnya memeluk leher suaminya. Mengecup leher pria itu berkali-kali seperti yang sering Reno lakukan padanya. Mereka menikmati pelukan paling lama yang pernah mereka lakukan.
“Sayang, bisakah kita segera pulang? Aku tidak tahan melihatmu hanya memakai pakaian minim ini. Membuat adikku di bawah sana terbangun.”
__ADS_1
Pipi jina merona tanpa diperintah. Kepalanya mengangguk di antara perpotongan leher dan bahu Reno. Tawanya membuncah. Inikah sifat mesum asli suaminya? Dia jadi heran mengapa bisa mencintai pria semesum ini.