revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 16


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan?!”


Mengabaikan seruan kaget dari Jina, pria itu langsung menyeretnya keluar dari jalur sirkuit. Memaksanya mengikuti Reno yang melangkah lebar-lebar lalu melemparkannya di pintu mobilnya. Jina melepas helmnya dan umpatan yang sudah terkumpul di ujung lidahnya teredam oleh Reno yang tanpa aba-aba menangkup wajahnya dan mencium bibirnya!


Bukan jenis ciuman manis bak negeri dongeng yang selalu dielu-elukan oleh Jina, tetapi jenis ciuman yang menyakitkan.


Reno tidak peduli sekasar apapun ciuman yang dia lakukan terhadap gadis itu, dia hanya melumat, menggigit hingga rasa ciuman mereka asin dan Reno sadar betul jika bibir gadis itu terluka. Reno semakin memperdalam ciumannya, menekan tubuh Jina ke badan mobilnya. Gadis itu sudah meronta-ronta meminta dilepaskan tapi justru yang Reno lakukan semakin keras dan kasar menyakiti bibir gadis itu.


Jina meremas kemeja depan Reno, berharap pria itu mengerti jika dia sudah kehabisan napas dan bibirnya sakit. Sekuat tenaga Jina berusaha menahan kesakitan dan tangisannya yang telah mencapai ujung tombak. Di detik Jina akan menyerah, Reno melepaskannya.


“Itu hukuman untuk istri tidak patuh sepertimu. Kau mau latihan? Silahkan jika kau ingin merasakan lagi sakitnya ciumanku.” Renk mendorong tubuh Jina yang menghalanginya dari masuk ke dalam mobilnya.


Begitu saja. Reno langsung pergi meninggalkan Jina terperangah di tengah lapangan parkir dengan penampilan berantakan dan bibir kesakitan. Jina meraba bibirnya yang terasa tebal dan sangat perih. Ada bercak darah yang menempel di jarinya.


Kemarin hidungnya, sekarang bibirnya, besok apa lagi?


Semarah itukah Reno padanya sampai menyakitinya? Padahal Jina pikir perubahan sikapnya kemarin adalah sebuah akhir. Tapi nyatanya, tidak. Kenapa Reno menyiksanya? Jina mengusap kasar sudut matanya yang berair.


“Kau tidak apa-apa?” Hera menepuk pundak Jina, “Oh? Bibirmu, Jinaa!”


Jina menggeleng lemah. “Sepertinya aku tidak bisa ikut perlombaan itu. Maafkan aku mengecewakan kalian.” Dia menyedot ingusnya yang ingin keluar tanpa diperintah.


“Hey, tidak masalah. Lebih baik kau selesaikan masalahmu dengan suamimu. Dia, kan?”


“Pria sinting.”


Hera terkekeh miris. Merasa kasihan pada teman kerjanya yang sial menikah dengan pria kaya raya tapi punya kelainan jiwa. Bisa-bisanya pria itu melukai istrinya sendiri. Dia pikir Jina tidak punya hati? “Pria sinting yang sialan kaya, hm?”


“Sayangnya kau benar, ra. Aku titip helm dan motorku, oke?” Hera tersenyum sembari mengangguk. “Ah iya, sampaikan maafku pada Tomi karena reno memukulnya.”


“Tentu. Kau benar langsung pergi? Tidak diobati dulu bibirmu?”


“Aku baik,” hatiku yang sedang kacau. “Aku pergi.” Jina tidak mau mengambil resiko jika dia bersikeras tinggal lalu Reno muncul lagi dan menghukumnya. Dia menyerahkan helmnya pada Hera dan membalikkan badan pergi.


Sebenarnya Jina juga heran bagaimana bisa Reno tahu dia berada disini. Padahal di post-it yang ditinggalkannya tadi tidak ada sesuatu berbau balapan atau motor atau sirkuit yang mengindikasikan keberadaannya dimana.


Baru setengah meter Jina berjalan, langkahnya berhenti. Sebuah sepatu menghalanginya. Dia mendongak. Dan dia merasa seluruh pembuluh darah berhenti mengalir ke wajahnya sampai Jina yakin mukanya pucat. Tulang lututnya lemas.


