
“Wow, apa yang dilakukan pengantin baru seorang presdir kaya di tempat kecil kotor disini?”
jina mengabaikan sindiran halus salah satu teman kerjanya. Dia semakin memusatkan perhatiannya pada mesin-mesin motor yang baru masuk ke bengkel.
Hera menyodorkan sebotol air di depan wajah lelah milik Jina. “Minumlah, kau sangat tidak seksi kalau terlihat pucat.”
“thanks,”
Jina menenggaknya hingga tandas. Dia benar-benar terlihat seperti seorang yang habis melakukan perjalanan berbulan-bulan di gurun tanpa air. Meletakkan kembali botol kosongnya dan kembali serius melanjutkan kerjaannya.
“Istirahatlah dulu. Ini sudah hampir tengah malam dan kau bekerja nonstop sejak pagi!” Jina menjawabnya dengan gelengan kepala.
Dia tidak mau berhenti.
Kalau dia berhenti dia harus siap terpikirkan lagi tentang kejadian tadi pagi yang jauh menguras energinya ketimbang membetulkan mesin-mesin ini.
“Huft,” Hera memutar bola matanya. Dia tahu pasti sulit membujuk Jina jika gadis itu serius bekerja. “Kalau kau tidak keberatan, aku pulang duluan oke?”
Lagi-lagi Jina hanya mengangguk. “Hati-hati di jalan ya. miko yang menjemputmu kan?”
Hera menjawabnya dengan dehaman riang, mungkin? Sedengarnya mereka baru saja resmi berpacaran. Jina benar-benar iri dengan keromantisan Miko. Pria itu sungguh-sungguh merebut perhatian Hera dengan usahanya. Bukannya memaksakan kehendak seperti Reno.
Ah, pria itu. Dia tidak bisa menghubunginya karena memang dia tidak punya nomor telepon ataupun alamat kantor tempat pria itu bekerja.
Lalu dia harus apa lagi? Menunggu pria itu yang menemukannya ide yang bagus.
Jina merebahkan punggungnya di atas papan besi beroda yang mudah digerakkan lalu mendorongnya pelan tepat dibawah mobil yang sudah didongkrak naik. Ada beberapa bagian mobil yang harus diperbaiki disini.
Dengan penerangan minim dari senter yang digigit di mulutnya, Jina mencari letak kerusakannya hingga derap langkah kaki yang kelewat pelan mendekatinya tidak tertangkap oleh indera pendengarannya.
Langkah itu semakin mendekat. Jina menyadarinya. Apa barang Hera ketinggalan?
“Hera apa itu ka—” tiba-tiba papan besi itu digeser keluar dari bawah mobil dan Jina terkejut melihat siapa yang datang. Reno Hadirjo.
Matanya mengerjab-ngerjab kaget. Reno menatapnya tajam seperti biasanya. Ada percikan amarah menumpuk di mata lelahnya. Bibirnya pucat. Hembusan napasnya terdengar kasar.
Dengan tangan terkepal, Reno menarik paksa tubuh Jina hingga berdiri. Jina bergetar dalam genggaman kasar milik Reno. Dia takut. Kenapa setiap kali berhadapan dengan Reno, dia menjadi lemah? Ada sesuatu dalam diri Reno yang membuatnya menggigil ketakutan.
Bukannya tidak tahu jika gadis di depannya ini sedang ketakutan. Reno hanya terlalu lelah. Sungguh, seharian ini dia membiarkan pekerjaannya menumpuk di kantor demi mencari gadis ini.
Reno mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Semua orang mencarinya. Ibu nya, Hanny, Hiro bahkan kolega perusahaan. Dia gila mencari kemana gadis itu pergi. Dia sudah mencari di apartemen lamanya, tapi kata pemiliknya Jina tidak datang kesana.
Dia mendatangi temannya yang seorang pemilik salon tapi juga tidak ada. Dia terus memutari tempat-tempat yang mungkin didatanginya.
