
Jacob terdiam sejenak. Sesungguhnya, dia merasa tak habis pikir dengan ide gila Alexa kali ini. Hanya saja, saat dia menimang-nimang kembali rencana Alexa, akhirnya Jacob pun menyetujuinya.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Meski harus aku akui kamu sangatlah gila. Tapi, aku rasa tidak ada ruginya untuk mencoba. Akan aku pikirkan rencana lain supaya idemu itu bisa terlaksana," sahut Jacob yang kini mencoba berpikir rencana selanjutnya.
"Kali ini kami harus memastikannya berhasil Jacob. Jangan sampai gagal! Kalau masih juga gagal, perjanjian kita batal!" ucap Alexa berusaha mengancam Jacob.
Jacob yang di ancam pun tertawa sinis. "Tidak ada yang bisa mengancamku Alexa, termasuk dirimu sekalipun! Di sini aku yang pegang kendali. Kamu sudah setuju untuk melakukan apapun yang aku mau. Jadi aku pastikan, kamu akan membayar semua ini," balas Jacob dengan sengit.
"Cih! Sebaiknya kamu jalankan dulu rencanamu itu sampai berhasil. Baru bicara sombong!” dumel Alexa yang merasa kesal dengan sikap Jacob yang terlalu percaya diri.
Meski Alexa merasa kesal, tapi nyatanya dia masih tetap bekerja sama dengan pria ini. Alexa sengaja membuang harga dirinya untuk tetap menjalankan rencana selanjutnya.
"Tapi, karena ini mengandung resiko yang lebih tinggi, aku ingin kamu memberikan tubuhmu terlebih dahulu untukku, sebelum memberikannya pada Xavier," pinta Jacob yang kini kembali menyudutkan Alexa.
Sungguh hal ini membuat Alexa semakin muak dengan perkataan Jacob. Pria ini bisa-bisanya semakin menekan dan mengancamnya seperti ini. Alexa benar-benar benci mendengar ancaman sepupu Xavier yang terdengar lebih gila.
"Di awal kan tidak ada pembicaraan seperti ini! Aku akan melayanimu jika sudah berhasil mendapatkan Xavier! Jadi sebaiknya kamu buktikan hal itu dulu!" sentak Alexa yang tetap berusaha untuk menolak permintaan Jacob dengan alasannya.
Sayangnya, Jacob kali ini tidak bisa mengabulkan permintaan Alexa begitu saja. Dia ingin mencicipi tubuh Alexa yang diketahui masih perawan.
"Harus berapa kali ku katakan, di sini aku yang pegang kendali Alexa. Jadi, sebaiknya kamu menuruti saja semua ucapanku. Atau aku akan membongkar semua niat jahatmu pada Xavier!" ucap Jacob yang lagi-lagi penuh ancaman pada Alexa.
Hal ini benar-benar membuat Alexa tercekat. Nyatanya, dia tidak bisa melawan Jacob lagi. Tidak mungkin Alexa membiarkan Jacob membongkar niat jahatnya.
__ADS_1
"Kamu tidak akan berani membongkarnya, Jacob! Jika kamu melakukannya, kamu pikir hanya dirimu yang bisa melakukannya? Aku juga akan melaporkan semua perbuatan busukmu itu pada Xavier!” sahut Alexa yang berusaha mengancam balik pria ini.
Jacob malah tertawa kencang. Dia seolah sedang meremehkan ucapan dan ancaman Alexa barusan.
"Kamu yakin? Kamu pikir, Xavier akan percaya padamu? Hey! Dengar ya, Alexa. Aku bisa membuktikan segala kelakuanmu yang berusaha untuk menghancurkan Vanessa. Baik kecelakaan sebelum pernikahan mereka, atau kejadian di hotel Bali. Aku punya semua buktinya. Kamu pikir, aku bodoh?” senyuman iblis Jacob pun terlihat begitu menyombongkan diri.
Alexa merinding mendengarnya. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin Jacob tahu tentang hal itu semua? Bahkan dia mengatakan jika dirinya bisa membuktikan tindakan jahatnya itu. Sungguh, hal ini membuat Alexa jadi semakin ketar-ketir saja.
‘Dasar sialan bocah satu ini!,' batin Alexa menggerutu kesal.
