Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 11


__ADS_3

Alexa kini segera memasuki kamar hotelnya. Dia pun membanting pintu kamarnya karena dirinya sedang dipenuhi rasa emosi saat ini.


"Sial! Kenapa Vanessa bisa lolos dari jebakanku?! Padahal aku sudah memastikan bahwa rencanaku akan berjalan dengan mulus! Seharusnya tidak begini kejadiannya!” umpat wanita ini yang terlihat begitu kesal.


Alexa marah karena rencananya untuk menjebak Vanessa dan membuat hubungannya dengan Xavier memburuk ternyata gagal total. Dia masih tidak menyangka jika ternyata Vanessa bisa melawan pria mesum yang telah dikirimkannya itu.


Padahal Alexa sudah membayar cukup mahal untuk menyewa pria yang dia dapatkan dari kenalannya yang memang berkecimpung dalam dunia mucikari.


Anehnya, saat pria itu menceritakan kejadian tadi, dia bilang Vanessa melawan dengan menendang dan memukulinya. Hal ini jelas membuat Alexa semakin curiga dengan sikap sahabatnya.


“Bagaimana Vanessa bisa punya keberanian seperti itu? Dia kan hanya anak manja yang lemah dan penakut. Dia bahkan tidak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain,” gumam Alexa sambil memikirkan sikap Vanessa yang dirasa kian aneh.


Tak bisa dipungkiri, bagi Alexa, sikap Vanessa memang sedikit berubah semenjak sahabatnya itu telah sadar diri dari komanya. Alexa kadang dibuat bingung sendiri dengan respon Vanessa yang terkadang seperti orang linglung, seolah tak mengenali dirinya sendiri.


Hanya saja, semakin Alexa memikirkan hal tersebut, ternyata membuatnya kian jengkel saja pada sahabatnya itu. “Hais! Seharusnya aku bunuh saja dia waktu itu! Kenapa juga aku malah menyelamatkannya dan membiarkannya koma? Cih! Benar-benar wanita sialan! Aku jadi tidak bisa berduaan dengan Xavier!!” gerutu Alexa yang masih saja kesal.


Alexa pun kini sengaja menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Dia lalu menghela nafas dengan kasar, melampiaskan kekesalan yang masih memenuhi dirinya.


“Aku tidak bisa begini terus. Aku harus segera membuat mereka berdua berpisah! Aku yang seharusnya pantas untuk Xavier!” tegasnya membulatkan tekad.


***


Sedangkan di sisi lain, Xavier kini berada di rumah sakit bersama dengan Vanessa. Dia merasa begitu khawatir dengan keadaan istrinya yang begitu lemah usai kejadian di kamar hotel tadi.


Xavier duduk di samping kasur pasien, sambil menggenggam erat tangan Vanessa. Dia menciumi tangan wanita yang dicintainya itu dan berharap bahwa wanita ini baik-baik saja keadaannya.


Hingga tak lama, Vanessa mulai membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkan matanya pelan-pelan sambil memandangi ruangan ini.


‘Di mana aku?’ batin Jane yang merasa bingung.

__ADS_1


Xavier yang merasakan pergerakan di tangan istrinya, kini langsung menoleh memandang wajah Vanessa. Dia pun langsung mendekatkan diri ke arah wanita tersebut, untuk memastikan bahwa Vanessa benar-benar sudah sadar saat ini.


“Vanessa? Kamu sudah sadarkan? Kamu benar-benar sudah sadar kan?” tanya pria ini dengan rasa yang begitu panik.


Jane mengernyitkan dahinya. Dia merasa seperti sedang bermimpi ketika tahu ada majikannya yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Tak sengaja, dia pun memanggil nama pria ini.


“Tuan Xavier …” ucapnya pelan.


Mendengar kata Tuan dari bibir istrinya sendiri, jelas membuat Xavier merasa bingung. Dia terdiam sambil mengerutkan keningnya.


Untung saja Jane segera menyadarinya. Dia pun mendelik dan langsung meralat ucapannya barusan. “Ma-maksud … Tuan Muda kesayanganku. Sayangku. Xavier,” ucap wanita ini sambil memaksakan senyumannya.


Xavier yang tadinya merasa heran dan terdiam, tiba-tiba menundukan kepala. Jane pun jadi merasa panik. ‘Gawat! Apa dia mencurigaiku?’ batinnya ketar ketir.


