
JINA
Sejak kemunculan gadis itu di kamar rawatnya di hari dia siuman, Reno menyadari bahwa keberadaan gadis itu akan memberikan efek berbeda dalam hidupnya. Menyadarkannya jika gadis itu tidak akan sama dengan gadis lain yang silih berganti mencoba menggantikan posisi Seena di hatinya.
Maka dari itu Reno mati-matian membenci Jina. Dia tidak ingin jatuh cinta. Dia belum siap. Dia tidak ingin berkhianat.
Dia telah berjanji bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memilikinya selain Seena. Dan itu akan berlaku sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Jina bersedia berdiri semalaman di samping kamarnya demi memandangi pria yang duduk di sofa hanya ditemani cahaya minim. Reno pulang dari setengah jam yang lalu. Dan selama itu pula Jina menatapnya dari kejauhan tanpa berniat mendekat.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran pria itu. Apa itu tentang nama seseorang yang Reno sebut tadi siang di ruangannya? Seena?
Reaksi yang ditunjukkan Reno tadi ketika nama itu disebut seperti orang yang terpukul dan sedih. Siapa Seena? Apakah dia seseorang dari masa lalu Reno yang masih dirindukan pria itu? Seseorang yang sangat penting? Mungkin lebih dari sangat penting.
Well, kau tidak berhak ikut campur, Kan Jina. Dewi batinnya melotot. Benar, tidak ada untungnya dia memikirkan urusan Reno.
Toh, pria itu tidak mengharapkannya tahu tentang masa lalunya. Apalagi suka rela berbagi dengannya dan membicarakan si Seena ini.
“Berapa lama kau berdiri disana?”
Seolah habis tertangkap basah mencuri pakaian dalam dari jemuran tetangga, Jina tergagap. Bodoh. Kenapa dia mengintip pria itu dengan berdiri di titik dimana dia bisa terlihat?
Reno menepuk ruang kosong di sampingnya. Sial, sekarang Reno malah menyuruhnya duduk di sampingnya. Jina tidak punya alasan lain untuk menolak. Tidak mungkin kan, dia main asal kabur?
“Apa kakimu masih sakit?” tanya Reno setelah Jina menghempaskan pantatnya di sebelah pria itu. Dia melirik sekilas kaki kanan Jina. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum canggung. “Ibu sudah tidur?”
“Tadi sore Ibu pamit ingin menginap di rumah Hanny. Ibu tidak memberitahumu?”
“Tidak.”
Hening sejenak. Reno sibuk dengan pikirannya sendiri dan Jina bingung mau menimpali apa lagi. Sampai mulutnya bergerak dengan sendirinya dan bertanya, “Tadi siang kau menyebut nama Seena. Kalau aku boleh tahu, siapa Seena? Gadismu?”
Sial. Sepertinya dia salah ucap. Karena Reno tiba-tiba berdiri. Ekspresi wajahnya yang sedih dan lelah menjadi gelap dan dingin. Ketika Jina mendongakkan kepala, Reno sedang menatapnya.
Iris cokelat itu menggelap dan menyorotkan kesedihan mendalam. Seakan-akan kata-katanya barusan menohok pria itu, menikamnya tepat di jantung. Apa aku salah ucap?
__ADS_1
“Kenapa kau bertanya?”
“Sebut itu penasaran.”
“Penasaran membunuh kucing.” Hah? Jina melongo. “Aku tidak menyuruhmu ikut campur urusanku.”
Mulut Jina terbuka, tapi tidak satupun kata-kata terlontar darinya. Reno melengos begitu saja. Jina mengejarnya, tidak ingin pria itu salah paham mengiranya gadis tukang rusuh yang suka penasaran dengan masalah orang lain.
Baru saja Jina menyusul Reno ke kamarnya, pintu itu lebih dulu dibanting keras tepat di depan hidung Jina. Gadis itu mundur dua langkah. Hidungnya berdenyut dan sakit. Jina memutar kenop pintunya. Dicoba berulang kali pun hasilnya nihil.
Hey, Reno menguncinya di luar lagi!
Jina membuang napas. Lalu dia mau tidur dimana malam ini? Rumah ini hanya memiliki dua kamar dan kamar satunya sudah ditempati mertuanya. Tidak mungkin kan, Jina main masuk ke kamar mertuanya kalau tidak mau disangka maling.
Haha. Maling di rumah sendiri. Terdengar menggelikan dan aneh. Tapi memang itu kenyataannya. Huh, percuma juga meminta Reno membukakan pintu.
