Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 13


__ADS_3

“Alexa sudah menceritakan duduk perkaranya padaku. Dia memang memberikan hadiah kamar hotel itu padamu, untuk kita berdua. Tapi kamu tidak menceritakannya padaku, bahkan kamu menolak jika harus bersamaku di sana. Alexa bahkan sudah berbaik hati menawarkan diri untuk menemanimu di sana. Dia menyempatkan waktu untukmu, dan dia sengaja mengajakku untuk menyatukan kita. Tapi … kenapa kamu malah menyalahkannya?” ucap pria ini dengan tatapan nanar.


Jane jelas tidak percaya jika Xavier masih saja membela wanita itu. Dia pun langsung mengamuk, mengutarakan segala keresahannya pada pria ini.


“Dia sengaja menjebakku dengan mengirimkan pria mesum itu masuk ke kamar yang sudah dipesannya! Dia sengaja melakukannya! Apa kamu tidak sadar dengan hal itu?!”


“Vanessa, kamu salah paham. Jika kamu mau menyalahkan, seharusnya kamu salahkan pihak hotel! Lagipula, aku sudah menyuruh orang untuk mengecek kembali keadaan di sana. Alexa bahkan malah ikut membantu untuk mencari tahu tentang pria itu,” balas Xavier membeberkan hasil dari penelisikannya tadi. Setidaknya memang itu yang terjadi.


“Cih!” Jane mengalihkan pandangannya sambil tersenyum sinis, melipatkan tangannya ke depan dada. “Lalu apa hasilnya? Nihil kan? Apa kamu tidak berpikir, jika bisa saja para staf hotel sudah diberi uang tutup mulut oleh wanita itu? Dia yang merencanakan ini semua Xavier! Dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya!" tegas Jane dengan kalimat sarkasnya.


"Vanesa!! Apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu jadi berpikiran negatif dengan sahabatmu sendiri?! Ada apa sebenarnya denganmu?” tanya Xavier yang masih tidak habis pikir dengan sikap istrinya itu. Rasanya tak terima jika Vanessa malah mencurigai sahabatnya sendiri.


"Memang itu yang sebenarnya Xavier. Aku tidak salah dengan kata-kataku. Tapi … jika kamu terus saja membelanya … apa perlu aku ulangi lagi pertanyaanku waktu itu? Apa sebenarnya hubungan kalian?” Jane bermaksud memojokkan Xavier kembali. Hal ini jelas kembali memancing emosi pria tersebut.


“Hentikan ini Vanessa!!” teriak Xavier, merasa tak terima.


“Aku sudah berusaha menolak pemberiannya, Xavier! Tapi dia memaksaku! Dia memaksaku menerima voucher hotel itu, bahkan dia sengaja berjanji untuk bisa bermalam denganku! Tapi apa? Apa yang terjadi?? Dia malah mengirimkan orang yang hendak memperkosaku! Memperkosa istrimu sendiri!” Tak terasa air mata wanita ini mengalir saat mengutarakan segala emosinya.


Jane bisa merasakan betapa sakitnya hati Vanessa kala itu, mengingat perbuatan bejat pria mesum yang sudah menjamah tubuhnya. Rasanya begitu jijik dengan dirinya sendiri. Meski Jane kali ini bisa membela dirinya, tapi tetap saja rasanya tak karuan.


Jane pun benar-benar yakin, jika ini semua adalah ulah Alexa. Wanita itu pasti punya maksud lain sampai tega melakukan hal seperti itu pada sahabatnya sendiri.


Xavier justru tercengang melihat Vanesa. Dia seperti tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya saat ini, karena sikap Vanesa yang sungguh sangat berbeda.


Adu mulut pun tak terhindarkan lagi. Semakin lama, semakin menjadi. Mereka berdua saling berteriak satu dengan yang lainnya. Keduanya berusaha membela diri.

__ADS_1


Sampai akhirnya, mereka pun kelelahan sendiri. Keduanya terdiam, saling menatap. Xavier merasa bingung dengan sikap wanita ini. Dia merasa tak mengenalnya.


“Kamu … siapa kamu sebenarnya?” gumam pria ini sambil memicingkan matanya menatap istrinya.


Hal ini jelas membuat Jane tersadar, bahwa saat ini dirinya masih berada di dalam tubuh Vanessa, bukan tubuhnya sendiri. Sungguh hal ini membuat Jane jadi merasa panik.


Tak ingin Xavier curiga, Jane pun tiba-tiba memegangi keningnya dan menjatuhkan dirinya sendiri di lantai, seakan-akan kepalanya pusing dan hendak pingsan. Sengaja Jane melakukan hal tersebut supaya Xavier tidak memperpanjang lagi pertanyaannya barusan.


