
“Tanggal berapa sekarang?” tanya Jane tiba-tiba. Jelas pertanyaan ini membuat nelayan itu bingung. “Maaf, bisakah Anda hanya menjawabnya? Tahun berapa sekarang??” tanya Jane kembali.
Sang nelayan refleks memberi tahu tanggal saat ini. Nyatanya Jane hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja usai dirinya dibuang dan ditenggelamkan ke laut oleh Jacob. Padahal Jane merasa bahwa dirinya sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan hidup sebagai Vanessa.
Semakin pusing dengan keadaan ini, Jane berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. ‘Apa yang kualami … semuanya hanya mimpi?’ Jane masih saja bertanya-tanya dalam batinnya.
Namun perlahan, ingatannya yang sempat hilang akhirnya muncul. Jane nyatanya dulu memang pernah menyelamatkan seseorang dari kecelakan. Wanita yang diselamatkannya nyatanya tewas ketika sampai di rumah sakit. Hal ini membuat Jane merasa trauma, dan malah melupakan kejadian naas tersebut.
“Vanessa … aku … benar-benar bertemu dengannya!” ucap Jane ketika menyadari kejadian tersebut.
Jane jadi ingat tentang benda yang dititipkan Vanessa padanya. Dia pun langsung meminta pada nelayan tersebut, untuk membawanya pulang menuju ke rumahnya.
“Aku mohon, bantu aku, Tuan. Antarkan aku pulang ke rumah,” pinta Jane.
Nelayan itu jelas kebingungan dengan sikap Jane yang dari tadi begitu aneh. Namun melihat keadaan wanita ini yang penuh luka, dia pun berusaha membujuk Jane terlebih dahulu.
“Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit terlebih dahulu. Lukamu, perlu diobati,” ucap pria ini memberikan tawarannya.
“Tidak, aku tidak punya waktu lagi. Aku harus memberikan bukti penting untuk majikanku. Aku mohon, bantu aku, Tuan,” ujar Jane yang lagi-lagi memohon.
Hingga akhirnya, nelayan itu pun luluh juga. Dia lalu segera menyiapkan mobil pick up nya, untuk mengantarkan Jane menuju ke rumahnya.
Selama perjalanan, Jane terus saja memikirkan kejadian-kejadian yang dialaminya. Dia berusaha mengingat tentang pertemuan awalnya dengan keluarga Xavier, saat dirinya mendaftar sebagai pelayan di sana.
Rasanya itu memanglah sebuah takdir yang membuatnya harus membantu untuk membongkar tentang kelakuan bejat Alexa dan Jacob, serta kematian Vanessa yang dianggap Jane terlalu mendadak.
‘Aku yakin kematian Vanessa hanyalah rekayasa. Aku yakin, dalang dari semua ini adalah Jacob! Aku harus menemukan bukti yang pernah Vanessa titipkan padaku,’ ucap Jane dengan teguh di dalam hatinya.
Hingga sampailah Jane di depan kediamannya. Dia lalu buru-buru mengucapkan terima kasih pada nelayan yang mengantarnya, dan segera masuk ke dalam rumah, untuk mencari barang bukti yang sudah lama ia lupakan.
__ADS_1
Jane langsung membongkar-bongkar mencari data-data bukti kejahatan Jacob. Sampai akhirnya dia menemukan file tersebut yang dia simpan rapat di kotak yang ada di dalam lemarinya.
“Kenapa aku bisa melupakan benda ini? Bahkan aku melupakan permintaan terakhir Nyonya Vanessa,” gumam Jane saat menemukan benda yang dicarinya itu.
“Aku harus segera menghubungi Tuan Xavier. Dia harus melihat titipan istrinya,” gumam Jane yang akhirnya segera menghubungi Xavier, melalui telpon rumahnya.
“Selamat malam Tuan Xavier, ini aku Jane, tapi jangan sebut namaku. Aku butuh bantuanmu,” ujar Jane dengan buru-buru, membuat Xavier bingung.
Jelas saja Xavier merasa bingung karena dari tadi dia tidak melihat pelayannya ini di rumahnya. Apalagi Jane bilang jika dia tidak mengijinkan namanya disebut. Jelas hal tersebut membuat Xavier merasa ada yang tidak beres.
“Di mana kamu? Aku mencarimu dari tadi. Apa kamu … baik-baik saja?” tanya Xavier yang terdengar mengkhawatirkan keadaan Jane.
Entah mengapa, hal ini nyatanya membuat Jane merasa cukup senang. Seolah majikannya itu menantikan kabar darinya. Namun dengan cepat Jane menepis rasa senangnya. Bukan waktunya untuk merasa tersentuh saat ini. Ada yang lebih penting dari perasaannya terhadap Xavier. Pikir Jane.
