
Pelayan rumah ini pun langsung membukakan pintu. Lalu mempersilahkan tamu yang datang itu untuk segera memasuki rumah ini.
Betapa terkejutnya Jane ketika melihat sosok yang baru saja mendekat ke arahnya itu. Dia pun mendelik, merasa ketakutan sendiri saat melihat wanita tersebut.
“A-Alexa??” ujar Jane yang langsung berdiri memandang Alexa dengan mata mendelik.
“Vanessa, aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku … aku benar-benar tidak tahu soal pria itu. Aku sudah mencari tahu tentang pria itu tapi pihak hotel juga tidak mengetahui siapa orang itu. Tapi kamu tenang saja, aku pasti akan menemukannya. Kita pasti bisa menghukum orang itu,” ungkap Alexa yang terlihat ketakutan sambil meraih tangan sahabatnya itu.
Alexa pun kini menundukan kepala. Dia tiba-tiba terdiam, lalu meneteskan air matanya. Tubuhnya terguncang. Wanita ini terlihat bersedih. Jelas sikapnya itu membuat Jane jadi semakin bingung.
‘Apa … wanita ini benar-benar tidak tahu tentang pria kemarin?’ batinnya jadi ragu sendiri dengan asumsinya sebelumnya.
“Aku benar-benar minta maaf … Aku harap kamu percaya padaku, dan memaafkanku. Aku sudah berusaha protes dengan pihak hotel. Aku sudah berusaha mengurusnya. Jika aku tahu hotel itu bermasalah, tentu aku tidak akan mengajakmu menginap di sana," ujar Alexa penuh dengan rasa penyesalan sambil terus menggenggam erat tangan Vanessa.
Air mata wanita ini terlihat terus berderai. Tubuhnya bergetar. Jika dikatakan ini hanya akting belaka, maka Alexa patut untuk mendapatkan piala citra.
Hanya saja, hal ini nyatanya mampu membuat Jane jadi merasa iba. Dia pun jadi semakin bertanya-tanya dengan keadaannya saat ini.
“Apa itu … benar?” gumamnya tak sengaja mengeluarkan suara.
"Tentus aja itu benar, Vanessa. Apa kamu tidak mempercayaiku? Apa kamu tidak akan memaafkanku? Jika perlu, aku akan berlutut sebagai bentuk permintaan maafku padamu. Aku benar-benar minta maaf padamu, Vanessa. Ini semua salahku," lanjut Alexa yang kemudian beranjak hendak berlutut di kaki sahabatnya ini.
Jane pun dengan cepat langsung mencegahnya. "Hey! Hentikan ini Alexa! Kamu tidak perlu melakukan hal ini. Maafkan aku. Maaf aku telah berpikiran yang tidak-tidak tentangmu. Aku … aku hanya merasa terguncang dan kesal. Maafkan aku juga,” ujar Jane yang akhirnya mau menerima permintaan maaf Alexa.
Alexa nampak tersenyum senang dan segera menghapus air matanya. Dia lalu memeluk erat Vanessa dan mengungkapkan rasa senangnya itu.
“Terima kasih Vanessa. Ah! Aku lupa. Aku ke sini juga sambil membawakan beberapa hadiah untukmu. Anggap saja ini sebagai permohonan maafku," ujar Alexa sambil menyodorkan satu tas berisi hadiah untuk sahabatnya.
Jane yang merasa bingung, kini berusaha memasang senyuman sambil menerima benda pemberian dari Alexa. “Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini,” ujarnya merasa tak enak hati.
“Tidak apa. Oh, iya. Hari ini kamu sedang senggang kan? Bagaimana kalau kita pergi mengunjungi mama mertuamu?" usul Alexa tiba-tiba dengan wajah antusiasnya.
__ADS_1
"Apa? Mengunjungi mama? Kenapa?” Jane justru terkejut mendengarnya.
Memang, sejak mereka menikah, mereka berdua belum mengunjungi mertuanya lagi. Karena kebetulan Xavier juga sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi Jane tahu betul bagaimana galaknya ibu Xavier saat dirinya menjadi pelayan keluarga ini.
"Aku sudah lama tidak mengunjunginya lagi. Dulu setiap satu bulan sekali aku selalu berkunjung ke sana. Jadi aku berencana mengunjunginya hari ini, kamu bisa kan temani aku?" pinta Alexa kembali merengek pada Vanessa.
Mendengar rengekan Alexa, membuat Jane terdiam sejenak untuk menimang-nimang apakah dia akan menyetujui usulan wanita itu atau tidak.
