revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 2


__ADS_3

Jina sudah menanggalkan jaket kulitnya, menyisakan tanktop hitam ketat, mempertontonkan tubuh ramping nan seksinya.


Oh! Tidak ketinggalan tato kupu-kupu yang menandai tulang belikatnya. Wah! Kalau tiap pagi dia disuguhi pemandangan indah begini pasti harinya akan lebih menyenangkan.


Astaga bahkan ini masih sangat pagi untuk seorang Hito yang notabene nya pria normal yang mudah terangsang.


“Memasak apa?”


Lebih baik hito bertanya daripada meneruskan imajinasi liarnya yang tidak akan bisa terpuaskan.


“haaa!”


Jina berjingkat dari tempat berdirinya saat kepala hito menyembul melewati bahunya dan membuatnya terkejut. Wangi mint menguar dari tubuh pria itu.


“Nasi goreng dan telur mata sapi.” katanya setelah berhasil menormalkan jantungnya yang terpompa keras. Ingat kan? Dia wanita normal yang bisa berdebar jika berdekatan dengan laki-laki. Apalagi dia sosok yang tampan dan didamba banyak wanita!


“Hmm..” hito mencium aroma sedap dari penggorengan. “Pasti enak!”


“Tentu saja!” Jina membusungkan dadanya sombong. Tapi tenang, dia tidak gila menyukai kakaknya sendiri sekalipun bukan kakak kandung. Mengingat mereka pernah makan dari tangan yang sama waktu kecil.


“Tsk!” cibir hito. Dia menyeret salah satu kursi makan dan duduk menunggu disana.


“Nanti siang kau sibuk tidak?” ucap Jina sambil menyajikan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atas meja makan. hito menyantap buas sarapan super paginya. “Aku ikut pertandingan balapan di Tangerang.”


“Huh?” kening hito berkerut sambil terus mengunyah makanannya.


“Iya, kau bisa datang tidak? Atau ajak Nara boleh juga. Hitung-hitung menyemangatiku. Kalau aku berhasil menang, lumayan hadiahnya bisa untuk membeli rumah sendiri!” Jina menepuk tangannya senang membayangkan dirinya yang memenangkan hadiah itu.


Hito mengangguk-angguk. “Kebetulan siang nanti aku kosong. Biar Mama Kimi yang mengurus butik selama aku pergi. Mau pergi bersama?”


“Tidak perlu. Aku masih mau mengecek kondisi motor balapku.”


“Eiy? Yang tadi itu bukan motor balap ya?” Hito mengernyit, motor yang dibawa Jina tadi saja sudah sangat besar untuk ukuran Gadis. Lalu Jina mau pakai yang mana lagi?


“Lihat saja nanti! Makanya datanglah!” Jina senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


“Yaya! Aku pasti datang! Nanti kuhubungi temanku dulu siapa tahu dia juga mau menonton.”


“Oke!”


 


Arena Sirkuit Tangerang sudah siap menyelenggarakan pertandingan balapan. Banner berisi kalimat-kalimat semangat berjuang terlihat dimana-mana.


Riders sedang bersiap-siap di sisi lintasan dengan masing-masing paddock girl yang siap menaungi pemain dengan payung supaya mereka tidak kepanasan.


Tribun penonton juga sudah sesak oleh penonton yang tengah bersorak-sorak menyemarakkan suasana pertandingan yang akan memanas sebentar lagi.


Apalagi cuaca siang ini sangat terik, mendukung sekali aksi penonton membakar semangat jagoannya.


Walaupun ini bukan pertandingan pertama yang digelar hanya sebatas Jakarta-Tangerang saja, tapi kali ini pertandingan terlihat lebih panas dari sebelum-sebelumnya.


Jina —satu-satunya pemain wanita— juga tengah bersiap.


Disebelahnya berdiri Hito, pria yang mengganti style bajunya dengan kaos longgar abu-abu dan jeans biru pudar, yang suka rela memayungi adiknya.


Jina memakluminya. Dia juga tidak berusaha memaksa kehadiran gadis yang seumuran dengannya itu. Nara hanya memberikan semangat lewat sambungan telepon beberapa menit lalu sebelum ia turun ke arena balapan.


