
Hanna menatap garang putranya yang tengah menggandeng tangan menantunya. Menautkan jari-jemari mereka dan pertama kalinya setelah beberapa tahun ini Reno hidup seperti mayat, putranya itu tersenyum!
Dari yang dia dengar, Reno menggunakan alasan pernikahan untuk membalas dendam pada Jina. Apa ini berhubungan dengan kecelakaan yang menimpa Reno dan ternyata berkaitan dengan Jina? Kenapa Hanny tidak pernah bercerita apapun.
Hanna pikir Reno menikahi gadis itu karena cinta. Ternyata, bukan? Lantas, kenapa Reno terus mempertahankan pernikahannya? Buat apa?
Sejujurnya, dia tidak sejahat yang dipikirkan orang-orang. Mereka yang tidak tahu-menahu alasan kenapa dia selalu menolak gadis yang menjadi pilihan putranya.
Dia terlalu menyayangi Reno. Dia suka berpikiran macam-macam.
Kemungkinan gadisnya hanya memanfaatkan Reno sehingga bisa menguras kekayaan putranya. Atau berpura-pura mencintai Reno sehingga putranya jadi buta akan cinta dan rela memberikan apapun demi gadisnya.
Pikiran itulah yang menyebabkan kebencian pada gadis pilihan Reno. Tidak seperti Hanny. Gadis itu sangat transparan menunjukkan perasaannya. Sedangkan Reno, putranya itu tahu, tapi dia berpura-pura tidak tahu demi mempertahankan persahabatan mereka.
Hanna lebih senang jika Reno mau mengenalkan gadisnya padanya dulu. Hanna hanya ingin Reno terbuka pada ibunya sendiri. Jangan biarkan pikirannya merusak kepercayaannya pada putranya.
Dulu dirinya mungkin belum sempat mengenal baik siapa itu Seena, mendiang istri pertama Reno. Tidak dengan Jina. Perlahan, dia merasakan keberadaan gadis itu di sisi Reno ternyata memiliki efek yang bagus dalam kehidupan putranya.
Lalu, sekarang apa? Kenyataan JINA hanya dimanfaatkan untuk membalas sakit hati Reno apa ini bisa diteruskan? Satu-satunya jalan, mereka harus berpisah. Buat apa mempertahankan pernikahan jika beralasan kejam di baliknya?
Hanna akan memisahkan mereka. Biarlah, biar Reno berpikir dirinya jahat. Toh, putranya itu sendiri yang memakai alasan tidak logis dan realistis untuk mengikat seorang gadis dalam ikatan pernikahan.
.
.
.
Bercinta dengan Reno. Lagi?
Kepulangan mereka dari pulau seribu berdampak buruk pada kesehatan Jina. Gadis itu pusing tujuh keliling. Informasi terbaru beberapa waktu ini mengusik ketenangannya.
__ADS_1
Kemarahannya belum mereda. Sementara di sisi lain, dia mati penasaran dengan kehidupan lama Reno. Dia menginginkan penjelasan tentang siapa itu Seena.
Tapi, dengan gamblangnya pria itu mengatakan akan menceritakan masa lalunya jika Jina mau bercinta lagi dengannya.
Dasar pria gila. Apa semua pikiran pria semesum dia? Tidak habis pikir. Memakai seribu alasan demi mendapatkan kepuasan di ranjang.
Reno bergumam dalam tidurnya. Rambutnya yang berantakan menusuk-nusuk dagu Jina. Dia tertidur di atas bahu istrinya sepanjang perjalanan. Selama itu pula bahunya kesemutan.
Tidak hanya itu, kedua lengannya itu melingkar erat di sekitar pinggangnya. Seolah sedang memenjarakannya dan tidak membolehkannya berpaling barang sebentar.
Kenapa pria itu tidak tidur saja di kamar, malah memilih tidur di luar, memakai bahunya pula. Kalau begini caranya bisa-bisa sampai di Jakarta bahunya tinggi sebelah. Jina menghela napas panjang.
Pria itu bergumam lagi tidak jelas. Kepalanya terantuk-antuk ke depan tanpa sadar dan hampir jatuh jika Jina tidak sigap menangkap kepala itu dan mengembalikannya pada posisi semula diBahunya.
Tidak ingin Reno terjungkal dan terbangunkan dari tidur panjangnya, Jina meraih pinggang Reno mendekat. Tidak menyisakan sesenti pun jarak di antara mereka.
Tangan mungilnya mendekap tubuh pria itu dari samping. Sementara kepalanya bergerak miring, menekan kepala Reno agar menetap di bahunya.
Jangan berpikiran macam-macam. Dia bukan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Hanya, memastikan pria itu tidur tidak sampai terjatuh.
