revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 5


__ADS_3

Jina menyibak kasar selimut tebalnya. Mimpi buruk. Ini sungguh mimpi buruk! Semalaman dia tidak bisa tidur. Dia terus kepikiran masalahnya dengan Reno yang pelik.


Kenapa dia bisa melakukan kebodohan ini? Bagaimana nasibnya? Bagaimana hidupnya? Bahkan pria itu tidak memberi kesempatan sedikitpun agar dia bisa setidaknya membela diri.


Kalau begini caranya, hidupnya akan dihantui oleh rasa bersalah dan itu pasti membunuhnya perlahan.


Sungguh kenapa pria itu sangat kaku dan dingin sekali?


Oh, Jina, berpikirlah! Mana ada pria yang mau bermanis-manis pada wanita yang telah mencelakainya? Mencederai kepemilikannya?


Terlebih kalian tidak saling mengenal. Tentu jika kau di posisinya, kau juga akan memberontak.


Polisi.


Setan apa yang merasukinya hingga pemikiran itu muncul? Bagaimana kalau dia sudah di-cap sebagai tersangka? Lalu mereka memanggil polisi untuk menangkapnya? Bagaimana kalau dia dipenjara? Bagaimana kalau… ah, dia terlalu banyak berpikir bagaimana kalau, bukannya memikirkan solusi atas masalahnya!


Ponselnya di atas nakas dekat tempat tidur bergetar. Ada telepon masuk. Segeralah Jina mengangkatnya, itu telepon dari Hito.


“Jina! Kenapa ponselmu mati ? Dan kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Kau kemana saja seharian kemarin?”


Jina mendengus pelan. “Maaf, aku sibuk bertapa.”


Aish, gadis ini, masih sempat-sempatnya bercanda.


“Hei, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku benar-benar khawatir. Sejak kau memutuskan akan bertanggung jawab atas pria itu, aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja dan selalu ingin mengawasimu. Apa ada kabar baru beberapa hari ini?”


Yah, Hito memang sedang tidak berada di Indonesia, Dia sedang melakukan perjalanan bisnis dua bulan ke depan di Austria. Namun dari nada yang Jina tangkap bahwa kakaknya sekarang benar-benar mencemaskannya.


“Ah,” Jina terdiam sejenak. Haruskah dia memberitahu keadaan yang sebenarnya? “Belum ada. Dia masih belum sadar.” Maafkan aku, Hito, aku terpaksa berbohong.


hito menghela napas panjang di ujung sana. Dia kira pria itu sudah sadar mengingat sudah terhitung seminggu dia belum sadarkan diri.


Ada perasaan tidak enak yang menurutnya sangat mengganggu ketimbang urusan bisnisnya disini. “Syukurlah. Pokoknya kau harus memberitahuku kalau ada kabar baru, oke?” Jina mengangguk saja meski ia tahu hito tidak bisa melihatnya. “Aku tutup teleponnya ya. Jangan lupa makan! Kalau ada apa-apa segera beritahu aku.”


Lagi-lagi Jina hanya menghembuskan napasnya panjang-panjang.


Betapa Tuhan sangat baik kepadanya mengirimkan seorang kakak yang begitu peduli padanya dan betapa tega dirinya membohongi orang sebaik Hito karna tidak ingin pria itu terlalu memikirkan dirinya dan tidak fokus dengan pekerjaannya.


Setelah ini lebih baik dia bersiap-siap pergi ke rumah sakit lagi. Dia harus menemui Reno dan meminta maaf lagi.

__ADS_1


Tepat sebelum Jina akan bangkit dari kasurnya, suara bel apartemennya berbunyi nyaring. Jina mendengus kesal. Siapa yang bertamu sepagi ini?


“Tunggu sebentar!” Jina berjalan menuju interkom apartemennya dan jantungnya nyaris copot melihat siapa tamu pagi butanya melalui layar interkom.


“Omg!” dia menutup mulutnya yang hampir memekik berlebihan.


Polisi! Di luar polisi! Astaga! Peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba tidak berguna untuk jenis makhluk berlabel polisi. Lari!


Jina berlari menjauh dari pintu depan dan masuk ke kamar lalu menguncinya. Napasnya memburu. Dia sangat ketakutan.


Sial! Bagaimana bisa polisi sampai kesini?! Pasti pria itu! Sial!


Tangannya bergerilya di atas nakas samping tempat tidur, mencari tuas pengungkit yang dibawanya dari bengkel.