Kemudian dia teringat pertemuan pertama mereka dan betapa leganya karena dugaannya benar.
Jina disini.
__ADS_1
Sesungguhnya Reno ingin segera memuntahkan marahnya, tapi apa dia berhak? Sementara yang mengusirnya dari rumah adalah Ibu nya?
Dan begitu mendapati penampilan Jina—astaga, sangat terbuka dan seksi tentu saja membangkitkan gairahnya sebagai pria normal sekaligus suami sahnya.
“Kenapa kau tidak menghubungiku? Apa kau sengaja ingin kabur? Kau memanfaatkan kesempatan ini untuk lari dari tanggung jawabmu?”
Astaga, kemana kalimat pedasnya yang berjam-jam lalu dia tahan? Kemana kemampuan yang diturunkan Ibu nya?
“Aku…” Jina menggigit bibir dalamnya. Mendapat tatapan tajam dan menusuk dari Reno membuatnya kehilangan kata-kata.
Reno menggeram kesal. Bukan kesal pada Jina, melainkan pada dirinya yang merasa kegerahan.
Jina hanya mengenakan bra olahraga pas badan dan celana jins ketat memperlihatkan lekuk tubuhya yang sempurna ditambahi rambutnya yang dikucir tinggi membuatnya ingin menenggelamkan wajahnya di tengkuknya.
“Dan apa yang kau lakukan disini?” desisnya tajam. “Kau mau menjual tubuhmu dengan pakaian kurang bahan ini?” Jina mengangkat kepalanya cepat.
“Kenapa kau menuduhku seperti itu!” serunya tidak terima. Emosinya terpancing. Bisa-bisanya pria itu menuduhnya? Pria itu tidak tahu apa-apa soal dirinya!
“Lalu kenapa kau memakai pakaian ini?! Apa kau berharap ada laki-laki yang mendatangimu, menelanjangimu, memperkosamu, hah?!” teriakan Reno itu membuat Jina serta-merta menutup kedua telinganya.
“Aku tidak seperti itu! Ini pekerjaanku bahkan sebelum bertemu denganmu! Dan lagi, aku tidak tau mau pergi kemana setelah Ibu mu mengusirku. Aku tidak membawa uang karena semua barangku kutinggal di rumahmu. Aku tidak punya nomor teleponmu dan aku tidak punya alamat kantormu".
“Lihat! Aku tidak pernah berniat melarikan diri dari tanggung jawab!” seru Jina tidak kalah tinggi.
Reno bungkam.
Dia berbalik dan betapa jantungya rasanya terjun bebas ke perutnya mendapati Reno sudah berdiri beberapa senti di depannya.
Jina menghembuskan napasnya kasar, lelah dengan sikap aneh pria itu. Jina mendorong pelan dada Reno agar menyingkir dari jalannya.
“Ibu hanya terkejut melihatmu.” suara Reno melembut, entah itu Jina salah dengar atau apa. “Kau tidak seharusnya marah.”
Jina mengernyit tidak mengerti. Siapa yang marah? “Bukannya kau yang sedang marah?” desisnya kesal. Reno mencekal lengan Jina yang hendak pergi.
“Kalau begitu maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan emosiku. Kau terlalu mudah membuatku kehilangan akal.”
Jina melebarkan matanya. Kenapa pria ini semakin aneh saja? Kemarin Reno menyiksanya. Sekarang Reno meminta maaf padanya. Kenapa Reno sangat plin-plan? Dan kenapa di saat-saat seperti ini ketakutan Jina menghilang dan sifat aslinya muncul.
Reno berdecak dalam hati. Kesal dengan sikapnya.
Ada apa denganmu, Reno? Kau membuat gadis itu bertanya-tanya. Kemana nada bicaramu yang membentak-bentak?
Kenapa mulutnya tidak bisa berkata kasar? Padahal jelas-jelas dia sedang marah karena Jina pergi.