Matilah aku. Kapan pria ini datang?


Hito berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap adiknya marah. Dia melihat semuanya. Sejak suami adiknya menyeretnya ke tempat parkir dan menciumnya dengan kasar.


“Kami—” Hito menggeleng, menghentikan kalimat Jina. Dia tahu adiknya pasti sedang berusaha menampik kenyataan yang jelas-jelas diketahuinya.

__ADS_1


Pikiran bahwa adiknya mungkin diperlakukan lebih parah dari itu membuat darahnya mendidih. Meskipun Jina terlihat seperti laki-laki dari luar, tetap saja gadis itu memiliki hati yang rapuh. Jina tidak pernah diperlakukan serendah itu oleh siapapun.


“Apa yang pria itu lakukan padamu selain memperlakukanmu kasar seperti barusan?”


Jina menggeleng. Oh, tidak! Jangan! Jangan sampai Hito menyeretnya ke depan Reno dan meminta penjelasan pria itu!


“Tepat seperti yang kau pikirkan. Kita temui pria brengsek itu.”


Selanjutnya Jina sudah tidak bertenaga lagi melawan kemauan kakaknya yang menyeretnya ke kantor Reno. Mungkin setelah ini akan terjadi perang dunia ketiga.


Hito adalah pria yang paling tidak suka melihat adiknya disakiti siapapun. Hito adalah tipe kakak penyayang yang akan melakukan apapun demi adiknya. Dan itulah yang ditakutkan Jina. Dia takut jika dia datang ke kantor Reno, pria itu akan menghukumnya lebih parah di rumah. Dia takut.


.


.


.


“Keluar kau sekarang, Reno Hadirjo!”


Hiro menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada Reno karena tidak berhasil menahan seorang pria yang menyerobot masuk ke ruang rapat bosnya. Rahang Reno mengetat begitu tahu Jina berdiri di belakang punggung kakaknya dan dia yakin gadis itu sedang ketakutan.


“Rapat ditunda satu kali sepuluh menit.” ucap Reno tegas. Seisi ruangan saling tukar pandang kebingungan dengan kedatangan pria ke dalam ruang rapat. Reno membuka kancing jasnya sambil melangkah menghampiri pria yang dia tahu sebagai kakak iparnya.


Reno harus menggunakan taktik ini. Memanggil Hito dengan sebutan Bang demi meredamkan amarah pria itu. Reno mengajak mereka masuk ke ruang kerjanya yang bersisian dengan ruang rapat.


Setelah memastikan mereka hanya berbicara enam pasang mata, Reno memulai ber-prolog, “Ada apa bang mencariku?”


Hito mencibir. “Jangan berpura-pura. Kenapa kau menyakiti adikku? Kau tahu, menyakiti Jina adalah batasan keras.”


Reno menaikkan sebelah alisnya. Melirik Jina yang kepalanya masih tertunduk. Malah sekarang semakin dalam. Oh? Kau yang mengadu pada kakakmu, sayang? “Aku tidak melakukan apapun.”


“Kau menciumnya dengan kasar, bung, jangan lupa.”


“Bang tidak bertanya apa alasanku melakukannya?”


“Apa?” tanya Hito tanpa pikir panjang. Reno tertawa sinis dalam hati.


“Aku hanya memintanya berhenti membahayakan diri sendiri dengan mengikuti balapan motor. Aku mengingatkannya tentang kecelakaan yang baru dia alami tiga bulan lalu. Jangan sampai kejadian itu terulang dan menyebabkan orang lain celaka. Katakan padaku bagian mana dari diriku yang salah.”


Reno menyunggingkan senyum puasnya saat Hito mengalihkan perhatiannya pada Jina yang diam saja sejak tadi.


Sial, kau Reno. Kau tidak mengatakan itu tadi! Jerit Jina dalam hati.

__ADS_1


“Benarkah itu, Jina?”


Gadis itu melirik sekilas pada Reno yang menyedekapkan tangannya di depan dada. Menunjukkan siapa disini yang berkuasa. Jina tidak punya pilihan lain selain mengangguk.


