revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 14


__ADS_3

Seena.. Seena..


Nama itu sudah sangat lama tidak pernah didengar lagi di telinga Hanna. Reno menghembuskan napas panjang, lelah.


“Dan tanpa Ibu katakan sekalipun, melihat Jina saja aku sudah tahu Ibu melakukan sesuatu lagi padanya. Kumohon, jangan lakukan lagi perbuatan yang pernah Ibu lakukan dulu pada Seena.”


Hanna melirik bingung pada Reno. Apa kedudukan gadis itu membuat seorang Reno, putranya yang terkenal kaku sampai memohon?


“Semestiya kau tidak membicarakan orang mati disini, Reno.”


Hanny mengucapkannya tanpa sadar sehingga mengucapkan kalimat paling sensitif untuk Reno. Dia terlalu diliputi perasaan kesal karena Reno membela gadis itu.


“Jaga bicaramu, Hanny.” desis Reno tajam. Dia mengeluarkan tangannya dari saku celana dan melangkah mendekat pada dua orang itu.


“Jangan menyulut kemarahanku atau kau akan melihat diriku yang sebenarnya seperti empat tahun yang lalu.”


Hanny menegakkan tubuhnya lalu berdiri kaku menghadap Reno yang menhujaninya dengan tatapan dingin.


“Dia sudah mati, Ren. Tidak sepantasnya kau mengungkit orang yang sudah tidak ada. Dan soal gadis itu, kenapa sekarang aku melihatmu sedang membelanya? Apa kau sudah lupa? Kau yang berniat mempermainkan perasaannya lalu untuk apa kau sok peduli dengannya? Kau bahkan sudah berjanji untuk—”


“Tutup mulutmu!” teriak Reno keras sampai Hanny berjingkat.


Reno marah, jelas terlihat dari guratan-guratan diwajahnya yang menegang. Dia sengaja memotong ucapan Hanny. Dia tidak ingin Hanny mengatakan bahwa sebenarnya pernikahan ini hanyalah permainan yang diciptakan Reno untuk Jina. Untuk membalas dendam saja. Reno tidak mau Ibu nya tahu.


Hanna ikut berdiri hingga kursi yang didudukinya berderit keras.


“Ibu tidak mengenal siapa itu Seena.”


Lagi-lagi Hanna mengungkit permasalahan yang semakin menyulut amarah Reno.


Reno memandang sosok Ibu nya yang sudah tidak dikenalinya lagi.


“Perlukah aku mengingatkan Ibu? Dia istriku yang mati bersama calon anakku!” teriak Reno makin frustasi.


Sebeginikah rasa benci yang dimiliki Ibunya terhadap wanita yang sangat dia cintai?


“Ibu tidak pernah menganggapnya ada dan jangan berteriak di depanku seolah-olah aku pantas mendapatkan kemarahanmu! Inilah sebabnya Ibu tidak pernah menyukai wanita itu. Dia hanya membawa efek negatif padamu. Wanita jalang itu hanya menginginkan kekayaanmu! Dia tidak pernah sekalipun tulus padamu! Yang di otaknya hanya uang, uang dan uang!”


Hanna berteriak tidak kalah keras. Untung saja ruangan itu kedap suara sehingga orang lain di luar sana tidak bisa mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


“Aku tidak percaya Ibu masih bisa memakinya bahkan setelah dia tidak ada.” Reno berujar sangat lirih.


“Terserah apa mau Ibu, aku hanya memohon pada Ibu jangan mengganggu Jina. Aku tidak mau kejadian pada Seena terulang lagi atau aku memilih tidak akan berhubungan lagi dengan wanita manapun.”


Reno melepas jas putihnya kemudian berjalan keluar sambil membanting pintu. Bersamaan dengan itu, tubuh Hanna luruh di lantai. Hanny ikut bersimpuh dan mengusap punggung Hanna yang bergetar karena menahan tangisannya.


“Hiro, tolong bawakan kotak obat dan kompres air es ke ruanganku sepuluh menit lagi.” Kata Reno melalui ponselnya sambil berjalan mencari keberadaan Jina yang sejak kedatangannya mengganggu pikirannya.


“Carikan saja, jangan tanya kenapa, nanti kau juga akan tahu.” Reno menangkap sosok Jina yang berjalan pincang dan menunduk masuk ke dalam lift. “Sudah ya, kututup dulu.”


Kenapa dadanya bergemuruh melihat Jina yang berantakan? Rasa bersalah menyerangnya.


Walaupun dia hanya berniat mempermainkan gadis itu, tetap saja dia tidak suka Ibunya melakukan hal-hal ekstrim. Terlebih Ibunya tidak tahu apa maksud Reno menikahi Jina. Dan dari sinilah Reno sadar jika Ibunya tidak pernah suka dengan wanita manapun yang dekat dengannya. Selain Hanny.


Reno menghentikan pintu lift yang hendak tertutup itu. Kepala Jina mendongak dan terkejut melihatnya. Tatapan gadis itu sangat sayu.


Sial.


