Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 7


__ADS_3

Jane kini memutar otaknya ketika Xavier mengajaknya tidur bersama. Dia tentu perlu mempersiapkan alasan supaya tidak tidur bersama dengan pria yang dikenalnya sebagai majikan itu.


Jane berusaha untuk menghindari pria itu, karena dia masih merasa canggung jika harus berduaan dengannya apalagi berada di dalam kamar bahkan kasur yang sama.


Sesungguhnya, sikap Vanessa saat ini sangatlah mengganggu Xavier. “Aku bisa paham jika kamu tidak bisa melakukannya karena sedang haid. Tapi apa iya, kamu tidak mau tidur bersamaku di atas ranjang yang sama? Kita itu sudah menikah Vanessa!” amuk Xavier dengan perasaan kecewanya.


Jane terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Memang aneh jika pengantin baru malah meminta untuk berpisah ranjang hanya karena dirinya sedang haid dan tak ingin membuat suaminya terganggu dengan keadaannya itu.


Xavier mendengus kesal. Dia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sebagai suami dan kekasih yang baik, pria ini tentu tidak mau memaksakan kehendaknya terhadap orang yang dicintainya itu.


Hingga akhirnya, Xavier mengalah. Dia lalu mencoba menerima keputusan istrinya saat ini.


“Baiklah, terserah kamu saja,” ucapnya pelan.


Xavier yang kecewa pun akhirnya meninggalkan Vanessa yang ingin tidur di ruang tengah. Dia melangkahkan kakinya dan memilih pergi masuk ke dalam kamarnya.


Jane yang melihat raut wajah kecewa Xavier pun jadi merasa tak enak hati. Tapi mau tak mau Jane membiarkan pria tersebut bergelut dengan rasa kecewanya.


“Maafkan aku Tuan Xavier …,” gumamnya pelan, sambil memandangi punggung pria yang semakin menjauh dari hadapannya.


Meskipun tubuhnya sekarang bukan tubuh dia yang sesungguhnya, Jane tetap merasa bukan hak nya untuk disentuh Xavier.


Jane masih merasa bahwa Xavier adalah majikannya sendiri dan dirinya tak pantas berduaan dengan pria tersebut.


Tak lama kemudian ponsel Jane berbunyi. Wanita ini segera meraih ponsel yang ada di saku celana piyamanya. Dia memandangi layar ponselnya. Terlihat nama Alexa di sana. Jane pun mengernyitkan alisnya bingung.

__ADS_1


“Kenapa dia meneleponku lagi?” komentarnya saat melihat nama wanita yang tidak disukainya itu.


Namun akhirnya Jane memilih mengangkat panggilan tersebut. Dia tentu ingin mengetahui apa tujuan Alexa saat menelponnya.


"Halo Alexa. Ada apa?" tanya Jane yang berusaha bersikap normal, meski dia tetap saja merasa penasaran dengan Alexa.


"Vanessa? Apa kamu sibuk? Aku ingin mengobrol denganmu," sahut Alexa.


"Tidak, aku hanya sedang bersantai. Memangnya ada apa? Apa yang ingin kamu obrolkan denganku?" Jame berusaha menelisik.


“Justru aku ingin mendengar cerita darimu. Kamu tahu sendiri kan, kalau kamu adalah teman baikku satu-satunya. Aku kesepian karena kamu sudah menikah. Apa sekarang … kamu terganggu dengan panggilanku?” Alexa sengaja berbicara manja demi mendapatkan simpati sahabatnya itu.


“Tentu saja tidak. Apa kamu ingin ke sini? Kita bisa mengobrol di sini. Di rumah …ku.” Jane nampak ragu saat menyebutkan kepemilikan rumah ini, karena rumah ini adalah milik Xavier.


Sengaja Jane mengajak wanita tersebut untuk datang ke rumah tersebut karena dia tak ingin Xavier berpikir macam-macam tentangnya. Jika ada Alexa di sini, paling tidak, Xavier pasti bisa memakluminya bukan? Pikir Jane.


“Hmm … mana mungkin aku ke sana? Nanti yang ada aku jadi obat nyamuk kalian,” sahut Alexa sembari memikirkan ide untuk menjalankan rencananya selanjutnya.