Jina bergegas mengungkit jendela kamar lantai dua yang beberapa bulan lalu dirusak pencuri sehingga dia terpaksa menyegelnya.


Bel apartemennya yang terus berbunyi semakin mempercepat tangan lincahnya membobol jendelanya.


Dua menit berkutat disana akhirnya jendela itu berhasil terbuka. Meskipun celah yang terbuka hanya setengah dari badannya, tapi Jina berhasil juga menyelinap keluar.


“Akh!” Udara kencang menerpa wajahnya sampai-sampai dia takut kalau dia bisa terjatuh dari ketinggian.


“Aish! Lututku!” lututnya lecet dan darah segar mengalir keluar.


Sial! Dua mobil polisi terparkir di halaman samping gedung apartemen. Jina berlari sekuat-kuatnya menjauh dari marabahaya. Ada satu tempat yang menjadi satu-satunya tersangka dalam hal ini.


Rumah sakit!


Menyesal sudah Jina berniat meminta maaf pada pria licik itu!


.


.


.


BRAAKKK!!!


“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

__ADS_1


Begitu sampai di depan kamar pria itu dirawat, tanpa mengetuk maupun mengucap salam, Jina langsung mendobrak pintu itu sampai menimbulkan bunyi sangat keras dan mengagetkan beberapa orang yang duduk di kursi tunggu luar.


Oke, Jina tahu ini salah, tidak beretika dan kurang ajar apalagi di tempat banyak orang sakit yang membutuhkan ketenangan. Tapi dia tidak peduli.


Apa yang dilakukan Reno sangat keterlaluan! Dan surprise! Di dalam kamar itu ada empat pria yang berkunjung dan mereka semua tengah memandang kaget ke arahnya.


Sementara pria itu? Dengan tatapan tajam dan dinginnya, menatapnya seolah dia adalah kutu busuk yang harus disingkirkan dari muka bumi.


“Nona, kau baik-baik saja?” tanya salah seorang dari mereka yang berambut blonde.


Hiro adalah pria pertama yang tersadar dari fase keterkejutannya sebab keberadaan Jina yang serba tiba-tiba, tidak ada hujan, tidak ada badai, mendobrak pintu kamar rawat temannya.


Jina merangsek maju. Menyingkirkan dua orang yang berdiri menghalangi jalannya dari Reno.


“Kau!” tunjuknya tepat beberapa senti di depan hidung mancung pria yang masih setia menyematkan ekspresi benci.


“Apa maksudmu mengirim polisi ke apartemenku, hah?!” Jina bisa mendengar orang-orang di dekatnya yang semuanya berjenis kelamin pria, menganga lebar.


“Apa? Kau keberatan hah?” Reno balik bertanya dengan nada meremehkan. Andai saja dia bisa bergerak bebas saat ini, dia pasti akan membunuh Gadis sinting ini.


“Sialan!”


“Wow! Wow! Apa yang kau lakukan nona?” Yoga mencegah kedua tangan Jina yang sudah terjulur hendak mencekik Reno.


Untung saja Yoga yang tepat di samping Jina sehingga dia bisa bergerak cepat. Kalau tidak, mungkin Reno bisa kena patah tulang leher.


“Lepaskan aku! Kau siapa?! Aku mau mencekik lehernya sampai mati! Pria sialaan!!”


Yoga menahan tubuh Jina yang kian memberontak. Lalu mengisyaratkan pada teman-temannya melalui ekor matanya karna jujur kekuatan Gadis ini dua kali lipat lebih ganas daripada singa betina yang sedang mengamuk.


Tiga pria serentak maju. Charlie dan Harli mencekal lengan kanan dan kirinya, Hiro berdiri di depan Reno sementara Yoga masih bertahan dengan posisi memeluk Jina dari belakang.


“Keluar panggilkan sekuriti, CEPAT!” titah Reno.


Hiro mengangguk, tangan kanannya yang bebas digunakan untuk menelepon bodyguard-nya yang tadi disuruhnya tinggal di mobil agar segera datang ke kamar Reno


Tak sampai satu menit, dua sekuriti yang dipanggil Hiro datang. Dua teman Reno yang sebelumnya menahan Jina membiarkan dua pria berbadan kekar itu mengambil alih.


“Lepaskan aku! Argh Lepaskan!”

__ADS_1


Jina menendang-nendang kakinya ke udara saat dua lelaki kekar tiba-tiba saja mengangkatnya ke udara dan mengeluarkannya dari kamar itu. “Awas kau! Aku tidak akan melepaskanmu! Argh!”


__ADS_2