Sebuah gagasan muncul tanpa perintah.
Nasib gadis itu hampir sama dengan istrinya dahulu. Seena juga diusir oleh Ibu nya di hari pertama pernikahan mereka. Reno tidak suka kejadian itu terulang lagi. Meskipun posisinya sekarang hanya mempermainkan Jina, tetap saja egonya sebagai seorang pria biasa menginginkan gadis itu tinggal.
__ADS_1
“Bisakah kau lepas tanganku? Aku masih harus memperbaiki mobil itu.” Jina memberontak dalam cengkeraman Reno,
tapi pria itu tidak membolehkannya.
“Pulang.” tegas Reno tak terbantahkan.
Reno akan menipu permintaan hatinya untuk bersikap lebih lembut pada Jina. Dia harus ingat tujuannya menikahi gadis ini. Dia tidak boleh mencampur-adukkan kehidupan masa lalunya dengan kenyataan sekarang.
Reno meraih lengan Jina lalu setengah menariknya keluar dari bengkel. “Aku tidak mengijinkanmu melakukan pekerjaan kasar ini.”
Jina meronta lagi. Kalau biasanya dia akan menendang pria manapun yang berusaha menahannya, tapi tidak dengan Reno yang sekarang berstatus sebagai suaminya.
“Lepaskan aku!”
“Kalau kau terus memberontak, aku akan menidurimu disini.”
Ketokan palu berdengung di telinga Jina. Dia diam. Dia tidak mau itu terjadi. Apalagi dengan pria yang emosinya sedang meledak-ledak.
Reno menggeleng dalam hati. Diancam begitu saja baru menurut.
“Lagipula pekerjaan ini tidak ada bagus-bagusnya untuk ukuran seorang gadis.”
Jina mendengus.
“Mesin adalah hidupku. Aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar dan kusuka. Aku tidak mau berhenti dari sini dan menjadi pengangguran. Berpura-pura kalau aku sudah menikah dengan presdir kaya raya sehingga tidak perlu susah payah menghasilkan uang, itu bukan gayaku.”
Selama di dalam mobil tidak ada yang berbicara. Reno sibuk menyetir sedangkan Jina sibuk menatap kaca luar mobil yang basah karena rintik hujan.
Sebenarnya Reno tidak benar-benar fokus dengan jalanan di depannya. Dia hanya memikirkan kata-kata Jina tadi. Dia baru menemukan ada seorang gadis yang suka bekerja di bengkel. Dan kemungkinan gadis itu tidak bekerja sendirian melainkan dikelilingi oleh para pria.
Sial.
Reno memukul setirnya. Mengabaikan lirikan kaget dari gadis di sampingnya. Apa gadis itu juga sudah tidak perawan? Haha. Haruskah dia memastikannya sendiri?
Mobilnya sudah memasuki pelataran halaman rumah Reno. Pria itu memarkirkan mobilnya kemudian turun dari mobil disusul Jina.
Gadis itu merasakan pundaknya menghangat. Pria itu memberikan jaketnya.
Jaket kulit warna hitam beraroma parfum milik Reno. Jina mendongakkan kepala. “Ibu bisa berpikiran macam-macam kalau melihat pakaianmu.”
TARRA!
Ibu Reno sedang mengenakan daster bunga-bunganya dan masker putihnya terlihat serIbu kali lebih menakutkan dari tadi pagi, berkacak pinggang di depan rumah.
Reno setengah menarik tubuh Jina menghampiri Ibu nya. “Ibu belum tidur?”
Sesuai dugaan Reno, pasti Ibu menunggu mereka. Reno memeluk pundak Jina mendekat padanya.
__ADS_1
Tatapan menyelidik Hanna meresahkan hati Jina .Dan gadis itu harus menarik napas panjang-panjang karena Hanna hanya berkata, “Masuk dan beri aku penjelasan.”