Revenge Destiny

Revenge Destiny
Bab 6


__ADS_3

Keesokan harinya, Alexa sudah merias wajahnya kembali. Dia berusaha menutupi kantung matanya yang tebal, yang diakibatkan karena menangis seharian.


Alexa berniat untuk mengunjungi sahabatnya di kediaman Xavier. Alexa jelas tahu jika Vanessa pasti sudah tinggal di rumah mewah yang biasa ditinggali Xavier seorang diri, karena wanita tersebut kini telah menjadi istri sah pria itu.


Rasanya Alexa jadi penasaran apa saja yang dilakukan pengantin baru ini. Dia bahkan sudah memiliki beberapa rencana untuk mengejutkan sahabatnya.


“Kita lihat saja, sampai sejauh mana kamu akan bertahan, Vanessa,” ucapnya dengan senyuman menyeringai.


***


Xavier meraba-raba kasurnya dengan mata terpejam. Dia sedang mencari-cari sesuatu karena sebelumnya dia merasa yakin, jika sebelumnya ada seseorang yang tidur bersamanya di sampingnya.


Tak menemukan orang yang dicarinya, Xavier segera membuka matanya, dan langsung duduk termenung di atas kasur. “Di mana Vanessa? Bukankah … dia semalam bersamaku? Kami sudah menikah betulan kan? Pernikahan kemarin itu … bukan mimpi kan?” Xavier malah jadi bertanya-tanya sendiri.


Vanessa baru saja selesai mandi. Dia keluar dari balik pintu kamar mandi, sambil menggulung handuk di kepalanya, lalu mendapati Xavier yang saat ini memperhatikannya.


“Ah, kamu sudah bangun. Mandilah. Aku sudah siapkan air hangat untukmu,” ucap wanita ini lembut, sambil duduk di atas kursi rias.


Sebagai seseorang yang merupakan asisten rumah tangga pribadi Xavier di kehidupan selanjutnya, Jane memang sudah biasa menyiapkan air mandi untuk majikannya itu. Bahkan sabun mandi dan juga shampo yang digunakan Xavier pun Jane tahu apa merk dan aromanya.


Jane sudah cukup lama mengurus Xavier karena sungguh, Alexa sebagai istrinya tidak pernah mengurusi segala hal untuk suaminya sendiri di kehidupan yang Jane jalani selama ini.


Wanita itu hanya bisa menyuruh para asisten rumah tangganya untuk membereskan segala urusannya dan juga urusan suaminya. Dia bahkan bersikap semena-mena semaunya pada para pelayannya itu.


Hanya ketika ada Xavier dan mertuanya, Alexa berubah seolah menjadi malaikat. Hal inilah yang membuat Jane merasa ragu dengan kebaikan Alexa. Dia menduga jika wanita itu pasti punya maksud tersendiri, tapi entah apa itu.


Jane kini memperhatikan wajahnya di depan cermin. Terlihat wajah putih bersih, yang begitu lembut terawat. Nampak begitu cantik, seperti seorang putri di negeri dongeng.


Jane pun berniat membersihkan wajah terawat ini sambil mengoleskan beberapa krim skincare yang sudah tertata rapi di meja rias. Tapi ketika dia kembali melihat wajah Vanessa di hadapannya, Jane kembali dilingkupi dengan berbagai pertanyaan.


‘Sebenarnya … Ke mana perginya Vanessa selama ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sama sekali?’ batin wanita ini penasaran.


Xavier yang dari tadi masih mengusap mata dan mengumpulkan kesadarannya, kini memperhatikan ke arah istrinya. Dia pun segera bangkit dan mendekati Vanessa.


Dari arah belakang, Xavier sengaja merangkulkan kedua tangannya di leher wanita ini, sambil menopangkan dagunya di pundak istrinya.

__ADS_1


“Sayang, kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi? Kenapa mandi sendiri? Harusnya kita bisa mandi bersama kan?” tanya pria ini sambil mengecup pipi istrinya.


Jane mematung. Jantungnya semakin dag dig dug tak karuan. Dia mulai panik ketika Xavier memperlakukannya sebagai seorang istri dengan begitu mesra.


