
Jina tidak menganggap Reno sebagai suaminya lagi. Dia tidak peduli. Dia bahkan tidak ingin tinggal satu atap dengan pria itu.
Anehnya, Reno merasa baik-baik saja dan malah asyik membawa wanita malam yang berbeda-beda tinggal di rumahnya.
Dan sekarang, tiba-tiba undangan pernikahan sampai di tangan Jina dan disana berisikan nama gadis—bukan hanny—yang menurut rumor dinikahi Reno karena pria itu telah menghamilinya.
Gila. Brengsek. Bajingan.
Jangan membela Reno! Pria itu benar-benar brengsek. Apa yang ada di otaknya? Bisa-bisanya menghamili gadis di luar ikatan pernikahan dan berniat menjadikan adiknya istri pertama.
Kalau begitu, kenapa Jina masih bertahan tidak meminta cerai saja?
.
.
.
Jina melempar serampangan sepatunya ke dua loker besi di depannya. Jaket kulitnya dilepas kemudian dibanting ke lantai. Gadis itu menendang apapun yang berada di dekat kakinya. Meja, kursi, lokernya. Marah.
Bergegas dia mendinginkan otaknya yang mendindih ingin meledak di bawah guyuran air dingin. Mengerangkan umpatan teruntuk suaminya yang brengsek.
Jika kembali pada ingatan enam bulan lalu, setelah mereka bercinta, Jina meninggalkan suaminya. Dia memperkirakan pria itu akan mencarinya, memohonnya kembali, atau usaha apalah yang bisa meyakinkannya.
Tapi, apa?
Reno tidak melakukannya. Pria itu mengabaikannya. Setelah tamparan dan kalimat menyakitkannya Reno sama sekali tidak merasa bersalah.
Kelakuan bejat apa lagi yang Reno rencanakan? Setelah puas memuaskan diri di atas ranjang, menghamili salah satu dari mereka, lalu apa lagi?
Di tengah ketidakjelasan hubungan mereka pria itu seenaknya saja memutuskan menikahi wanita—yang entah siapa itu namanya—yang telah dihamilinya.
Apa tidak gila itu namanya?
Oh, apakah ini mungkin kesempatan dari Tuhan supaya dia bisa terbebas dari Reno?
Menjadikan hari pernikahannya menjadi momen pas perceraian mereka.
__ADS_1
Haruskah dia menciptakan skenario untuk mengejutkan pria itu?
.
.
.
“Kau sudah siap?”
Reno mematut bayangan tubuh jangkung tegapnya di hadapan cermin dengan angkuhnya. Tidak ada senyuman bahagia khas orang yang akan merayakan hari pernikahannya.
Beberapa menit ke depan dia akan mengucapkan sumpah suci untuk ketiga kalinya.
Tertawa getir meratapi ulang keputusannya. Alasan mengapa dia menikah lagi bukan seperti yang media beritakan. Dia tidak menghamili siapapun. Dia tidak membawa wanita luar masuk ke rumahnya. Dia juga tidak bercinta selain terakhir kali dengan istrinya.
Jina. Gadis itu menghilang di pagi sepulangnya mereka dari Pulan Seribu. Reno mengira Jina mungkin membutuhkan waktu untuk berpikir, jadi dia membiarkan.
Tapi, apakah waktu enam bulan kurang cukup baginya untuk berdamai dengan pergolakan hatinya?
Kenyataannya, situasi justru aman-aman saja sampai detik-detik pernikahannya.
Sampai detik ini pun gadis itu belum menampakkan batang hidungnya.
Memikirkan masa depan pernikahannya dengan Jina saja tidak mampu. Akankah masih ada kata masa depan?
Pikirannya sepenuhnya berjalan atas kehendak hatinya yang menginginkan Jina menjadi wanita terakhir dalam hidupnya.
Namun, ego yang memblokade dan memborbardir harga dirinya hingga setinggi langit berkhianat pada nuraninya. Dimana hati manusia sehingga tidak memperhitungkan lagi kebahagiaan diri sendiri?
Di tengah kesesatan itu, Lyra, gadis yang dulu pernah menjadi adik tingkatnya semasa kuliah dikenalkan sebagai putri dari sahabat orang tuanya.
Ibunya, orang yang tidak pernah berhenti menjodohkan Reno dengan gadis pilihannya, tidak lagi menggunakan Hanny. Sebagai gantinya, dia langsung memperkenalkan gadis itu sebagai tunangannya.
