
Jane jelas merasa bingung harus bagaimana menjelaskannya. Dia lalu sengaja memeluk tubuh Xavier erat, dan mengalihkan pembicaraan mereka.
“Aku senang, kita bisa melakukannya,” ucapnya pelan.
Hal ini jelas membuat Xavier tersenyum. Dia merasa senang karena akhirnya Vanessa mulai membuka diri padanya, dan tidak lagi bersikap dingin seperti sebelumnya.
Namun tiba-tiba ingatan perasaan Jane merasa jadi tak tenang ketika mengingat tentang Jacob. Dia yakin jika pria tersebut sebenarnya ingin bertindak buruk pada Vanessa.
Tak ingin hal tersebut terjadi lagi, akhirnya Jane pun memberi tahu tentang ketakutannya itu pada Xavier. Dia merasa perlu perlindungan dari pria ini.
“Xavier. Bisakah kamu menyingkirkan Jacob dari sini? Sebaiknya, kamu berhati-hati dengannya,” ucap Jane memberi tahu.
Wanita ini mendongakan kepala, memandang wajah Xavier. Namun Xavier terlihat bingung dengan perkataan istrinya barusan.
“Memangnya … kenapa?” tanya Xavier yang membalas tatapan istrinya.
“Ja-Jacob … Dia … berusaha melakukan hal buruk padaku. Aku yakin dia sebenarnya tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia bahkan bisa menyakiti kamu nantinya, mengkhianatimu,” jelas Jane yang berusaha meyakinkan pria di dekapannya itu.
Sayangnya, hal itu tak membuat Xavier tak langsung mempercayainya.
"Jacob? Vanesa, kenapa kamu bisa langsung menuduh Jacob seperti itu? Dia itu sepupuku. Saudaraku sendiri. Dia bahkan selalu membantu pekerjaanku. Jadi, dia tidak mungkin melakukan hal buruk apalagi sampai mengkhianatiku,” balas Xavier yang tidak bisa terima dengan ucapan Vanessa barusan.
“Tapi dia itu kejam, Xavier. Dia bahkan … dia …,” Jane tak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya kelu, apalagi jika mengingat bayangan akan ingatan Vanessa ketika Jacob hendak memperkosanya. Rasanya sulit untuk mengungkapkan hal itu pada Xavier.
Jane pun kini kembali membenamkan wajahnya di dada Xavier. Dia ingin sekali mengatakan sejujurnya tentang tingkah laku saudara sepupu pria ini. Tapi nyatanya tetap saja tidak bisa. Dia hanya bisa memeluk Xavier erat, dan hatinya terus saja merasa berkecamuk.
“Vanessa, aku mohon, jangan menuduh orang sembarangan. Lagi pula, memangnya kamu punya bukti jika Jacob itu melakukan kejahatan pada kita?” tanya Xavier yang masih saja tidak ingin langsung termakan oleh ucapan istrinya itu.
Hal ini semakin membuat Jane merasa sedih, karena nyatanya pria ini tetap tidak mempercayai ucapannya. Namun tetap saja, rasanya dia tidak mau terlibat dengan Jacob kembali.
“Aku mohon … penuhi permintaanku ini. Aku hanya ingin kamu menyuruh Jacob pindah dari tempat kita. Aku tidak nyaman, jika dia terus di sini,” ujar Jane yang mengatakan hal jujur tentang perasaannya.
__ADS_1
Sayangnya, Xavier tetap saja tidak mau mendengarkan permintaan istrinya.
“Aku tidak bisa melakukannya, Vanessa. Dia itu saudaraku sendiri. Mana mungkin aku tega mengusirnya. Lagi pula, alasanmu itu tidak mungkin terjadi,” sahut Xavier yang masih saja tak percaya dan mempertahankan keputusannya.
Jane pun melepaskan pelukannya. Dia menatap Xavier dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Lalu ia pun mulai melampiaskan amarahnya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Aku tidak peduli kamu mau percaya dengan penjelasanku atau tidak! Itu semua hakmu! Tapi … aku mohon padamu … tolong kabulkan itu. Aku hanya ingin kamu mengabulkannya. Apa itu sangat sulit untukmu? Aku benar-benar tidak ingin berada di satu rumah dengannya!" rengek Jane dengan penuh emosional.
Sungguh, hal ini membuat Xavier menjadi dilema. Dia jelas tidak tega melihat istrinya yang malah jadi menangis dan emosi seperti ini. Tapi tetap saja, rasanya sulit jika harus mengusir saudara sepupunya itu, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
Jacob yang saat ini sedang berdiri menenangkan diri di luar rumah, mendapatkan telepon dari Alexa. Dia memperhatikan layar ponselnya sekilas.
“Cih! Menyebalkan sekali. Aku yakin dia akan memakiku karena rencana yang sudah kubuat ini gagal,” gumamnya yang jadi merasa kesal sendiri.
Dering suara ponsel terus saja berbunyi. Membuat Jacob jadi merasa semakin kesal dan akhirnya dengan malas dia menjawab panggilan wanita yang sedang meneleponnya itu.
"Lama sekali sih jawab panggilanku! Apa kamu sudah melakukannya? Kamu … sedang bercinta dengan Vanessa? Makanya kamu jadi mengabaikanku?" Alexa malah jadi penasaran dengan hal ini.
“Dasar pengganggu!’ Jacob menjawab sembarangan. Dia bahkan tidak menjawab dengan benar pertanyaan yang barusan diajukan Alexa.
“Jadi, benar? Kamu berhasil menidurinya? Apa Xavier tahu tentang rencana ini?" tanya Alexa yang semakin antusias mendengar laporan dari rekan se-frekuensinya itu.
