
“Hay. bang. ,” sapa Hanny yang muncul dari belakang mereka. Melihat lengan Reno yang memeluk pinggang Jina membuatnya kesal. Semakin kesal karena kemarin Reno menyuruhnya menunggu di lobi dan pria itu tidak muncul sampai satu jam berlalu.
“hey, Hanny, gabunglah bersama kami.” ujar hery. Menepuk-nepuk satu-satunya kursi yang tersisa di sampingnya. Tanpa Jina sadari dia telah memutar matanya malas tahu Hanny harus bergabung dengan mereka.
“Ren, kemana kau semalam? Padahal aku menunggumu sangat lama.”
Seolah teringat dengan janjinya yang tidak dipenuhinya semalam, Reno meringis, “Aku langsung pergi tidur. Maaf ya.”
Jina mengernyit. Apa yang tidak dia ketahui soal Reno? Mungkinkah..
“Aku tidak mungkin membiarkan istriku tidur sendirian.” Reno meremas paha Jina sekali lagi membuat gadis itu melotot. Dari sorot matanya dia seperti sedang berkata: singkirkan tanganmu dariku!
Reno membalas tatapan Jina dengan berbisik, “Makanya jangan suka berpikir macam-macam.”
Hanny melihat pemandangan di depannya dengan hati memanas. Tangannya terkepal di atas paha. Dia cemburu, tentu saja. Harusnya Reno tidak bersikap sok mesra begitu di depan mereka semua. Membuat para sepupunya terkekeh dan geleng-geleng. Padahal, jelas-jelas dulu Reno yang berjanji akan menyiksa gadis itu. Apa maksud dari menyiksa itu sejenis siksaan menggodanya?
“Aku lapar. Mungkin ada yang mau menitip kuambilkan sesuatu?” Jina menawarkan diri. Tujuannya hanya satu, pergi sejauh-jauhnya dari Reno. Mereka serempak berteriak ‘mau!’
“Aku akan membantu Jina.” Hanny pun beranjak dari duduknya menghampiri Jina yang lebih dulu berjalan menuju meja saji. Mereka kembali membawa berbagai makanan yang menggiurkan. Reno mengambil roti bakar selai kacang. Pria itu memang tidak suka sarapan makanan berat.
Jina menggeser sepiring salad sayur ke meja Reno. Pria itu menoleh. “Tidak akan cukup hanya makan roti.”
Belum Reno menjawab, Hanny menyela, “Reno tidak suka sayuran. Kau tidak tahu, Jina?” jina mengerjab. Benarkah? Dia memang tidak tahu apa-apa soal Reno. Bahkan hal terkecil saja, makanan yang disukai dan tidak pria itu Jina tidak tahu.
“Dia lebih suka ini,” Hanny menyodorkan secangkir kopi untuk Reno.
Oh, pantas, Hanny mengambil kopi tadi. Ternyata. “Yah, sayang sekali, aku sangat suka makan sayur.” Jina mengambil kembali piring itu lalu memakannya dengan lahap. Meski hatinya sedikit tidak rela karena Hanny lebih mengetahui kesukaan Reno daripada dirinya.
“Jina hanya tahu satu kesukaanku. Memuaskanku di atas ranjang.” kata Reno lantang. Dia terkikik saat Jina terbatuk-batuk dan menyemburkan sebagian sayuran di dalam mulutnya. Gadis itu sangat terkejut oleh ucapan Reno.
Sepupunya saja sampai menganga lalu bertepuk tangan seolah sedang menonton acara sirkus yang menakjubkan. Sedangkan Hanny. dia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Dia benci saat Reno tanpa sadar membela gadis itu.
__ADS_1
Reno tidak punya ide lain selain menciptakan suasana pagi itu penuh tawa. Dia hanya lupa jika seharusnya dia menyakiti gadis di sampingnya, bukannya menggodanya habis-habis sedari tadi.
Lihatlah, bagaimana pipi itu gampang sekali merona. Reno hanya senang menyiksa Jina dengan godaan-godaannya. Apalagi ini di depan sepupunya. Tidak mungkin dia menunjukkan tabiat buruknya pada istrinya.
“Sepertinya kita perlu bicara, Ren,”
“Selalu siap, sayang.”
“REN!” bentak Jina. Dia meringis saat orang-orang menatapnya kagum. Mungkin baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang berani meneriaki pria gila hormat seperti Reno Hadirjo.
.
.
.
“Ren,” panggil Hanny saat mereka sendiri. Sepupu Reno sudah kembali ke kamar untuk berkemas karena nanti siang mereka sudah harus check out. Sementara Jina sedang menerima telepon dari kakaknya.
