revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 3


__ADS_3

Kejadiannya sangat cepat. Tubuh pengendara itu sama halnya dengan dirinya tapi lebih parah. Tubuhnya terpental bersama motornya. Bruk! Motornya sukses menindih tubuhnya.


BOOM!


Tiba-tiba saja ledakan terjadi di tengah lintasan sirkuit dan asap tebal mengudara. Napasnya tercekat sebelum kesadarannya berangsur menghilang.


.


.


.


.


.


Selang-selang panjang memenuhi tubuh pria yang enam jam lalu baru saja melewati masa-masa kritisnya di ruang operasi.


Tubuhnya penuh bebatan sepanjang tubuh dan jangan lupakan rupa tampannya harus tertutupi oleh luka-luka yang belum mengering.


Salah satu selang yang menghubungkan dengan mesin berbunyi menunjukkan detakan jantungnya berangsur stabil.


Cairan infus pun menetes melalui selang yang tertancap di punggung tangan kirinya karena tangan satunya terpaksa harus di gips akibat patah tulang.


Tak hanya itu, kedua kakinya yang mengalami fraktur juga harus disanggah. Betapa mengenaskannya keadaan pria itu. Yah, dia adalah salah satu korban kecelakaan di lintasan sirkuit beberapa jam lalu.


Jina menggigit bibirnya mati-matian. Menahan gejolak hatinya ketika memandang tubuh tidak berdosa itu terbaring lemah di dalam sana. Dia sekarang sedang berdiri di depan kamar rawat pria yang mengalami kecelakaan bersama dirinya.


Sudah delapan belas jam pria itu lunglai tak berdaya, bahkan dia berhasil melalui masa paling kritis dalam hidupnya, tapi dia masih belum kunjung sadar juga.

__ADS_1


“Kau tidak istirahat?” tanya hito yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Pria itu nyaris kehilangan jantungnya saat melihat debuman diikuti kobaran api di sirkuit tadi siang.


Betapa ia tidak bisa membayangkan kalau adiknya meninggal atau berada di posisi pria tak dikenal itu. Hidupnya pasti akan berantakan sekali.


Luka di punggung Jina memang tidak separah pria itu, tapi tetap saja dia harus mendapat perawatan ekstra.


“Ayah meninggalkan pekerjaannya di Selandia dan langsung terbang kesini demi bertemu denganmu.” kata Hito lagi karna pertanyaannya tidak ditanggapi oleh gadis di sampingnya.


Hito melirik melaui ekor matanya. Jina tampak sedang termangu menatap pria di dalam sana. “Yaa, kau mendengarku tidak?” Hito meraih lengan Jina hingga fokus gadis itu beralih padanya. Hatinya mencelos.


Jina menangis! Tuhan, jika adiknya sampai menangis pasti keadaannya sangat kacau sekarang.


Hito merengkuh tubuh Jina dan tangisan gadis itu pecah memenuhi lorong rumah sakit yang sepi pengunjung karna sekarang sudah menunjukkan pukul dua pagi.


Hito membiarkan adiknya menangis di pelukannya. Dia tahu beban ini sangat sulit bila dipikul sendirian.


Dia tahu adiknya pasti akan merasa harus bertanggung jawab dan bersalah pada keluarganya yang sampai sekarang tidak tahu harus dihubungi melalui apa karena identitas pria itu pun masih tidak diketahui.


Jika dalam beberapa hari ke depan keluarganya muncul sedangkan pria itu masih terbaring tidak sadar.


Keluarganya pasti akan menuntut pertanggungjawaban darinya. Kemungkinan terburuknya dia bisa dipenjara karna mencelakai orang.


“Tidak, kau harus percaya tidak lama lagi dia akan sadar.” Hito mengeratkan pelukannya dan mengelus puncak kepala adiknya penuh kasih.


Berharap apa yang dia lakukan bisa sedikit mengurangi kegundahan hatinya walaupun sebenarnya tidak bisa menghapus barang setitik.


Hito membawa Jina kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan pria itu.


Baru saja beberapa langkah mereka beranjak, tiba-tiba seorang dokter diikuti dua perawat di belakangnya berlarian masuk ke dalam kamar pria itu.

__ADS_1


Jina mengernyit penasaran. Mendadak dadanya bergemuruh. Jangan-jangan pria itu telah sadar! Dia segera melepaskan diri dari pelukan Hito, mengacuhkan teriakannya dan buru-buru ikut masuk ke dalamnya.


“Aargh!!” pria itu mengerang-erang kesakitan dengan mata terpejam kuat.


Tangan kirinya yang bebas menggapai udara ke segala arah. Jina menutup mulutnya terkejut mendapati keadaan demikian. Dia terpaku di tempat ketika dokter mulai menyuntikkan obat penenang di tangan pria itu dan perlahan erangannya berhenti.


Setelah memeriksa alat-alat yang menempel di tubuhnya sudah terpasang dengan benar, Jina mendengar dokter itu memerintahkan perawatnya untuk mengontrol keadaan pria itu sesering mungkin.


“Apa anda istri dari pasien ini?”


“A-apa?” Jina yang masih syok hanya tergagap.


Dokter itu menyahut lagi, “Pasien ini membutuhkan perawatan intesif karena kecelakaan yang dialaminya sangat parah. Kejadian ini bisa terjadi berulang karena efek samping obat pasca operasi. Saya harap anda bisa menjaganya dan segera melapor jika kejadian ini terulang lagi.”


Jina mengangguk lemas. Pandangannya mengarah pada pria itu. Oh, aku bahkan tidak tahu siapa namamu? Kenapa aku malah disangka istrimu?


“Yaa,” panggil Hito segera setelah dokter dan dua perawat tadi keluar dari kamar rawat. Jina sudah berpindah posisi di samping pembaringan tempat pria itu berbaring. “Apa harus, kau berpura-pura menjadi istrinya?”


“Bukan begitu. Dokter itu yang tidak mau mendengar perkataanku. Jadi jangan salahkan kalau aku disangka istrinya. Namanya saja aku tidak tahu, darimana dia berasal dan dimana keluarganya sekarang.”


Jina menarik selimut hingga ke ujung dagu pria itu.


“Besok. Besok orang-orangku akan memberi kabar tentang dia. Semoga saja dia masih memiliki keluarga. Apa kau tidak mau kembali ke kamar?”


Jina menggeleng. “Aku akan disini sampai ayah datang. Aku takut sekali pria ini tiba-tiba kejang tapi tidak ada siapapun di sampingnya.”


Hito mengerti. Dia membiarkan adiknya berbuat sesuai nalurinya. Dia yakin adiknya bisa mengatasi kecemasannya dengan caranya sendiri.


Ponsel Hito di saku celananya tiba-tiba bergetar. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ada raut terkejut melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


“Hallo?” ucapnya sambil melangkah tergesa keluar.


Aku akan bertanggung jawab, tuan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Batin Jina dalam hati.


__ADS_2