
Jina menendang kerang kecil yang menghalangi jalannya di antara pasir pantai. Dia berbalik memandang pantai yang gelap. Pikirannya masih saja berkecamuk. Antara percaya dan tidak pada omongan sepupu Reno. Bisa saja kan, mereka bersekongkol membodohinya?
Hah. Kenapa dia jadi selemah ini? Padahal dulu dia sangat berani menghadapi Reno. Oh, kau lupa, kau lemah karena cintamu pada pria itu. Jina menghela napas kasar. Dia berjongkok.
Karena terlalu sibuk berpikir, dia tidak sadar kalau seseorang sudah menyelimutinya dengan selimut hangat dari belakang dan ikut berjongkok di sampingnya. Jina menoleh. Lagi-lagi dia menghembuskan napas putus asa. Kenapa di saat pikirannya penuh harus orang ini yang muncul?
Jina berdiri. Membiarkan selimut itu jatuh. Dia tidak perlu selimut. Dia merasa cukup hangat mengenakan sweaternya. Dan lagi, bukan tubuhnya yang kedinginan, melainkan hatinya.
“Apa menghilang selama tujuh jam kau sebut pergi sebentar?” Reno mengamati kedua tangan Jina yang kosong. Bukankah gadis itu pamit pergi ke toko souvenir? Ah, gadis itu pasti beralasan saja padahal dia sedang menghindarinya.
“Aku kan sudah pamit tadi.”
“Mana barang belanjaanmu?”
“Tidak ada yang cocok.”
“Pergi selama itu dan kau bilang tidak ada yang cocok?” Reno diam sebentar. “Mau kutemani?” jina menoleh terlalu cepat.
Terlalu kaget. Reno tidak pernah menawarinya sesuatu, apalagi untuk menemaninya. “Mungkin aku bisa temukan sesuatu yang cocok untukmu.” tambahnya.
Jina membuang muka. “Tidak perlu.”
“Apa kau akan terus berbicara satu kalimat saja denganku?”
“Aku takjub kau senang mendengarku banyak bicara.”
“Jangan mulai,” ucap Reno memperingatkan. Pria itu sudah cukup frustrasi menunggu Jina kembali pasca dia tahu apa yang dibicarakannya dengan sepupunya. Dan entah darimana datangnya ketakutan itu, dia takut Jina berpikiran macam-macam.
“Kalau kau tidak mau kutemani, ayo kembali ke hotel,”
Tangan Reno terayun ke depan hendak menjangkau Jina, tapi gadis itu refleks mundur. Dan tanpa mengucapkan apapun, dia berbalik dan berjalan seorang diri kembali ke hotel tempat mereka menginap. Dia membutuhkan jarak. Dia tidak suka Reno berada dalam jangkauan matanya.
Sekembalinya dari pantai, mereka berpapasan dengan Hanny di lobby hotel. Hati jina berkecamuk. Ini dia gadis kebanggaan mertuanya. jina buru-buru melengos menuju lift tanpa menyapa Hanny.
__ADS_1
“ren—”
“Bisa kita bicara nanti? Atau, tunggu aku disini, lima menit lagi aku kembali.” potong Reno kemudian melangkah melewati Hanny dan bergegas menyusul jina. Hanny sendiri terbengong-bengong di depan lobby. Reno mengabaikannya hanya karena gadis itu?
reno berkutat dengan pikirannya sendiri di dalam lift.
Ada yang aneh dengan gadis itu. Pasti terjadi sesuatu padanya. Apa ini berhubungan dengan ucapan sepupunya atau karena malam itu? Reno tidak tahu. Dia ingin memastikannya dengan bertanya pada jina.
Seharusnya Reno tidak merasa dipusingkan dengan perubahan sikap Jina. Seharusnya Reno tetap berpura-pura mengabaikan Jina. Meski dia tahu alasannya.
Kenapa, dia tidak suka diabaikan? Kenapa, dia merasa bersalah?
Kemarin dia memang meneriakkan nama Seena saat mereka sedang melakukannya, tapi itu murni refleks.
Kalian bisa bayangkan, empat tahun dia menahan hasrat, tidak melakukan seks dengan siapapun semenjak kematian istrinya. Dan untuk pertama kalinya, kemarin, dia bisa bercinta dengan seorang gadis, tentu perasaan yang dia alami seperti kembali saat melakukannya dengan Seena. Dan nama itu yang tercetus di kepalanya.
Pemandangan menakjubkan apalagi sekarang. Reno baru saja menginjak lantai kamarnya dan Jina sudah terlelap!
