Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 12


__ADS_3

Xavier yang tak paham dengan maksud Alexa pun berusaha menelisik perkataan wanita ini. Alexa pun jadi menyadari jika Vanessa memang belum mengatakan apa-apa terkait dengan keadaannya.


“Mm … tidak, tidak apa-apa. Lebih baik kamu bicarakan saja dengan Vanessa nanti. Biarkan dia tenang dulu. Lain waktu, kita berjumpa lagi untuk membahas ini Xavier. Aku harus bicara padamu terkait Vanessa secara empat mata,” ucap Alexa yang memilih untuk mengakhiri panggilan telepon.


Hal ini jelas membuat Xavier kian bingung.


Sementara itu, Jane masih saja terdiam. Dia bahkan tak mendengar obrolan Xavier dan Alexa barusan. Wanita ini hanya menatap ke luar jendela dan malah fokus memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya.


‘Aku yakin ini semua ulah Alexa. Semua terlihat jelas. Wanita itu yang sengaja memberikanku voucher hotel dan tiba-tiba beralasan terlambat,’ batinnya berasumsi.


‘Tapi … bagaimana mungkin dia setega itu pada sahabatnya sendiri? Kenapa dia melakukannya pada teman baiknya? Bukankah, hubungan mereka baik-baik saja? Lalu apa salah Vanessa sebenarnya?’


Jane terus saja memikirkan hal ini. Dia merasa tak tenang karena jebakan yang dia yakini sudah direncanakan oleh wanita jahat itu. Jane bahkan meyakini jika pihak hotel telah bekerja sama dengan Alexa, karena tidak mungkin orang asing bisa masuk di tempat privat seperti ini.


Mengingat tentang hal ini, Jane pun jadi muak sendiri. Apalagi ketika dirinya teringat akan bayangan ingatan Vanessa yang juga terlintas di benaknya saat dia hendak diperkosa oleh pria asing itu.


‘Apa mungkin … Vanessa yang sebenarnya, benar-benar telah dilecehkan saat hal ini terjadi?’ batinnya merasa ragu, tapi dia benar-benar bisa merasakan kesedihan di hati Vanessa.


Xavier kini memandangi ke arah Vanessa. Dia pun ikut diam. Tak berani berkata-kata karena wanita ini juga diam seribu bahasa.


Namun, mengingat ucapan Alexa barusan, Xavier malah jadi merasa penasaran sendiri, dengan apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan, Xavier meraih tangan istrinya itu. Jane yang tadinya melamun, jadi merasa terkejut, dan langsung menarik tangannya dari genggaman pria tersebut.


“Vanessa … sebenarnya ada apa?” tanya pria ini dengan kalimat yang terdengar lembut. Dia tidak mau memakai emosinya, meski sebenarnya dia kesal karena istrinya terus saja menolak sentuhannya.


Jane tetap tidak menjawab. Dia sempat menoleh ke arah Xavier, tapi langsung mengalihkan pandangannya kembali. Seolah tak peduli dengan pria tersebut.


“Vanessa ayolah. Jelaskan padaku baik-baik. Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa aku ada salah padamu?” cecar Xavier yang masih berusaha menahan emosinya supaya tidak semakin meledak-ledak di hadapan istrinya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak marah padamu," jawab Vanesa singkat, seakan tidak ingin berbicara panjang lebar lagi. Dia bahkan tidak menoleh saat menjawab pertanyaan suaminya barusan.


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini? Hanya diam saja dari tadi. Apa yang sebenarnya terjadi di hotel tadi? Kenapa … pria itu … tersungkur? Siapa dia sebenarnya?” tanya Xavier yang kini mulai mencoba menelisik jawaban istrinya.


Sayangnya hal ini malah membuat Jane merasa tak nyaman. Dia pun menoleh menghadap ke arah Xavier dengan tatapan tajam padanya.


“Sebaiknya jangan ingatkan aku lagi dengan kejadian tadi. Aku minta jangan tanya apapun padaku. Aku lelah. Mau istirahat. Bisakah kamu membiarkanku sendiri?” ujar Jane dengan tegas.


Hal ini benar-benar di luar dugaan Xavier. Biasanya, Vanessa akan bersikap manja dan menangis di pelukannya jika merasa sedang terluka, sedih, ataupun marah. Dia tidak akan pernah bersikap diam seperti, apalagi sampai mengeluarkan peringatan padanya.


‘Sebenarnya apa yang terjadi pada Vanessa. Apa tadi dia … benar-benar dalam kesulitan? Apa yang sudah dilakukan pria itu pada Vanessa?’ batin Xavier jadi semakin tak tenang.


