Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 22


__ADS_3

Jane yang mendengarnya pun refleks langsung mendelik ke arah Xavier. Dia lalu menarik lengan pria tersebut, dan berbisik di telinga suaminya.


“Apa-apaan ini? Kenapa mengijinkan dia menginap di sini? Aku tidak setuju!" tolak Jane mentah-mentah.


"Vanesa, ada apa denganmu? Jacob ini sepupuku, dia baru saja tiba dari jauh. Masa iya, kamu tidak mengijinkannya dia tinggal di sini sementara?” tanya Xavier yang lagi-lagi tak paham dengan sikap istrinya sendiri.


“Tapi dia itu … tidak seperti yang kamu pikirkan Xavier. Ayolah, turuti saja aku kali ini,” pinta Jane yang berusaha membujuk Xavier kembali.


"Maaf Vanessa, kali ini aku tidak bisa menurutimu. Sudahlah, kamu jangan khawatir. Di sini masih banyak kamar. Jadi Jacob bisa tinggal dengan kita juga,” jelas Xavier kembali.


Jane hendak menanggapi ucapan Xavier lagi, tapi baru saja dia membuka mulut, Jacob yang dari tadi selintas mendengar perdebatan pasangan ini malah langsung menyetujui ide sepupunya itu.


“Baiklah, aku akan menginap sementara di sini. Lagi pula, aku dengar tempat tinggalku masih di renovasi, jadi yah … dari pada aku menghabiskan uang di hotel, lebih baik menginap di tempat kalian sementara waktu bukan?” ujar pria tersebut tanpa basa basi terlebih dahulu.


Mendengar hal tersebut, Jane tidak dapat berkata-kata lagi. Apalagi ketika Xavier memutuskan hal tersebut tanpa meminta pendapat istrinya lagi.


“Baiklah, lebih baik kamu istirahat dulu. Nikmati saja kamarmu di sini. Anggap seperti rumah sendiri,” ucap Xavier dengan sikap ramahnya.


Jane mau tak mau harus setuju dengan ide Xavier. Dia tidak bisa menolak lagi keinginan suaminya itu.


Meski demikian, selama Jacob ada dan tinggal di rumah ini, Vanessa berniat untuk tetap terus mengawasi gerak-gerik Jacob.


Jane merasa yakin. Dia tahu betul bahwa pria ini adalah pria jahat. Jane jelas masih ingat bagaimana dirinya di tampar pria tersebut karena Jane tak sengaja memergokinya berselingkuh dengan Alexa yang saat itu istri sah Xavier, di belakangnya.


‘Bagaimanapun juga aku harus mengawasinya ketat!’ batin Jane yang bertekat untuk mewaspadai keberadaan Jacob yang ada di rumahnya.


***

__ADS_1


Beberapa hari saat Jacob menginap, Jane terus saja berusaha mengawasi. Keadaan pun jadi semakin menegangkan saja. Pandangan matanya seolah tak pernah lepas dari keberadaan Jacob, dan hal ini jelas membuat pria tersebut jadi merasa terganggu.


“Hais! Kenapa Vanessa jadi aneh seperti itu sih? Kenapa dia sebenarnya? Apa dia … mencurigaiku?” gerutu Jacob saat berada di dalam kamar.


Dia mondar-mandir memikirkan kapan waktu yang pas untuk menjalankan rencananya. Rasanya sungguh tidak mau buang-buang waktu di tempat ini.


Jacob pun kemudian mengambil kertas berisikan bubuk obat. Dia membukanya sekilas untuk melihat serbuk obat itu. “Aku sudah jauh-jauh membawanya sampai sini. Rencanaku tidak boleh gagal begitu saja,” ujarnya dengan niat jahat yang sudah dipersiapkan.


Segera Jacob menyembunyikannya lagi di saku celananya. Dia lalu segera keluar dari kamar untuk memastikan keberadaan Vanessa dan juga Xavier saat ini.


Terlihat piring-piring sudah tersaji di atas meja makan. Tanda waktu sarapan telah tiba. Namun Jacob belum melihat keberadaan pemilik rumah ini di ruang makan.


“Ke mana Xavier dan Vanessa, Bi?” tanya Jacob pada pelayan rumah ini.


