revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 6


__ADS_3

Suara teriakan Jina sudah teredam setelah pintu tertutup. Reno mendengus sebal. Benar-benar gila! Bagaimana bisa dia berurusan dengan gadis gila tak punya sopan santun?


Ah, benar, dia harus cepat-cepat mengurus masalah ini sebelum gadis itu sempat bertindak lagi yang lebih gila lagi.


“Yaa, Ren, dia siapa? Ganas sekali! Aaum!” Hiro memeragakan gaya singa yang sedang meraung dan itu mengundang tawa teman-temannya, tak terkecuali Reno. “Kekasih barumu yang kau putuskan sepihak lagi, yah?”


Reno tersedak. “Mana mungkin! Aku sudah tidak waras kalau punya kekasih seperti dia.”


Dia bergidik ngeri. Pasti hidupnya tidak akan tenang karna terus-terusan mendengar ocehan gadis itu.


“Tapi dia cukup seksi loh, Ren! Hihi…” Yoga terkikik sendiri.


Yah, dia tadi memang kebagian memeluk gadis itu dari belakang sudah pasti dia tahu lekuk tubuh gadis itu. Beberapa temannya meledek Yoga sebagai duda tua tak tahu diri yang mesum.


“Omg, kak, sepertinya kau tertular virus mesum Hiro!” seru Charlie pada Yoga sambil menyeringai lebar.


“hey! Itu sungguhan! Kalian tidak memperhatikan gaya pakaiannya tadi? Wuiih! Seksi sekali!” Astaga, Yoga! Sepertinya dia sudah benar-benar tertular.


“Ahh! Sial sekali tadi aku hanya berdiri saja di depan reno. Kan seharusnya aku di posisimu ! Aku tidak terima!” erang Hiro setengah menyesal. Dia juga mengakui kalau wajah gadis tadi lumayan cantik hanya saja kurang polesan make up mungkin penampilannya bisa jadi sempurna.


“Mau dia seksi, cantik, atau apapun yang membuat kalian tertarik, aku tidak peduli. Tetap saja dialah penyebab aku menjadi cacat begini.”


Ucapan dingin Reno itu menghentikan tawa teman-temannya yang berusaha mencairkan suasana.


“Segera setelah ini, dia harus menderita. Bahkan menderita dari apa yang kualami.”


Seenaknya saja gadis itu menghancurkan hidupnya dengan membuat dirinya cacat. Lihat saja, nona, akan kubuat dirimu lebih hancur dari kecacatan fisik yang kurasakan.


Reno menyeringai evil.


.


.


**


“Kenapa kau mengirim polisi ke apartemen gadis itu?”


Hanny menghentikan aksi mengupas kulit apel mendengar pertanyaan Reno.


Sekarang adalah jam makan siang dan Hanny menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk menjenguk Reno yang notabene-nya adalah teman masa kecilnya sekaligus bos besar di perusahaan tempat dia bekerja.


Mengenai pertanyaan Pria itu, Hanny terkejut. Bagaimana bisa Reno tau kalau dirinyalah yang meminta bantuan polisi agar menangkap gadis yang telah mencelakainya? “Apa? Polisi apa?” tanyanya pura-pura.

__ADS_1


“Kau sangat mengerti maksudku.” ujar Reno tajam. Dia menatap Hanny dalam. Air muka gadis itu berubah. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


“Aku sudah pernah bilang kan? Ketika itu berhubungan dengan privasiku, jangan pernah melewati batasmu sebagai sekretarisku. Biarkan aku yang mengurus gadis itu, kau cukup menjalankan tugasmu di kantor.”


Reno mencomot potongan apel yang sudah dikupas oleh Hanny.


“Kenapa tidak boleh?”


Hanny meletakkan pisau yang dia gunakan untuk mengupas apel di atas piring dan berniat melanjutkan obrolan ini kalau reno sedang tidak lelah.


“Aku peduli padamu,ren. Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada gadis itu. Apa aku salah kali ini?”


“Bukan.” reno merebahkan punggungnya dan matanya menatap langit-langit. Seperti sedang menerawang sesuatu.


“Lalu? Kau ingin membiarkan gadis itu berkeliaran sesukanya di luar sana? Astaga, kau tidak berniat untuk memerasnya kan?”


reno tersenyum saja lalu mencomot apel yang dikupaskan Hanny. Reno diam bukan berarti berhenti tanpa alasan. Dia sudah menyiapkan kejutan di belakang.


“Dia milikku.” Hanny mengernyit. “Hanya aku yang berhak menentukan apakah dia harus menderita, tersiksa atau mati sekalipun, dia milikku.”


Mengerikan? Tentu saja. Beginilah Reno kalau sedang marah. Seorang pun tidak akan bisa menghentikannya.