Itu sudah cukup menurutnya. Keberadaan hito sebenarnya cukup mengalihkan perhatian dunia jadi padanya. Bagaimana tidak? Menemukan pria tampan jaman sekarang kan susah-susah gampang!


Apalagi yang begitu gentle-nya memayungi kekasihnya yang akan bertanding. Kira-kira itulah yang ditangkap oleh penglihatan penonton dari kejauhan.


“Jangan terlalu berhasrat menang!” Hito memperingatkan. Jujur, dia harap-harap cemas dengan keselamatan Jina.


Mau bagaimanapun, sekuat apapun dia, dia adalah wanita yang punya titik kelemahan. Dia tidak ingin terjadi hal-hal yang mengerikan di lintasan nanti.


“Seperti kau pernah melihatku kalah saat bertanding saja. Tenang!”


Jina mengenakan sarung tangan hitamnya. Pembawaan gadis itu memang sangat tenang. Tidak ragu-ragu. Tidak juga bernafsu. Jarang sekali dia melihat seorang Jina bersikap terburu-buru dan grogi.


“Tapi kau tetap harus berhati-hati. Kau kan tidak tau siapa di antara lawanmu yang mungkin bermain licik.”

__ADS_1


hito terlalu mencemaskannya! Jina tahu. “Tidak apa. Biarkan mereka melakukan apa yang menurut otak mereka benar. Jangan mempedulikan orang lain! Aku sudah siap!”


Jina mengambil helm yang dipegang hito lalu segera memakainya karna pertandingan akan dimulai sepuluh menit lagi. Dia menaiki MTT Turbine Superbike Y2K warna silver metalik miliknya.


Lintasan balapan yang akan ditempuhnya mungkin sekitar tiga ratus ribuan kilometer.


Setahunya hanya ada satu orang yang memecahkan rekor pertandingan balapan tingkat internasional sangat mencengangkan: Fernando Alonso! Dia menempuh dalam waktu sejam lima puluh menit 257 detik!


“Doakan aku!” Jina menepuk pundak Hito yang tegang. pria itu menatapnya khawatir.


“Para pemain harap berkumpul di belakang garis start sekarang!” komando itu terdengar nyaring, memutus kontak mata dua orang itu.


Jina hanya tersenyum setengah. Senyuman khas. Gadis itu mengendarai motornya mendekati garis putih di belakang tanda start. Berjejer di samping pemain lainnya. Deru motor terdengar memanas, menaikkan satu oktaf sorak penonton dari tribun


Bunyi pistol yang diledakkan ke udara memulai pertandingan. Semua pemain menekan gas kuat-kuat berusaha mengungguli satu sama lain.


Lengkingan dan teriakan semakin menggelora. Membakar ambisius pembalap, menaikkan adrenalinnya, membuat motornya melesat deras membelah lintasan sirkuit, menyelip tikungan demi tikungan maut.


Jina mengendarai motornya garang. Dari spion dia bisa melihat semua rivalnya di belakang. Tatapannya kemudian beralih pada satu motor hitam pekat di depannya.


Mata Jina menyipit tajam. Dia mengencangkan gasnya sampai ban depannya terangkat ke atas. Dia memburu satu motor yang juga melaju sama kencangnya dengan miliknya.


Kelegaan luar biasa menyelimuti Jina saat dia berhasil melampaui satu-satunya penghalang baginya untuk menang.


Tapi kelegaan itu menjadi maut baginya. Dia terlambat menyadari bahwa didepannya sudah ada tikungan yang menukik.


Belum sempat mengambil lajur dalam trek, dia menarik rem belakang habis-habisan yang mengakibatkan motornya terpelanting ke belakang!


Tubuhnya terlempar beberapa meter dari lintasan.


Samar-samar, dengan setengah kesadarannya, dia melihat pengendara yang tadi di belakangnya menembus motor Jina yang tertinggal di tengah-tengah lintasan.


Kejadiannya sangat cepat. Tubuh pengendara itu sama halnya dengan dirinya tapi lebih parah. Tubuhnya terpental bersama motornya. Bruk! Motornya sukses menindih tubuhnya.


BOOM!

__ADS_1


__ADS_2