Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 32


__ADS_3

Jane segera menancapkan flashdisk yang dia temukan ke laptop Jacob. Lalu ia pun segera mengcopy data yang baru saja dilihatnya, persis seperti ingatan Vanessa yang tergambar saat ini.


Tentu dalam situasi menegangkan seperti ini, Jane berusaha untuk mengawasi keadaan sekitarnya. Dia memastikan kembali keberadaan Jacob yang masih menerima telepon di teras balkon rumah ini, dan berharap tindakannya kali ini tidak ketahuan oleh orang tersebut.


‘Ayolah … cepat …,’ ucapnya dalam batin.


Jane merasa tak tenang. Kakinya bergerak-gerak terus menerus, karena merasa situasi saat ini benar-benar membuatnya berdebar tak karuan.


“Aku harus segera memberikan ini kepada Xavier, cepatlah … kenapa lama sekali?” gumamnya sambil mengutak-ngatik kursor laptop ini.


Hingga tak lama, terlihat gelagat Jacob yang sudah mengakhiri panggilannya. Pria itu masih memandangi ponselnya usai menerima panggilan telepon barusan.


Jane yang melihat sekilas keadaan Jacob, semakin dibuat tak karuan. Dia semakin tak tenang. Detak jantungnya pun kian bergemuruh, seperti genderang.


Sampai akhirnya, terlihat papan notifikasi yang menandakan bahwa data telah tercopy seratus persen. Jane pun segera mencabut flashdisk yang dia tancapkan di laptop Jacob ini, dan langsung menyimpannya di dalam saku celananya.


“Vanessa? Apa yang … sedang kamu lakukan?” tanya Jacob yang berdiri menatap wanita tersebut, dengan jarak yang kini cukup dekat.


Jane jelas terkejut mendengar suara pria yang sudah dekat dengannya itu. Tubuhnya masih gemetaran karena ketakutan. Namun dengan sigap, dia berusaha untuk menenangkan diri, supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada Jacob.


Segera Jane menolehkan wajahnya memandang pria ini. “Ah, aku hanya penasaran apa yang sedang kamu kerjakan. Tapi rasanya … aku juga tak paham hitung-hitungan ini,” jawab Jane sambil tersenyum bodoh.


Jane sengaja memperlihatkan sikap bodohnya. Dia bahkan nampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, sambil memandangi kembali layar laptop milik sepupu Xavier.


Jacob pun mengarahkan pandangannya ke layar laptop. Dia terbelalak, merasa terkejut karena lupa jika tadi dirinya sedang membuka data penting yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain. Segera pria ini mengambil laptopnya, dan menutupnya dalam genggamannya.


“Itu data yang baru saja aku terima. Aku sedang mengeceknya. Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur dalam urusan perusahaan,” oceh Jacob. Wajahnya terlihat panik. Takut jika Vanessa paham dengan apa data dalam laptopnya itu.


“Jacob, aku benar-benar tidak paham itu. Aku juga tidak ingin ikut campur dalam urusan perusahan. Lagi pula, semenjak kecelakaan sebelum menikah waktu itu … rasanya … pikiranku tidak bisa diajak untuk berpikir lebih keras. Apalagi memikirkan angka-angka itu,” sahut Jane yang berusaha meyakinkan Jacob. Bagaimanapun juga, Jacob tidak boleh mencurigai dirinya, supaya Jane tetap bisa memberikan bukti ini kepada Xavier.


Mendengar alasan Jane barusan, Jacob mengernyitkan dahinya. Dia memandang Jane dengan penuh menelisik, memastikan kembali bahwa wanita ini tidak sedang berbohong.


Jane sengaja memasang ekspresi wajah polos demi membuat Jacob percaya pada ucapannya. Tak lama, Jacob pun mulai menanggapinya kembali.


“Hmm … begitu. Baiklah. Aku harap, kamu bisa dipercaya, Vanessa,” ujar pria ini dengan senyuman menyeringai, seolah penuh maksud.


Entah mengapa, melihat pria ini tersenyum seperti barusan, Jane merasa semakin ketakutan. Dia lalu berusaha untuk membalas senyumannya, meski dengan senyuman yang terlihat canggung.


“Mm, kalau begitu. Aku keluar dulu. Ada yang perlu aku beli,” ucap Jane yang kemudian langsung berbalik arah, melangkahkan kakinya menuju keluar rumah ini.


Jacob memperhatikan kepergian Vanessa. Senyumannya semakin menyeringai melihat wanita itu berjalan terburu-buru saat keluar rumah. Dalam keadaan ini, Jacob segera menghubungi Alexa.


