Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 19


__ADS_3

“Hm? Maksudmu?” tanya Alexa heran. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan diminta oleh Jacob kali ini sebagai syarat kerja sama mereka berdua.


“Ya, paling tidak, aku harus mendapatkan garansi dulu kan? Anggap saja sebagai bayaran awal darimu, untuk pekerjaan yang akan lakukan nanti,” jawab Jacob dengan maksud tersembunyi.


“Hey, tidak usah berbelit-belit! Katakan saja, apa maumu sebenarnya?” Alexa kembali mendesak. Dia tidak suka dibuat bingung seperti ini.


“Aku ingin tidur denganmu. Mencicipi tubuhmu terlebih dahulu,” pinta Jacob dengan idenya yang gila.


Alexa langsung mendelik. Dia terkejut dengan ucapan Jacob barusan. Sulit dipercaya, bagaimana mungkin Jacob malah mengatakan hal seperti ini seenaknya.


“Enak saja kamu bilang! Kamu pikir aku wanita apaan?!” amuk Alexa yang merasa tak habis pikir dengan perkataan pria ini.


“Terserah kamu. Aku akan melakukan seluruh perintahmu, asal kamu memberikan servis terbaikmu terlebih dahulu untukku,” ujar Jacob lagi.


"Dasar gila! Mana mungkin aku mau menyerahkan tubuhku untukmu?" teriak Alexa tidak terima.


"Sudah kubilang itu terserah kamu. Jika kamu ingin mengajakku kerja sama untuk memisahkan Vanessa dan Xavier, maka kamu perlu membayarku, dengan tubuhmu itu,” masih saja Jacob berbicara santai tentang hal ini, tanpa memikirkan perasaan Alexa.


Tentu hal ini terlalu sulit untuk dikabulkan Alexa. "Tidak, aku tidak akan mengabulkan keinginanmu itu! Tubuhku hanya untuk Xavier seorang! Tidak ada yang lain," sentak Alexa menolak keras keinginan Jacob.


Niat Alexa sedari awal bukanlah untuk dapat bersetubuh dengan Jacob, Dia tentu tidak akan terima jika disentuh oleh pria ini. Meski Alexa tahu jika Jacob adalah tipe-tipe badboy, tapi Alexa tetap saja tidak menyangka jika Jacob akan meminta hal seperti itu dengannya.


"Yakin tidak mau? Aku juga bisa memuaskanmu. Lagi pula, kamu pasti tidak akan menyesal. Aku pastikan kita akan sama-sama diuntungkan,” ujar Jacob yang sengaja membuat Alexa semakin ragu.


"Tentu saja aku yakin! Aku ingin bekerja sama denganmu untuk memisahkan mereka, bukan untuk tidur bersamamu!" ucap Alexa yang semakin meninggikan suaranya. Dia berusaha tetap menolak, karena tidak ingin jatuh ke dalam perangkap Jacob.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Santai saja. Lagipula sudah kubilang itu terserah kamu. Yahh … meskipun sayang sekali. Padahal aku sudah punya bayangan akan membuat Vanesa merasa trauma dengan rencanaku, hingga dia ingin menjauh dari hidup Xavier," ucap Jacob yang masih saja samar-samar mengatakan rencananya.


Alexa langsung terbelalak mendengar hal itu. Dia yang memang ingin membuat Vanessa meninggalkan Xavier, kini jadi semakin penasaran mendengar ucapan Jacob barusan.


"A-apa maksudmu? Memangnya … kamu bisa melakukannya? Apa buktinya?” desak Alexa dengan rasa penasarannya. Sayangnya Jacob tidak akan semudah itu memberitahu.


"Rahasia. Kamu sudah menolakku. Jadi aku tidak akan memberi tahu rencanaku.” Jacob kembali mencibir Alexa. Dia yakin wanita itu akan semakin penasaran dengan hal ini.


'Sial! Kenapa jadi aku yang dipermainkan begini olehnya?' batin Alexa kesal.


Jacob memanglah bukan orang yang mudah untuk diajak bekerja sama. Dia pasti akan mempertahankan hal yang menguntungkannya. Tapi tetap saja, tawaran Jacob tadi tetap tidak bisa membuat Alexa langsung menyetujuinya begitu saja.


‘Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apa … Jacob benar-benar bisa memisahkan mereka berdua? Kalau dia hanya mempermainkanku saja bagaimana?’ Alexa masih saja bergelut dalam batinnya.