“Ah, mereka belum keluar dari kamarnya. Biar saya panggilkan dulu. Tuan Jacob duduk saja dulu, sarapan sudah saya siapkan di atas meja,” sahut pelayan tersebut. Wanita ini pun segera pergi menuju ke kamar majikannya, yang jaraknya cukup jauh dari ruang makan.


“Nyonya, Tuan, ayo sarapan dulu. Ini sudah siap,” teriak pelayan rumah ini.


Jacob segera mengaduknya dengan jari tangannya sendiri. Dia lalu buru-buru duduk di tempatnya ketika terdengar suara pintu yang terbuka dari kamar pemilik rumah ini.


Dia segera menyembunyikan bukti yang ada di dalam genggamnya, ke dalam saku celananya. Jacob sudah memastikan, bahwa tidak ada seorang pun yang melihat aksinya itu.


Tak lama, mereka bertiga duduk di ruangan yang sama. Ketiganya pun menikmati makanan, lalu meminum minuman yang ada di dekat masing-masing.


Untung saja Jacob tidak salah memasukan obat tersebut ke minuman Xavier. Dia pun tersenyum menyeringai saat melihat Vanessa meminum minumannya, tanda bahwa misinya kali ini, pasti akan berhasil.


“Jadi, kamu akan ke kantor hari ini kan?” tanya Xavier ketika mereka menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


“Mmm … sepertinya aku masih mau istirahat dulu. Jetlag ku rasanya belum hilang-hilang. Aku masih saja belum bisa tidur sesuai waktu malam di sini. Dan bahkan ini … Hoaam …” Jacob menguap. “Aku baru mulai merasa mengantuk,” ucap pria ini menjelaskan keadaannya.


Xavier tertawa melihat tingkah sepupunya itu. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu, nikmati saja waktu istirahatmu. Aku akan berangkat ke kantor sekarang,” ucap Xavier yang kemudian berpamitan juga pada istrinya.


Jane lagi–lagi merasa ketar ketir. Dia jelas merasa takut jika harus berduaan dengan Jacob di rumah ini. Meski di sini banyak pelayan rumahnya, tapi tetap saja, mereka tidak akan berani membantu jika terjadi sesuatu padanya.


“Aku ke kantor dulu. Jika ada apa-apa, hubungi saja aku,” ujar Xavier ketika mereka sudah berada di depan pintu rumah ini. Jane mengangguk, lalu Xavier pun mengecup kening wanita ini, sebelum akhirnya dia memasuki mobilnya.


Diperlakukan sebagai istri seperti itu, sejujurnya membuat jantung Jane terus saja berdegup kencang. Dia tidak menyangka, bisa merasakan ketulusan cinta yang diberikan oleh majikannya itu pada istrinya.


Namun perasaan tersebut segera ditepis oleh Jane. Bagaimanapun juga, Xavier melakukannya bukan ditujukan kepada dirinya yang sebenarnya. Itu semua untuk Vanessa, istri pertama pria ini, yang begitu dia sukai.


“Ah, sudahlah. Mikir apa aku ini,” gumam Jane yang kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.


Tapi tiba-tiba, degup jantungnya semakin kencang terasa. Badannya pun terasa panas. Ada gejolak di dalam diri Jane yang tidak dia pahami.


Bahkan semakin lama, Jane merasa bahwa bagian intimnya terasa basah, seperti ada cairan yang keluar secara perlahan. Dadanya pun terasa semakin membesar, dan terasa kencang. Sungguh mengganggu bagi wanita ini.


‘A-ada apa denganku? Kenapa … aku … rasanya kepanasan? Kenapa tubuhku … rasanya ingin meledak?’ batin Jane yang jadi merasa cemas sendiri dengan keadaannya.


Jacob yang memperhatikan sikap Vanessa dari kejauhan, kini kembali tersenyum. Dia merasa puas karena jebakannya berhasil.


Nyatanya, Jacob telah memberikan obat perangsang di minuman Vanessa. Dengan begini, dia merasa bisa leluasa melancarkan aksinya untuk memperkosa Vanesa sesuai rencananya.


‘Bagus! Aku rasa, obat itu sudah mulai bekerja. Sekarang, tinggal aku saja yang mulai beraksi. Vanessa, tunggu aku. Aku akan memberikan kepuasan padamu, sampai kamu terus memintanya padaku,’ oceh pria ini di dalam hati.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2