Pria itu sedang dongkol. Padanya. Pada mulutnya yang tidak bisa dikontrol ini sedikit saja. Maklum, dia terlahir sebagai gadis yang suka berbicara asal ceplos. Mana dia tahu jika kata-katanya bisa melukai perasaan Reno yang sedang sensitif sekarang.
Disentuhnya hidungnya yang semakin berdenyut. Entahlah bagaimana rupa hidungnya saat ini. Jina berbalik kembali ke ruang tengah. Membanting tubuhnya di sofa.
Menyesali keputusannya yang menengok kondisi Reno tadi. Andai saja dia tidak keluar kamar, tidak melihat pria itu, pasti sekarang dia sudah berbaring nyaman di atas ranjang empuk berukuran king size. Bukannya berbaring di sofa, berbantalkan bantal sofa, tanpa selimut.
Mungkin ada hubungannya dengan si Seena itu. Ah, benar. Reno akan jadi pria mercurial jika dia diingatkan dengan seseorang bernama Seena. Pertanyaannya, siapa Seena?
HUFT. Kenapa kau jadi penasaran? Penasaran membunuh kucing. Haha. Apa-apaan maksud pria itu? Mengancamnya? Ancaman kelas teri.
Daripada memikirkan masalah orang lain yang tidak jelas itu, lebih baik Jina segera berangkat tidur. Karena besok dia harus pergi pagi-pagi sekali.
..
..
..
“Ready?!”
__ADS_1
“YES!”
Hampir saja. Sedikit lagi Jina sudah akan meluncur di lapangan sirkuit ketika sebuah tangan kekar menahan gasnya yang siap lepas. Jina menoleh terkejut. Sosok pria berwajah masam, dingin, memandangnya marah.
“Turun! Aku bilang turun!”
Terpaksa Jina meminta break pada Hera yang sudah siap mengibarkan bendera tanda permainan dimulai. Reno setengah menyeret Jina menepi di pinggiran lapangan. Pria itu mencengkeram lengannya kelewat kuat sampai Jina meringis kesakitan.
“Siapa yang mengijinkanmu kesini lagi!”Jina menghentakkan lengannya hingga cekalan Reno lepas. Dia membuka kaca penutup helmnya.
Pagi-pagi buta tadi dia memang sengaja kabur dari rumah. Bukan kabur sih, pergi tanpa ijin lebih tepatnya. Dia sudah membuat janji dengan Hera dan teman-temannya latihan balapan motor untuk perlombaan bulan depan.
Sedikit terkejut karena mendapati dirinya terbaring di ranjang kamar pria itu dan hidungnya diplester. Reno masih tidur saat dia pergi. Dia hanya menuliskan post-it yang ditempel di kening pria itu. Kurang ajar memang, tapi Jina melakukannya juga karena terburu-buru.
Dan tiba-tiba pria itu, Reno Hadirjo, datang dan menghentikan latihan rutinnya setiap akan ada perlombaan. Pakai acara marah-marah lagi. Huh.
“Kau juga tidak pernah melarangku kan?”
“Aku melarangmu. Sekarang, pulang.” Tegas Reno.
“Yak!” Jina menahan lengannya saat Reno menariknya lagi. Pria itu menatap tak percaya pada Jina yang berusaha melawannya. “Aku sedang latihan, kau tidak lihat?”
Reno melayangkan tatapannya pada lima, tidak, tujuh pria yang berada di atas motor masing-masing siap lepas landas. Pria, huh? “Tidak ada kata ampun bagimu kalau kau tetap bersikeras.”
“Ada perlombaan balapan bulan depan. Aku tidak bisa ikut jika aku tidak pernah latihan.”
“Kalau begitu jangan ikut.”
“Tidak mau! Kau tidak berhak melarang aku jika ini berkaitan dengan balapan.”
“Aku suamimu! Kau harus patuh. Jika aku bilang tidak, ya tidak.”
“Aku tidak pernah berjanji untuk menuruti semua kemauanmu.”
Mereka saling bertukar pandang kesal. Dada Reno sudah naik-turun seusai meledakkan amarahnya dan gadis di depannya ini benar-benar tidak mau patuh. Melawannya di depan teman-temannya yang jadi tegang oleh pertengkaran mereka.
__ADS_1
“Eh-hm, tuan, Jina hanya latihan dua puluh menit. Itu sangat cukup, setelah itu kau bisa membawanya.” Seorang pria tak bersalah yang berniat baik ingin meredakan kemarahan Reno, malah mendapat pukulan keras di rahangnya hingga dia terhuyung ke belakang.
“Apa yang kau lakukan?!”