Reno menolak, tentu saja. Gila saja dia harus memperistri gadis lain sementara dia masih memiliki istri yang sah yang begitu keras kepala yang sangat dirindukannya, berkeliaran di luar pengawasannya.
Sebenarnya Lyra pun tahu keadaan Reno yang masih berstatus sebagai ‘suami’ orang lain. Tapi dia masa bodoh.
__ADS_1
Dengan liciknya, gadis itu menjebak Reno. Mereka pernah di suatu pagi terbaring di atas ranjang yang sama di sebuah kamar hotel dengan tubuh telanjang bulat dan hanya tertutupi selimut.
Bagaimana tidak gempar dua keluarga mereka? Tidak mau mengambil resiko Lyra hamil di luar pernikahan, Reno terpaksa bertanggung jawab meskipun dirinya yakin seratus persen tidak melakukan apapun terhadap lyra dan gadis itulah yang telah menjebaknya.
Dan lagi-lagi, Reno kalah telak. Keputusan mutlak telah ditentukan dari kedua pihak keluarga. Mereka harus menikah secepatnya sebelum rumor aneh beredar di tengah masyarakat dan mengganggu stabilitas perusahaan.
Bisakah ini jadi lebih gila lagi?
Pasrah. Itulah yang Reno lakukan sekarang. Semacam karma yang harus diterimanya atas perbuatannya dahulu menyakiti fisik dan batin istrinya.
Harusnya Reno bersujud di kaki istrinya dan meminta maaf. Bukannya semakin menyakitinya dengan mempertontonkan pernikahan ketiganya di mata dunia.
“Kau siap sekali rupanya.” Reno sedang tidak bermimpi, kan? “Kau bahkan mempersiapkannya dengan sangat baik.”
Gadis yang sukses meluluh-lantakkan hatinya. Tidak cukup, dia juga telah mencerai-beraikan keputus-asaannya menjadi sebuah harapan jika kekacauan ini bisa berakhir.
“Apa kau senang dengan pernikahan ketigamu? Apa sebentar lagi aku akan resmi menjadi istri pertama? Atau kau sengaja memberiku kesempatanku supaya bisa terlepas darimu?”
Gadis itu mengenakan gaun hitam yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang sempurna. Gaun tanpa lengan berpotongan rendah memanjang indah menghiasi kaki jenjangnya. Rambutnya yang digulung tinggi memberi kesan anggun.
Semuanya terlihat sempurna. Kecuali, dua hal. Warna gaun yang tidak cocok dengan nuansa pernikahan. Dan, kantung hitam tersamarkan yang membingkai kedua mata bengkak seperti orang habis menangis.
Merasa tidak akan mendapat jawaban atas pertanyaannya, Jina memberanikan diri maju beberapa langkah. Saat itulah Reno baru menyadari ada sebuah amplop cokelat besar yang tergenggam di tangan istrinya.
“Selamat. Kau sudah berhasil mewujudkan ambisimu untuk membuatku jatuh cinta lalu membuangku. Jangan khawatir, aku datang bukan untuk menghancurkan kebahagiaanmu.”
jina melempar amplop cokelat di tangannya ke muka Reno hingga pria itu serasa ditampar. Amplop itu jatuh tepat di kakinya.
“Kau sudah sangat sehat dan fisikmu telah kembali seperti semula. Jika yang kau inginkan adalah ganti rugi atas kecelakaan kemarin, aku akan membayarnya. Dan itu artinya aku tidak berhutang apa-apa lagi padamu dan pernikahan bodoh ini selesai.”
Bergetar. Dada Jina bergetar, berdebar, dan cemas. Berakhir. Semua selesai. Dia sudah mengakui perasaannya dan sekarang saatnya dia pergi. Semua yang telah mereka lalui, penderitaannya, berakhir sudah.
Pintu hitam itu tertutup rapat. Kini langkah yang telah dia ambil menjadi derap mantap meninggalkan tempat itu. Reno tidak mengejarnya.
Ada perasaan kecewa dalam dirinya. Bodoh. Harapan tinggal harapan. Reno bukan pria yang akan mempertontonkan adegan romantis murahan, mempermalukan dirinya dengan mengabaikan harga dirinya.
Inilah dunia di balik layar yang sesungguhnya.
__ADS_1