“Hey! Jadi bagaimana? Mau tidak? Kalau tidak, aku akan matikan panggilanmu ini,” ancam Jacob yang tidak ingin membuang-buang waktunya lagi.


Mendengar pertanyaan Alexa ini, Jacob pun kembali tertawa menggelegar. Dia benar-benar tidak menyangka jika Alexa akan sepolos ini mengajukan pertanyaannya.


“Ya, ya, ya. Seperti itu juga boleh. Nanti aku saja yang bekerja keras. Kamu tinggal menikmati hasilnya saja. Bagaimana?” sahut Jacob dengan senyuman nakalnya.


Alexa tampak lama berpikir. Dia harus memutuskan hal ini matang-matang, supaya tidak merugikannya. Sesungguhnya, dia tetap tidak ingin memenuhi keinginan Jacob. Tapi di sisi lain, Jacob merupakan orang yang dia yakini bisa membantunya untuk memisahkan Xavier dengan Vanessa.


“Mmm … tapi … jika aku menyetujuinya, kamu harus menyembunyikan ini semua dari Xavier dan Vanessa. Mereka tidak boleh tahu bahwa aku terlibat dalam rencanamu. Apa kamu bisa memastikan hal ini?” tanya Alexa untuk kesekian kalinya.


“Tenang saja. Aku paham hal itu. Sudahlah, tidak perlu lama-lama lagi. Jadi bagaimana? Kamu mau atau tidak? Jika tidak ya sudah. Aku mau istirahat. Dan jangan pernah ganggu aku lagi!” ujar Jacob dengan begitu tegas.

__ADS_1


Refleks Alexa yang tidak ingin kehilangan kesempatan itu pun langsung menyetujuinya. “Baiklah, baiklah! Aku setuju!” jawab wanita ini tanpa pikir panjang lagi.


Senyum di wajah Jacob pun merekah. Kini Jacob pun jadi punya seribu akal, untuk mempermainkan Alexa, sekaligus bisa membalaskan dendamnya kepada Xavier.


***


Jane yang saat ini berada di dalam kamar, masih saja memikirkan tentang Alexa. Dia yakin jika sebenarnya Alexa membenci Vanessa dan punya rencana-rencana terselubung yang akan dia lakukan untuk membuat sahabatnya sendiri sengsara.


Apalagi saat gambaran ingatan Vanessa tadi muncul dalam benaknya. Jane yakin, jika tadi Alexa sebetulnya ingin memojokan Vanessa, bahkan sengaja mengadu domba dengan ibunya Xavier.


“Lalu … setelah ini apa lagi yang akan dia lakukan?” gumam Jane sambil menerka-nerka sendiri apa rencana Alexa selanjutnya.


Jane yakin Alexa tidak akan tinggal diam, mengingat rencana wanita itu gagal lagi. Dia paham betul rasa kesal yang sempat terlihat dari raut wajah Alexa.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Xavier yang baru saja memasuki kamarnya. Jane yang tidak menyadarinya, masih saja melamun larut dalam pikirannya sendiri.


Perlahan, Xavier pun memeluknya dari belakang. Hal ini jelas membuat Jane merasa terkejut bukan main. Dia berusaha melepaskan tangan orang yang memeluknya itu.


Sayangnya Xavier malah semakin mengeratkan pelukannya. Dia mencium pundak istrinya itu, kemudian berbisik perlahan. “Ijinkan aku memelukmu sebentar saja. Aku … hanya merindukanmu. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku … Vanessa …,” ujarnya lirih.


Hal ini jelas membuat Jane merasa terenyuh. Dia merasa kasihan pada Xavier karena sesungguhnya dalam tubuh istrinya itu, bukanlah jiwa Vanessa yang sebenarnya.


Apalagi sejak pernikahannya, mereka belum melakukan malam pertama. Bahkan Vanessa malah terkesan selalu menjauhi suaminya sendiri. Jelas hal itu malah semakin membuat Xavier tersiksa dengan kehidupan barunya dengan wanita ini.


Dalam lubuk hati Jane pun jadi menimang-nimang apa yang harus dia lakukan saat ini, untuk menenangkan perasaan Xavier.

__ADS_1


‘Apa aku … perlu melakukannya sekarang saja ya? Supaya membuat Xavier lebih tenang,’ batinnya jadi semakin berdebar tak karuan, membayangkan hal yang menjadi keputusannya itu.


Bersambung…


__ADS_2