revenge ( Balas Dendam )

revenge ( Balas Dendam )
episode 4


__ADS_3

Satu minggu berlalu sangat cepat. Namun seperti neraka abadi bagi Jina. Kecelakaan yang dialaminya minggu lalu mengakibatkan komanya seorang pria tak beridentitas.


Jina tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi? Apa pria ini mengalami syok yang berat sehingga untuk bangun dari komanya menghabiskan waktu berhari-hari.


Seminggu itu pula Jina harus menjalani proses hukum yang mencurigainya sebagai pelaku. Tentu saja Jina memiliki alibi yang kuat karena dia turut mengalami kecelakaan tersebut. Sehingga dia cepat dibebaskan.


Walaupun dalam hati Jina tidak yakin. Ketika pria itu bisa membuka matanya lagi dan keluarganya datang menuntutnya, dia tidak akan bisa lari.


Dan sepertinya hari itu akan segera tiba mengingat Hito berhasil mendapat kontak orang tuanya yang sedang berada di luar negeri. Tidak lama lagi pasti mereka akan datang.


“Selesai!”


Jina mengelap tangannya yang menghitam dengan kain lusuh yang sudah memudar warnanya. Dia barusan menyelesaikan memperbaiki motor bekas kecelakaannya yang untungnya masih bisa dipakai lagi.


Seperti yang sudah kubilang sebelumnya kan, Jina adalah gadis perkasa yang di umurnya yang sangat muda sudah memiliki bengkel sendiri dekat lintasan sirkuit kecil di Jakarta padahal dia lulusan ekonomi.


Harusnya dulu dia masuk jurusan teknik mesin saja.


Kepintarannya di bidang mesin tidak bisa diragukan lagi. Dia bahkan lebih cekatan dari para pria yang juga bekerja di bengkelnya.


“Masih terlalu pagi ke rumah sakit.” Jam menunjukkan baru pukul tujuh pagi.


Jina bergegas membereskan peralatan yang ia gunakan dan dimasukkan ke kotak hitam besar berisi berbagai macam peralatan mesin dari ukuran paling kecil hingga besar.


Dia punya waktu banyak untuk bersiap-siap jadi dia tidak perlu terlalu terburu-buru. Ponselnya bergetar di atas nakas kecil di dekatnya.


“Hallo? Apa? Dia baru saja siuman? Aku segera kesana!” Jina menutup teleponnya dan tiba-tiba hatinya membuncah senang.


Pria itu sudah siuman! Betapa sudah berapa lama dia menantikan hari seperti ini. Tanpa banyak persiapan, Jina bergegas meninggalkan bengkelnya menuju rumah sakit.


Tiga puluh menit Jina telah sampai di depan kamar rawat pria asing itu. Tidak lama lagi dia akan segera tahu siapa namanya dan segera berakhir masa ketakutannya.


Jina memutar knop pintu itu dan betapa jantungnya serasa jatuh ke perut melihat bukan hanya dirinya yang berada di ruangan itu tapi ada dua orang sudah mendahuluinya. Keningnya berkerut, bertanya-tanya siapa orang-orang itu?


Seperti kedatangannya mengusik orang-orang di dalam sana. Mendadak suasana kamar rawat menjadi sepi.

__ADS_1


Seorang Gadis yang mungkin umurnya tidak jauh dengannya, berdiri di samping pria yang sudah membuka matanya dan sedang menggenggam lengan pria itu yang tidak sakit.


Pria muda yang memakai seragam sekolah, bersedekap sambil mengamati Jina dari atas sampai bawah kemudian kembali menatap matanya dan menggeleng.


“Kau bukan teman Kakak. Kau siapa?” Pria muda itu dengan tidak sopannya bertanya. Apa barusan anak ingusan itu menilai penampilannya? Jina tahu dia tadi buru-buru datang kesini setelah mendengar kalau pria itu sudah sadar tanpa melirik pakaian yang dia kenakan.


Celana jeans biru tua dengan lubang di kedua lutut, tanktop putih yang dibungkus jaket kulit warna cokelat pres badan.


Si Gadis yang berada di dekatnya menyenggol lengan namja itu. “edo, jangan kasar begitu pada orang tidak dikenal.” Gadis itu tersenyum lebar. “Maafkan kelakuan adikku yang sedikit kasar. Kenalkan, aku hanny, Ada perlu apa nona kesini?”


“Apa hubunganmu dengan Kak Reno ?” Pria yang dipanggil edo itu menyahut lagi.


“Hmm..” Jina tergagap. Bibirnya nyaris banjir karena terus dibasahi.


