
Jina meremas kedua tangannya sendiri dengan gugup. Baru seminggu yang lalu dia menginjak rumah ini dan terlibat suasana panas keluarga ini.
Dua langkah di depannya berdiri wanita paruh baya berkelas yang fokus memandangnya. Untung saja bukan tatapan mengintimidasi yang dulu pernah didapatkannya ketika pertama kali mereka bertemu.
“Kemarilah,” Suara tegas tapi lembut itu menyuruhnya mendekat. Jina menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Dengan langkah mantap, Jina bergerak mendekati wanita itu. Secara tak terduga, tubuhnya direngkuh dalam dekapannya yang, oh, hangatnya. Membuat Jina tanpa sadar meraih punggung itu untuk membalas pelukannya.
“Ibu meminta maaf untuk semuanya. Ibu bersalah. Ibu—” Hanna tersedak ludahnya. Dadanya menyempit. Menyendat aliran oksigen ke paru-parunya karena rasa sakitnya sendiri.
“Tidak seharusnya Ibu menghancurkan rumah tangga putraku sendiri.” Pelukan Hanna mengetat. “Ibu hanya tidak mengerti bagaimana memberikan yang terbaik untuk Reno.”
Jina menggeleng lalu sedikit mengurai pelukan mereka. Tangannya terangkat menyentuh pipi mertuanya yang sudah basah oleh air mata. Mengusap air mata itu perlahan.
“Tidak ada orang tua yang tidak mengerti cara membahagiakan anaknya. Orang tua hanya memiliki cara mereka yang unik untuk menunjukkan kasih sayangnya.”
Hanna menghirup ingusnya dan tangisannya merebak lagi. Apakah ini gadis yang selama ini dia buat menderita dan disia-siakan? Apakah ini gadis yang di matanya dulu sangat menyebalkan?
“Ketakutan Ibu jika suatu saat nanti tiba-tiba Reno lebih menyayangi istrinya dibandingkan Ibu itu tidak benar. Reno sangat menyayangi dan lebih mencintai Ibu daripada siapapun di dunia ini.
“Percayalah, Ibu. Kami, aku ataupun Seena tidak pernah mencoba menjauhkanmu dari Reno apalagi merebut perhatiannya darimu.”
Iya, Jina menyadarinya. Mengapa Ibu Reno selalu berusaha menjodohkan putranya dengan gadis lain termasuk Hanny maupun Lyra
Ibu tahu, Reno tidak akan mencintai mereka sehingga mereka tidak akan merebut perhatian Reno darinya.
Ibu tidak akan kehilangan Reno. Dia adalah putramu. Bakti dan cintanya bersifat universal dan kekal.
“Aku tidak ingin menyesal lagi kehilangan menantuku. Aku tahu, kebahagiaan Reno tidak hanya aku. Kau, bisa memberikan kebahagiaan untuknya.”
Jina tersenyum manis lalu mengangguk. Mereka berpelukan kembali. Kali ini lebih erat. Biarkan bumi menjadi saksi bersatunya keluarga itu.
Sementara itu, Reno yang sedang berdiri beberapa meter di belakang dua orang itu tersenyum samar. Hembusan napasnya lega luar biasa. Tatapannya mengarah pada foto Seena di tangannya.
Sayang, terima kasih sudah mengirim Jina untukku. Yang merindukanmu, ...
.
**
.
.
Pesta yang diadakan di rumah kediaman Hadirjo berlangsung cukup ramai. Hanna mengundang seluruh keluarga besar ke rumah mereka. Pesta ini untuk merayakan pernikahan putranya yang dulunya belum terlaksana.
“waduh, kemana mereka berdua?” gerutu Hanna sembari dia menata kue-kue di atas piring.
Sudah dua jam lamanya dia sibuk bersama para pelayannya di dapur sekaligus menyambut tamu mereka. Dua orang yang harusnya menyambut di depan pintu lenyap entah kemana.