“Tuan, aku minta Anda segera ke mobil sekarang juga, sendirian. Tanpa sepengetahuan Nyonya Alexa, ataupun Tuan Jacob,” ujar Jane yang semakin membuat Xavier mengernyitkan dahinya.
“Ayolah, Tuan! Turuti saja permintaanku. Aku akan menjelaskannya saat Anda sudah berada di dalam mobil sendirian,” sahut Jane kembali.
Mau tak mau, karena merasa penasaran dengan ucapan pelayan kepercayaannya itu, Xavier pun akhirnya memutuskan untuk keluar rumah dan memasuki mobilnya.
“Sudah. Aku sudah di dalam mobil. Sekarang cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Xavier kini mempertegas ucapannya, karena dia tidak ingin dipermainkan oleh pelayannya ini.
“Tuan, aku punya bukti yang pernah Nyonya Vanessa titipkan padaku. Aku rasa, Anda harus mengetahuinya. Dan ini berkaitan pula dengan saudara Anda, Tuan Jacob, serta istri kedua Anda, Nyonya Alexa,” jawab Jane memberikan penjelasannya.
Mendengar nama Vanessa kembali disebut, Xavier jelas terkejut. Dia bahkan tak menyangka, jika Jane mengetahui tentang istri pertamanya itu.
“Ka-kamu … mengenal Vanessa? Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?!!” teriak pria ini, yang jadi tak terkontrol emosinya.
“Sebaiknya Tuan segera ke tempatku. Ke rumahku. Ceritanya cukup panjang. Aku akan menceritakannya langsung pada Tuan, dan memberikan flashdisk berisi data ini kepada Anda. Pastikan Tuan membawa laptop untuk mengeceknya langsung,” tambah Jane yang tak lupa memberikan alamat rumahnya sebelum akhirnya mematikan panggilannya barusan.
__ADS_1
Xavier yang terpancing dengan pernyataan Jane barusan, segera menjalankan mobilnya menuju ke kediaman pelayannya itu. Dia sudah tak sabar mendengar cerita langsung dari wanita ini.
Tak butuh waktu lama, Xavier sudah berada di depan rumah Jane dan langsung menggedor-gedor pintu kayu itu. “Jane!! Buka pintunya!! Cepat katakan apa maksudmu barusan?!” teriak pria ini yang sudah merasa tak sabar.
Jane segera membuka pintu. Xavier yang tadinya emosi, tiba-tiba berusaha meredakan emosinya karena terkejut melihat keadaan Jane yang terlihat babak belur.
“Jane?? Apa yang terjadi padamu??” tanya pria ini penasaran.
“Masuklah, Tuan. Aku akan menceritakannya,” jawab Jane yang melebarkan pintu masuk rumahnya, dan mempersilahkan Xavier untuk segera masuk.
Xavier benar-benar dibuat bingung. Namun ia menuruti ucapan Jane, untuk segera masuk dan mendengarkan cerita dari pelayannya ini.
Jane pun akhirnya bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Bagaimana kejamnya Jacob, dan perselingkuhan Alexa serta saudara sepupunya.
Sungguh, mendengarnya saja membuat Xavier merasa geram. Dia tidak ingin mempercayainya, namun dia teringat ketika Vanessa dulu pernah memperingatkannya tentang sikap kedua orang itu.
“Anda bisa mengecek data yang ada di flashdisk ini. Aku rasa, Nyonya Vanessa juga ingin memperlihatkan bukti kejahatan saudara Anda, Tuan,” ujar Jane sambil memberikan benda mungil berwarna merah itu.
Xavier pun akhirnya segera memasang flashdisk tersebut ke laptop yang dibawanya. Nyatanya, dia menemukan data pencucian uang perusahaannya yang sudah berlangsung lama.
“Sialan! Jadi … selama ini … dia menyalurkan dana ke perusahaan cangkang? Benar-benar tidak masuk akal! Bisa-bisanya dia mengkhianati saudara sendiri!” seru Xavier geram.
Selain salinan tersebut, nyatanya di folder lain dalam isi flashdisk tersebut, Xavier menemukan beberapa salinan foto serta video panas Jacob dan Alexa.
Salah satu video yang tak sengaja dia buka pun terdengar percakapan mereka yang hendak mencelakai Vanessa, supaya Alexa bisa menjadi istri Xavier. Dalam rekaman tersebut, Jacob bahkan menyatakan rencananya, untuk segera menyingkirkan Vanessa bagaimanapun rencananya.
Jelas hal ini membuat Xavier naik pitam. Dia tak habis pikir jika Jacob dan Alexa lah dalang di balik ini semua. “Bajingan!! Kurang ajar!! Aku akan membunuh mereka berdua!! Aku tidak bisa diam saja!” teriak Xavier sambil menggebrak meja.
Bersambung…
__ADS_1