
Jacob memang berniat untuk memperkosa Vanessa dan membuat wanita itu tidak betah tinggal di rumah ini. Dia yakin, wanita manapun tidak akan berani mengatakan bahwa dirinya telah diperkosa, apalagi pelakunya ada di dekatnya.
Jadi Jacob bisa pastikan, jika Vanessa tidak akan berani mengatakan apa-apa pada Xavier, jika rencananya nanti telah berhasil dia lakukan.
Sesungguhnya, menindas kaum hawa dengan cara seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan Jacob. Dia menggunakan trik tersebut, supaya mampu membuat para wanita yang menjadi incarannya, menjadi tak berkutik.
“Jika semudah ini melakukannya, seharusnya aku lakukan dari dulu. Kenapa pula aku membiarkan saudaraku yang menyebalkan itu memilikinya,” oceh pria ini yang masih saja berbicara sendiri menanggapi keadaan saat ini. Jacob pun kini mulai berjalan mendekat ke arah Vanessa.
Sementara itu, Jane yang dari tadi merasa kegerahan, semakin sesak nafasnya. Jane berniat untuk mengambil minum di dapur untuk mengurangi panas di tubuhnya, dan meredakan rasa pusing yang terasa memenuhi kepalanya.
Wanita ini berusaha melangkahkan kakinya, sambil memegangi dinding. Namun saat dia baru saja berjalan, tubuhnya sudah mulai oleng, lunglai tak karuan.
‘Sebenarnya aku kenapa? Kenapa … rasanya aneh sekali? Kenapa jadi lemas begini?’ batin Jane yang masih merasa ada tak beres dengan keadaannya ini.
Dia seperti kehilangan tenaganya. Padahal ini masih pagi hari, dan dirinya juga tidak melakukan aktivitas ekstrim yang menguras energi.
Lalu dalam keadaan ini, tiba-tiba kilas balik tentang kisah hidup Vanessa pun kembali muncul dalam benak Jane. Dia bisa melihat keadaan Vanessa yang terjadi sama persis seperti keadaan dirinya saat ini.
Vanessa terlihat lemas dan kepanasan, lalu samar-samar terlihat seorang pria yang mendekatinya. Entah apa yang dikatakan pria tersebut pada Vanessa, namun Jane melihat pria itu menggendong Vanessa, dan membawanya ke dalam kamar.
Wajah pria itu tidak terlihat jelas. Nampak buram dalam ingatan yang Jane lihat. Namun Jane merasa pernah mengetahui sosok itu. Sayangnya dia tidak ingat siapa orang tersebut.
Hingga akhirnya Jane mendengar teriakan Vanessa. “Lepaskan aku! Aku mohon jangan lakukan itu padaku! Aku mohoon … jangan sentuh aku!! Kamu bukan suamiku!!” seru wanita ini sambil terdengar isak tangisnya.
Jane terbelalak kaget. Detak jantungnya meningkat saat mendengar teriakan tersebut. Dia pun menyadari, jika ada seorang pria yang lagi-lagi menjamah Vanessa, ingin memperkosanya.
__ADS_1
Sejujurnya Jane ingin sekali menyelamatkan Vanessa dalam ingatannya itu. Tapi sayangnya, dia tidak bisa apa-apa. Dia merasa terkurung, tidak mampu melakukan apapun untuk wanita yang nasibnya begitu memprihatinkan ini.
"Vanesa, ada apa? Apa, kamu baik-baik saja?” tanya Jacob mendekat, sambil menepuk pundak wanita yang terlihat lemah ini.
Jane terkejut bukan main. Dia tersadar kembali dengan keadaannya. Jane bahkan dibuat ketakutan ketika melihat Jacob yang sudah berada di sampingnya. Lalu, ia pun jadi teringat tentang kejadian yang terlintas di ingatannya tadi.
‘A-apa mungkin … pria yang membawa Vanessa tadi … Dia … adalah Jacob?’ batin Jane dengan wajah yang nampak begitu cemas.
“Vanessa? Sepertinya, kamu sedang tidak enak badan. Apa kamu bisa berdiri? Jika tidak, biar aku bantu membawamu ke kamar,” ujar pria ini yang terlihat begitu khawatir dan peduli dengan keadaan Vanessa. Jelas sikap ini hanya akal-akalan Jacob saja untuk segera melancarkan aksinya.