Rupanya gerutuan Hanna terdengar ke telinga para sepupu laki-laki Reno. Mereka saling melayangkan tatapan penuh tanya. Hery yang pertama memecah keheningan.
“bibi, memangnya Reno dan Jina kemana?”
Hanna mendengus kesal. “Tidak tahu. Bisakah kalian membantuku? Tolong cari mereka dan suruh mereka turun sekarang juga. Aduuhh, tamu yang datang semakin banyak. Cepatlah!”
Hery menggangguk cepat. Pandangannya beralih pada empat sepupunya yang lain. “Berani bertaruh, apa yang sedang mereka lakukan?”
“Memang apa?” tanya Henry polos.
“Ayuk! Kita intip mereka!” sammy yang paling cepat menangkap sinyal maksud dari perkataan Hery
charle mengerutkan kening. Pupilnya melebar. Sepertinya dia juga baru paham apa yang hendak mereka lakukan. “come on!” serunya bersemangat. Kalau soal ‘begini’ dia sangat bersemangat.
“Apa sih?” Karena otaknya sedang bekerja lamban, sammy memilih mengikuti jejak kakak sepupunya dan setengah menyeret henry agar bergegas mengekor di belakang.
“Jangan berisik! Awas saja kalau kita ketahuan!” Hery memperingatkan. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya. Empat pria di belakangnya langsung mengangguk.
Hery yang memimpin paling depan. Sepertinya otak Mesumnya sedang berputar keras. Akankah mereka melihat tontonan gratis lagi kali ini?
Dia terkikik. wkwk, Reno kan pria dewasa yang tidak bisa menahan hasratnya pada wanita. Apalagi kalau wanita itu sudah sah menjadi miliknya seutuhnya.
Mereka berjalan mengendap-endap menuju kamar remaja Reno. Begitu sampai di depan sana, mereka berlima menempelkan satu telinga mereka masing-masing ke pintu. Mencoba menangkap suara sekecil apapun di dalam sana.
Sementara itu, apa yang terjadi di dalam kamar?
Reno sedang mengeringkan rambut basahnya di pinggir ranjang. Jina menghampirinya dan mengambil handuk yang digunakan Reno sambil tersenyum lebar.
“Biar aku yang melakukannya,” Reno mengangguk saja.
Jina naik ke atas ranjang, bersimpuh di belakang punggung Reno. Mata Reno terpejam merasakan pijatan lembut tangan Jina di kepalanya seiring tangan lihai itu mengeringkan rambutnya.
Pria itu tidak berhenti memejamkan mata. Pijatan Jina bisa membuat kantuk menyerangnya.
“Kita harus segera turun. Kasihan Ibu pasti sangat kerepotan.” Reno bergumam tak jelas. Jina menyelesaikan pijatannya ketika dirasa rambut Reno lebih kering sekarang. “Sudah!”
“makasih.” ucap Reno tulus. Baru saja Jina hendak turun, tanpa aba-aba Reno menarik lengan istrinya hingga jatuh terbaring di atas ranjang.
Tak selesai disitu, pria itu dengan gesitnya menindih tubuh istrinya. Menangkup kedua tangan Jina lalu menautkan jari-jari mereka. Kaki kirinya menyusup di antara kaki Jima yang sengaja direntangkannya melebar.
“Apa aku pernah bilang jika aku beruntung memiliki istri yang sangat cantik?”
Pipi Jina memanas. Posisi seperti ini memang sering mereka lakukan. Memaksanya mendongak dan menerima tatapan penuh hasrat yang tak tertahankan.
__ADS_1
Melihat bagaimana pria itu bertelanjang dada dan hanya membungkus tubuh bawahnya dengan selembar handuk, Jina yakin Reno bisa menyerangnya saat ini juga.
“Pastinya aku tidak lebih cantik dari mendiang istrimu.”
Kedua alis Reno bertautan. Kenapa jina malah mengungkit kecantikan Seena? Dia bahkan tidak sedang memikirkan mendiang istrinya seperti saat pertama kali mereka bercinta.