“Vanessa!!” teriak Xavier yang langsung sigap menopang tubuh istrinya supaya tidak jatuh. "Vanessa?! Kamu tidak apa-apa kan? Bangun Vanessa. Maafkan aku. Aku … aku harusnya sadar diri, jika kondisimu belum sepenuhnya pulih sejak koma. Maafkan aku malah membuat kita berdebat di awal pernikahan,” ucap pria ini dengan perasaan bersalah.


Xavier jelas merasa menyesal. Dia tidak menyangka jika sikapnya tadi akan membuat istrinya jadi semakin lemah seperti sekarang ini.


“Xavier … maafkan aku … aku … salah … aku terlalu terbawa emosi. Aku … hanya merasa ketakutan setelah kejadian tadi. Maafkan aku karena sudah melampiaskannya padamu … maafkan aku …” ucap Jane yang kini terdengar bergetar suaranya.


Sesungguhnya, mendengar pengakuan istrinya yang mengatakan jika pria itu hendak memperkosanya, jelas membuat Xavier merasa tak terima. Dia merasa kesal sendiri pada dirinya karena tak mampu melindungi wanita kesayangannya itu.


Jane pun akhirnya berusaha mengalah. Dia tak lagi menolak disentuh oleh Xavier, karena saat ini dia menyadari jika dirinya masih berperan sebagai Vanessa, istri pertama majikannya itu.


Meski begitu, Jana merasa tetap berniat untuk mewaspadai Alexa. Dia ingin tetap berusaha menemukan bukti dari kejahatan wanita tersebut, dan mengungkapkannya pada Xavier.


***


“Aku rasa, aku ingin kita pisah kamar terlebih dahulu. Aku … masih belum bisa melakukannya,” ucap Jane mewakili perasaan Vanessa.


Peristiwa tindak pemerkosaan sebelumnya jelas membuat wanita ini merasa tak nyaman jika harus bersentuhan lagi dengan seorang pria, meski pria itu adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


Jane bahkan masih saja menganggap Xavier sebagai majikannya. Dia tentu merasa canggung jika harus berhubungan badan, seperti pasangan pengantin pada umumnya.


“Apa ini … karena pertengkaran kita kemarin?” tanya Xavier memastikan kembali.


Sesungguhnya, itu juga merupakan salah satu alasan Jane memilih untuk pisah kamar. Selain masih merasa canggung dengan Xavier, Jane juga merasa jika sikap pria ini terlalu berlebihan ketika membela Alexa. Jane yakin, jika sebenarnya mereka berdua punya hubungan khusus yang tidak diketahui Vanessa.


“Aku hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Aku harap kamu paham hal itu,” ujar wanita ini yang kemudian memilih untuk segera pergi dari hadapan Xavier.


Permintaan pisah kamar itu sebenarnya membuat Xavier tak habis pikir akan perubahan sikap drastis istrinya. Rasanya Xavier ingin membantah dan tidak menyetujui pilihan Vanessa kali ini.


Bagaimanapun juga, mereka sudah menikah. Tidak seharusnya mereka pisah kamar. Bahkan seharusnya Vanessa mau mengalah untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Begitulah pemikiran Xavier.


Namun rasanya hal itu tidak mungkin dia sampaikan. Xavier tidak mau membuat wanita kesayangannya itu jadi merasa sedih kembali. Dia tidak ingin menimbulkan keributan seperti kemarin. Apalagi harus melihat Vanessa menangis bahkan sampai pingsan.


Hingga akhirnya Xavier pun memilih untuk membiarkan Vanessa melakukan apapun yang dia inginkan. “Baiklah, jika itu memang membuatmu jadi lebih tenang. Tapi aku harap kamu jangan mengabaikanku seperti sebelumnya,” ucap pria ini.


Jane tentu tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi pada Xavier. Dia merasa tidak ingin berbicara dengan pria ini terus menerus apalagi menanggapinya.


Hanya saja, sebagai Vanessa, Jane memikirkan perasaan mereka berdua. Jika memang mereka berdua saling mencintai, tentu Jane tidak akan mungkin tega memperkeruh hubungan keduanya. Ia pun akhirnya memilih menganggukan kepala, menyetujui permintaan pria ini.


***


Siang hari saat Xavier tidak ada di rumah, Jane masih saja memikirkan tentang Alexa. Pikirannya terus saja menelusuri segala sikap Alexa yang dirasa mencurigakan untuknya.


Ketika Jane larut dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah ini. Jane yang duduk di ruang tengah sambil memandangi televisi pun refleks menoleh ke arah pintu masuk.

__ADS_1


“Siapa itu?” gumamnya bertanya-tanya.


Bersambung…


__ADS_2