“Sa-sayang …?” Jane berusaha memanggil nama Xavier dengan sebutan sayang. Meski dia belum terbiasa dengan hal ini, tapi dirinya berusaha untuk memberanikan dirinya sendiri, demi membuat Xavier tidak mencurigainya kembali.


Lalu tiba-tiba, Xavier mengangkat kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. Dia terlihat begitu bahagia seolah tak punya beban.


Karena merasa heran, Jane pun kembali mengajukan pertanyaan. “A-ada apa? Kenapa kamu tertawa seperti itu?” tanyanya sambil mengintip wajah Xavier.


Xavier berusaha menenangkan diri dari tawanya. Dia terlihat begitu geli, bahkan air matanya sampai keluar karena saking bahagianya. Namun hal ini malah semakin membuat Jane kebingungan.


“Haduuhh … aku terhibur sekali dengan ucapanmu barusan. Tuan Muda. Kesayanganmu? Hahaha … Sayang, bagaimana bisa kamu terpikirkan seperti itu? Apa kamu … ingin … jadi pelayan kesayanganku?”


Deg!


Mendengar Xavier yang sengaja melontarkan godaannya, nyatanya malah membuat Jane kian berdebar. Dia tentu ingin sekali menjadi pelayan kesayangan pria ini.


Siapa yang akan menolak pria yang begitu sempurna di hadapannya itu? Wajahnya tampan, tubuhnya kekar, sangat penyayang, apalagi pria ini merupakan pengusaha sukses yang terkenal dengan kekayaan melimpahnya. Jane yakin tidak ada wanita manapun yang bisa menolaknya.

__ADS_1


Xavier menantikan jawaban dari istrinya. Dia lalu sengaja menyentuh wajah wanita ini. Tapi Jane langsung menepisnya.


“Sebaiknya kita pulang sekarang,” ucapnya ketus.


Jane kemudian segera melepaskan jarum infus yang menancap di tangannya. Lalu ia pun memilih untuk langsung pergi dari ruang pasien ini.


Jelas hal ini membuat Xavier bingung dan khawatir. “Vanessa? Sayang? Ada apa? Kenapa kamu malah seperti ini? Hey! Tunggu!” seru pria ini sembari mengejar istrinya.


***


Xavier dan Vanessa akhirnya memilih untuk kembali. Selama perjalanan mereka tak saling bicara. Vanessa bahkan tak mau menanggapi apapun perkataan suaminya.


Tak lama, ponsel Xavier pun berbunyi. Terlihat nama Alexa di layar ponselnya. Xavier pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut.


“Xavier, bagaimana dengan keadaan Vanessa? Apa dia baik-baik saja?” tanya wanita ini dengan suara yang terdengar panik.


Xavier melirik ke arah istrinya yang ada di sebelahnya. “Dia … baik-baik saja,” jawabnya singkat.


“Xavier … aku yakin kalian pasti marah padaku. Ini semua salahku … Maafkan aku … Aku tidak berhasil menangkap pria itu. Dia sudah kabur. Aku juga sudah tanya pada pihak hotel tapi mereka juga tapi pria itu tidak terekam jelas di CCTV. Aku harus bagaimana sekarang?” Alexa kini semakin merengek. Dia terdengar panik dan ketakutan.


Mendengar perkataan Alexa yang diliputi rasa bersalah, Xavier pun jadi tak tega sendiri. Dia jelas tidak mau membuat sahabat istrinya itu jadi merasa bersalah seperti ini.


“Tenanglah Alexa, jangan panik seperti itu. Biar aku yang nanti mengurusnya. Sebaiknya kamu istirahat saja. Hari ini kami langsung balik. Kami tidak jadi menginap,” ujar Xavier berusaha menenangkan.


Mendengar jika mereka tak jadi menginap bersama, Alexa jelas merasa senang. Tapi bagaimanapun juga mereka adalah pasangan suami istri, tentu di mana pun berada mereka tetap bisa bersama. Alexa pun berusaha mengulik tentang keadaan sahabatnya itu.


“A-apa … Vanessa masih terguncang?” tanyanya hati-hati.


Xavier yang mendengar pertanyaan ini pun jadi bingung. “Apa maksudmu?” ujarnya keheranan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2