Reno tidak suka mengakui ini, tapi dia mulai menyadari jika sebenarnya Jina tidak didatangkan Tuhan sebagai pengacau hidupnya. Melainkan gadis yang mungkin akan menggantikan bayangan Seena yang empat tahun ini masih menghantuinya.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya setengah khawatir. Gadis itu mengangguk, meredakan rasa cemasnya...


*****


Dia melenguh panjang ketika gelombang itu datang untuk ke sekian kalinya. Tidak terhitung berapa kali dia mendapat ***. Yang dia tahu dia hanya merasakan kenikmatan yang diterima dari pria panas yang kini menindih tubuhnya.


Tidak terhitung berapa ronde yang mereka lalui malam ini. Seperti malam sebelumnya. Dan malam-malam sebelumnya. Tiada henti. Bercinta tanpa henti sampai pagi.


Dimanapun, kapanpun, tiap ada kesempatan selalu mereka gunakan. Pria itu menatap penyatuan tubuh mereka yang tidak pernah membuatnya bosan.


Ada misi besar yang harus dicapai dalam waktu dekat ini. Misi yang dapat mengikat gadis ini dengannya. Gadisnya bergerak. Sedikit gerakan saja sudah sanggup membangkitkan gairah pria itu kembali. Pusat tubuhnya mengeras.


“Sayang, sekali lagi?” pinta pria itu manja.


Sang gadis—oh bukan, wanitanya hanya mengangguk sambil mengecup bibir prianya sebelum lenguhan panjang lolos dari bibirnya.


Pria itu menghantam dinding sempit wanitanya lagi dengan miliknya yang mengeras dan selalu siap mengeluarkan benihnya ke dalam rahim gadisnya.


Dia menggigit bahu prianya ketika gelombangnya akan datang lagi. Pria itu tahu dan semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Beberapa detik kemudian mereka mengerang bersama. Tubuh sang pria ambruk di atas tubuh polos si wanita.

__ADS_1


"Ren, aku mau memberitahumu sesuatu,” bisik wanita itu di sela napasnya yang masih tidak beraturan. Dia **** telinga pria itu, “Aku hamil.”


“Apa?! Oh Tuhan! Benarkah? Terima kasih sayang! Terima kasih!”


Reno mengecup keseluruhan tubuh wanitanya yang selalu seksi setelah mereka bercinta. Dia menempelkan bibirnya cukup lama di atas perut wanitanya yang masih datar.


“Kita harus mempercepat pernikahan kita!”


Si wanita mengangguk-angguk. Dia sampai menangis melihat Reno—yang masih berstatus sebagai kekasihnya—sangat bahagia mendengar kabar baik ini.


Dia tahu hubungan di luar pernikahan pasti menjadi pertentangan sendiri. Tapi, haruskah dia melewatkan kebahagiaan ini? Menerima seorang pria yang bersungguh-sungguh mencintainya. Sanggupkah dia menolak?


Lagi, dia sudah lelah. Lelah dengan pertengkaran yang selalu dia dengar dari Reno dan Ibunya.


Dia berharap semoga setelah ini mereka bisa mendeklarasikan hubungan mereka secara resmi.


“Kau melamunkan apa Seena sayang?” Reno mengecup bahu telanjangnya.


“Tidak ada. Aku hanya tidak bisa berkata apapun selain bersyukur memilikimu di hidupku.”


“Oh,” Reno mencium bibir kekasihnya, “Aku selalu milikmu, sayang. Dan kau satu-satunya yang berhak memilikiku.”


Seena melenguh. Reno menenggelamkan batang tubuhnya ke dalam dirinya. Menyapa calon bayi mereka.


..


.


*****


Reno menutup pintu di belakangnya. Menatap sekilas rumah yang dulu selalu dirindukannya saat pulang. Rumahnya dengan mendiang istrinya.


Wanita yang tidak pernah diakui sebagai menantu di keluarga Hadirjo. Wanita yang tidak pernah diperbolehkan menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Hadirjo.. Seena


Beberapa tahun silam mereka mengalami kecelakaan mobil. Merenggut dua nyawa berharga sekaligus dari hidup Reno. Seena bersama calon bayi lima bulan pergi untuk selamanya.


Tiga bulan lalu tepat di hari peringatan kematian Seena dan anaknya, Reno pergi menghibur diri dan mengikuti perlombaan balapan motor di lapangan sirkuit yang diadakan oleh salah satu temannya.


Tak pernah diduganya dia justru terlibat kecelakaan dengan seorang gadis. Gadis yang sialannya memiliki sifat sangat mirip dengan mendiang istrinya.

__ADS_1


Hanya saja Seena-nya adalah gadis lemah lembut meski di awal pendekatannya dulu gadis itu suka melawan. Menolak-nolak Reno, mempermalukan reno, bahkan tega menjahili Reno di saat pria itu sedang serius.


Reno marah. Kenapa di hari yang sama dia kehilangan istrinya dia harus dipertemukan dengan seseorang yang mengingatkannya pada mendiang istrinya?


__ADS_2