“Jangan sampai jadi senjata makan tuan, Ren. Bisa saja kau menyesal karna menyiksa gadis itu.” Hanny memperingatkan. “Well, aku memang harus serba hati-hati dan teliti terutama dengan gadis bermulut cerdas sepertinya.” Reno menyeringai lebar.


“Oh iya, bagaimana kabar perusahaan?”


“Perusahaan baik-baik saja. Hanya saja beberapa hari yang lalu pihak keamanan menangkap seseorang yang menyelinap ke kantor dan hampir membuat makar. Keamanan di kantor kita memang sangat kurang.”


Reno mendengar seksama pada penjelasan Hanny. Memang benar, dia membuat peraturan agar orang bisa keluar-masuk tanpa kartu pengenal.


“Maka dari itu, kami menambahkan beberapa sekuriti di depan pintu masuk agar tidak sembarang orang bisa keluar-masuk perusahaan.” Reno mengangguk-angguk setuju.


“Terima kasih, Hanny. Kau memang bisa diandalkan.” Reno mengusap puncak rambut Hanny, gadis itu tersenyum lebar.


Perlu dicatat juga, seburuk apapun mood yang dimiliki pria ini, tetap saja dia bisa juga bersikap lembut pada semua gadis.


Tidak mengherankan jika para wanita setia melayut di lengannya sekalipun pria itu hanya bertujuan main-main. Dan walaupun sembilan puluh sembilan persennya Reno akan memperlakukan wanita sangat kasar.


“Ngomong-ngomong, siapa nama gadis itu?” Reno menghentikan gerak tangannya sambil bertanya.


.


.

__ADS_1


.


“Jina ! woy! Kau melamun lagi?”


Nara melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jina yang sudah berhari-hari sering berkunjung ke tempat kerjanya, salon terkenal di daerah Grogol.


Tapi yang gadis itu lakukan hanyalah duduk di sofa dekat jendela besar sambil melamun.


Setahunya Jina bukan tipe orang yang sering terjangkit masalah yang membuatnya melamun begini. Berarti masalah yang kini dihadapi gadis itu berat.


“Hey! Kau kenapa?” Nara dibuat terkejut karna begitu Jina membalikkan tubuhnya, dia melihat lingkaran besar berwarna hitam menggantung di matanya sangat jelek dan seperti ada bekas tangisan.


“Nara hiks, aku mau mati saja, boleh ya?”


“What! Apa maksudmu?” Nara memukul lengan Jina supaya sadar. Nara ikut duduk di sampingnya, “Ceritakan padaku, kau ada masalah apa?” Jina menggeleng lemah. Raganya seolah hilang diambil bumi.


“Aku membunuh orang.” ujarnya lemah.


“HAAAAAA! Kau benar-benar gila! Mana mungkin seorang Jina bisa membunuh? Membunuh semut saja kau tidak tega!” Ada-ada saja Jina ini! Selera humornya masih saja setara kelas teri!


“Bagaimana ini?” Jina menelungkupkan wajahnya diatas lipatan lengannya.


“Aku tidak sengaja menyebabkan orang celaka. Dan sekarang.. sekarang dia.. pasti sedang merencanakan hukuman apa yang pantas untukku!”


Nara mengusap punggung Jina yang bergetar. Benar dugaannya ini pasti masalah yang berat. Sepertinya Hito pernah bercerita padanya tentang permasalahan adiknya ini kalau Jina habis mengalami kecelakaan.


“Siapa orang itu?” Jina menggeleng.


“Entahlah, aku hanya tau namanya saja. Kupikir dia adalah orang yang berpengaruh di Indonesia. Bahkan aku pernah diusir setelah aku melarikan diri dari kejaran polisi.”


“Apa?! Polisi?” Beberapa pengunjung menoleh pada Nara yang teriakannya membahana. “Kenapa dia membawa-bawa polisi?”


“Aku tidak tahu! Itulah yang ingin kutanyakan padanya. Bukan jawaban yang kudapatkan, malah aku diusir.”


“Kenapa kau bisa sampai diusir?”


“Hmm, itu karna, aku mendobrak kamarnya dan mengumpatnya di depan teman-temannya.” Jina menggaruk-garuk kepalanya.


“Yaish! Pantas saja!” Nara memukul lengan temannya itu. “Coba kau temui saja lagi dia hari ini.”


Nara mencoba memberikan saran yang menurutnya paling rasional sekarang. Masalah Jina akan diusir lagi atau bahkan tidak diperbolehkan bertemu, itu lain cerita lagi.


Jina mengangkat wajahnya. “Coba saja, tapi jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.” Nara menambahkan ketika melihat adanya tanda-tanda penolakan dari gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2