‘A-apa yang harus aku katakan? A-apa yang harus aku lakukan kali ini? Kenapa dia memeluk dan mencium pipiku tiba-tiba seperti ini?’ batin Jane ketar ketir.


Xavier kembali menatap wajah Vanessa di pantulan cermin yang ada di hadapannya. Jelas sekali tubuh istrinya ini jadi kaku. “Kamu kenapa? Apa kamu … tidak nyaman denganku?” Perlahan, pelukannya pun ia lepaskan.


Tak ingin ada salah paham dengan majikannya itu, Jane pun berusaha untuk berkata apa saja, untuk menjelaskan alasannya. “Sa-sayang. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku sedang haid? Tentu aku tidak bisa mandi bersama denganmu. Aku tadi … hanya ingin segera membersihkan diri karena tidak nyaman. Lagi pula, aku tidak mau kamu melihat hal-hal yang seharusnya tidak kamu lihat,” ucap wanita ini dengan suara terbata-bata, takut salah jawab.


“Ah, begitu. Maaf aku lupa,” sahut Xavier sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Alexa membalikan badan, dan menatap suaminya yang masih berdiri di belakangnya. “Sebaiknya kamu segera mandi. Hari ini, kamu masuk kerja kan? Tadi asistenmu menelepon, dan aku tidak sengaja menjawabnya,” ucap Jane yang memang sengaja mengusir pria ini secara halus.


Xavier mengerutkan keningnya. Dia seharusnya tidak berangkat kerja karena dia masih dalam masa cuti setelah menikah. Tapi jika sampai asistennya menelepon secara pribadi seperti itu, pasti ada hal yang penting yang terjadi di perusahaannya.


“Seharusnya kamu mengatakannya dari tadi. Baiklah, aku akan segera bersiap,” ujar pria ini sambil mengecup kening istrinya dengan buru-buru. Xavier pun segera memasuki kamar mandi.


***


Tak butuh lama untuk Xavier bersiap, karena Jane pun sudah mempersiapkan segala kebutuhan suaminya ini. Xavier merasa beruntung diperlakukan seperti raja oleh istrinya sendiri. Dia tersenyum dan kembali mengecup kening wanitanya.


Deg!


Mendengar kalimat tersebut, jelas membuat Jane jadi terbang melayang. Hatinya berbunga-bunga, tak menyangka jika pria yang sangat dikaguminya itu, kini malah memujinya. Jane pun tersimpul malu.


“Sudah, sana pergi berangkat ke kantor. Aku akan menunggumu,” ucap Jane secara refleks. Dia bahkan langsung membungkam mulutnya sendiri usai mengatakan kalimatnya barusan.


Xavier jelas merasa gemas dengan sikap istrinya yang seolah seperti malu-malu mau. Dia mencubit pelan pipi wanita ini, dan kembali berpamitan pergi. “Aku pergi dulu ya,” sahutnya sambil berjalan mundur meninggalkan istrinya.


Jane pun kini bisa bernafas lega kembali. “Untung saja dia segera pergi,” gumam wanita ini.


Baru saja Jane hendak masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba dia melihat mobil yang memasuki teras rumahnya, dan berhenti di hadapannya. ‘Siapa itu?’ Jane jadi bertanya-tanya sendiri.


Alexa pun turun dari mobil. Jane terbelalak melihatnya. Rasanya masih tidak terbiasa melihat orang yang pernah menamparnya itu berlalu lalang di kehidupannya saat ini.

__ADS_1


“Alexa? Ke-kenapa kamu datang pagi-pagi seperti ini?” tanya Jane penasaran.


“Hey! Apa kamu tidak suka aku menghampirimu? Lagi pula, Xavier aku lihat baru saja pergi kan?” Alexa menunjuk ke arah mobil Xavier dengan pandangan matanya.


“I-iya. Dia pergi kerja. Ada panggilan mendadak,” jawab Jane seadanya.


“Kamu pasti kesepian kan, Vanessa? Apa aku boleh aku memasuki rumah pengantin baru ini?” sindir Alexa dengan senyuman menggoda sahabatnya. Dia tetap menunjukan sikap ramahnya pada sahabatnya itu, karena tak ingin Vanessa mencurigainya.


Jane jelas tidak bisa menolak. “Ah, iya. Masuklah. Aku memang sendirian,” ucap wanita ini sambil mempersilahkan Alexa masuk ke dalam rumahnya.