Dia hanya melihat kecantikan istrinya secara keseluruhan. Tanpa bermaksud membanding-bandingkannya. Sudut bibir Reno terangkat.
Sebelum Jina sempat menyadari apa yang akan dilakukannya, tangan Reno bergerak menyelinap masuk ke dalam dress selututnya, menyentuh paha dalam gadisnya dengan lembut hingga Jina tersadar dan menggeram.
“Reno, jangan biarkan Ibu menunggu lebih lama lagi.”
Salah satu tangannya yang terbebas bergerak cepat mencegah tangan Reno mengeksplor lebih jauh. Jika hal itu terjadi, dia yakin Reno tidak dapat dihentikan.
“Ibu akan menunggu. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.”
Reno memberontak. Tangannya yang dicekal Jina seketika terlepas. Dia tidak ingin dihalangi ketika hasratnya sudah mencapai ubun-ubun. Tega sekali jika Jina mencegahnya.
“Tapi—reenn egh!” Jina nyaris menjerit saat jari Reno menelusup ke dalam miliknya.
Menekan di tempat yang sama berkali-kali.
“Aku ingin memuaskanmu.” bisiknya sensual di telinga Jina.
Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat. Menahan desahannya setengah mati agar tidak lolos dari bibirnya.
“eegh reenn,” Mati-matian Jina membuka matanya, menangkup kedua rahang Reno, membuat pria itu memandangnya. “Kita bisa lanjutkan nanti, hm? Hentikan sekarang, kumohon! Akh!”
Kali ini Jina benar-benar menjerit keras. Sejak kapan Reno memasukinya? Dan kenapa dia tidak sadar? Reno memasukinya dengan sekali hentakan kuat.
“Jangan tahan desahanmu!”
Perintah Reno tidak dihiraukan.Jina malah semakin mengencangkan tangkupannya di rahang Reno. Menyadarkan pria itu jika ini bukan waktu yang tepat. Mereka masih memiliki malam yang panjang untuk bercinta.
“Kumohon, jangan sekar—akh!” Jeritannya semakin keras kala Reno menusuk tepat di titik paling sensitif di dalam tubuhnya.
“Jangan memohonku untuk berhenti. Aku akan selesai setelah aku menuntaskannya.” ucapnya dengan napas terengah.
Milik istrinya masih saja terasa sempit meski mereka sering melakukannya. Reno menarik pinggulnya lalu dalam sekali sentakan kejantanannya berhasil memenuhi milik istrinya. Menggerakkannya dengan gerakan teratur dan menyiksa.
“ren egh reno! Hentikan!”
Teriakan Jina kali ini lebih keras. Seketika gerakan Reno terhenti. Geraman pria itu sangat kentara. Wajahnya berubah masam mengetahui Jina menolaknya. Terpukul oleh penolakan Jina.
Padahal dia sudah berada di ambang hasrat yang tak bisa ditampungnya, tapi kenapa Jina menolak?
Ekspresi tak terbaca Reno dan gerakan tiba-tibanya menarik kejantanannya keluar dan bergegas menjauh dari tubuh istrinya, membuat Jina berkedip tersadar.
Dia sama kagetnya dengan Reno. Dia tanpa sadar berteriak seperti tadi.
Panggilannya diabaikan. Oh, tidak!
Jina melompat turun dari ranjang, merapihkan pakaiannya yang berantakan, dan menghampiri Reno yang berdiri di depan lemari memilih baju yang pantas untuk dia kenakan malam ini.
“Reno, maaf.” ucap jina lemah.
reno acuh tak acuh. Pria itu kesal setengah mati. Dia mengasihani adiknya dibawah sana yang masih menegang dan belum mendapat pelepasannya.
Tega sekali kau, jina. Harus kuhukum apakah dirimu nanti?
