
Jane berusaha untuk berbaur dalam pesta kecil yang diadakan untuk Jacob. Mereka semua berkumpul di meja yang sama, sambil menyiapkan menu barbeque yang sedang dibuat.
“Sepertinya minuman kita kurang. Aku akan mengambil dan menyiapkan wine untuk kalian semua. Sebaiknya kalian tunggu saja di sini,” ujar Jacob tiba-tiba yang memutuskan memisahkan diri sejenak dari gerombolan ini.
Xavier mengangguk, tanda menyetujui. Alexa pun juga ikut antusias dengan senyuman sumringahnya dan menyuruh Jacob supaya segera mengambil minuman spesial itu.
Namun tidak dengan Jane. Dia merasa perlu mencurigai setiap gerak gerik baik dari Jacob maupun Alexa. Hanya saja, kali ini sikap Jacob yang menjadi sorotan Jane. Jane pun kini segera membuntuti Jacob saat pria itu sedang berjalan menuju ke arah dapur.
Jacob kemudian mengambil beberapa gelas yang ada di dapur, lalu mengisi tiga gelas dengan wine yang berwarna putih dan segelas lainnya dengan wine berwarna merah.
Tak lama, Jacob mengeluarkan sesuatu di saku celana. Dia berniat untuk memasukan obat perangsang seperti sebelumnya, ke dalam salah satu minuman tersebut.
Melihat hal tersebut, Jane pun mendelik. Dia jelas merasa semakin mencurigai sikap Jacob yang dirasa aneh saat ini.
"Jacob," panggil Jane yang kemudian mendekati pria tersebut.
Jelas sikap wanita ini membuat Jacob jadi terkejut melihat Jane yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Jane bisa melihat dengan jelas wajah panik Jacob saat ini, tapi ia berusaha untuk pura-pura tidak menyadarinya.
“Ah, Vanessa. Ada apa? Kenapa kemari?” ujar pria ini dengan sikap yang terlihat berusaha tetap tenang, sambil kembali menuangkan wine ke dalam salah satu gelas.
“Xavier menyuruhku untuk membantumu. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Jane yang hanya mengarang saja.
"Eh, tidak perlu. Aku sudah selesai kok. Sebaiknya kamu duduk saja di sana. Bukankah aku sudah bilang akan menyiapkan minuman untuk kalian. Jadi kamu tidak perlu repot-repot membantuku,” tolak Jacob dengan santai.
"Kalau begitu aku bantu bawakan saja," sahut Jane dengan nada datar. Dia sengaja mendesak Jacob agar mau dibantu olehnya, supaya dia bisa membuang isi dari minuman yang dibuat pria ini.
Jane sengaja tidak langsung melabrak Jacob karena tidak ingin membuat kekacauan. Apalagi Jane yakin, jika apapun yang dilakukannya saat ini, pastilah tidak akan membuat suaminya percaya padanya.
“Hmm … biar aku saja. Ini berat,” ucap Jacob yang langsung mengangkat nampan tersebut.
“Tidak. Biar aku saja.” Jane langsung merebut. Minuman pun sedikit tumpah di nampan.
Jacob yang tidak ingin rencananya gagal, langsung melepaskan nampan tersebut dan menyerahkannya kepada Vanessa.
“Baiklah, baiklah. Tadi Xavier meminta wine merah ini. Jadi, berikan saja untuknya," ucap Jacob sambil menunjuk wine yang dia maksud.
Jane pun melirik ke arah gelas wine merah itu. Dia yakin, jika Jacob memasukan sesuatu ke dalam gelas tersebut. “Baiklah, aku akan memberikannya pada Xavier,” sahut Jane paham atas instruksi dari Jacob.
__ADS_1
Jane pun berbalik arah. Dia melirik ke arah minuman yang dimaksud oleh Jacob. ‘Aku yakin dia memasukan sesuatu tadi. Tapi apa itu?’ batin Jane merasa tak tenang.