“Tentu saja tidak. Aku akan menemanimu. Lagi pula, aku … belum terbiasa tidur bersama Xavier,” jawab Jane jujur. Dia bahkan tak tahu kenapa dirinya selalu saja berkata jujur pada Alexa.


Mendengar hal ini, Alexa pun menganga lebar, merasa terkejut sekaligus senang. “Jadi kalian benar-benar belum melakukannya? Apa Xavier tidak marah padamu?” Alexa merespon dengan pura-pura terkejut.


Jane terdiam sejenak. Dia mengingat kembali reaksi Xavier padanya tadi. “Yah … dia pasti sedang marah,” sahutnya merasa tak enak sendiri pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


“Wah! Sebenarnya ada apa denganmu Vanessa? Kenapa kamu tidak langsung melakukannya dengan Xavier? Bukankah sebelum menikah kamu sangat menginginkan tubuh suamimu itu?" sindir Alexa sambil terkekeh menyindir sahabatnya itu.

__ADS_1


Sejujurnya, Alexa sangat senang mendengar hal ini. Dalam benaknya, Alexa bahkan jadi ingin menggantikan peran Vanessa untuk melayani Xavier di atas ranjang.


Jane pun tak menjawab kembali. Dia hanya mengigit-gigit bibir bawahnya, sambil menoleh ke arah pintu kamar Xavier. ‘Aku harus bagaimana? Apa iya, aku harus melakukannya malam ini?’ batin wanita ini dengan perasaan bersalah.


Saat Jane berusaha menimang-nimang keputusannya kembali, tiba-tiba Alexa membuyarkan lamunannya. “Oh, iya! Jadi bagaimana? Apa kamu sudah mengatakan pada Xavier tentang voucher hotel yang aku berikan itu? Siapa tahu kalian bisa menikmati malam pertama di sana, tanpa rasa canggung,” oceh Alexa.


Jane yang terbuyarkan lamunannya, kini jadi memikirkan kembali hadiah pemberian Alexa tempo hari. “Mm … i-itu … aku … belum memberi tahu padanya.” Wanita ini bingung sendiri menanggapinya.


"Memangnya kenapa? Apa Xavier sibuk sampai kamu tidak bisa berbicara padanya juga?" tanya Alexa menelisik lebih lanjut. Dia juga ingin tahu bagaimana hubungan mereka berdua akhir-akhir ini.


“Bu-bukan begitu. Hanya saja … seperti yang aku bilang tadi. Aku … masih belum siap,” jawab Jane kembali.


“Hmmm … jadi, kamu benar-benar belum berani juga melakukannya? Meski sudah aku sediakan hotel privat di Pulau Bali?”


Jane masih terdiam. Dia ragu memberikan jawaban.


“Ayolah, di sana tidak akan ada yang mengganggumu Vanessa. Mungkin saat ini kamu tidak nyaman melakukannya karena berada di rumah Xavier yang punya banyak pelayan riwa riwi di dalamnya. Tapi di hotel tempat menginapmu itu aku pastikan privasi kalian terjaga. Tidak ada yang akan mengganggu kalian. Jadi cobalah,” masih saja Alexa membujuk Jane, meski sebenarnya wanita ini punya maksud lain untuk menjalankan rencananya yang sesungguhnya.


“Entahlah. Aku … benar-benar tidak bisa bicara dengan Xavier. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Tapi … apa aku boleh menggunakan voucher hotel itu untuk diriku sendiri? Sepertinya aku butuh ruang untuk memikirkan peranku saat ini,” ujar Jane yang lagi-lagi berkata jujur.


Dia ingin memanfaatkan hadiah dari Alexa untuk dirinya sendiri supaya dirinya bisa memikirkan apa-apa saja yang harus dia lakukan dalam menjalankan perannya sebagai Vanessa.


Mendengar hal ini, Alexa malah menawarkan diri untuk menemaninya. “Bagaimana jika kita menginap bersama? Kamu bisa menceritakan padaku segala permasalahanmu atau apapun yang ingin kamu ceritakan padamu saat kita staycation bersama di sana. Aku akan memberi tahu Xavier jika kamu masih tidak berani berbicara padanya,” sahut Alexa memberikan solusi.


Jane tadinya ragu dengan ide Alexa. Hanya saja, dia merasa bahwa ini mungkin saja bisa menjadi kesempatan baginya untuk mencari tahu tentang sifat Alexa yang sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2