“Reno. aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin Ibu menunggu kita.” Jina menggenggam lengan Reno erat. “Ren. Renoo, kumohon bicaralah. Jangan diam saja. Jangan marah, yaa? ”
Reno menyentak lengannya pelan saat dia hendak memakai kemeja hitamnya. Jina mengerucutkan bibirnya. Dia tahu tidak akan mudah merayu Reno saat pria itu sedang marah atau kesal.
“Reno hadirjoo!” Jina bergerak mendahului dengan berdiri di depan Reno, menghalangi pria itu mengambil celana jeans-nya. Reno berdecak.
“Apa?” tanyanya malas. Bola matanya berputar malas.
“Maafkan aku, yah?” pintanya tulus. Kedua tangannya merentang lebar-lebar di depan lemari itu.
“Apa itu saja cukup? Lalu, bagaimana kau bertanggung jawab atas ini?” Reno menunjuk adiknya yang masih menegang dan terangsang di balik handuk yang dia pakai.
Otak Jina berputar mencari ide. Sebenarnya dia tidak keberatan jika mereka bercinta. Tapi, bisakah Reno melakukannya pada waktu yang tepat?
Di bawah sana akan banyak tamu yang datang. Kalau mereka tidak segera turun, bisa-bisa mereka berpikiran macam-macam.
“Maaf. Aku hanya tidak ingin Ibu kerepotan—” Ucapan Jina terpotong oleh dengusan kesal Reno.
Tidak ingin berdebat karena masalah ini, Reno memutuskan berbalik melangkah cepat ke kamar mandi dan membanting keras pintunya.
Tidak tinggal diam, Jina mengejar suaminya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. “Aku minta maaf! Aku tidak berniat menyiksamu. Aku hanya—” Jina terbelalak.
Reno tengah berada di bawah guyuran air shower masih menggunakan kemeja hitamnya. Dia berdiri membelakanginya sementara tangan kirinya tengah memuaskan miliknya yang masih mengeras.
Bukannya pergi, Jina justru berjalan menghampiri Reno lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang. Mengeratkan kedua lengannya di pinggang Reno. Menempelkan pipinya di punggung Reno.
Secara tiba-tiba, Jina membalikkan tubuh Reno, setengah mendesak hingga punggung Reno terbentur dinding kamar mandi.
Mereka saling bertatapan. Jina merutuki sifat kekanakan yang cenderung dimunculkan pria ini kerap kali mereka berdebat. Tak dipungkiri dia juga menginginkan Reno seperti pria itu menginginkannya.
jina mendengus.
Ah, sudahlah. Kebutuhan suaminya jauh lebih penting dari keadaan segenting apapun di bawah sana. Dia tidak ingin mereka bertengkar hanya karena ini.
__ADS_1
“Lakukan apapun, asal jangan marah padaku.”
Jina mengalungkan lengannya melingkari leher Reno, menariknya ke dalam ciumannya.
Reno tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memagut bibir Jina yang menggairahkan. Sedangkan tangannya sudah terulur membuka resleting dress dan melepas pengait bra hitam berenda yang dikenakan istrinya. Dalam sekejap tubuh polos Jina terpampang di depannya.
“Aku tidak janji bisa menyelesaikannya dengan cepat.” Reno mengecup kilat bibir Jina.
Sementara gadis itu tengah sibuk mengatur napas setelah ciuman panjang dan panas mereka, Reno sudah membalikkan posisi Jina menjadi terpojok di dinding kamar mandi.
“Hukuman untukmu, sayang.” Jina memekik kaget. Pekikannya yang keras itu ternyata terdengar hingga keluar kamar.
Kelima pria dewasa yang menguping di balik pintu melompat kaget. Namun selanjutnya tawa mereka yang membahan memenuhi lantai dua rumah itu.
Benar dugaan Hery, pasti dua orang itu tengah bercinta di dalam sana. Berarti ini kali kedua mereka menguping pasangan yang tengah bercinta.