Tatapan penuh tanya dari orang di sekitarnya membuatnya gugup. Apalagi tatapan tajam yang dilayangkan oleh pria yang baru membuka matanya itu.


Sialnya kenapa dia masih sempat-sempatnya terpana dengan ketampanannya. Iris cokelat gelap dan tajam dan dalam. Kalau mereka tidak bertemu dalam keadaan begini, Jina pasti langsung jatuh hati.


“Selamat pagi.” Sapa dokter yang memasuki ruangan, melepas sedikit ketegangan di antara mereka.


Kalimat dokter justru menambah kebingungan bagi keluarga pria itu. Mereka memang tidak mengenal siapa gadis ini.


“Maksud dokter?” tanya Hanny yang mewakili pertanyaan keluarganya.


“Bukankah nona Jina adalah istri tuan Reno ?”


“APA?” Mereka menoleh cepat padanya dengan alis bertautan, meminta penjelasan.


Jina menelan ludah. Terlebih ekspresi Hanny yang sangat terkejut itu menunggu kalimat apa yang terlontar dari mulutnya. Dia tidak berniat bertatapan dengan Reno yang dia tahu pria itu pasti terkaget-kaget.


“Sepertinya ada yang harus aku luruskan disini. Aku tidak mengenal siapa dia dan aku hanya menolongnya ketika dia kecelakaan.” cicit Jina. Tidak berani mengungkap bahwa dialah penyebab kecelakaan tersebut.


“Bukankah—”


“Tidak!” Jina memotong kalimat dokter. Dia pasti akan mengungkit kejadian seminggu lalu sehingga dia sampai mengira dirinya adalah istri pria itu.

__ADS_1


“Maaf, dokter , anda salah paham. Aku bukan istrinya. Namanya saja pun aku tidak tahu.”


Tangan Jina sudah saling bertautan karna takut orang-orang di depannya salah mengartikan maksudnya. Dari sudut matanya pun dia bisa tahu Reno tengah menghujaninya dengan ribuan jarum.


“Ah, ternyata begitu.” Dokter itu tersenyum maklum sebelum melanjutkan, “Keadaan tuan Reno masih belum stabil sehingga memerlukan perawatan lebih dulu disini. Silakan pihak keluarga ikut ke ruanganku setelah ini.” Hanny memutuskan ikut dengan dokter .


Menyisakan Jina dengan anak ingusan bernama Edo dan pria berparas tampan, Reno.


“Terima kasih sudah menolongku.” ucap Reno memecah keheningan di antara mereka. Jina tersenyum kikuk. Dia kebingungan harus menjelaskan mulai darimana. “Bagaimana caranya?”


“A-apa?”


Reno menajamkan tatapannya, “Bagaimana kau bisa menolongku? Apa kau ada di tempat kecelakaan? Dan kenapa kau mengaku sebagai istriku?”


Sementara itu Edo yang berdiri di sampingnya bersedap sambil menunggu jawaban Gadis itu.


Jina meremas-remas kedua tangannya yang berkeringat dingin. Dia harus meminta maaf sekarang. Sebelum masalah ini semakin panjang.


“Maafkan aku .” Dia membungkukkan badannya rendah-rendah. “Maafkan aku, aku adalah penyebab kecelakaan itu sehingga kau harus berakhir disini. Tapi itu murni di luar kuasaku. Aku benar-benar meminta maaf.”


Oh. Jadi ini alasan utamanya. Kepedulian gadis ini karena dialah penyebab Reno harus dirawat di rumah sakit dengan kondisi mengenaskan, kedua kaki dan tangan kanan yang tidak bisa digerakkan.


“Keluar.”


Putus Reno setelah terdiam cukup lama. Dia tiba-tiba menjadi muak melihat wajah gadis yang terlihat baik-baik saja dan tak sebanding dengan dirinya.


Jina menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang entah sejak kapan kering. Dia benar-benar tidak bisa dimaafkan.


Hanya tinggal menunggu sampai polisi datang ke apartemennya dan menangkapnya.


“Apa kau tuli? Keluar dari kamar ini!” seru Edo kasar. “Sebelum aku panggil polisi dan menyuruh mereka menangkapmu sekarang.”


Jina mengangkat wajahnya gusar dan berharap pria itu mau mendengar penjelasannya. Tapi dia sudah menenggelamkan tubuhnya di balik selimut.


Tidak ada kesempatan untuknya. Jina melangkah mundur dalam diam sementara dadanya bergemuruh tak karuan. Matilah aku!

__ADS_1


bersambung


__ADS_2