
Keesokan harinya, Xavier tiba-tiba menghampiri Jane yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. “Kata Alexa, kamu mau pergi berlibur dengannya di Bali? Apa itu benar?” tanya pria ini dengan nada suara dingin.
Xavier bahkan kini sengaja memandang ke arah Jane dengan tatapan begitu serius demi mendapatkan jawaban dari wanitanya, yang saat ini masih terlihat sibuk menata piring di atas meja.
Jane melirik ke arah Xavier. Dia menelan ludah, merasa ketakutan sendiri pada pria ini. Jane takut jika Xavier kembali kecewa kepadanya.
Namun meski begitu, Jane tetap saja tidak mau mengubah apa yang sudah dia rencanakan. Dia bahkan sudah tak sabar untuk pergi, supaya bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu.
“Iya. Alexa mengajakku ke sana bersama,” ucap Jane singkat.
“Lalu kamu mau?” Xavier memastikan kembali. Jane mengangguk.
Sungguh hal ini benar-benar di luar dugaan Xavier. Dia tidak menyangka jika istrinya tega meninggalkan dirinya, ketika mereka baru saja beberapa hari lalu menikah.
“Benar-benar gila! Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu terus menghindariku? Bahkan sekarang kamu ingin pergi bersama sahabatmu, setelah kamu menuduhku berselingkuh dengannya?” tanya Xavier dengan suara yang meninggi.
“Bu-bukan begitu. Aku hanya ingin bicara, mengobrol dengannya. Apa tidak boleh?” Jane pun langsung berusaha menjelaskan keputusannya itu.
“Memangnya mengobrol harus pergi jauh seperti itu?”
Jane terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Xavier berusaha menelaah sikap istrinya itu. Lalu ia pun sampai pada kesimpulannya. “Oh, jadi kamu ingin mengulik tentang hubunganku dengan Alexa? Kamu masih ingin mencari tahu, darinya langsung? Begitu?”
“Bukan seperti maksudku. Kamu salah paham. Sudahlah, jangan berpikiran macam-macam lagi. Aku hanya … belum siap melakukannya. Aku masih dalam masa haid. Bahkan sebenarnya aku merasa kasihan padamu karena tersiksa ingin melakukannya tapi kondisiku tidak memungkinkan. Jadi lebih baik aku pergi sebentar, sampai masa haidku selesai. Setelah itu, aku berjanji akan segera kembali padamu,” tegas Jane memberi penjelasan.
Entah apa yang membuatnya jadi begitu lancar mengatakan hal tersebut, tapi yang jelas, Jane hanya bermaksud untuk menghindari Xavier dengan alasannya yang baru saja dia katakan.
Xavier mengalihkan pandangannya dari Vanessa. Dia sungguh merasa kecewa dengan keputusan istrinya. Baginya, sikap Vanessa banyak berubah. Tak seperti Vanessa yang biasanya dia kenal.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu maumu. Terserah kamu saja. Pastikan kamu kembali setelah selesai dengan urusanmu itu,” ucap pria ini dengan sikap dingin dan langsung berdiri meninggalkan istrinya sendiri.
***
Jane kini sudah berada di bandara. Dia merasa ingin segera kabur dari sini untuk menikmati liburannya. “Untung saja Xavier memberikanku ijin.. Tapi … kasihan juga dia,” gumamnya pelan, sambil memikirkan keadaan Xavier.
Rasanya benar-benar kasihan pada pria tersebut. Jane bahkan jadi semakin merasa bersalah, karena sepertinya dia sudah membuat pria itu jadi membenci sosok Vanessa saat ini.
“Sudahlah, tidak apa sementara seperti ini dulu. Aku hanya perlu waktu. Setelah kembali dari Bali, aku harus bersiap untuk menghadapinya lagi. Toh … ini bukan tubuhku sebenarnya,” ucap wanita ini menghibur dirinya sambil memandangi tubuhnya sendiri.
Jane kemudian memandangi jam tangannya. Dia celingukan mencari keberadaan Alexa yang belum juga datang di sekitar bandara. “Di mana dia sebenarnya?” ucap Jane yang jadi merasa panik karena pesawatnya sebentar lagi berangkat.
Tak lama, Alexa pun menelpon Vanessa. Jane yang memperhatikan ponselnya, kini langsung mengangkat panggilan tersebut. “Alexa? Di mana kamu sebenarnya? Pesawat kita sudah mau berangkat. Apa kamu sudah ada di bandara?” tanya Jane dengan kekhawatirannya.