“Tidak bisa dipercaya,” Reno menghela napas. Dia menjatuhkan selimut yang tadi dibawanya ke keranjang baju kotor.
Napasnya sangat teratur dan Reno seratus persen akan sulit membangunkannya. Mungkin dia kelelahan karena setengah hari berjalan-jalan yang hanya Tuhan dan gadis itu yang tahu.
Seusai mengganti baju, Reno memilih berbaring di samping Jina. Ini kedua kalinya mereka berada di atas ranjang yang sama. Meski sempat ragu, Reno menarik Jina padanya, membiarkan lengannya menjadi bantal lalu menarik selimut agar menyelimuti mereka berdua.
Saat Jina bergerak dalam tidurnya, Reno menahan napas. Dada gadis itu menempel padanya. Dia sudah pernah merasakan tubuh gadis ini dengan tangannya. Bersentuhan seperti ini saja Reno bisa menebak Jina tidak memakai bra dibalik kaos putihnya.
“Jangan memancing harimau kelaparan,” Reno mengalihkan pikiran mesumnya dengan memeluk jina. Dan dia menyesal karena yang terjadi justru dia semakin merasa sesak.
“Baiklah, jangan pikirkan apapun. Hanya memeluk dan tidur, Ren.”
.
.
__ADS_1
.
Paginya Reno tidak menemukan Jina di sampingnya. Kemana perginya gadis itu? Tidak sempat mengganti pakaiannya, Reno memilih bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.
Reno berkacak pinggang. Menyaksikan pemandangan ini lagi. Rupanya Jina sedang asyik bergosip dengan sepupunya di ruang makan. Kali ini tidak hanya Hery dan Sammy melainkan kelima sepupunya. Reno mendengus. Jadi ini yang dilakukan gadis itu?
“Oh! Pagi, Tuan Reno. Berantakan sekali penampilanmu?”
Ck! Reno menilik dirinya yang hanya mengenakan boxer dan kaos abu tanpa lengan, seragam tidur wajibnya dan rambut berantakan. Dia mengedikkan bahu seolah tidak peduli kalau penampilannya ini bisa menarik perhatian seluruh gadis disini. Bahkan sedari tadi mereka selalu mencuri pandang ke arahnya.
“Disini,” Reno menaikkan sebelah alisnya saat Jina menawarkan tempat duduk di sisinya. Permainan apa yang kau mainkan?
Gadis itu kelihatannya tidak keberatan berdekatan dengannya. Padahal kemarin siang jelas-jelas dia menolak dekat dengannya.
Reno menggeser kursinya mendekati Jina. Melingkarkan lengan kekarnya lalu mengecup pelipis Jina sekilas. Memberikan perhatian penuh pada istrinya.
“Kenapa tidak membangunkanku?” Well, nona, aku akan mengikuti permainanmu.
“Kau sangat lelap tadi, aku tidak tega membangunkanmu.” Reno bergeming dan heran karena Jina tidak menolaknya.
“Aku harus mengingatkan ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.” bisik Reno di telinga gadis itu. Tidak ada reaksi tegang saat Reno sengaja menggodanya.
“Kurasa itu sudah berakhir kemarin.” balas Jina berbisik. “Kau lapar? Aku bisa mengambilkanmu sesuatu,” tawarnya dan hendak beranjak dari sana.
“Tidak perlu.” Reno menahannya dengan mempererat pelukannya. “Aku lebih tertarik,” Reno mengecup bahu Jina dari luar kaosnya. “Mendengar ocehanmu tentang kemana saja kau kemarin.”
Apa-apaan pria ini! Jina mendesis saat Reno meremas pahanya yang hanya dibalut hotpans. “Sayangnya,” Jina menyingkirkan tangan Reno darinya, “aku tidak tertarik.”
“Ehem! Ehem!” hery berdeham keras.
“Sialan! Tidak tahu tempat sekali! Di hadapan kami semua kalian berani bermesraan!” seru sammy tidak terima.
Reno menyeringai lebar. “Makanya cepatlah menikah! Jangan hanya mengencani wanita tidak jelas yang berbeda-beda tiap malamnya.”
__ADS_1
“Cih,” cibir Jina. Dia tidak suka diperlakukan seenaknya di hadapan sepupunya. Tadi pagi dia terkejut karena terbangun berada dalam pelukan Reno.
Semalam dia memang terburu-buru tidur lebih dulu. Dia tidak ingin berbicara dengan Reno. Dia tahu jika mereka bicara pasti akan berakhir dengan pertengkaran.