
Dengan sisa isakannya, Hanna menatap nanar dua gadis di depannya. Satu sisi dalam hatinya menginginkan Hanny mendorong menantunya ke laut. Menenggelamkannya dan supaya tidak kembali lagi. Tapi, di sisi lain, dia tidak mungkin membiarkan Hanny berbuat kejahatan dengan sengaja melakukan percobaan pembunuhan.
“Hanny kumohon, hentikan! Tolong, tolong aku!” Kedua tangan Jina membentang ke samping kanan dan kiri. Mencengkeram pagar itu kuat-kuat. Dia tidak boleh melepaskan pegangannya. Dia harus bertahan sampai ada yang menolongnya.
Hanny yang tidak mendengarkan sedikit pun kata-kata Jina, tanpa pikir panjang, terus mencekik leher gadis itu semakin kuat sampai kekuatannya melemah dan pegangannya terlepas. Jina menjerit ketakutan ketika tubuhnya sudah berada di ambang pembatas itu siap jatuh.
Samar-samar, sebelum kesadarannya hanyut ditenggelamkan air yang menelan tubuhnya, seseorang berteriak kelewat keras. Menyerukan namanya dan menyuruh seseorang untuk berhenti.
Tapi, terlambat. Tubuhnya sudah terhuyung, terhempas jatuh masuk ke dalam air. Bersatu dengan deburan ombak. Dia memejamkan matanya rapat. Dia takut setengah mati dengan laut. Dia takut tenggelam. Dia takut mati. Dia masih terlalu muda untuk mati konyol karena didorong sengaja dari kapal.
Air berlomba-lomba memasuki setiap rongga dan celah di tubuhnya. Menarik-nariknya ke dalam pusaran. Dilemparkan dari ketinggian sekian puluh meter dalam sepersekian detik terlalu cepat baginya.
Di saat kesadarannya nyaris menghilang, di atas sana, dia mendengar deburan yang sama ketika dia masuk ke dalam air tadi. Seseorang mengejarnya. Meraih tubuhnya, menariknya hingga ke permukaan.
.
.
.
Epilog
“Ren! Bangun! Bangun! Bangun!”
Reno tergugah. Terusik dari mimpi panjangnya. Masih siang. Dia masih berada di laut. Di atas kapal. Siapa yang menghancurkan mimpinya? Mimpi erotis sedang bercinta dengan istrinya.
Matanya sontak terbuka lebar. Dia baru sadar kalau tadi dia masih tidur di bahu gadis itu dan sekarang digantikan paha seorang…pria?!
“Reno Hadirjo, apa yang kau mimpikan sampai celanamu basah begitu, hahha?”
Sindiran geli Hery langsung dibalas pukulan di kepalanya. Reno bangkit. Meremas kepalanya, mengacak rambutnya, sebelum menatap tajam ke arah sepupunya.
“Sialan!” Reno berdecak kesal kala melihat ke bawah, benar kata Hery, celananya basah.
Dan sialannya, itu karena mimpinya barusan.
Kemana gadis itu? Seenaknya saja meninggalkannya. Ini gara-gara gadis itu tidak mau bercinta dengannya dirinya jadi bermimpi aneh.
Sammy tertawa. Tapi tawanya langsung lenyap saat teringat tujuannya membangunkan Reno. “Tidak ada waktu, Ren! Istrimu di ambang kematian!”
“apa?”
“CEPATLAH! Apa yang kalian lakukan?!” sepupunya berteriak lantang melawan suara ombak. Dia berdiri di sisi kanan kapal sambil melambaikan tangannya menyuruh ketiga orang itu bergegas kesana.
“Apa sih?” Reno diseret menuju tempat Sepupunya berdiri. Betapa terkejutnya begitu dia sampai, dia melihat Hanny tengah mencekik leher Jina dan siap melemparkan gadis itu ke laut.
“HANNY! APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Terlambat. Matanya melotot saat tubuh Jina dengan mudahnya terhempas ke laut. Hanny yang seakan tersadar akan perbuatannya, gelagapan, mulutnya terbuka dan tangannya bergetar hebat. Dia tidak tahu jika dorongannya bisa sekuat itu mendorong Jina hingga terlempar dari kapal.
__ADS_1
“Sial! Akan kubuat perhitungan denganmu!” ancam Reno.
Dia terjun ke bawah, melawan kuatnya ombak yang bisa saja menghabisinya. Dia tidak tahu apa yang barusan mereka tengkarkan. Yang ada di pikirannya saat ini, mengejar Jina. Menyelamatkan gadis malang itu.
.
.
.
.
.
.
**
“Kau sudah sadar?”
Suara itu. Berat, serak, putus asa. Serat-serat cahaya bertabrakan, saling mendesak berebutan masuk ke retina sedetik gadis itu membuka mata.
Tujuh, tidak, sepuluh lebih kepala berkumpul di dekatnya. Beberapa dari mereka memasang ekspresi takut. Satu dari mereka bersimpuh dekat darinya. Dia, yang memanggilnya.
“Ya Tuhan!” pekik orang itu lirih. Tubuhnya diraih hingga setengah duduk dan didekap kencang.
Semua orang mendesah lega.
“Sebaiknya kau menggantikan bajunya. Dia bisa sakit.”
Pria itu mengangguk. Dengan sekali gerakan, dia berhasil menggendongnya. Membelah kerumunan ramai orang-orang dan membawanya melewati lorong-lorong kapal yang hening.