“Vanessa maaf. Sepertinya aku tidak bisa ikut terbang denganmu. Sebaiknya kamu pergi duluan, nanti aku akan menyusulmu. Kamu tenang saja, aku akan menyuruh pihak hotel untuk menjemputmu di bandara ketika kamu sudah tiba. Jadi kamu tidak usah takut. Aku akan ke sana malam ini. Kamu tenang saja,” ujar Alexa yang berusaha menjelaskan keadaannya.
Hanya saja, Jane yang sudah terlanjut sampai di bandara, tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kabur sejenak ini. Dia yang tadinya hendak mencari tahu tentang Alexa, kini berusaha menerima alasan wanita tersebut.
“Mmm … begitu. Baiklah. Kalau begitu, aku duluan,” ucap Jane yang kemudian mematikan panggilan tersebut.
Jane terdiam sesaat. “Padahal semalam dia sendiri yang menawarkan padaku untuk liburan bersama. Kenapa tiba-tiba berubah? Sebenarnya apa yang terjadi padanya” gumamnya merasa aneh dan penasaran.
“Sudahlah, toh dia bilang akan menyusul malam ini. Sebaiknya, aku nikmati saja liburan ini sejenak.” Jane pun kini berusaha menikmati keputusannya. Dia lalu segera menuju ke pesawat untuk berlibur ke Pulau Bali.
***
Jane akhirnya sampai juga di Bali. Dia langsung disambut oleh salah satu staff hotel seperti yang sudah dijanjikan Alexa padanya.
Jane sempat ragu. Dia masih merasa ketakutan ketika melihat orang berpakaian hitam seperti ini hendak membawanya masuk ke dalam mobil. Takut jika hal buruk seperti kehidupan sebelumnya terjadi lagi. Tapi Jane berusaha meyakinkan dirinya sendiri, dan ia pun mengikuti ke mana pria ini membawanya.
__ADS_1
Tak lama, dia sampai juga di salah satu hotel mewah di pulau Bali. Jane menikmati setengah harinya dengan jalan-jalan di sekitar hotel. Lalu kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan diri.
“Jadi begini rasanya jadi orang kaya,” ujarnya dengan senyuman lepas.
Jane masi tidak menyangka jika dirinya akan merasakan kemewahan seperti yang biasa majikannya rasakan. Hanya saja, Jane jadi teringat tentang peristiwa buruk yang menimpanya.
“Tidak! Aku tidak boleh terlena dengan kehidupan ini! Aku harus tetap waspada! Aku harus mencari tahu, siapa dalang pembunuhanku! Aku yakin itu adalah Alexa dan Jacob!” ucapnya tegas.
Nyatanya, Jane yang merasa kelelahan setelah menikmati kesehariannya di sini, kini mulai tertidur. Bahkan cukup lama wanita ini terlelap dalam tidurnya.
Sampai akhirnya, Jane terbangun karena ada suara orang yang terus menerus mengetuk pintu kamarnya dengan begitu kasar.
“Siapa itu? Kenapa dia mengetuk pintu sampai seperti itu?’ batin Jane sambil mengusap-usap matanya.
Suara ketukan pintu itu terus saja terdengar. Membuat Jane yang sedang mengumpulkan kesadarannya, jadi harus memaksakan diri untuk segera bangkit.
Jane tak mengecek terlebih dahulu siapa yang ada di luar sana. Dia langsung saja membuka pintunya, karena sudah merasa terganggu dengan ketukan pintu tersebut.
Namun baru saja Jane membuka pintunya, tiba-tiba seorang pria menerobos masuk ke dalam kamarnya, sambil mendesak tubuh wanita ini.
“Hen-hentikan!! Minggir!!” teriak Jane yang berusaha memberontak ketika pria tersebut menekan tubuhnya ke arah dinding.
Jane merasa terkejut. Dia ketakutan. Tak pernah dia sangka akan ada pria asing yang memasuki kamarnya seperti ini. Bahkan tercium aroma alkohol pada pria ini, yang menandakan bahwa pria tersebut sedang mabuk.
“A-aku mohon hentikan ini! Siapa kamu sebenarnya? Menyingkir dariku!!” Jane berusaha mendorong tubuh pria ini. Dia terus berusaha melawan pria yang berusaha menyentuh tubuhnya.
Sayangnya pria tersebut malah tersenyum dengan senyuman menyeringai. Dia memandangi wanita di hadapannya itu, dengan tatapan yang terlihat begitu bergairah.
Bersambung…
__ADS_1