revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 19


__ADS_3

Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat. Dia tidak punya keberanian sama sekali menatap Reno. Oh, dia bahkan berharap besok dia tidak akan melihat pria ini lagi.


“Tarik napasmu.” Reno menunggu. Gadis di bawah kuasanya ini hanya menghembuskan napas pendek-pendek tapi tidak merespon perintahnya. Sebenarnya Reno juga merasa dirinya aneh. Kenapa dia bisa selembut ini pada seorang gadis? Dan kenapa jantungnya malah berdebar tak karuan?


“Aku bilang tarik napasmu dan aku akan menuntaskannya secepat yang kubisa.” Reno mengerang dalam hati. Sebuah suara menggema di kepalanya. Alarm berbunyi keras di kepalanya.


Tidak. Jina tidak sama dengan Seena. Dulu Seena tidak setakut ini padanya. Tapi Jina, gadis itu jelas-jelas sedang ketakutan. Tubuhnya bergemetar.


Apa dia harus mengakhirinya? Begitu saja? Lalu bagaimana dengan miliknya yang sudah tersiksa meminta pelepasan? Lalu apa gunanya dia melakukannya pada gadis yang sedang ketakutan? Itu justru menyakitinya.


Tapi, bukankah itu tujuanmu? Menyiksa gadis ini sampai di titik dia akan bertekuk lutut di kakimu?


Pemikiran itu menguatkan Reno untuk bertindak lebih. Dia tidak akan berhenti. Tepat saat Reno hendak melesakkan batang tubuhnya ke dalam milik Jina, gadis itu membuka matanya. Membuat Reno sedikit terkejut.


“Apa ini hanya sebuah pembuktian? Apakah ini tidak akan mengubah apapun?”


Reno tertegun. Dia sampai berpikir keras apa maksud pertanyaan Jina di tengah-tengah mereka akan melakukannya.


Mengalihkannya? Menghentikannya?


“Jika kau berharap sesuatu akan berubah setelah kita melakukannya,” Jina menjerit! Reno melesakkan kejantanannya ke dalam lubang hangat milik Jina dalam satu hentakan. “maaf,” Reno mendorong pinggulnya ke depan, semakin menanamkan miliknya sempurna di dalam, “tidak akan ada yang berubah.”


Kening Reno mengernyit, sesuatu membuatnya penasaran. Dia mendorong miliknya semakin dalam hingga Jina mengerang dan menjerit. Seakan sedang memastikan sesuatu, Reno terus mendorong lebih dalam hingga merasakan sesuatu telah dirobeknya dan benar, darah segar menetes keluar mengalir pada batang tubuhnya.


“Aku membuktikannya. Aku tamu pertamamu?” Rupanya Jina semenjak tadi tidak menutup matanya sama sekali. Dia menatap nanar Reno. Dia tidak berbohong.


Dia yang menyerahkan mahkotanya pada Reno, suaminya. Tidak mungkin Jina memberikannya pada pria lain.


Hati Reno tetap saja menghangat kala Jina mengangguk. Dia merasa puas telah berhasil membuktikan kebenaran ucapan gadis yang pada awal perkenalan mereka selalu bermulut pedas. Walaupun beberapa terakhir ini sikap gadis itu mulai berubah. Tidak segalak dulu.


“Tapi sepertinya aku akan mempertimbangkan sesuatu,” Permainan belum selesai. Reno menggerakkan pinggulnya keluar dan masuk, mendorong titik-titik paling sensitif di bagian dalam tubuh Jina tanpa ampun.

__ADS_1


Jina mencengkeram kedua lengan Reno, mencakar kulitnya saat tubuh bagian bawahnya terus terdorong dan dia mendapat pelepasannya bersama Reno di dalam miliknya. Rahimnya menghangat oleh cairan pelepasan mereka. Jina tidak bisa menyebut itu percintaan, karena mereka memang tidak saling mencintai.