'Aku tidak bisa seperti ini. Tidak akan aku biarkan dia berhasil melakukan rencananya!' tegas Jane dalam batinnya. Dia pun menepis tangan Jacob yang hendak mengangkat tubuhnya.
"Menyingkir dariku! Jangan dekati aku! Mau apa kamu?!" sentak Jane sambil menggeser dirinya supaya menjauh dari Jacob. Dia jelas tidak ingin didekati oleh pria hidung belang ini.
"Hey, ada apa dengan sikapmu itu? Aku mencemaskanmu. Aku hanya ingin membantumu supaya bisa beristirahat ke kamar. Bukankah kamu sedang tidak enak badan?” Jacob berusaha bersikap normal. Dia tidak ingin Vanessa malah menghindarinya seperti ini.
Dengan sisa-sisa energinya, Jane pun berusaha berdiri. Dia sengaja menghindari Jacob dan tidak ingin berurusan lagi dengan pria tak jelas ini.
Namun Jacob mencegahnya dengan memegangi tangan Vanessa. “Mau ke mana kamu? Kamu itu sedang tidak baik-baik saja!” sentak Jacob yang mulai emosi dengan sikap Vanessa yang dianggapnya tidak bisa diajak bekerja sama untuk menuntaskan rencananya.
Jane pun berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman pria ini. Dia menyentakkan tangannya dan berlari keluar rumah.
Jacob jelas merasa kesal melihat tingkah wanita tersebut. Dia berteriak berusaha mencegah Vanessa pergi. Namun wanita itu sudah terlanjur pergi keluar duluan.
"Sial! Kenapa dia malah kabur?! Dia tidak boleh merusak rencanaku!" umpat Jacob dengan kesal.
__ADS_1
Jane terus saja berlari sejauh mungkin dari rumahnya. Dia berusaha menguatkan diri yang sebenarnya terasa begitu lemas. Jane hanya ingin berlari sejauh mungkin menghindari Jacob.
Namun rumah ini terlalu mewah. Bahkan untuk ke pagar utama saja jaraknya begitu jauh. Dia akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di semak-semak taman rumah ini.
Jane merendahkan tubuhnya, menutupi diri dengan tanaman-tanaman lebat yang ada di sana. Dia lalu segera merogoh sakunya, untuk segera menghubungi Xavier.
‘Aku harus meminta tolong pada Tuan Muda. Dia harus segera kembali ke sini,’ batin Jane dengan tubuh yang gemetaran.
Dia lalu menekan nama Xavier dalam kontaknya. Lalu meletakkan ponselnya itu ke telinganya, sambil menutupi dengan kedua tangannya.
Xavier yang masih ada di dalam mobil pun meraih ponselnya yang berdering. Dia mengernyitkan kening, merasa aneh ketika mendapati telepon dari istrinya.
“Kenapa Vanessa menghubungiku? Apa dia … merindukanku?” gumamnya yang jadi tersenyum sendiri. Baru kali ini Vanessa inisiatif meneleponnya terlebih dahulu, apalagi di hari yang masih pagi. Jelas hal ini membuat Xavier jadi merasa senang bukan main.
“Sayang? Ada apa?” sapa Xavier dengan lembut sambil senyum-senyum sendiri.
"Xa-Xavier … apa kamu … bisa pulang sekarang?" sahut Jane dengan suara pelan dan terbata-bata. Nafasnya yang berat pun bisa terdengar oleh Xavier dalam panggilan tersebut.
Jane memang sengaja menahan diri, karena sebenarnya saat ini dia semakin terangsang karena pengaruh obat itu. Belum lagi keadaannya yang masih bersembunyi dalam pengejaran Jacob. Hal ini jelas membuatnya semakin ketakutan.
Tahu jika istrinya sedang tidak baik-baik saja, Xavier jadi panik tak karuan. “Ada apa Vanessa? Apa terjadi sesuatu padamu?” ucapnya dengan penuh rasa khawatir.
"To-tolong … aku mohon … pulang sekarang juga!" pinta Jane dengan tegas. Dia terdengar begitu memohon supaya pria tersebut segera pulang.
Tanpa basa basi, Xavier langsung menyuruh sopirnya untuk memutar balik mobil mereka. Dia menyuruhnya untuk menancap gas, supaya mereka segera sampai di rumah kembali, sebelum terjadi sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
Bersambung…