Selama dia berjalan, tetesan air dari rambut yang basah pria itu terus menetes di pipinya. Wajahnya tegang, namun tak dipungkiri terdapat kelegaan yang terpancar disana.
Reno meletakkan hati-hati tubuh Jina di atas closet kamar mandi lalu kembali ke kamar mengobrak-abrik isi koper gadis itu berharap menemukan pakaian baru.
Tidak ada. Bahkan dalaman gadis itu habis terpakai. Beralih ke koper miliknya, Reno menarik sweater krem dan celana trainingnya yang belum dipakainya sama sekali.
“Kau butuh bantuanku untuk memakaikan baju?” tawar Reno.
Pria itu tahu gadisnya masih tercengang pasca tenggelam di kedalaman puluhan meter. Tidak berbeda darinya. Dia malah sempat berpikir gadis itu tidak akan selamat.
Alih-alih melakukan tindakan penyelamatan diri sendiri, berenang saja tidak bisa. Buruk sekali.
“Kau butuh bantuanku, tidak?” Reno berjongkok di hadapan Jina, menggenggam kedua tangannya. Mencoba mendapatkan perhatian istrinya.
Lama sekali Jina hanya diam menundukkan kepala tidak menjawabnya. Reno sampai geram dibuatnya.
Dia tidak ingin Jina sakit karena terlalu lama memakai baju yang basah dan lembab. Meskipun dia suaminya, gadis itu berhak menolak. Gadis itu juga membutuhkan privasi.
__ADS_1
“Diam berarti iya.” Ancaman tengil. Reno tidak benar-benar melakukannya. Dia hanya ingin menggertak. Diraihnya ujung dress yang dikenakan Jina dan dalam satu tarikan dress itu terlepas.
Terbelalak karena Jina tidak menolak! Astaga. Andai saja gadis itu sedang berada dalam kesadaran bulat, dia yakin kepalanya tidak akan selamat dari pukulan.
Pemandangan—wew?!
Reno mati-matian tidak memusatkan panca inderanya pada tubuh dibalut bra renda biru dan celana dalam warna senada gadis itu. Dalam hatinya doa terus terpanjatkan semoga adiknya di bawah sana tidak membengkak.
Cepat-cepat Reno melepas kaitan bra biru itu lalu bergegas memakaikan sweaternya. Satu pekerjaan tuntas.
Tinggal satu lagi. Mengganti celana dalam gadis itu dengan celana trainingnya. Sekali lagi ditatapnya wajah Jina yang diam saja tidak mencegahnya.
“Sayang,”
Hati Reno bergeser setiap kali kata ‘sayang’ itu terlontar dari bibirnya. Dia juga tidak paham mengapa dampak yang ditimbulkan dari kata sederhana itu sanggup mendebarkan dan membantah otaknya untuk menyakiti gadis ini lebih jauh.
Alasan Reno memanggil sayang? Tidak tahu.
Hanya, bibirnya refleks mengucapkannya. Itu yang dulu sering dia lakukan untuk menarik perhatian Seena ketika wanita itu sedang keras kepala sementara Reno sedang memaksa akan melakukan sesuatu terhadap tubuh mendiang istrinya.
Sudah pernah dia bilang kan, dua gadis ini hampir sama. Sifat keras kepala mereka benar-benar menguji kesabaran seorang Reno sebagai Tuan tidak sabaran.
Dan benar, Jina menyahut panggilan itu dengan membalas tatapan Reno setelah sekian menit pria itu diabaikan keberadaannya. “Aku nyaris mati untuk kedua kalinya.”
Oh? Itukah yang di pikiran Jina? Gadis itu ketakutan karena harus menghadapi maut yang kedua. Nyaris.
Reno tersenyum getir. Ini salahnya. Dia yang telah menyeret gadis ini ke dalam hidupnya. Membiarkan gadis itu menanggung beban berat menjadi istri Reno Hadirjo.
“Tolong, jangan benci Ibu maupun Hanny”
Sekejap kata-kata yang telah terkumpul di ujung lidahnya tertelan kembali dan jina merasa percuma ingin membeberkan kegilaan dua wanita yang baru saja disebut Reno.
Dua wanita jahat yang punya nilai lebih berharga daripada nyawa istri polosnya yang hampir melayang dengan sia-sia.
Dengan gampangnya pria ini menyuruhnya tidak membenci mereka? Reno juga mengatakan hal yang sama saat kakinya terkilir habis terjungkal di eskalator dengan Ibunya.
Sebegitu berartinya ya, mereka berdua di hati pria itu?
Menggunakan sisa kekuatannya, Jina bangkit. Lututnya lemas. Tapi dia harus bertahan untuk pergi dari pria yang sama gilanya dengan dua wanita itu.
Pria itu tidak punya rasa empati. Ah, jangan jauh-jauh, bahkan simpati pun tidak ada sama sekali!
Istrinya. Kuulang. ISTRINYA. Nyaris mati karena didorong dari atas kapal ke laut. LAUT.
Jangan dikira dirinya ini kucing yang punya banyak simpanan nyawa yang kalau mati sekali bisa hidup delapan kali lagi.
Parfum maskulin menguar dari sweater yang dipinjamkan padanya. Menyesakkan sampai-sampai ingin dihancurkannya.
Sweater berukuran lebar dan menutupinya sampai lutut. Cukup tebal, hangat, dan semoga tidak menerawang!—karena Jina berniat keluar hanya dengan memakai sweater dan celana dalamnya yang basah saja. Tanpa bra.
__ADS_1