Jane tidak menyangka Alexa akan datang sepagi ini. Padahal semalaman dia kesulitan menghubunginya. Jane pun merasa ini adalah kesempatan yang tepat, supaya dia bisa mengajak ngobrol dan mengorek sifat asli wanita kejam tersebut.


“Oh ya, maafkan aku … semalam aku tidak mengangkat panggilanmu. Aku sudah tidur karena kelelahan setelah mempersiapkan pernikahan kalian. Jadi, sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Alexa dengan sikap terlihat polos.


"Ah tidak, aku hanya … semalam aku tidak bisa tidur. Lalu aku berfikir ingin mengobrol denganmu. Maaf jika aku telah mengganggumu." Jane berusaha mencari alasan.


"Hmm? Aneh sekali. Bukankah, kalian seharusnya sedang sibuk malam pertama? Kenapa malah menelponku?” goda Alexa sambil menyenggol bahu Vanessa.


"Tidak, aku … aku belum melakukannya." Entah mengapa Jane malah berbicara jujur terkait hal ini. Bagaimanapun juga, dia merasa tak enak hati pada Alexa karena yang dia tahu, wanita ini di kehidupan sebenarnya adalah istri dari suaminya saat ini.


Hal ini jelas membuat Alexa terbelalak kaget mendengarnya. "Apa? Apa aku tidak salah dengar? Ke-kenapa kalian belum melakukannya?” tanya Alexa yang tak menyangka akan mendengar kabar ini. Tapi bagaimanapun juga, Alexa merasa senang, karena ternyata Xavier belum menjamahnya.


"Aku hanya belum siap saja. Aku beralasan sedang haid. Tapi untungnya Xavier menghargai keputusanku. Aku tahu ini mungkin terdengar jahat, tapi aku ingin melakukannya ketika aku benar-benar siap," sahut wanita ini dengan perkataan jujurnya.


Jane bahkan jadi bingung sendiri. ‘Kenapa dari tadi aku berbicara jujur pada Alexa? Lagian, kenapa juga aku menceritakan hal ini padanya?’ batin Jane makin tak paham dengan tubuhnya saat ini.


Nyatanya, hal ini membuat pikiran Alexa jadi memiliki rencana tersendiri. Dia benar-benar merasa senang karena ternyata masih ada sedikit peluang baginya, untuk merebut Xavier dari Vanessa.


“Mmm … bagaimana jika kalian … honeymoon terlebih dahulu? Mungkin kalian butuh quality time untuk membangun kedekatan kembali setelah cukup lama berpisah. Aku punya voucher menginap di Bali. Ini adalah hotel terbaik di sana. Anggap saja ini adalah kado dariku untuk kalian. Aku harap kalian bisa menikmati malam pertama tanpa rasa canggung,” ujar Alexa sambil merogoh tasnya, dan mengeluarkan selembar kertas bertuliskan voucher hotel berbintang. Dia lalu memberikannya pada Vanessa secara cuma-cuma.


Entah apa yang ada dipikiran Alexa saat ini, Jane masih tak paham. Sikap Alexa pada Vanessa benar-benar begitu baik dan ramah. Tidak seperti yang selama ini dia kenal.


“Ayolah, apa kamu tidak menginginkannya? Kalau kamu tidak ingin menghabiskan waktu dengan Xavier, mungkin kita bisa staycation seperti biasanya? Bagaimana?” Alexa malah terlihat girang sendiri saat mengatakan kalimatnya ini. Sesungguhnya dia sudah punya banyak ide yang terlintas di pikirannya, untuk mengelabui sahabatnya sendiri.


Jane tadinya ragu. Tapi akhirnya dia menyetujuinya dan menerima pemberian Alexa. "Baiklah. Terima kasih banyak Alexa,” ucap Jane dengan terpaksa.

__ADS_1


Namun setelah menerima hal ini, Jane pun jadi berpikir-pikir lagi. ‘Apa aku harus benar-benar mengajak Xavier untuk ke tempat ini? Atau … sebaiknya aku pergi bersama dengan Alexa, seperti yang dia bilang barusan?’ batinnya menimang-nimang.


Besambung…


__ADS_2