Suara dehaman keras dari belakang menyentak Jina. Gadis itu langsung gelagapan begitu melihat ibu mertuanya berdiri tak jauh darinya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tatapan Hanna sulit diartikan. Tapi dari situ Jina yakin ada sesuatu yang ingin dibicarakan wanita tua itu.
“Ikut denganku.”
Jina menggaruk tengkuknya dan secara perlahan mulai menyingkirkan tubuh Reno yang menempel padanya kemudian membaringkan pria itu di bangku panjang tempat yang mereka duduki.
Pria itu meracau saat merasakan kenyamanannya berubah jadi bangku keras. Meskipun begitu, Reno tetap memejamkan mata dan tidak terbangun. Lalu bergegas menyusul ibu mertuanya yang melangkah menuju dek kapal bagian samping.
“Beberapa jam lagi kita akan sampai di Jakarta.” Hanna membuka percakapan mereka dengan tenang. “Aku mau kau pergi dari sisi putraku dan jangan pernah muncul lagi, segera setelah kita sampai.”
“A-apa?” Jina tergagap. Bingung dengan ucapan Hanna yang tanpa basa-basi langsung mengusirnya. “Ibu menyuruhku untuk—”
__ADS_1
Hanna melirik tajam ke arah Jina. “Berapa kali kubilang, kau tidak pantas bersanding dengan putraku. Dan aku tidak menyukaimu.”
Mendapat tatapan tajam begitu mengingatkan Jina bagaimana tajamnya tatapan Reno. Dia baru tahu tatapan itu ternyata menurun dari ibunya.
“Tapi Ibu, Reno, dia..” Jina kehilangan kata-katanya. Dia terlalu shock. Diperintahkan berpisah dari Reno, apa maksudnya? Apa perjalanan ini tujuan akhirnya seperti ini?
“Aku bilang tinggalkan ya tinggalkan. Kau tuli? Aku tidak ingin memiliki menantu sepertimu. Jangan kau pikir aku yang setua ini tidak tahu apa-apa tentang kalian. Aku tidak cukup bodoh untuk ditipu oleh kalian berdua. Terutama, kau!” tunjuk Hanna.
Emosinya meledak. Amarahnya meluap. Rahangnya mengatup kencang hingga berbunyi gigi bergemelatuk satu sama lain. Dia ingin mengakhiri hubungan gadis ini dengan putranya seperti dulu dia pernah menyuruh Seena pergi dari kehidupan Reno.
Malangnya, gadis itu sepertinya akan sama keras kepalanya dengan Jina. Maka dari itu, sebelum Jina semakin dekat dengan Reno dan tidak mau melepaskan putranya, Hanna akan lebih dulu memisahkan mereka.
“Ibu, ini tidak seperti yang Ibu bayangkan. Kami tidak pernah menipu Ibu. Aku dan Reno—”
Apa? Jina bertanya pada dirinya sendiri. Memangnya dia dan Reno apa? Saling mencintai? Jina menggelengkan kepala. Reno tidak mencintainya. Hanya dirinya yang mencintai pria itu.
Hanna menyeringai sinis. “Tidak ada alasan yang bisa kau gunakan untuk bertahan di sisi putraku. Aku hanya berusaha menyelamatkanmu. Sebelum keadaan memburuk, kau tahu segalanya, dan kau berbalik membenci Reno.”
Jina masih tidak mengerti. Apa yang disebut ibu mertuanya dengan menyelamatkannya? Memang apa yang tidak dia ketahui dari Reno dan hal itu bisa berakibat fatal kelak?
Apa ini berkaitan dengan ucapan Hanny setelah sarapan tadi? Tapi, apa? Hanny hanya mengungkapkan perasaannya pada Reno. Selebihnya Jina tidak mendengar apapun yang berkaitan dengannya.
Kepalanya mendongak menatap Hanna yang kini membuang muka menghadap ke laut. Ibu mertuanya mengetahui sesuatu yang Jina tidak tahu. “Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan Reno tanpa alasan. Aku akan tetap tinggal di sisi Reno sampai Ibu mau menjelaskan alasan Ibu menjauhkanku dari Reno.”
“Keras kepala,” desis Hanna. “Sudah baik aku mau menyelamatkanmu. Bukannya terima kasih, kau malah menolak dan bersikeras tinggal? Kau akan menyesal!”
“Aku tidak akan menyesal selama aku tidak tahu alasan mengapa aku harus menyesal.” Jina hampir beranjak meninggalkan ibu mertuanya dan menghentikan perseteruan di antara mereka.
Kenapa sih, menantu dan mertua selalu bersitegang seperti di dalam drama televisi? Kenapa tidak ada hubungan menantu dan mertua yang aman-aman saja?
“Kau akan sakit hati. Kau bahkan tidak bisa menggantikan posisi Seena dari hidup putraku.”
__ADS_1
..
bersambung