Tahu jika Alexa merasa tersudutkan dan ketakutan, Jacob pun berusaha mengkonfirmasi kembali permintaannya tadi pada wanita ini.
“Jadi bagaimana? Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan? Jika tidak … maka Xavier yang akan menyingkirkanmu sendiri,” sindir Jacob dengan senyuman yang terlihat begitu puas.
“Cukup Jacob! Hentikan ucapanmu! Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Tidak usah mengancamku terus-terusan seperti itu!” teriak Alexa yang merasa begitu frustasi.
Jelas hal ini membuat Jacob tertawa puas. Dia bahkan langsung mengirimkan alamat hotel kepada Alexa, tempat di mana mereka akan melakukan adegan panas nanti.
***
Beberapa hari setelahnya, Jacob yang sengaja memilih tetap tinggal di rumah mewah milik sepupunya, kini sedang menikmati sarapan bersama dengan Xavier dan Vanessa.
Pandangannya beberapa kali terlihat mengawasi Vanessa. Hal ini jelas membuat Jane yang ada dalam tubuh Vanessa, merasa semakin risih dengan keberadaan Jacob.
__ADS_1
‘Sebenarnya, apa yang dia inginkan? Apa … dia benar-benar ingin memperkosa tubuh Vanessa?’ batin Jane jadi semakin ketar-ketir saja.
Sejak kejadian menyesakan itu, Jane meminta Xavier untuk tetap di dekatnya. Bahkan wanita ini sengaja meminta pada suaminya, supaya diijinkan ikut ke kantor bersama, karena takut jika dirinya berada di rumah bersama dengan Jacob.
Meski sikap istrinya itu semakin aneh bagi Xavier, namun Xavier ternyata menikmati kedekatannya kembali dengan istrinya. Dia merasa senang ketika Vanessa selalu ingin dekatnya, bahkan terkadang wanita tersebut sampai merengek hanya untuk bisa tetap dekat.
Setidaknya Vanessa sudah tidak bersikap dingin lagi dengannya. Itu yang ada di benak dan perasaan Xavier. Oleh karena itu, dia dengan senang hati mengijinkan istrinya untuk tetap berada bersamanya.
Saat sedang berada di kesunyian ruang makan ini, tiba-tiba saja Jacob membuka pembicaraan. “Apa kalian ada acara akhir pekan ini?” tanyanya dengan sikap santai.
Xavier yang sedang menyendoki sup di hadapannya, kini menghentikan tindakannya, dan menatap ke arah sepupunya yang ada di hadapannya.
“Kami? Belum. Kami belum punya rencana apa-apa akhir pekan ini. Memangnya ada apa?” Xavier nampak penasaran.
Jane yang mendengarkan pertanyaan Jacob pun juga ikut menghentikan tindakannya. Perlahan, wanita ini sengaja melirik sekilas ke arah Jacob. Dia merasa harus tetap mewaspadai seluruh tindakan sepupu Xavier ini, karena Jane tahu, jika Jacob bukanlah orang baik.
“Hmm … Kalian tahu kan, Sejak aku sampai disini, kita belum melakukan pesta atau acara penyambutan untukku. Bagaimana jika kita mengadakan acara bersama?” ajak Jacob yang memberikan ide.
“Ah, iya. Maafkan aku. Aku terlalu sibuk bekerja, sampai lupa tentang hal itu. Kamu pasti bosan ya?” Xavier malah merasa tak enak sendiri pada sepupunya, karena dia tidak memikirkan acara penyambutan untuk Jacob.
“Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Kabulkan saja permintaanku kali ini. Bagaimana kalau kita menginap di villa bersama? Kamu tahu kan Xavier, villa yang ada di bukit dan tengah hutan milik Kakek? Kita bisa juga camping di sana. Bukankah itu terdengar seru?” Jacob terlihat begitu antusias akan hal ini.
Jane yang mendengar ucapan pria ini pun langsung mendelik. Dia menatap ke arah Jacob dengan kening mengkerut. ‘Apa lagi yang dia rencanakan kali ini?’ batinnya dengan perasaan was-was tak karuan.
__ADS_1
Jane merasa yakin, jika permintaan Jacob pasti memiliki maksud tersembunyi. Dan entah apa yang akan dilakukan pria itu lagi nantinya.
Bersambung…