“Oh, Jina, kenapa kau tidak menyerah juga? Pantas Reno marah padamu. Dia memikirkan keselamatanmu, tidakkah kau sadar?” Senyum Reno kian mengembang mendengar penuturan Hito. Jina mengeluh dalam hati.


“Maafkan aku, adik ipar, aku salah paham. Aku mengira jika kau melakukannya dengan sengaja. Jina, kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu pada suamimu. Haruskah aku yang menjadi penengah untuk kalian berdua?”


Jina mempoutkan bibirnya. Kesal. Jengkel. “Maafkan aku. Lain kali aku akan menjadi lebih penurut.”


“Begitu kan lebih baik.” Hito merangkul pundak Jina dan tersenyum lebar. “Jadi? Lebih baik aku tinggalkan kalian berdua. Tadi aku hanya kebetulan lewat tempatmu, Jina, tidak tahunya malah berbuntut begini.” Hiti menatap Reno. “Maafkan aku sekali lagi.”


“Tidak apa, bang. Salah paham adalah hal biasa. Biarkan sekretarisku mengantarmu ke bawah. Aku ada urusan sebentar dengan istriku.” Renk sengaja menekankan pada kata ‘istri’, membuat Jina waspada.


Jina melambaikan tangannya sekilas pada Hito yang sudah menghilang di balik pintu ruang kerja Reno bersama sekretarisnya yang berambut blonde, pria yang dia ingat pernah bertemu di rumah sakit dulu sekali.


Ingin rasanya Jina juga ikut bersama Hito. Setidaknya dia tidak merasa semencekam ini ditinggalkan berdua dengan pria yang baru menyakitinya. Tapi harapan tinggal harapan. Jina tidak mau mengatakan yang sebenarnya dengan Hito jika masih sayang dengan nyawanya.


“Nah, istriku, bisa kita bicara sebentar?” Reno melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Aku punya waktu empat menit sebelum melanjutkan rapatku.”


“Aku tidak ingin bicara apapun.”


“Oh iya?” Reno menguraikan lipatan tangannya dan berjalan mendekat pada Jina. Berdiri di depan gadis itu. “Kau berkata sesuatu pada Hito?”


“Memang kau berharap aku mengatakan apa pada Hito?”


“Sesuatu yang buruk tentangku.”


Cih, harusnya memang Jina menceritakan semuanya pada Hito. Menguncinya sampai sesak di gudang rumahnya di malam pernikahan mereka, diusir oleh Ibu mertuanya, disuruh ini-itu seperti pembantu, dan ciuman kasar pagi ini.


Tapi apalah daya? Memikirkan kemungkinan terburuk setelah dia membeberkan segalanya, justru membuat Jina ketakutan.


“Aku tidak akan menjelek-jelekkan suamiku di depan orang lain. Sekalipun itu sebuah kenyataan.”


“Menarik. Lalu? Kau menginginkan hukuman apa atas gangguan di rapat pentingku, hm?”


“Biarkan aku pergi dari sini.” Kenapa Jina mengatakannya? Karena entah sejak kapan Reno sudah mencekal lengannya kuat hingga dia tak bisa berkutik. Pria itu sengaja melakukannya supaya dia tidak bisa kabur.


“Tidak semudah itu, Nyonya Reno,” Reno menarik Jina padanya. Mendongakkan dagu gadis itu dengan jarinya. “Ini hukumanmu.” Dengan cepat Reno melumat kasar bibir Jina lagi. Memaksa gadis itu membuka mulutnya untuk menerima lidahnya yang mendesak masuk. Digigitnya bibir Jina dengan gemas dan membiarkan sudut lain bibir gadis itu terluka.


Jina memejamkan matanya kuat-kuat. Dia meremas lengan Reno, menopang tubuhnya sendiri agar tidak jatuh karena pria itu terus mendorong kepalanya, melesakkan lidahnya lebih dalam. Reno memeluk pinggang Jina sangat erat, seerat yang dia lakukan untuk menyiksa gadis itu dengan ciuman kasarnya.


Ini baru permulaan. Akan banyak siksaan ke depannya. Hanya sebuah peringatan untuknya jika dia tidak boleh jatuh hati pada gadis ini

__ADS_1


.


__ADS_2