Jacob pun memisahkan diri dari wanita tersebut. Dia malah sengaja pergi mendahului menuju ke tempat Xavier. Namun tak sengaja, kertas berisi serbuk yang ada di kantong celananya terjatuh.
Melihat benda tersebut, Jane menghentikan langkahnya. Dia lalu meletakan kembali nampan yang dibawanya, dan langsung mengambil kertas tersebut.
“Apa ini?” gumamnya, sambil membuka kertas berisi serbuk itu.
Jane kemudian teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu. Dia pun juga ingat bagaimana Vanessa kala itu telah dijebak oleh Jacob, karena pengaruh obat perangsang.
“Apa jangan-jangan … ini …” Jane kembali mendelik memandangi serbuk tersebut.
Tak ingin Jacob memergokinya. Jane kemudian segera mencampurkan bubuk tersebut ke dua minuman berisi wine putih. Lalu ia bergegas membuang wine merah yang dikatakan untuk Xavier, dan segera menggantinya yang baru.
“Dengan begini, Xavier berhasil aku lindungi. Aku tidak akan membiarkan rencanamu berhasil, Jacob! Aku akan membalas perbuatan bejat kalian!” oceh Jane dengan perasaan geramnya.
***
Jane kemudian kembali bergabung dalam pesta barbeque yang ada di halaman. Lalu ia pun meletakan nampan yang dibawanya di atas meja.
Sengaja Jane mengambil gelas berisi wine putih yang aman dari serbuk, dan meraih gelas berisi wine merah untuk suaminya.
Jacob yang melihatnya pun berusaha menahan senyuman gembiranya. Dia sangat senang, karena merasa Vanessa dan Xavier mudah dibohongi.
Sengaja Jane bersikap romantis kepada Xavier di hadapan Alexa. Dia ingin memanfaatkan situasi itu untuk memanas-manasi Alexa yang dia yakini sedang mengincar suaminya.
"Terima kasih sayang," sahut Xavier sambil tersenyum dan merangkulkan tangannya di pinggang Vanessa. Tak lupa kecupan lembut pun ia daratkan di kening istrinya.
Jujur saja hal ini membuat Jane merasa berdebar tak karuan. Bagaimanapun juga, sikap romantis Xavier sangatlah menggoyahkan dirinya.
Secara refleks, Jane pun mencium pipi suaminya. Dia mengeratkan pelukannya di sisi Xavier. Tentu diperlakukan seperti ini, Xavier jadi semakin senang. Senyumannya pun kian mengembang, dan ia kemudian meminum wine yang diberikan oleh istrinya padanya.
Sementara itu, Alexa yang melihat keromantisan kedua orang itu di hadapannya, kini semakin terbakar cemburu. Dia kemudian langsung mengambil minumannya dan meneguknya. Dia benar-benar dibuat kesal karena Xavier malah mesra-mesraan dengan Vanessa di depannya.
Tak lama kemudian mereka makan bersama. Alexa dan Jacob masih tidak sadar jika minuman tersebut sudah diganti isinya. Sampai akhirnya mereka berdua merasa ada yang aneh pada dirinya.
“Mmhh … kenapa gerah sekali,” ucap Alexa yang mengeluarkan suara *******, sambil menggeliat. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, merasa kepanasan dengan keadaan saat ini.
__ADS_1
Jacob yang dari tadi menantikan reaksi dari Xavier, kini malah juga merasakan kegerahan. ‘Sial, ada apa ini? Kenapa, aku juga kepanasan seperti ini? Tapi … kenapa Xavier baik-baik saja?’ batinnya merasa tak tenang.
Melihat Jacob dan Alexa yang kegerahan seperti ini, jelas membuat Xavier dan Jane menjadi bingung sendiri. “Kalian kenapa? Panas apanya? Kita kan sedang di villa puncak, mana mungkin panas?” tanya Xavier heran.
“Bahkan aku saja merasa kedinginan,” sahut Jane dengan tatapan bingung.