Tidak, melainkan cinta sepihak.


Dia mencintai pria ini.


Sebut dia gila.


Tapi, dia memang mencintai Reno. Suaminya yang suka berubah-ubah sifatnya. Dia begitu menyadari terlalu banyak teka-teki yang dimiliki oleh Reno.


Mungkin karena itu juga alasannya dia merelakan kegadisannya malam ini untuk Reno. Mahkota yang dijaganya dengan baik-baik selama ini diperuntukkan untuk seseorang yang dicintainya. Suaminya, Reno Hadirjo.


“seperti, menjadi pengganti Seena.” Lanjutan ucapan Reno mencengangkan Jina. Reno tersenyum padanya.


Oh, benarkah senyum itu untuknya? Lagi-lagi nama itu yang dia sebut. Kenapa rasanya hatinya sangat perih? Reno seperti telah menumpahkan air jeruk di atas lukanya.


Reno menggerakan tubuhnya lagi. “Seena, oh Seena!” Reno mendesah keras.


Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Jina menyesal telah memilih Reno sebagai pria yang dicintainya.


***


#Epilog#


SUDUT PANDANG RENO


Andai aku tidak ingat sedang berada dimana kami sekarang, mungkin ciuman ini akan berakhir di atas meja kerjaku.


Untungnya juga aku tidak mempunyai kamar khusus disini sehingga menutup peluangku bisa meniduri Jina Seandainya, juga, aku tidak ingat di luar sana belasan orang menungguku dengan sabar.


“Jangan biarkan bibir manis ini berbicara macam-macam. Mengerti?” Aku mengusap bibir Jina yang bengkak dan merah.

__ADS_1


Rasa bibir Jina memang sangat manis seperti candu yang memabukkan. Aku sudah menyadarinya saat pertama kali aku menciumnya di rumah sakit. Kumajukan wajahku dan kucium lagi bibir merahnya. Melumatnya beberapa detik sebelum ketukan di pintu menyela ciuman kami. Hiro berdeham-deham tidak jelas.


“Bos, ehem—kau ditunggu,”


Kulirik Jina yang langsung menundukkan kepala begitu bawahanku memergoki kami sedang berciuman. “Satu menit lagi.” ucapku tanpa mengalihkan perhatianku dari Jina.


Begitu pintu tertutup, aku berbisik pelan di telinganya, “Aku tidak akan membiarkanmu kabur tanpa tanggung jawab.”


“M-maksudnya?”


“Aku menginginkan lebih, asal kau tahu.”


Hening sebentar. Dia melongo di depanku. Kukira dia akan memasang wajah bodoh begitu sampai aku pergi. Ternyata tidak. Dia menyentakku, “Tidak mau!”


Aku terkekeh sinis. “Kenapa? Kau takut ketahuan kalau kau sudah tidak perawan?”


Aku tahu aku keterlaluan. Tapi kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa diperintah. Sejak lama memang aku penasaran. Apakah Jina masih perawan atau tidak. Mengingat pekerjaannya dan pakaiannya malam itu, err, aku tidak yakin. Coba pikirkan, berapa kira-kira pria yang kegirangan mendapat tontonan gratis seorang gadis setengah telanjang?


Pikiran itu membuatku mual. Atau, berapa kira-kira pria yang pernah melesakkan miliknya ke dalam tubuh gadis ini? Tanganku terkepal di samping tubuh.


“Aku bisa saja membuktikan padamu jika aku masih perawan!”


“Benarkah?” Muka Jina memucat. Aha! Apa sekarang kau sedang menggigit lidahmu, sayang? “Jangan tarik ucapanmu. Karena aku akan membuktikannya sendiri malam ini.”


***


BERSAMBUNG


naahh bgitulah cerita asal mulanya jina nantang reno buat pembuktian keprawanan nya..


jangan lupa like komen dan tambahkan favorit ♥

__ADS_1


__ADS_2