“Persetan dengan itu semua! Vanessa benar-benar tidak bisa diatur! Rencanaku gagal gara-gara wanita itu melawan. Bagaimana bisa dia menjadi seberani itu? Bukankah dia sangat lemah dulu?” Jacob mulai mengakui keadaannya. Hal ini jelas membuat Alexa jadi merasa sangat kecewa dengan rekan kerja samanya ini.
"Apa?! Jadi rencanamu gagal?! Bukankah kamu bilang, jika rencanamu pasti berhasil seratus persen?? Kenapa sekarang malah gagal?? Apa kamu sedang mempermainkan kerja sama kita?!” sentak Alexa yang mulai marah-marah setelah mendengar kata gagal dari Jacob.
"Dia tiba-tiba kabur. Padahal jelas-jelas aku sudah memberikan obat perangsang itu pada Vanessa, dan dia sudah meminumnya. Ditambah Xavier tiba-tiba pulang cepat. Semua rencanaku gagal! Xavier yang malah jadinya menikmati tubuh Vanessa!” jelas Jacob meluapkan rasa kesalnya.
"Apa kamu bilang?! Me-mereka … sudah melakukannya??” teriak Alexa tak terima.
__ADS_1
Alexa sangat tercengang dengan kabar ini. Tentu dia merasa tak ingin Xavier disentuh oleh wanita lain. Apalagi wanita itu Vanessa, sahabat yang sangat dibencinya.
“Ini semua salahmu! Kenapa tidak dari dulu kamu mencegah mereka supaya tidak menikah?!” Jacob kini malah melampiaskan kekesalannya pada Alexa. Jelas hal ini membuat Alexa semakin tak terima dengan sikap Jacob.
“Heh! Asal kamu tahu saja ya! Aku itu sudah berusaha menjauhkan Vanessa dari Xavier! Tapi nyatanya dia masih saja selamat dan bisa menikah dengan Xavier. Aku bahkan sampai meminta bantuanmu karena janjimu! Ternyata semua palsu! Dasar tidak becus! Ucapanmu hanya omong kosong saja!" maki Alexa dengan perkataan pedasnya, membalas sikap Jacob yang telah memojokkannya.
Siapa yang tak kesal? Jacob sudah berjanji pada Alexa dengan mulut manisnya. Namun nyatanya, dia tidak juga bisa memisahkan Xavier dan Vanessa.
"Hei, jangan lupa kalau kamu sendiri juga selalu gagal! Kalau tidak, buat apa kamu memintaku bekerja sama? Berarti kamu juga sama tidak becus nya Alexa!" amuk Jacob yang tidak terima di maki oleh Alexa.
"Hish, sudahlah. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Mereka sudah terlanjur tidur bersama. Aku ingin Xavier bisa tidur bersamaku!! Jika perlu sampai aku hamil!" ucap Alexa menyebutkan ide gilanya. Jacob mendelik kaget mendengar ucapan Alexa.
"Kamu gila?! Kamu terlalu berlebihan Alexa. Rencana sederhana yang kamu busat saja tidak pernah berhasil, apalagi sebesar ini sampai kamu harus hamil. Mana mungkin Xavier mau melakukannya denganmu. Kamu itu sahabat istrinya! Ingat itu!" ucap Jacob meremehkan keinginan Alexa. Dia bahkan mengingatkan Alexa dengan kenyataan yang ada.
"Aku tidak peduli mau kamu anggap gila atau berlebihan! Aku hanya ingin mendapatkan Xavier kembali ke tanganku! Makanya aku membutuhkan bantuanmu! Kamu harus membantuku Jacob!" teriak Alexa yang kembali meminta permohonannya dikabulkan oleh Jacob.
Jacob berusaha menenangkan diri. Dia jelas merasa tak ingin gagal dan berharap mendapatkan keinginannya lebih. Hingga akhirnya Jacob pun mau untuk menyanggupi keinginan Alexa kembali.
“Baiklah. Aku akan membantumu lagi. Tapi ingatz kamu tidak boleh lupa dengan perjanjian kita!" tegas Jacob mengingatkan kembali perjanjian mereka berdua
"Tidak perlu kamu ingatkan! Aku tidak akan kabur dari janjiku!" Alexa dengan percaya diri mengatakan hal ini. Dia sudah tak berpikir panjang lagi, karena tujuannya kali ini benar-benar untuk mendapatkan Xavier ke sisinya.
Alexa benar-benar ingin Xavier bisa tidur dengannya, dan menghamilinya. Dia bahkan sudah tidak peduli apakah ide nya dianggap terlalu gila atau berlebihan.
Karena dirinya sudah dibutakan akan cintanya pada Xavier. Keinginannya untuk merebut Xavier sangatlah kuat.
Alexa juga yakin, Vanesa tidak akan menoleransi suaminya itu, jika tahu ternyata Xavier tidur dengan sahabatnya sendiri. Dengan begitu kondisi psikis Vanesa pasti akan kena, pikir Alexa.
Sehingga hal itu membuat Vanesa membencinya karena menganggap sudah mengkhianatinya. Dengan begitu, mereka berdua akan segera berpisah.
'Dengan begini, Vanessa pasti akan membenci Xavier, karena dianggap sudah mengkhianatinya. Aku yakin setelah ini Xavier pasti akan didepak oleh Vanesa. Dan aku akan mengisi posisi sebagai Nyonya Xavier,' batin Alexa sambil tersenyum puas membayangkan rencananya, jika berhasil.
__ADS_1
Bersambung…