Jacob terdiam sejenak. ‘Apa? Ja-jadi … Xavier tidak merasakan apa-apa? Harusnya obat itu sudah beraksi. Ta-tapi … kenapa malah … Alexa … dan aku yang merasakan kegerahan seperti ini? Aku yakin tadi tidak salah memasukkannya,’ oceh pria ini dalam hatinya.
Pria ini kemudian memandang ke arah Alexa. Keduanya pun bertemu pandang. Alexa yang tak paham apa yang terjadi pada dirinya, kini memilih untuk memisahkan diri sejenak.
“Aku ke kamar mandi sebentar,” ucapnya yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan segera menuju ke kamar mandi.
Tanpa pikir panjang, Jacob yang juga merasakan gairah mulai menguasai dirinya, kini ikut berpamitan. “Aku juga akan ke kamar mandi sebentar,” ujarnya yang ikut berdiri setelah beberapa menit Alexa pergi dari tempat ini.
Xavier dan Jane hanya menganggukan kepala. Mereka benar-benar bingung dengan sikap kedua orang tersebut yang terlihat begitu kepanasan, dan memerah wajahnya.
Alexa yang baru saja hendak menutup pintu kamar mandi, kini langsung dicegah oleh Jacob. Dan tanpa pikir panjang, Jacob langsung ikut masuk ke dalam kamar mandi itu.
“Jacob! Apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu mengikuti ke sini? Bagaimana jika Xavier melihat kita?” oceh Alexa yang merasa sikap Jacob ini kelewatan. Dia tentu tidak ingin jika pria incarannya berpikiran yang tidak-tidak terkait hubungannya dengan Jacob.
Jacob mengunci pintu kamar mandi. Dia lalu mendorong tubuh Alexa, memojokkannya ke arah dinding ruangan ini.
“Alexa, kita harus melakukannya. Jika tidak, kita … kita bisa gila,” ucap Jacob dengan dengusan nafas yang kian berat. Dia merasa gairah yang sudah tak tertahankan lagi.
Alexa jelas tidak habis pikir dengan ucapan Jacob barusan. “Apa maksudmu? Melakukan apa? Apa kamu sudah gila?!! Aku akan melakukan hal itu dengan Xavier malam ini! Bukan denganmu!! Kamu bahkan sudah berjanji akan membantuku!” sentak wanita ini yang langsung dibekap mulutnya oleh tangan Jacob.
“Ini tidak bisa ditunda lagi Alexa. Aku benar-benar tak tahan lagi. Aku yakin kamu juga sudah tidak tahan. Sebaiknya kita selesaikan dulu secepatnya. Jika tidak, ini akan menyiksa kita,” ucap Jacob yang langsung memaksa melepaskan pakaian Alexa.
Dia pun ******* bibir wanita ini sambil meremas gemas bongkahan milik Alexa. Jacob sudah tidak dapat berpikir normal. Dia dikuasai oleh hasrat akibat dari obat perangsang itu.
Dengan penuh paksaan, Jacob akhirnya memperkosa Alexa di dalam kamar mandi ini. Dia sengaja menyumpal bibir Alexa dengan pakaiannya, supaya tidak mengeluarkan erangan hebatnya. Lalu memaksa Alexa untuk menuntaskan hasratnya.
Meski Alexa sebenarnya tidak ingin melakukannya dengan Jacob, namun dia nyatanya tidak bisa melawan pria ini. Alexa bahkan merasa ingin segera menyelesaikan gairah yang tiba-tiba memuncak itu, yang sudah tidak bisa lagi dibendung.
Sementara itu Xavier yang saat ini duduk bersebelahan dengan Vanessa pun jadi bertanya-tanya. “Kenapa mereka berdua belum kembali juga dari kamar mandi? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya yang hendak beranjak dari kursinya, namun sayangnya langsung dicegah oleh Jane.
“Sudah. Biarkan saja. Mungkin mereka sudah kembali ke kamar, atau … sedang ingin berduaan,” jawab Jane dengan senyuman penuh maksud.
__ADS_1
Bersambung…