“Haish!! Ada apa menelponku lagi?? Ini masih jam kerja!” sentak Alexa dengan sikap yang tidak ramah. Meski dia tidak menyukai Jacob, tapi nyatanya dia tidak bisa menghindari panggilan dari pria yang telah menjamahnya itu.


“Bukankah kamu ingin menjadi Nyonya Xavier? Aku akan mengabulkannya, sekarang juga. Secepatnya,” ujar Jacob penuh misteri.

__ADS_1


Alexa berusaha mencerna ucapan pria ini. Dia pun teringat dengan hal-hal buruk yang mungkin saja Jacob lakukan dalam rencananya. Refleks, Alexa yang sedang duduk di ruangannya, segera berdiri.


“Apa maksudmu? Memangnya apa rencanamu??” tanya wanita ini penasaran.


“Tenang saja. Kamu tinggal duduk manis, dan menikmati hasilnya. Tapi, kamu tidak boleh melupakan kesepakatan kita. Jika aku berhasil mengabulkan keinginanmu, maka kamu harus menjadi budak napsuku, selama aku menginginkanmu,” ucap Jacob yang sudah dipenuhi dengan niat bejatnya, dan langsung menutup panggilan tersebut.


Jelas hal ini membuat Alexa semakin bingung, “Jacob? Jacob?!! Jelaskan padaku dulu apa yang akan kamu lakukan dasar brengsek!!” teriak wanita ini, meski tahu panggilannya sudah terputus.


Alexa membanting ponselnya. Dia berteriak histeris, merasa ketakutan sendiri dengan sikap Jacob. Rasanya ada yang tidak beres. Apalagi mendengar ancaman dari pria itu, yang akan menjadikannya budak nafsu selamanya.


***


“Antarkan aku ke kantor Xavier sekarang juga. Cepat!” pinta Jane pada sopirnya, ketika dia baru saja memasuki mobil.


Sopir pun segera melajukan mobil. Dia menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan normal, tanpa berbicara sedikit pun pada wanita yang duduk di belakang.


Jane memegang kantong celananya. Dia berharap benda yang dibawanya ini segera sampai pada Xavier, supaya pria tersebut mengetahui kebusukan saudaranya sendiri.


‘Aku harus menyelamatkan Xavier … dia tidak boleh mempertahankan Jacob …,’ batinnya.


Namun tiba-tiba saja, sopir yang mengantarkan Jane malah membelokan mobilnya ke arah lain. Hal ini jelas membuat Jane merasa bingung.


“Hey, ini bukan arah menuju ke kantor Xavier!” tegurnya sambil memajukan tubuhnya, mendekat ke arah sopir yang membawa mobil ini.


Jalan alternatif yang dilewati oleh mereka saat ini terlihat sepi. Hanya terlihat pohon-pohon rindang di sisi kedua tepi jalan. Bahkan Jane tidak melihat kendaraan lain yang melintasi tempat ini.


“Aku belum pernah lewat sini. Apa kamu yakin, jalan ini akan membawa kita sampai ke kantor yang ada di pusat kota?” tanya Jane memastikan keadaannya.


“Nyonya tenang saja. Saya sudah sering melintasi sini. Tuan Xavier juga sudah tahu jalan pintas ini,” ucapnya dengan nada dingin.


Jane berusaha menerima alasan sopirnya. Dia kemudian memundurkan tubuhnya kembali, sambil menghela nafas untuk menenangkan diri.


Hingga tak lama, mobil yang mereka tumpangi saat ini berjalan tersendat-sendat. Lalu tiba-tiba, mobil pun berhenti di perempatan jalan.


“Ada apa ini? Kenapa dengan mobilnya?” Jane bertanya dengan panik.


“Argh! Maafkan saya Nyonya. Saya … lupa mengisi bahan bakarnya,” ucap sopir tersebut.


Jelas keadaan ini membuat Jane yang sedang diburu, menjadi naik pitam. “Apa kamu bilang?? Bagaimana bisa kamu lupa mengisi bensin mobil ini?! Apa kamu sudah gila??”


Wanita itu segera keluar dari mobil, dan membanting pintu begitu saja. Dia merasa kesal karena kesalahan yang dibuat sopir ini, hingga membuatnya jadi tidak bisa segera bertemu dengan Xavier.


“Maaf, Nyonya. Saya akan mencari pom mini terlebih dahulu. Nyonya tunggu saja di dalam,” ucap sang sopir, yang kini menghampiri ke arah majikannya.


