
Inilah akibatnya jika terlalu cepat menarik kesimpulan. Perasaannya jadi campur aduk. Segalanya jadi abu-abu.
Tiga hari yang mereka sebut sebagai liburan di Pulau seribu seperti neraka bagi Jina. Dia tidak bisa menikmati apapun. Setiap melihat Reno, bayangan malam itu muncul lagi dan merusak mood-nya.
Sialnya, pria itu, seakan tanpa rasa dosa malah asyik bergurau dengan para sepupu laki-lakinya. Lihat saja, mereka sedang berkumpul di pinggir pantai dan Reno bisa sesantai itu bercanda dan menggoda gadis-gadis berbikini seksi. Hanny juga disana.
Sialan.
Apa pria itu sama sekali tidak merasakan perubahan sikapnya? Apa perlu dia memberi kode baru Reno akan peka?
“Nyonya Reno, halo,”
Jina bangun dari posisi tidurannya di kursi pantai, menggeser pantatnya, memberi ruang agar Heri—salah satu sepupu Reno yang paling menyebalkan dan sok tahu—duduk bersamanya.
“Aku baru pertama ini melihat seseorang berjemur di pantai memakai jeans dan sweater. Ini bukan di kutub, Nyonya.” Jina hanya tersenyum tanpa menghiraukan sindiran Heri.
“Tampaknya kau tidak senang pergi berlibur. Kurang seru, ya?”
Jina mendesis kesal. Harusnya orang yang dia harapkan bertanya demikian adalah Reno. Kenapa malah sepupunya yang lebih peka.
“Tidak terlalu suka pantai.” jawabnya setengah ketus. Dari satu jam lalu yang dilakukan Jina hanyalah mengaduk-aduk lemon-nya.
“Hah,” Heri menghela napas. Kedua lengannya bertumpu di samping tubuhnya yang bertelanjang dada dan hanya memakai boxer motif bunga. Dia memandang ke arah pantai dimana sepupunya yang lain sibuk bermain air dengan gadis pantai. “Apa yang kau pikirkan saat memutuskan menikahi Reno?”
Hening sejenak. Jina bingung menjawab apa. Jelas-jelas dia menikah karena terpaksa. “Reno yang memaksamu?” tanya Heri tepat sasaran. Dia menyunggingkan senyum kemenangan karena tebakannya benar.
“Reno memang begitu. Selalu memaksa gadis untuk menikah dengannya.”
Entah kenapa, tiba-tiba Jina tertarik dengan kalimat Heri barusan. Apa dia bisa bertanya-tanya tentang seseorang bernama Seena.
Nama yang sering disebut-sebut Reno tapi tidak pernah membicarakannya sekalipun.
“Apa kau mengenal Seena?”
__ADS_1
Heri mengerutkan dahi. Dia kecewa ternyata istri kedua sepupunya ini tidak tahu-menahu tentang masa lalu suaminya. Dia menoleh, “Apa kau belum pernah dengar Reno pernah menikah sebelum denganmu?”
“APA?” Ucapan Jina ternyata keras juga. Reno dan sepupunya sampai berhenti bergerak karena mendengar jeritannya. Jina buru-buru menutup mulutnya lalu menepuknya dua kali. Heri sampai geleng-geleng. Ternyata Jina memang tidak tahu apa-apa.
“ Seena itu kakak sepupu iparku. Dia gadis paling cantik yang pernah kutemui. Tidak salah kalau Reno dulu ingin sekali menikahinya.”
Jina sempat menangkap lirikan Heri padanya seperti sedang menilai sesuatu dalam waktu singkat. Pria itu tersenyum lalu melanjutkan perkataannya, “Tapi kau juga tidak kalah cantik kok. Selera Reno terhadap wanita memang tinggi.”
“Lalu?” Jina tidak tertarik dengan pujian Heri. Dia lebih tertarik cerita dibalik Seena ini.
“Mereka menikah empat tahun lalu. Tapi, baru beberapa bulan menikah mereka mengalami kecelakaan dan menewaskan istri dan calon anaknya Reno. Mengenaskan, bukan?” Sammy, sepupu Reno paling bulat di antara lainnya tertarik ikut mengobrol tentang Reno. Dia mengambil tempat bersisian dengan kursi Jina.
“Aku lebih pada kasihan. Reno sangat mencintai Seena. Dulunya aku sempat berpikir dia tidak akan mengambil gadis lagi sebagai istrinya. Ternyata, kau disini bersama kami.” Heri menunjuk Jina seolah-olah dia bangga dengan keberadaan gadis itu.