“Maksudnya?” tanya Reno balik.
“Apa yang kau lakukan pada gadis itu berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan saat di rumah sakit. Kau bilang akan menyiksanya, membutnya menderita seperti yang kau rasakan.” Ada jeda sebentar, “Apa sekarang kau berubah? Kau menyukai gadis itu?”
Ekspresi Reno mengeras. Tatapannya menajam. “Bukankah sudah pernah kukatakan ini urusanku. Dia milikku. Aku bebas berbuat semauku.”
“Kau menyukainya. Bahkan orang buta sekalipun bisa melihatnya.” Reno diam. “Apa yang kau lihat dari gadis itu? Apa yang kau suka darinya hingga kau mengubah tujuanmu?”
“Lalu apa makasudmu mengatakan semua ini?”
“Aku tidak terima!”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena aku menyukaimu!” Hanny mengambil satu langkah maju. “Aku sudah menunggu bertahun-tahun agar kau bisa melihatku. Aku yang selalu berada di sampingmu. Aku yang selalu ada untukmu. Saat kau sedih, siapa yang menghiburmu? Saat kau kehilangan istrimu, siapa yang menjagamu? Membuatmu bangkit lagi? Aku! Aku tidak percaya ada orang yang lebih baik dariku!”
Reno menghela napas. Tiba juga hari ini. Hanny mengungkapkan perasaannya. Bukannya Reno tidak tahu, dia hanya mencoba bersikap adil. Selama ini dia hanya menganggap Hanny sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Dia tidak mungkin mengencani sahabatnya.
“Maaf,” hanya satu kata itu yang terlontar dari bibirnya. “Maaf, membuatmu kecewa. Tapi aku tidak pernah menganggapmu lebih dari sahabat.”
“Bohong.” Hanny menggeleng tidak terima. “Asal kau tahu ren, hanya aku, satu-satunya gadis yang direstui oleh ibu menjadi istrimu. Aku tahu pernikahanmu dengan gadis sialan itu hanya sementara. Aku pasti akan mendapatkanmu!”
Hanny memutar tumitnya dan sedikit kaget mengetahui jina sudah berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu mencebik kesal. Dia menabrak bahu Jina keras dan bergegas meninggalkan mereka.
Karena sepertinya Reno tidak akan mengejar Hanny, Jina memberanikan diri maju selangkah. Dia tidak tuli. Dia mendengar percakapan dua orang itu. Memang sulit untuk seorang gadis menyembunyikan perasaannya. Tidak peduli orang itu sudah milik yang lain.
Mau tidak mau, Reno memikirkan kata-kata Hanny. Apa dia berubah seperti yang dikatakan? Reno menatap Jina yang masih bungkam. Tapi dari sorot matanya Reno tahu Jina sedang menahan diri untuk tidak berbicara duluan.
Tangan Reno terulur ke depan. Menggamit jemari Jina.
Getaran yang sejak lama dikuburnya dalam-dalam muncul ke permukaan. Perasaan membuncah yang pernah dirasakannya sekali hanya untuk Seena terasa lagi.
Tanpa sadar, dia memang tertarik dengan gadis ini. Gadis yang diam-diam selalu membuatnya khawatir. Gadis yang ternyata bisa menghilangkan insomnia-nya hanya dengan memeluknya sepanjang malam. Gadis yang selalu dia sakiti, bahkan di malam dia kehilangan kegadisannya.
Selama itu, Jina tidak lari darinya. Apa yang membuatnya bertahan? Kaki dan tangannya sudah sembuh. Kenapa Jina masih tidak meminta berpisah? Dan kenapa dia masih menahan gadis ini di sisinya?
“Kau penasaran dengan masa laluku? Kau ingin mengetahuinya?”
Dada Jina berdebar keras. Reno menawarkan diri! Tidak pernah diduganya akan tiba saat Reno mau terbuka padanya.
“Itu kan, yang kau tanyakan pada sepupuku kemarin?” Jina bergegas mengangguk. “Well, satu informasi untuk satu olahraga.” (xxx) gak yg grtis di dunia ini jina(xxx) wkwkwk
Hah? Jina melongo. Apa maksudnya?
Reno ingin membuktikan sekali lagi. Jika dugaannya benar, jika perasaannya benar, jika ini yang bisa memberinya alasan menahan gadis ini sampai sekarang, Reno akan melakukannya.
__ADS_1
“Aku akan memberitahumu dan kau akan bercinta denganku.”