Namun karena Alexa terus memaksanya, mau tak mau, Jane pun menyetujuinya.
"Baiklah, aku … akan menemenanimu. Aku juga belum mengunjunginya lagi," ucap Jane dengan perasaan yang mendadak jadi was-was.
“Kalau begitu, kamu segera ganti baju. Kamu tahu sendiri kan, jika Ibunya Xavier itu tidak suka dengan penampilan yang biasa. Nanti yang ada, dia akan menceramahi kita lagi," ucap Alexa sambil terkekeh mengatakannya.
Jane pun jadi ingat kembali tentang wanita paruh baya itu. Memang betul jika orang tua Xavier tersebut selalu memperhatikan setiap detail penampilan seseorang. Wanita itu memang begitu perfeksionis.
“Sepertinya kamu memang lebih mengenal keluarga Xavier,” sindir Jane tiba-tiba mengucapkan hal ini, sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Alexa yang mendengar hal itu, jelas jadi merasa salah tingkah sendiri. Dia tak menyangka sahabatnya yang biasanya ramah, kini kembali bersikap dingin padanya.
Baru kali ini Vanessa menunjukan rasa tak sukanya pada Alexa, tentang kedekatannya dengan suaminya. Hal ini jelas membuat Alexa jadi merasa bersalah.
“Mmm … bukan begitu maksudku … Vanessa, ka-kamu kan tau, jika aku dan Xavier sudah berteman lama. Keluarga kami memang sudah dekat. Jadi … tentu aku tahu tentang keluarganya. Apa kamu … cemburu?" tanyanya menelisik.
"Tidak. Aku tidak merasa cemburu. Aku malah merasa beruntung. Karena sahabatku begitu dekat dengan keluargaku," ucap Jane yang kini kembali merespon dengan senyuman santai.
Jane pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Dia segera mencari pakaian terbaik yang dimiliki Vanessa untuk memberikan penampilan yang sesuai dengan orang tua Xavier.
Saat sedang berdandan, Jane pun berusaha mengumpulkan rasa percaya dirinya. Dia menatap cermin, sambil bergumam. “Aku yakin aku bisa mengambil hati Nyonya Besar,” ucapnya sambil menganggukan kepala.
__ADS_1
Tak lama, Jane keluar dari kamar utama. Lalu ia kembali menghampiri Alexa. “Ayo, kita pergi sekarang,” ajaknya terlihat begitu percaya diri.
Kedua wanita itu pun bergegas pergi menuju kediaman rumah orang tua Xavier. Jane berusaha bersikap ramah kepada Alexa, karena merasa wanita ini memanglah sahabat baik dari Vanessa.
Setelah sampai di kediaman keluarga Xavier, Jane dan Alexa pun kini turun dari mobil. Tepat saat sampai di rumah tersebut, tiba-tiba Xavier menelpon Vanessa.
"Sayang, apa kamu di rumah? Mau makan siang bersama?" usul Xavier yang ingin mengajak makan siang berdua demi mengeratkan hubungan mereka kembali.
"Tidak, aku sedang di luar bersama Alexa," jawab Jane sambil turun keluar dari mobil.
"Oh, kalian sedang pergi ke mana memangnya?" tanya Xavier menelisik.
Namun mengetahui istrinya sudah mau berpergian lagi dengan Alexa, jelas membuat Xavier merasa cukup lega.
Dia bahkan mengira, jika mungkin saja kedua wanita itu sedang memperbaiki hubungan yang sempat merenggang karena salah paham akibat kejadian tempo hari.
"Ke rumah mama," Jane menjawab singkat.
Senyum di wajah Xavier pun mendadak redup. Matanya terbelalak membulat sempurna.
"Mama? Mama siapa maksudmu?" tanya Xavier berusaha memastikan kembali ucapan istrinya barusan.
"Tentu saja Mama-mu. Orang tuamu," sahut wanita ini sambil menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Xavier yang terdengar begitu terkejut.
"Tunggu! Vanessa? Sebenarnya ada agenda apa kamu ke sana? Kenapa tidak bilang padaku dulu?!"
Jujur saja, saat ini Xavier jadi panik sendiri. Dia tidak menyangka jika istrinya–Vanessa, berani menemui orang tuanya sendiri tanpa dirinya.
Padahal seharusnya Vanessa tahu betul, jika orang tuanya Xavier–terutama ibunya–sangat tidak menyukai wanita tersebut.
Bersambung…
__ADS_1