“Asal kau tahu, empat tahun menjadi duda tampan seperti Reno bukan perkara mudah.” Sammy mencondongkan badannya, merangkul bahu kiri Jina dan berbisik pelan sehingga dari kejauhan mereka tampak sedang berpelukan. “Lebih dari dua puluh gadis ditolaknya habis-habisan!”
“Cuma hanny, gadis yang selalu diunggulkan oleh Bibi yang masih bertahan mengejar-ngejar Reno.”
“Benarkah?!” jina pantas terkejut.
“Tidak mungkin,” Itu berarti, kemarin, pertama kalinya dalam empat tahun pria itu melakukannya. Dan itu dengannya!
“Sungguh! Kudengar kemarin kalian melakukannya. Benar, kan?”
BLUSH! Wajah Jina langsung merona seperti tomat direbus matang digoda oleh Sammy. Ini namanya senjata makan tuan. Mendengar Sammy dan Hery tertawa keras membuat Jina semakin menundukkan wajahnya. Hilang sudah rasa penasarannya. Dia sangat malu!
“Nah, benar kan! Reno tidak akan sanggup berdiam diri tidak melakukannya. Bagaimana kalau miliknya nanti tiba-tiba mengkerut karena terlalu lama tidak bercinta, kan bahaya! Haha!”
Kedua pipi Jina semakin memerah. Kenapa dia harus membicarakan barang berharga kebanggaan para pria di seluruh dunia
dengan pria-pria gila ini? Jina berdeham-deham, berusaha sebaik mungkin menyirnakan kegugupannya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan.
“Apa Reno masih sangat mencintai Seena itu sampai sekarang?”
__ADS_1
Sammy dan Hery bertukar pandang lalu sepakat mengangkat bahu. “Mungkin iya, mungkin tidak.” Heru yang menjawab. “Kami kurang yakin.”
“Jika spekulasi kami benar, Reno sudah mulai membuka hatinya. Buktinya, dia bercinta denganmu. Kenapa baru denganmu? Kenapa tidak dengan gadis yang lain? Kenapa tidak dengan wanita one night stand saja? Meskipun dia mampu melakukan itu, kenyataannya dia tidak melakukannya.” Sammy menggaruk dagunya.
“Lagipula, tidak seperti Seena, kau lebih diterima di keluarga besar kami. Reno tidak pernah berani mengajak Seena berlibur bersama dengan keluarga besar. Aku saja hanya sekali bertemu dengannya, itupun hanya pertemuan para sepupu.”
“Mungkin dia sedang mencari gadis yang cocok.”
Hery mengangguk-angguk setuju. “Dan mungkin dia baru siap sekarang.”
“Siap untuk apa?” tanya Jina penasaran lagi.
“Hmm,” Sammy melipat tangannya ke depan dada. “Memiliki anak lagi.”
Jina membelalakkan mata. Tenggorokannya kering. Tidak mungkin. Tanpa ditanya, dia sudah yakin Reno tidak menyukainya. Pria itu pernah beberapa kali menyiksanya. Bahkan pria itu meneriakkan nama mendiang istrinya saat mereka bercinta.
Kurasa kalian salah paham. Dia menikahiku karena ingin balas dendam.
“Siapa yang mau punya anak?” Suara berat khas milik Reno mengejutkan ketiganya. Hery pindah tempat duduk ke samping Sammy. “Mengobrol apa sih? Kelihatannya seru. Hm?”
Reno melingkarkan lengan kekarnya di sekitar pinggang Jina lalu meremasnya pelan. Memaksa gadis itu menoleh dan menjawabnya.
Jina bergeming. Kenapa seperti ini? Kenapa Reno berakting tidak terjadi apapun pada mereka berdua. Jina melepaskan pelukan Reno lalu tersenyum tipis, “Bukan sesuatu yang bagus untuk didengar.”
Gadis itu bangkit lalu memasang topi pantainya. “Aku mau pergi sebentar ke toko souvenir membeli oleh-oleh.” katanya datar dan langsung beranjak dari sana.
Reno hanya memandang Jina tanpa ada keinginan mengejar atau meminta penjelasan gadis itu yang tiba-tiba bersikap sangat dingin. Tadi dia begitu penasaran apa yang sedang dibicarakan gadis itu dengan dua sepupunya sampai-sampai pipinya memerah dan Sammy merangkulnya.
“Kami tidak bicara apapun!” Hery dan Sammy serempak berteriak.
Mata Reno menyipit. Meneror dua sepupunya untuk membuka mulut. “Ucapkan selamat tinggal pada black card kalian—”
“Sialan!” sela Sammy tidak rela. “Kau selalu mengancam kami dengan kartu-kartu menyebalkanmu!”
__ADS_1
“Makanya, bicara!”
.