“Ah, sudahlah. Biarkan saja mereka. Bilang pada Bibi kalau mereka sedang proses pembuatan cucu untuknya.”
.
.
***
.
“Disinilah Seena terbaring dengan tenang. Perkenalkan dirimu.”
jina meletakkan lili putih di atas makam mendiang istri Reno kemudian membungkuk sekilas. “hay.perkenalkan aku jina.”
“Salam kenal, Seena. Terima kasih sudah memberiku kesempatan bersanding dengan Reno. Terima kasih telah hidup mendampingi Reno.
“Dan kini, giliranku yang melanjutkan tugasmu. Melindunginya, menghormatinya, dan mencintainya dengan segenap hatiku.”
Jina menggenggam tangan Reno. Pria itu mengalihkan wajahnya dari istrinya. Tidak kuasa menahan air matanya jika terus menatap makam mendiang istrinya.
“Akan kupastikan Reno hidup dengan baik sesuai keinginanmu. Takkan kubiarkan dia bersedih, tersakiti, apalagi menderita.”
Gadis itu mengecup buku-buku tangan Reno. Pria itu agaknya terkejut dan menatap senyum jenaka istrinya. “Dia pria yang sangat menggemaskan, asal kau tahu Seena-.”
Senyum Reno terbit. “Sayang,”
Reno mengecup pelipis Jina gemas. Istrinya ini belakangan memang sangat manja dan bertingkah lucu. Reno merangkul pundak Jina mendekat lalu berjalan meninggalkan tanah pemakaman.
Bebannya menghilang. Inilah akhir yang selalu dia tunggu. Ketika dia bisa menyandarkan diri lagi pada wanita yang dicintainya. Wanita yang bisa mengandalkannya. Wanita yang kan senantiasa menemaninya.
“Huek!” Jina menutup mulutnya sendiri ketika sesuatu dalam kerongkongannya mendesak ingin keluar. Perutnya bergejolak. Dia ingin muntah.
“kau baik baik saja?” tanya Reno cemas.
“Mual sekali rasanya. Padahal seingatku aku tidak makan dengan baik belakangan ini.”
Reno tertegun. Belakangan ini nafsu makan Jina meningkat bahkan gadisnya sering meminta makanan yang aneh-aneh pada jam-jam yang tak terduga. Kalau Jina tidak sedang sakit, mungkinkah? Seketika senyumannya mengembang.
“Apa mungkin kau hamil?” pekik Reno keras.
“APA?!”
.
.
.
Epilog
Hanny menatap pemandangan di depannya dengan haru. Beberapa bulan lalu dia datang menemui Reno dan Ibunya.
Dia meminta maaf atas perbuatannya yang andai Reno tidak melindunginya mungkin dia bisa dipenjara atas tindakan percobaan pembunuhan.
Melihat Reno dan istrinya berpelukan di tengah lapangan, Hanny percaya jika selama ini apa yang dia lakukan sia-sia. Reno memang tidak akan meliriknya sebagai wanita. Mereka hanyalah sahabat.
Sebaiknya dia pergi. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan disini.
“Sedang patah hati, nona?”
Saat dia berbalik ingin meninggalkan tribun penonton lapangan sepak bola, seorang pria tinggi mengenakan baju olahraga sudah berdiri di dekatnya dan mengejutkannya. Terlebih pertanyaannya yang menohok hati. Hanny berdecak.
“Uruslah urusanmu sendiri, Tuan.”
Hanny siap mengambil langkah seribu menghindar dari pria asing di hadapannya. Namun, sebuah tangan menghalanginya. Tangan pria itu terulur padanya.
Begitu Hanny mendongak ingin melihat sekali lagi wajah pria yang mengganggunya, jantungnya berdegup kencang.
Pria itu tengah tersenyum manis. Menunjukkan deretan giginya yang rapi. Dengan tegasnya dia memperkenalkan diri.
“Hito.”
.
.
the End
__ADS_1
sampai jumpa.. di cerita selanjutnya ...