Xavier kemudian segera menghubungi anak buahnya, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di hotel tersebut. Dia mengirimkan pesan kepada kenalannya yang ada di Bali, untuk mengurus identitas pria yang telah masuk ke dalam kamar istrinya tadi.


Meski sikap Vanessa membuatnya jadi merasa frustasi, namun Xavier tetaplah tak ingin wanita kesayangannya ini kenapa-napa. Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan menghukum siapapun yang telah tega menyakiti istrinya ini.


Saat tiba di rumah, Jane memilih untuk segera masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Dia merasa perlu menenangkan dirinya sendiri, usai dijamah oleh pria yang tak dikenalnya tadi. Rasanya benar-benar jijik.


Xavier yang dari tadi ingin membicarakan kejadian tadi pada istrinya, kini terlihat bingung harus bicara apa. Dia merasa tak nyaman karena Vanessa terus saja menghindarinya. Bahkan Xavier seolah benar-benar tak ada bagi wanita kesayangannya ini.


Namun, karena dia merasa resah dengan sikap Vanesa yang berbeda dan merasa harus segera menyelesaikan permasalahan ini, pria ini pun berusaha menunggu waktu luang yang tepat untuk berbicara pada Vanessa.


Sengaja Xavier memasuki kamar, dan duduk di pinggiran kasur sambil menunggu Vanessa keluar dari kamar mandi. Dia pun menimang-nimang kalimat yang pas untuk dia katakan pada istrinya.


Mungkin hampir setengah jam Xavier menunggu sampai Vanessa keluar dari kamar mandi. Istrinya yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kepala, kini sampai dibuat kaget karena tatapan mata pria ini.


“Astaga! Mengagetkanku saja!” seru wanita ini sambil menepuk dadanya sendiri.

__ADS_1


“Vanessa. Kita harus bicara,” sahut Xavier yang terlihat tak perduli dengan rasa kaget yang istrinya alami barusan.


“Bicara apa lagi? Bisakah kita bicara besok? Aku lelah.” Jane memilih jalan ke arah keluar pintu. Dia ingin pergi dari kamar ini, menghindari Xavier kembali.


Namun Xavier langsung mencegahnya. Dia meraih tangan wanita tersebut dan tetap berniat untuk membicarakan hal yang telah terjadi tadi.


“Vanesa, dengarkan aku. Aku paham ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi aku tidak bisa jika situasi kita terus merasa canggung seperti ini. Aku sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi," ucap Xavier yang berdiri di belakang Vanesa dengan nada dingin, sambil memegangi tangan istrinya.


Jane pun akhirnya menghentikan langkahnya. Dia lalu membalikan tubuhnya, menatap pria yang saat ini berusaha mencegahnya pergi.


“Lalu?” tanya wanita ini dengan tatapan serius.


Xavier terdiam sejenak. Dia berusaha merangkai kata yang tepat supaya tidak menyinggung istrinya kali ini. Dia menghela nafas panjang, memandangi wajah Vanessa dan mulai mengatakan hal yang ingin dia sampaikan pada wanita ini.


“Aku … aku minta maaf karena tidak berada di sana saat kamu sedang dalam kesulitan. Tapi itu semua karena kamu tidak mau mengajakku. Jika Alexa tidak mengajakku ke sana, mungkin aku tidak akan tahu apa yang terjadi padamu. Aku harap kamu tidak marah lagi padaku, ataupun pada Alexa,” ujar pria ini yang malah berusaha membela diri.


Jane mengerutkan keningnya. Dia tak percaya jika saat ini akan mendengar pembelaan diri dari Xavier, bahkan sampai membela Alexa.


Tak ingin ribut, Jane pun memilih untuk segera mengalihkan diri kembali. Dia tidak ingin berdebat dengan Xavier apalagi membahas hal yang tidak ingin dia ingat itu. Tapi tentu saja sikap Vanessa barusan membuat Xavier semakin tak suka karena diabaikan seperti ini.


“Vanessa hentikan sikapmu!! Kenapa kamu berubah menjadi seperti ini?! Apa salahku padamu??” teriak Xavier yang sudah tidak tahan dengan keadaannya.


“Kamu tidak salah Xavier!! Ini semua salah Alexa!!” Jane membalikan badan dan ikut meninggikan suaranya. Dia mulai terpancing emosinya karena sikap Xavier yang seperti ini.


Xavier jelas tidak menyangka jika wanita yang biasanya bersikap lemah lembut ini malah jadi seperti ini. Apalagi sampai menyalahkan sahabatnya sendiri. Jelas hal ini membuatnya tak habis pikir dengan sikap Vanessa kali ini.


"Aku rasa ada kesalahpahaman antara kamu dengan Alexa,” ujar Xavier yang malah kembali membela Alexa.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2