“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama! Lebih baik aku naik taksi, atau minta jemput sopir yang lainnya,” sela Jane, sambil menepis tangan sopirnya yang hendak membukakan pintu mobil kembali.

__ADS_1


“Tapi Nyonya, di sini tidak ada sinyal. Sulit untuk menghubungi orang luar. Lagi pula, tidak ada taksi atau pun angkutan umum yang akan melewati tempat ini,” jelas sang sopir kembali.


Nyatanya, ucapan pria itu benar. Jane yang berusaha mencoba menghubungi melalui ponselnya pun kini harus menelan pil pahit tentang kenyataan yang ada.


“Sial! Seharusnya kamu tidak membawaku lewat sini!” omel wanita ini, yang masih saja melampiaskan kekesalannya pada sang sopir, karena nyatanya memang tidak ada sinyal di sini.


“Maaf. Tapi, sebaiknya Nyonya menunggu di dalam saja. Saya akan segera kembali setelah membeli bensin di rumah penduduk yang ada di dalam sana,” ujar pria ini sambil menunjuk ke arah belakangnya.


Jane mengintip ke arah yang dimaksud, sambil menyipitkan matanya. Memang terlihat ada beberapa rumah penduduk yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


“Baiklah, kita ke sana saja,” ujar Jane yang melangkahkan kakinya terlebih dahulu. Namun usahanya langsung dicegah oleh sang sopir.


“Nyonya, itu terlalu jauh. Nyonya bisa kelelahan sampai sana. Lagi pula, supaya cepat, biarkan saya saja yang mencarinya. Nyonya sabar saja di sini. Saya mohon. Saya berjanji akan segera membawa Nyonya menuju kantor, untuk menemui Tuan Xavier,” ucap pria tersebut yang berusaha meyakinkan.


Terlihat sorot mata yang memohon dari pandangan pria ini. Tentu hal ini membuat Jane merasa tak tega, dan akhirnya ia pun mengalah.


“Baiklah. Aku akan menunggumu. Sebaiknya kamu cepat kembali. Aku sedang buru-buru,” pinta wanita ini, yang mulai melunak emosinya.


Pria itu pun menganggukan kepala. Dia lalu membalikan badan, dan berlari sesegera mungkin menuju ke desa tempat yang ditunjuknya tadi.


Jane lagi-lagi harus menghela nafas. Dia berusaha menenangkan diri, dan memilih untuk masuk ke dalam mobil kembali.


Jena duduk di kursi penumpang, yang berada tepat di belakang pengemudi. Dia lalu merogoh kantong celananya, dan mengambil flashdisk tempatnya menyimpan data milik Jacob.


“Apapun yang terjadi, aku harus berhasil membawa ini kepada Xavier,” ujar Jane sambil menggenggam benda tersebut erat-erat.


Hingga tiba-tiba saja sebuah truk melaju kencang di sisi kiri Jane. Suara klaksonnya berbunyi kencang, menandakan peringatan untuk mobil yang menghalaunya.


Menyadari jika keberadaannya tidak aman, Jane berusaha membuka pintu mobil ini. Namun sayangnya, tiba-tiba saja mobil ini terkunci dan pintunya pun sulit untuk dibuka.


“Tidak, tidak. Aku tidak boleh berakhir di sini. Aku harus membawa ini kepada Xavier!!” teriak Jane di dalam mobil, sambil menarik handle pintu mobil berkali-kali. Dia begitu panik. Berharap kali ini nasib baik menghampirinya.


Tapi sayang, tiba-tiba saja ….


BRAK!!!


Mobil yang ditumpangi Jane tertabrak truk yang melaju kencang. Mobil pun terpental, terbang, berguling jauh berkali-kali. Jane yang masih berada di dalam mobil pun merasa pusing ketika mobil berguling. Ingatan Vanessa dan dirinya pun kini terlintas, bercampur, tak jelas.


Mobil ini pun berhenti di sisi jalan, dengan rangka body yang remuk, dan kaca yang sudah pecah. Kepala Vanessa pun mulai mengeluarkan darah karena benturan kaca di sampingnya. Tubuhnya pun terasa sulit untuk digerakan.


Dan ketika wanita ini berusaha membuka matanya perlahan, dia pun melihat seseorang yang mendekat ke arah jendela. Ingatan Jane yang bercampur dengan ingatan Vanessa pun kini menyadari sesuatu.


‘Aku … bertemu dengan Vanessa?’ batinnya saat melihat wanita yang berteriak histeris, sambil berusaha menyelamatkan Vanessa di dalam mobil ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2